Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Yang Nampak Biasa
Fajar menyingsing di atas kediaman Grozen, menyapu sisa-sisa kegelapan malam dengan semburat warna merah jambu dan emas yang membelah cakrawala. Mansion yang tadinya sunyi perlahan kembali berdenyut, seolah terbangun dari hibernasi panjang. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar denting peralatan dapur yang beradu, langkah kaki pelayan yang teratur, serta aroma kopi yang baru diseduh mulai menelusup ke lorong-lorong dingin, membawa janji akan hari yang baru.
Namun, di taman belakang, suasana terasa jauh lebih intim.
Roland dan Irina berjalan perlahan di antara barisan mawar yang masih bermahkota embun. Sang Magus agung telah menanggalkan jubah kebesarannya yang berat, hanya mengenakan kemeja linen putih dengan lengan yang digulung hingga siku, memberikan kesan maskulin yang santai. Tangannya melingkar protektif di pinggang Irina, menopang setiap langkah istrinya saat mereka melintasi jalan setapak berbatu yang lembap.
"Udara pagi ini sangat segar," gumam Irina, menyandarkan kepalanya di bahu Roland, menikmati kehangatan tubuh pria itu yang meresap ke jubah tidurnya.
Roland tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengeratkan rangkulannya, mengecup kening Irina dengan kelembutan yang bisa meruntuhkan citra dinginnya di hadapan dunia.
Di bawah sinar matahari pagi, rambut peraknya berkilau menyilaukan, seolah-olah helai-helai cahaya itu sendiri yang menenun mahkotanya.
Mereka berhenti di depan sebuah bangku kayu yang menghadap ke arah perbukitan dari taman luas kediaman keluarga Grozen. Roland membantu Irina duduk dengan sangat hati-hati, lalu ia sendiri berlutut di atas rumput basah di hadapan istrinya. Ia mengusap perut Irina yang besar dengan tatapan yang begitu memuja, seolah sedang menyentuh keajaiban paling sakral di semesta.
"Jika dia laki-laki, aku harap dia mewarisi ketenanganmu, Irina," bisik Roland, sebuah senyum kecil yang tulus terukir di bibirnya.
"Dan jika dia perempuan," Irina menimpali dengan nada jenaka, "aku harap dia memiliki sifat keras kepala agar dia punya cukup kekuatan untuk menghadapimu nanti."
Roland tertawa rendah, suara tawa yang jarang terdengar namun terasa sangat hangat. Namun, momen romantis di taman itu berbanding terbalik dengan kekacauan yang meledak di sayap belakang mansion.
----------------
"Sialan! Bocah itu... benar-benar membuatku gila!"
Calix berdiri di tengah kamarnya dengan rambut yang lebih berantakan dari sarang burung. Matanya yang kuning menyala liar dalam cahaya remang pagi, menatap ranjang yang kini kosong melompong. Hanya ada satu bantal yang tergeletak mengenaskan di lantai dan seprai yang kusut masai.
Cloudet menghilang. Padahal seingat Calix, semalam bocah itu sudah meringkuk tenang dalam pelukannya. Bagaimana mungkin seekor anak hellhound dengan tubuh berukuran anak tujuh tahun bisa meloloskan diri dari pelukan predator sepertinya tanpa menimbulkan suara sedikit pun?.
Calix segera melesat keluar kamar, langkahnya lebar dan penuh kecemasan yang ia samarkan dengan amarah. Ia memeriksa dapur—kosong. Perpustakaan—nihil. Bahkan ia sempat merangkak melihat ke kolong tangga, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan adik kecilnya itu.
"Cloudet! Keluar sekarang atau aku akan benar-benar merendammu di sumur tengah malam nanti!" teriak Calix frustrasi, meski ia berusaha menjaga volumenya agar tidak memicu alarm keamanan mansion.
Langkah kaki Calix membawanya ke area pelatihan di luar mansion, tepat di tepi perbatasan hutan yang berkabut. Napasnya mulai memburu, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena rasa cemas yang mulai menggerogoti logikanya. Saat ia melewati sebuah pohon ek raksasa yang usianya mungkin ratusan tahun, ia merasakan sebuah getaran aura yang sangat dikenalnya. Dingin, tajam, dan setenang kematian.
Ia mendongak.
Di salah satu dahan pohon yang cukup tinggi, Jover sedang duduk dengan santai. Satu kakinya ditekuk, punggungnya bersandar pada batang pohon yang kokoh, sementara kedua tangannya bersedekap di dada. Jubah hitamnya menjuntai ke bawah, bergerak pelan ditiup angin pagi seperti bendera duka. Wajahnya sedingin es, mata kuning nya menatap lurus ke arah cakrawala dengan ekspresi datar yang kaku.
"Ayah!" seru Calix, berdiri di bawah pohon dengan tangan di pinggang. "Kau melihat bocah itu? Cloudet hilang! Aku baru saja terbangun dan dia sudah menguap seperti asap!"
Jover tidak langsung menoleh. Ia membiarkan keheningan berlangsung selama beberapa detik yang menyiksa sebelum akhirnya melirik ke bawah. Tatapannya begitu datar, seolah-olah sedang menghakimi kegagalan putranya dalam satu lirikan.
"Seekor hellhound tidak pernah benar-benar 'menghilang', Calix," ucap Jover dengan suara berat yang menggetarkan udara. "Mereka hanya pergi ke tempat yang menurut mereka menarik. Dan kau terlalu berisik. Kau memalukan instingmu sendiri."
Calix menggeram, tangannya mengepal erat. "Aku tidak butuh ceramah filosofis di pagi buta, Ayah! Di mana dia?!"
Jover tidak menjawab secara lisan. Dengan gerakan yang sangat minimalis, ia hanya menggerakkan dagunya sedikit ke arah dahan yang lebih tinggi, tersembunyi di balik rimbunnya dedaunan hijau yang lebat.
Calix menyipitkan mata, mempertajam penglihatan kuningnya. Di sana, sekitar tiga meter di atas kepala Jover, terlihat sebuah gundukan hitam kecil berbulu yang sedang meringkuk dengan sangat nyaman. Cloudet ada di sana, tertidur pulas sambil memeluk dahan pohon seolah itu adalah guling raksasa yang paling empuk di dunia.
Calix menarik napas panjang, mencoba menekan emosi yang hampir meledak di dadanya.
"Bagaimana bisa... bagaimana bisa dia naik ke sana tanpa aku sadari sama sekali?"
"Entahlah Calix,"
sahut Jover dingin, matanya kembali menatap ke depan, ke arah matahari yang mulai meninggi.
"Jangan salahkan dia hanya karena kau yang kurang waspada. Sekarang, ambil dia sebelum dia terjatuh dan merusak bunga-bunga favorit Irina di bawah sana."
----------------
Di sudut taman yang lebih tersembunyi, di mana rumpun mawar tumbuh sedemikian lebat hingga membentuk tirai alami yang menutupi pandangan dari balkon utama, atmosfer romantis yang semula menyelimuti Roland dan Irina mulai mengalami pergeseran drastis.
Keheningan fajar yang puitis itu perlahan terkikis, digantikan oleh aura yang jauh lebih khas seorang Roland Grozen—pria yang berdiri tepat di garis tipis antara kejeniusan dan kegilaan yang tak tahu malu.
Irina masih duduk di bangku kayu tua itu, jemarinya yang lentik mengusap permukaan perutnya dengan ritme penuh kasih, memancarkan aura keibuan yang sanggup menenangkan badai manapun. Namun, Roland bukanlah tipe pria yang bisa berlama-lama dalam keheningan yang suci.
Baginya, ketenangan hanyalah panggung sementara sebelum ia memulai sandiwara provokatifnya.
Roland melirik istrinya dari samping. Tatapan mata birunya yang semula memuja layaknya seorang penyair, kini menyempit. Kilatan nakal yang sangat familiar—dan sering kali dianggap berbahaya—mulai muncul di sana. Itu adalah tatapan "predator" yang sedang mengenang mangsa favoritnya dengan rasa lapar yang tidak bisa disembunyikan. Sebuah senyum miring yang asimetris tersungging di bibirnya, menghancurkan citra Magus Agung yang bermartabat.
Ia mencondongkan tubuh, bergerak sangat perlahan hingga napasnya yang hangat dan beraroma kayu cendana menyentuh helai rambut di dekat telinga Irina.
"Ah, Irina... tiba-tiba saja memori tentang masa-masa di akademi dulu merayap kembali ke kepalaku," bisik Roland. Suaranya rendah, serak, dan penuh dengan vibrasi nostalgia yang sengaja dirancang untuk memancing reaksi.
Senyum lembut Irina membeku sesaat. Ia tetap berusaha mempertahankan ketenangannya, meskipun ia tahu persis ke mana arah pembicaraan ini jika Roland sudah mulai memasang wajah "sok tampan" yang menyebalkan itu.
"Aku masih ingat dengan sangat jelas,"
lanjut Roland dengan nada yang semakin menyipit, mengandung intonasi mesum yang provokatif.
"Bagaimana angin kencang hari itu bekerja sama denganku. Aku tidak akan pernah melupakan wajah merahmu yang luar biasa menggemaskan saat rahasia kecil berwarna merah muda di balik rokmu yang tersingkap. Nampaknya, aku benar-benar harus mengirimkan surat sebagai tanda terima kasih resmi pada roh angin atas pemandangan yang indah hari itu."
Senyum Irina berkedut hebat. Ujung matanya bergetar, dan garis bibirnya yang semula melengkung manis kini menegang menjadi garis lurus yang siap meledak menjadi kemarahan. Ia masih mencoba untuk tetap santai, menyembunyikan kekesalan yang mulai mendidih di balik daster sutranya yang elegan.
"Apa... yang baru saja kau katakan, Sayang?" tanya Irina. Suaranya terdengar sangat tenang, namun ada nada tajam yang terselip di tiap suku kata, seperti belati yang disembunyikan di balik tubuh.
Roland, yang merasa berada di atas angin dan menikmati setiap detik ketegangan itu, justru semakin menjadi-jadi. Ia berdiri tegak, menyisir rambut peraknya ke belakang dengan gerakan penuh gaya yang dramatis—sebuah gestur narsistik yang biasa ia pamerkan saat memenangkan duel.
Ia kembali membungkuk, menatap Irina dengan senyum sok bangga yang paling menyebalkan sedunia. Ia mendekat, membisikkan kata-kata panas tepat di telinga Irina
"Aku juga ingat sekali suara manjamu yang keluar tanpa sengaja saat kita pertama kali berciuman di belakang menara astronomi."
Roland menghembuskan napas panjang yang menggoda di leher Irina sebelum melanjutkan dengan suara yang hampir berupa rintihan manja.
“Setelah masa nifasmu nanti selesai... ayo kita lakukan lagi yang jauh lebih intens. Ahhh!\~"
PLAK!
Suara tamparan itu bergema cukup keras, membelah kesunyian taman pagi dan mungkin mengejutkan burung-burung yang sedang bertengger di dahan mawar. Tangan Irina mendarat dengan akurasi fisik yang sempurna di pipi suaminya, meninggalkan bekas kemerahan yang kontras dengan kulit pucat Roland.
Namun, reaksi Roland benar-benar melampaui logika manusia waras. Alih-alih mengaduh kesakitan, merasa terhina, atau membalas dengan wibawa seorang kepala keluarga, sang Magus Agung itu justru jatuh terduduk di atas rumput dengan gerakan teatrikal yang dibuat-buat. Ia menggeliat manja di atas tanah, wajahnya justru memerah bukan karena malu, melainkan karena semacam kesenangan yang aneh dan menyimpang.
"Ahn\~ tamparanmu masih terasa manis dan bertenaga seperti dulu, Irina,"
desah Roland dengan nada manja yang menjijikkan. Ia memegangi pipinya yang memerah dengan ekspresi puas, matanya terpejam seolah-olah baru saja menerima sentuhan paling berharga.
Irina hanya bisa menghela napas panjang, menutup wajahnya dengan sebelah tangan sementara tangan lainnya masih bergetar karena emosi
"Aku benar-benar salah perhitungan... ternyata aku menikahi seorang masokis mesum," gumamnya pasrah.
Di kejauhan, di balik jendela dapur yang terbuka dan pilar-pilar koridor yang melengkung, para pelayan yang sedari tadi mencuri pandang tidak bisa lagi menahan diri. Suara tawa cekikikan yang tertahan pecah di antara mereka.
Mereka sudah sangat terbiasa dengan keajaiban sihir Roland yang luar biasa, namun melihat tuan mereka bertingkah seperti kucing gatal yang berguling-guling di tanah setelah dipukul oleh majikannya. Merupakan hiburan pagi yang sangat berharga.
Mansion Grozen pagi ini secara resmi dimulai dengan tawa di dapur, desah manja di taman, dan amarah yang tertahan di sayap belakang.
Bersambung.