NovelToon NovelToon
A Little Bit Of LaNi

A Little Bit Of LaNi

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Malam itu, Amara memutuskan untuk memberikan waktu istirahat bagi otaknya. Buku Wangsit dan catatan rumus trigonometri ia tumpuk rapi di sudut meja. Ia butuh sesuatu yang segar, sesuatu yang bisa membuatnya tertawa lepas sebelum menghadapi simulasi besar lusa nanti.

Saat menuruni tangga, ia melihat Ryan sedang asyik selonjoran di karpet bulu ruang tengah sambil bermain game di ponselnya. Amara menyeringai. Sebuah ide jahil yang terinspirasi dari fyp TikTok-nya mendadak muncul di otaknya.

"Bang Ryan! Sini deh, bantuin gue bikin konten TikTok bentar," panggil Amara sambil mengatur posisi ponselnya di atas tripod mini yang ia taruh di meja kopi.

Ryan mendongak curiga. "Konten apa nih? Gue nggak mau ya kalau disuruh joget-joget nggak jelas. Harga diri anak Teknik Sipil taruhannya, Dek."

"Bukan joget! Ini yang lagi viral itu loh, permainan 'At Least'. Jadi kita gantian ngomong 'At least gue...' gitu. Seru tahu, Bang! Sekalian buat kenang-kenangan mumpung Bunda lagi pengajian di rumah tetangga," bujuk Amara dengan wajah paling meyakinkan.

Ryan menimbang-nimbang sebentar. Ia memang tipe kakak yang narsis kalau di depan kamera. "Oke, oke. Tapi jangan yang aneh-aneh ya. Gue harus tetep kelihatan keren."

"Siap! Ayo duduk sini," Amara menepuk lantai di sampingnya.

Amara menekan tombol record. Lampu ring light mini memberikan efek dramatis pada wajah mereka.

"Halo guys, gue sama abang gue yang paling 'keren' se-Jakarta Timur mau main At Least," buka Amara ke arah kamera. "Gue dulu ya, Bang."

Amara berdehem. "At least... gue biarpun stres UTBK, nilai simulasi gue nggak pernah di bawah KKM."

Ryan mendengus, lalu menatap kamera dengan gaya sok ganteng. "At least... gue biarpun mahasiswa tingkat tua, asdos (asisten dosen) masih sering minta tolong gue buat bantu ngoreksi tugas maba."

"At least... gue biarpun bawel, kalau disuruh masak mi instan telurnya nggak pernah pecah kayak punya Abang."

Ryan tertawa meremehkan. "At least... gue biarpun jomblo, yang ngantre mau jadi pacar gue dari maba Arsitektur sampai maba Hukum ada semua."

Amara melihat Ryan mulai masuk ke dalam permainan. Ini saatnya. Amara menarik napas panjang, menatap kamera dengan binar mata yang penuh rahasia.

"At least... gue biarpun galak, tiap pagi ada yang rela nungguin di depan pagar cuma buat anterin ke sekolah pake motor besar," ucap Amara sambil melirik Ryan dengan ekor matanya.

Ryan tertawa lebar, merasa menang. Ia tidak sadar bahwa Amara sedang menggiringnya ke arah jebakan.

"Hahaha, receh lo! At least... gue biarpun sering digebukin adek sendiri, gue tahu rahasia kalau adek gue ini semalem teriak-teriak histeris cuma gara-gara dicium kening sama Nicholas!" seru Ryan dengan semangat yang meluap-luap tepat ke depan lensa kamera.

Amara mematung. Sempurna.

Ryan masih tertawa bangga, merasa serangannya telak mengenai Amara. Namun, ia menyadari wajah Amara tidak memerah karena marah, melainkan justru tampak menahan tawa yang sangat besar.

"Kenapa lo? Kena mental ya?" tanya Ryan bangga.

Amara menunjuk ke arah layar ponsel. "Bang... video ini bakal gue upload, dan gue bakal tag Kak Nick. Biar dia tau kalau Abang beneran hobi bocorin rahasia kita."

Wajah Ryan seketika pucat pasi. "Eh? Jangan! Dek! Tadi kan cuma buat konten! Lo bilang jangan bilang siapa-siapa!"

"Kan tadi Abang sendiri yang ngomong di depan kamera," sahut Amara sambil meraih ponselnya. "Dan satu lagi... At least... gue punya video pengakuan Abang soal Nicholas yang bisa gue pake buat malak Abang martabak setiap malam minggu."

Kejar-kejaran Malam Hari

"AMARAAAA! Hapus nggak!" teriak Ryan sambil berusaha merebut ponsel dari tangan Amara.

Amara berlari memutari sofa, tangannya memegang ponsel tinggi-tinggi. "Nggak mau! Ini konten berharga, Bang! Pasti view-nya jutaan!"

"Lo mau liat abang lo digantung sama Nicholas di menara air kampus?! Hapus cepet!" Ryan mengejar Amara sampai ke arah dapur.

Mereka berkejaran seperti kucing dan tikus, mengabaikan fakta bahwa mereka sudah besar. Suara gelak tawa Amara memenuhi seluruh sudut rumah. Ia merasa sangat bahagia. Di tengah tekanan ujian, momen jahil bersama kakaknya ini adalah penyegar yang luar biasa.

Tiba-tiba, ada bunyi bel rumah.

Ting tong!

Mereka berdua berhenti seketika. Amara dan Ryan saling lirik.

"Bunda?" tanya Amara.

"Nggak mungkin, Bunda bawa kunci," sahut Ryan.

Amara berjalan ke arah pintu sambil tetap mendekap ponselnya. Begitu pintu terbuka, sosok Nicholas berdiri di sana dengan wajah yang tampak lelah namun langsung cerah saat melihat Amara.

"Baru mau gue chat, pintunya udah dibuka," ucap Nick santai. Ia membawa sebuah plastik besar. "Gue bawain martabak manis. Ryan mana? Katanya laper di grup."

Ryan muncul dari balik punggung Amara dengan wajah pucat, menatap Nicholas seolah-olah pria itu adalah malaikat maut. "N-Nick... baru dateng?"

Nicholas mengernyit. "Kenapa lo? Kayak abis liat setan."

Amara tersenyum penuh kemenangan. Ia mengangkat ponselnya di depan wajah Nicholas. "Kak Nick, liat deh video yang baru aja aku rekam sama Bang Ryan. Ada pengakuan jujur dari Abang soal Kakak."

"Amara! Jangan!" jerit Ryan panik.

Nicholas merebut ponsel itu dengan rasa penasaran. Ia menonton video At Least itu dari awal. Saat sampai di bagian Ryan membocorkan soal "cium kening" dan "teriak histeris", Nicholas terdiam.

Keheningan itu berlangsung selama sepuluh detik yang sangat mencekam bagi Ryan.

Nicholas kemudian menoleh ke arah Ryan dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu beralih ke Amara. Ia menyerahkan ponsel itu kembali pada Amara, lalu tangannya merangkul bahu Amara dengan protektif.

"Jadi... lo teriak histeris ya semalem?" tanya Nick dengan suara rendah yang sangat menggoda, tepat di telinga Amara.

Amara langsung menunduk, wajahnya yang tadi ceria kini berubah menjadi merah padam. "Itu... itu Abang yang lebay, Kak!"

Nicholas menoleh ke arah Ryan yang sudah siap-siap kabur ke kamar. "Ryan."

"I-iya, Nick?"

"Makasih infonya. Besok-besok bocorin lagi ya, biar gue tau perkembangan perasaan adek lo," ucap Nick sambil menyeringai puas.

Malam itu, bukannya dihajar oleh Nicholas, Ryan justru malah diajak makan martabak bareng. Amara duduk di antara dua pria itu, merasa sangat bersyukur. Meskipun hidupnya penuh dengan godaan kakaknya dan sikap posesif Nicholas, ia tahu bahwa ia dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!