Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Gerbang Sekolah yang Menegangkan
Suara bel panjang menandakan berakhirnya jam pelajaran terakhir di SMA Garuda Bangsa. Lana segera memasukkan buku sketsa dan alat tulisnya ke dalam tas ransel yang sudah mulai pudar warnanya. Gadis itu tidak sabar untuk segera pulang dan membantu pamannya di kedai kopi kecil mereka.
Lana berjalan menyusuri koridor sekolah dengan langkah yang terburu-buru. Beberapa teman sekelasnya tampak berkumpul di depan loker sambil membicarakan rencana akhir pekan. Lana hanya menunduk dan berusaha tidak menarik perhatian siapapun di sana.
Namun langkah kaki Lana mendadak terhenti tepat di ambang pintu gerbang utama sekolah. Matanya membulat sempurna saat melihat pemandangan yang sangat tidak biasa di depan matanya. Seluruh siswa yang hendak keluar gerbang kini tertahan oleh barisan pria berbadan tegap.
Sepuluh mobil sedan hitam mengkilap terparkir rapi menutupi jalanan utama di depan sekolah. Para pria yang mengenakan setelan jas hitam dan kacamata gelap berdiri kaku seperti patung di samping kendaraan masing-masing. Suasana yang tadinya bising oleh tawa remaja seketika berubah menjadi sunyi dan mencekam.
"Siapa mereka? Apa ada pejabat yang mau datang ke sekolah kita?" bisik seorang siswi di belakang Lana dengan nada gemetar.
Lana merasakan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia mengenali lambang kecil berbentuk perisai emas pada pintu mobil paling depan. Itu adalah lambang keluarga Al Fahri, keluarga paling berkuasa yang pernah diceritakan oleh pamannya.
Salah satu pria berjas itu melangkah maju sambil memegang sebuah foto di tangannya. Ia mengamati satu per satu wajah siswi yang berdiri membeku di balik pagar besi sekolah. Tatapan matanya yang tajam akhirnya terkunci tepat pada wajah pucat milik Lana.
"Nona Alana Griselda, silakan ikut kami sekarang juga," ucap pria itu dengan suara berat yang menggelegar.
Lana meremas tali ranselnya hingga buku-buku jarinya memutih karena takut. Ia mencoba mundur selangkah namun kakinya terasa lemas seperti jelly yang tak bertulang. Semua pasang mata kini tertuju padanya dengan tatapan penuh tanya dan kecurigaan.
"Saya tidak kenal kalian, saya mau pulang ke rumah paman saya," jawab Lana dengan suara yang nyaris hilang tertelan angin.
Pria itu tidak memberikan jawaban verbal melainkan hanya membukakan pintu mobil bagian tengah. Dari dalam mobil yang gelap itu perlahan turun seorang pria dengan seragam militer lengkap. Bintang di bahunya berkilau tertimpa sinar matahari sore yang mulai meredup di ufuk barat.
Pria itu memiliki rahang yang tegas dengan tatapan mata sedingin es di kutub utara. Postur tubuhnya yang tinggi dan atletis memberikan aura dominasi yang sangat kuat di area tersebut. Ia adalah Kolonel Adrian Al Fahri, pria yang namanya sering muncul di berita utama televisi nasional.
Adrian melangkah mendekati pagar sekolah tanpa memedulikan bisik-bisik histeris dari para siswi lainnya. Ia berhenti tepat di depan Lana yang kini hanya setinggi dadanya yang bidang. Aroma maskulin bercampur harum kayu cendana seketika menyeruak masuk ke indra penciuman Lana.
"Jangan membuat saya menunggu lebih lama lagi, Lana," ujar Adrian dengan nada memerintah yang mutlak.
Lana memberanikan diri menatap mata elang pria di hadapannya meski tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak mengerti mengapa seorang pahlawan nasional dan pengusaha senjata terbesar berada di sekolahnya. Ketakutan luar biasa mulai menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun kepala Lana.
"Apa salah saya? Kenapa Kolonel mencari saya ke sekolah?" tanya Lana dengan bibir yang bergetar.
Adrian tidak menjawab melainkan hanya menarik sebuah map cokelat dari balik punggungnya. Ia menunjukkan sebuah dokumen yang berisi tanda tangan paman Lana di atas materai yang sah. Mata Lana terbelalak saat membaca kalimat yang tertera jelas pada baris paling atas dokumen itu.
Dokumen itu adalah sebuah akta penyerahan hak asuh sekaligus perjanjian pernikahan yang sah secara hukum. Paman Lana telah menjual masa depan keponakannya sendiri demi melunasi hutang judi yang menumpuk. Dunia Lana terasa berputar hebat dan pandangannya mulai mengabur karena air mata yang menggenang.
"Mulai detik ini, kamu adalah tanggung jawab saya sepenuhnya di bawah hukum negara," kata Adrian tanpa ekspresi sedikit pun.
Adrian kemudian meraih pergelangan tangan Lana dan menariknya dengan lembut namun tidak terbantahkan. Lana ingin berteriak meminta tolong namun suaranya seolah tersangkut di tenggorokan yang terasa sangat kering. Ia diseret masuk ke dalam mobil mewah itu di bawah tatapan ratusan pasang mata teman sekolahnya.
Pintu mobil tertutup dengan dentuman yang terdengar seperti suara palu hakim di ruang sidang. Lana duduk di pojok jok kulit yang sangat empuk namun ia merasa seperti berada di dalam peti mati. Mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan gerbang sekolah yang selama ini menjadi tempat perlindungannya.
Di dalam mobil yang kedap suara itu, suasana terasa semakin menyesakkan bagi gadis berusia tujuh belas tahun tersebut. Adrian duduk di sampingnya sambil terus menatap layar tablet tanpa memedulikan isak tangis Lana. Keheningan ini jauh lebih menakutkan daripada suara tembakan meriam yang sering Lana dengar di film peperangan.
"Tolong lepaskan saya, Tuan, saya masih harus menempuh ujian akhir bulan depan," pinta Lana di sela isak tangisnya.
Adrian akhirnya menoleh dan menutup tabletnya dengan gerakan yang sangat tenang namun sangat berwibawa. Ia menatap Lana dari ujung rambut hingga ujung sepatu ketsnya yang sudah mulai jebol di bagian samping. Ada kilatan aneh di mata pria itu yang tidak bisa diterjemahkan oleh nalar remaja Lana.
"Kamu akan tetap sekolah, tapi bukan sebagai gadis biasa yang tinggal di gang sempit," sahut Adrian dengan nada datar.
Lana menyeka air matanya dengan punggung tangan sambil mencoba mencari celah untuk melarikan diri dari sana. Namun ia segera menyadari bahwa pintu mobil telah dikunci secara otomatis oleh sistem keamanan yang sangat canggih. Tidak ada jalan keluar bagi seekor burung kecil yang sudah masuk ke dalam sangkar emas.
Mobil melaju membelah kemacetan kota menuju sebuah kawasan elit yang dijaga ketat oleh penjaga bersenjata. Lana melihat deretan pohon cemara yang berbaris rapi di sepanjang jalan menuju sebuah kediaman yang sangat megah. Jantungnya berdebar kencang saat menyadari bahwa mobil itu memasuki markas besar militer terlebih dahulu.
"Kenapa kita ke sini? Bukankah Tuan bilang akan membawa saya ke rumah?" tanya Lana dengan penuh kecurigaan.
Adrian hanya melirik sekilas ke arah jendela sebelum kembali menatap mata cokelat milik istri kecilnya tersebut. Ia menyunggingkan senyum tipis yang tampak sangat mengerikan sekaligus sangat menawan secara bersamaan bagi Lana. Senyum itu seolah menandakan bahwa penderitaan sekaligus kemewahan Lana baru saja dimulai hari ini.
"Kita akan melegalkan pernikahan ini di depan saksi negara sebelum matahari terbenam sepenuhnya," jawab Adrian singkat.
Lana terkesiap dan merasa seluruh pasokan oksigen di sekitarnya mendadak hilang tanpa sisa sedikit pun. Ia melihat beberapa perwira militer sudah berdiri berbaris di depan sebuah gedung putih dengan karpet merah terbentang. Ketakutan itu kini berubah menjadi sebuah kenyataan pahit yang harus ia telan bulat-bulat tanpa ada pilihan lain.
Iring-iringan mobil hitam itu akhirnya berhenti tepat di depan tangga gedung yang terlihat sangat sakral dan agung tersebut.