Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIA 10
Miranda masih tertegun melihat Saras yang baru saja melewati dirinya. Rambut perempuan itu tampak basah, terkena gerimis yang turun pelan di sore hari. Air menetes dari ujung rambutnya meninggalkan jejak kecil di lantai marmer.
“Jangan melamun terus.”
Suara itu membuat Miranda tersentak. Ia menoleh dan mendapati Bi Mirna berdiri di belakangnya. Miranda tersenyum kecil, mencoba menutupi kegelisahan di dadanya.
Adzan magrib berkumandang dari masjid dekat rumah. Miranda segera melangkah ke kamarnya, mengambil mukena, lalu menunaikan salat.
Namun ketenangan tak juga datang.
Dalam setiap gerakan, pertanyaan itu terus muncul.
Siapa sebenarnya yang bersama Rizki di Kantor?
Siapa yang memgang Ponsel Rizki dan mengirim foto kamar mandi yang ada di ruangan Rizki?
Apakah suaminya benar benar selingkuh?
Dari sikap Rizki sore tadi, Miranda semakin yakin. Cara suaminya menghindar, foto aneh yang dikirimkan, telepon yang dimatikan, semua terasa terlalu janggal.
Belum lagi kedatangan Nadia. Siapa sebenarnya perempuan itu.?
Mengapa Anton begitu memujinya.?
Mengapa semuanya terasa seperti sandiwara yang disusun rapi.?
Pikiran itu berputar tanpa henti di kepalanya. Hingga tanpa sadar, Miranda lupa sudah sampai rakaat ke berapa.
Ia terdiam.
Menarik napas panjang, lalu beristigfar pelan.
Miranda mengulang salatnya dari awal. Beberapa kali ia harus berhenti karena pikirannya kembali melayang. Baru setelah berusaha menenangkan diri, ia akhirnya bisa menyelesaikan salat magrib dengan benar.
Begitu keluar kamar, telinganya langsung menangkap tangisan Amora.
Miranda bergegas menuju kamar bayi.
Di depan pintu, ia tertegun. Raka sedang menggendong Amora, menimangnya dengan wajah lelah.
“Biar aku saja, Mas,” tawar Miranda lembut.
“Sudah, aku saja. Aku tidak mau Amora jadi beban buat kamu,” jawab Raka lirih.
“Mas, sejak lahir Amora aku yang mengurus. Jangan bicara begitu. Aku tidak merasa terbebani,” sahut Miranda.
Tangisan Amora justru semakin keras.
“Sepertinya dia pipis, Mas,” ujar Miranda pelan. “Mas sebaiknya salat dulu saja.”
Raka tidak menjawab. Ia melangkah mendekat, menyerahkan Amora ke dalam pelukan Miranda.
“Aku mau salat dulu, Miranda. Maafkan Amora yang sudah merepotkanmu,” katanya lirih, lalu pergi.
Miranda menatap punggung kaka iparnya sejenak, lalu fokus pada Amora.
Dengan telaten ia mengganti popok, membersihkan tubuh kecil itu, mengoleskan minyak telon dan bedak, lalu memakaikan baju baru. Aroma khas bayi memenuhi ruangan.
Miranda menimang Amora, memberinya susu fomula, membisikkan kata kata lembut.
Butuh waktu lama.
Satu jam setengah ia menggendong, menepuk, menenangkan.
Hingga akhirnya Amora tertidur pulas.
Tubuh Miranda terasa pegal. Tangannya linu. Pinggangnya panas menahan berat tubuh bayi yang semakin hari semakin besar.
Setelah meletakkan Amora di boks, Miranda melangkah keluar kamar.
Dadanya masih sesak.
Dan firasat buruk itu belum juga pergi.
Di ruang tengah tidak ada siapa siapa. Miranda melanjutkan langkahnya ke ruang makan.
Dan di sanalah dadanya seketika terasa runtuh.
Ayah mertuanya, Raka, Rizki, dan Saras sedang duduk mengelilingi meja makan. Piring piring terhidang rapi. Uap nasi masih mengepul. Suasana tampak hangat, seperti keluarga yang sedang menikmati makan malam bersama.
Namun ada satu pemandangan yang membuat mata Miranda panas.
Saras sedang menuangkan nasi ke piring Rizki.
Gerakannya lembut. Tangannya terampil. Senyumnya tipis, penuh perhatian.
Miranda mengepalkan tangan. Kukunya menusuk telapak sendiri, tapi ia tidak peduli. Dadanya terasa sesak, napasnya berat.
Dalam hati ia bergumam lirih, “pantas saja Saras cepat pulang. Rupanya ingin melayani suami orang”
“Kemana saja kamu, Miranda?” tegur Anton keras.
Miranda melangkah mendekat, menarik kursi, lalu duduk di samping Raka. Kursi di samping Rizki sudah ditempati Saras.
“Kamu ini bagaimana sih, Miranda,” lanjut Anton dengan nada tinggi. “Tadi pagi baru saja Ayah nasihati supaya kamu melayani suami kamu dengan baik. Tanyakan kapan dia pulang, siapkan semua kebutuhannya. Eh, kamu malah asyik di kamar, teleponan sama orang lain. Kamu ini benar benar aneh.”
Miranda menunduk. Tangannya kembali mengepal.
“Aku tidak sibuk menelpon orang lain di kamar, aku lagi,,,,” ucapnya pelan.
“Sudahlah, Paman, jangan marahi Miranda,” potong Saras lembut. “Mungkin Miranda sedang banyak pikiran. Maaf ya, Mir. Aku tadi sudah melayani Mas Rizki makan, aku juga sudah siapkan baju gantinya. Kamu dipanggil panggil dari tadi tidak menyahut.”
Miranda menoleh tajam pada saras, saras membalas dengan senyuman sinis
Miranda menoleh ke Raka, harusnya Raka menjelaskan pada semuanya, Kalau dia tadi sedang mengurus anak Raka. Hampir dua jam menggendong, bahkan pinggang saja masih terasa panas dan sekarang langsung dituduh tidak melayani suami dengan baik karena sibuk menelpon seseorang
Dan Miranda harus kecewa karena Raka hanya diam, seolah Miranda dimarahi tidak ada hubungannya. Ia terus makan, seolah semua ini tidak ada hubungannya dengan dirinya.
“Benar-benar tidak berguna!” ucap Rizki.
“Kenapa kamu bilang seperti itu?” tanya Miranda.
Rizki menatap tajam Miranda, sendok dan garpu masih dia pegang.
“Aku mencari kamu di kamar, tapi kamu tidak ada, dan kamu malah asyik teleponan di kamar Amora,” ucap Rizki menuduh.
“Aku di kamar Amora tidak sedang teleponan!”
“Cukup, Miranda! Jangan ribut saat makan!” tegur Anton keras.
“Aku tidak terima ditegur terus dan disalahkan terus!” ucap Miranda, nadanya meninggi sedikit.
“Sudah, Miranda, diam! Semua sudah beres, kok. Kamu jangan banyak membantah lagi. Kamu sering menjadikan Amora sebagai alasan, padahal kamu tidak punya pekerjaan,” ucap Saras sangat menyayat hati.
“Diam kamu, pelakor!” bentak Miranda.
“Miranda!!!” bentak Ayah Anton dan Rizki bersamaan.
Miranda tidak gentar. Ia memandang Rizki dengan tajam, kemudian berdiri.
“Kamu lihat ponsel kamu, hah!” ucap Miranda.
“Berapa kali aku menelepon kamu, tapi tidak kamu angkat!” lanjut Miranda dengan napas tersengal.
“Berapa puluh pesan aku kirim menanyakan kapan pulang dan kamu tidak juga membalas!”
Miranda terus menatap Rizki dengan tajam.
“Aku menanyakan kapan kamu pulang, kamu tidak jawab. Setelah kamu pulang aku tidak menyiapkan semua kebutuhan kamu, lantas kamu terus menyalahiku!”
“Miranda, kasihan Mas Rizki, jangan dimarahi. Seharian dia meeting dan cek proyek, dia pasti lelah,” ucap Saras dengan nada menenangkan.
“Diam!!!” ucap Miranda. “Apa maksud kamu terus menyiapkan kebutuhan suamiku, ha! Apa kamu sedang memamerkan kalau kamu bisa merebut suami orang!”
“Miranda!!!” teriak Anton.
“Apa?” tanya Miranda.
“Minta maaf sama Saras! Sudah bagus dia sudah melayani kamu, malah kamu marah!” ucap Anton dengan emosi yang tinggi, dan Raka hanya diam, malah asyik makan.
“Aku tidak akan pernah minta maaf pada wanita yang berusaha merebut suamiku!” ucap Miranda.
“Miranda…” teriak Rizki, datang menghampiri Miranda.
Dua tahun menikah, Miranda selama ini selalu menurut, tidak membantah.
Dan akhir-akhir ini sering membantah, dan bagi Rizki itu penghinaan. Miranda harus diberi pelajaran.
“Apa!” ucap Miranda. Mereka sekarang saling berhadapan, Miranda tidak menampilkan rasa gentar sama sekali.
“Minta maaf sama Saras!” Mata Rizki melotot, suaranya meninggi.
“Tidak mau!” ucap Miranda tegas.
“Plak!” Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Miranda.
Semua tertegun. Baru kali ini Rizki menampar wanita.
“Cepat minta maaf sama Saras!” ucap Rizki.
“Tidak mau!” kembali Miranda menolak.
Tangan Rizki mengangkat, kembali melayangkan tamparan pada Miranda.
“Plak… plak… plak…” tiga kali suara tamparan terdengar.
Tapi bukan Miranda yang ditampar, melainkan Rizki.
Tangan Miranda memegang tangan Rizki, tangan yang lain menampar pipi Rizki berulang.
“Kurang ajar!” teriak Rizki.
“Plak… plak… plak… plak!” Miranda menampar Rizki bolak-balik, tangan dipelintir, pipi ditampar. Miranda tidak membiarkan Rizki bergerak, jatuh pun tak bisa.
Miranda melepas tangannya, lalu Rizki jatuh.
Semua terpana, Raka pun menghentikan makannya.
Miranda melangkah besar menuju kamar tamu.
“Bruk!” pintu kamar ditutup keras.