-Dark Romance
-Bukan untuk anak-anak.
-Adegan kekerasan dan darah.
Sherly gadis berusia 21 tahun, yang mengalami kematian setelah tertabrak mobil. Kini jiwanya justru memasuki sebuah novel, dan masuk ke dalam raga dari sang tokoh utama yang memiliki nama depan sama sepertinya.
Sherly Agda Yeremia, tokoh utama perempuan bodoh dan lemah yang tidak pernah dianggap, bahkan diselingkuhi beberapa kali oleh Vincent suaminya.
Tapi dengan jiwa baru, semua cerita berubah. Sherly yang baru tidak peduli dan mengabaikan Vincent. Bahkan Sherly memilih untuk melindungi, Jeremy Christ Chadwick, tokoh antagonis favoritnya yang akan mati pada akhir cerita.
Di balik wajah tampan penuh pesona, Sherly tidak pernah menduga jika Jeremy memiliki sisi gelap dan obsesi tersembunyi pada tokoh utama.
“Setelah ini, kau tidak akan bisa lari dariku, Sherly sayang~ Kau adalah milikku, tidak peduli jika kau sudah memiliki suami.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnes Fetrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : bukti rekaman kekerasan
Sherly terdiam di atas tempat tidur, setelah pemeriksaan dari dokter. Pikirannya sedikit kacau, setelah dirinya dinyatakan hamil. Sherly sebenarnya tidak masalah mengenai kehamilannya, tapi bagaimana selanjutnya ?? Mungkinkah dia bisa bercerai dengan Vincent ??
Sementara Jeremy di sebelahnya, terlihat sangat bahagia. Tangan kirinya membelai rambut Sherly, dan tangan kanannya mengelus perut rata wanita itu dengan senang.
“Setelah ini, kau bercerai dengannya, dan menikah denganku. Aku tidak sabar, menunggu hari itu, Sherly.” Ujar Jeremy dengan senang, Sherly menolehkan kepalanya, dan terdiam sejenak mengamati wajah tampan dengan senyuman manis itu, binar kebahagiaan bisa dia lihat dari balik bola mata Jeremy.
Sherly membentuk senyuman kecilnya. Jeremy mendekati perut yang rata itu, dan menciumnya perlahan.
“Aku benar, bukan ?? Sherly ?? Kau akan hamil denganku, dan memiliki anak dariku.” Ujar Jeremy dengan senang tapi wajahnya masih setia menatap perut rata itu, Sherly tertawa pelan.
Jeremy mengangkat kepalanya menatap wajah indah Sherly, dia kemudian mendekati wanita itu, sehingga wajah keduanya berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Sherly tersenyum menatap wajah Jeremy yang juga terlihat sangat bahagia. Jeremy kemudian memberikan sedikit kecupan di bibir Sherly dengan singkat.
Sherly terkejut dengan tindakan itu, tapi kemudian memerah malu wajahnya. Jeremy tersenyum jahil, saat Sherly memalingkan wajahnya.
“Astaga.. Ingat ini di rumah sakit, bukan di hotel.”
Sherly dan Jeremy menoleh mendapati Rachel, menyilangkan kedua tangan di dadanya, dengan wajah kesal. Karena harus melihat kemesraan antara dua pasangan itu. Sherly menutup mulutnya, itu artinya tadi..
“Kau mengganggu kesenanganku, Rachel !!” Ujar Jeremy dengan kesal, membuat Rachel menggelengkan kepalanya pelan.
“Karena wanita itu tidak terlalu parah, kau bisa membawanya pulang.” Ujar Rachel berbicara pada Jeremy, membuat lelaki itu menaikkan alisnya.
“Kau mengusirku ??”
Rachel memberikan tatapan datarnya, “Tentu saja !! Aku tidak mau rumah sakit ini viral, karena pasangan yang melakukan aksi mesum disini !!” Ujar Rachel dengan sedikit ketus kepada Jeremy, tapi lelaki itu malah tertawa geli pada sahabatnya.
“Tidak apa, lagipula kau bisa menyaksikan video biru secara langsung dan-”
“Hey !! Hey !! Simpan saja, sisi mesum untuk dirimu sendiri !!” Rachel membulatkan matanya saat Jeremy berbicara dengan lancarnya, sementara Sherly semakin malu saja, rasanya dia ingin mengubur dirinya sendiri di dalam tanah, mendengarkan perkataan Jeremy.
“Pfftt.. Hahaha.. Baiklah.. Baiklah, tuan sok suci. Kita akan pergi dari sini.” Ujar Jeremy tertawa kecil, dan memberikan nada sok sinis menanggapi perkataan Rachel.
Dokter itu hanya bisa menatap datar ke arah Jeremy yang mengangkat tubuh Sherly, menggendongnya ala bridal.
“Untuk luka lebam di wajahnya, kau bisa mengompresnya dengan air dingin, dan pakai krim yang sudah aku berikan.” Ujar Rachel memberikan penjelasan kecil pada Sherly dan Jeremy.
“Iya.. Iya dokter cerewet, ini sudah 10 kali kau membicarakannya !!”
“10 kali, apanya ?! Baru 3 kali !! Berikan aku waktu tambahan, dan aku akan mengatakannya 100 kali di telingamu !!” Ujar Rachel dengan ketus, ke arah Jeremy yang mengatainya cerewet. Kurang ajar sekali, sahabatnya satu itu, untung saja Rachel masih memiliki banyak stok kesabaran yang banyak.
Sherly terkekeh pelan mendengarkan perdebatan kecil keduanya, sebelum keluar dari ruangan, Jeremy sempat melirik ke arah Rachel.
“Ya.. Ya.. Ya.. Sampai jumpa, sahabat kesayangaku.. Muach~” Ujar Jeremy dengan nada di buat-buat, Rachel memberikan ekspresi penuh rasa jijiknya.
“Menjijikan !! Pergi dari sini !!”
Jeremy lalu tertawa geli, sambil berjalan membawa Sherly keluar dari ruangan itu, sebelum Rachel mengamuk dan melemparnya dengan bantal, karena kesal.
...
“Aku bisa jalan sendiri, Jeremy.”
“Tidak boleh~ aku akan menjagamu mulai saat ini, dari apapun sayang~” Ujar Jeremy masih dengan posisi menggendong Sherly, membawa wanita itu masuk ke dalam rumah besar nan mewah, hingga mereka sampai di ruang tengah.
“Lho ?? Kak Jefry ?? Ana ?? Ngapain kalian disini ??” Tanya Jeremy bingung mendapati kakak, dan asistennya itu duduk di atas kursi sofa. Sherly mengamati wajah lelaki yang duduk di depannya, dengan mencoba mengingat lelaki itu, apakah pernah muncul di novel atau tidak-
“Itu adalah kakakku, Jefry. Dan Ana, kau sudah bertemu dengannya di perusahaan. Ana adalah kekasih dari kakakku, Jefry.” Ujar Jeremy memperkenalkan kedua orang di depannya, Sherly menganggukkan kepalanya.
“Astaga, Sherly.. Ada apa dengan wajahmu ??” Tanya Ana saat melihat wajah Sherly ada beberapa luka lebam, yang terlihat jelas. Ana terlihat sangat terkejut sekaligus khawatir, tapi Sherly terdiam, dia bingung harus menjelaskan apa.
“Aku akan menjelaskan kepada kalian berdua nanti, biarkan aku membawa Sherly ke dalam kamar dulu. Dia perlu istirahat.” Ujar Jeremy sembari tersenyum kecil.
Meskipun sebenarnya keduanya hendak memberikan banyak pertanyaan, tapi keduanya urungkan karena Jeremy sudah membawa Sherly pergi dari ruang tengah itu. Ana menghela nafasnya berat.
“Biarkan saja, sayang. Nanti Jeremy akan berbicara pada kita.” Ujar Jefry tersenyum membelai rambut kekasihnya.
“Aku tahu, aku hanya khawatir.. Sherly terluka cukup parah.” Ujar Ana dengan khawatir, Jefry tersenyum kecil.
Sejak tadi, Ana membicarakan mengenai Sherly, dia ingin sekali menjadikan wanita itu sebagai sahabat dan temannya. Ana terkenal sangat sulit mendapatkan teman, tapi baru kali ini Ana sangat ingin dekat dengan Sherly.
“Aku yakin, Jeremy pasti bisa melindunginya.”
Disisi lain..
Jeremy menaruh Sherly di dalam kamarnya, tepatnya di atas kasur dengan perlahan. Jeremy menatap wajah indah didepannya, tangannya terjulur ke depan, menyingkirkan rambut Sherly, yang berada di depan. Seakan tidak ingin ada satu rambut yang bisa menutupi wajah indah itu.
“Sherly.. Aku serius saat membahas masalah perceraian.” Ujar Jeremy menurunkan tangannya, menatap ke arah Sherly dengan serius. Wanita itu menganggukkan kepalanya.
“Aku akan berpisah dengannya.”
“Agar perceraian lebih cepat, sebaiknya kau melaporkan atas kasus kekerasan Vincent kepadamu.” Ujar Jeremy, membuat Sherly terdiam sejenak, menatap ke arah Jeremy dengan banyak pertanyaan di dalam pikirannya.
“Ba... Bagaimana caranya ?? Apa kau memiliki bukti ??”
Jeremy terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya, “Ya, aku memiliki banyak bukti, hasil rekaman medis, dokter yang memeriksamu juga bisa menjadi sanksi, dan... Rekaman.”
“Rekaman ??”
Jeremy tidak banyak bicara, dia kemudian memutar tubuhnya ke arah samping, tepatnya ke arah meja nakas di sebelahnya, lalu membuka rak bagian bawah meja nakas itu, dan meraih sebuah benda pipih yang lebar dan panjang. Sherly melihat Jeremy meraih sebuah tablet, lalu menutup kembali rak meja itu.
Kemudian membalikkan badannya kembali ke arah Sherly, sembari menyalakan tombol on pada tablet itu, sehingga layarnya mulai bercahaya.
“Aku minta maaf, sejak lama aku mengamati kehidupanmu di saat bersama dengan Vincent.” Ujar Jeremy menjelaskan tapi matanya menatap ke arah Tablet, dan tangannya bergerak di layar tablet itu.
“Mengamati ??”
“Lebih tepatnya, memata-matai dan merekam aktivitas di dalamnya.. Dan aku.. Menangkap momen di saat Vincent melakukan kekerasan padamu, di dalam kameraku.” Ujar Jeremy kemudian mengangkat kepalanya menatap ke arah Sherly, ingin tahu apakah wanita itu takut kepadanya atau tidak, tapi ekspresi wanita itu lebih ke arah penasaran dan bingung, tanpa rasa takut sedikitpun.
🌟🌟🌟
..