Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin?
Hari Sabtu yang dinanti sekaligus ditakuti akhirnya tiba, Kanaya berdiri di depan cermin kecilnya, menatap pantulan dirinya sendiri, di mana ia memilih pakaian yang simpel namun rapi, Kanaya menggunakan rok a-line maxi skirt berwarna khaki dipadukan dengan kemeja navy yang lengannya digulung hingga siku.
Kanaya hanya memulaskan bedak tipis dan liptint berwarna peach yang segar, Arin sempat mengirimkan pesan penuh penyesalan karena tiba-tiba dipanggil lembur oleh atasannya di bank, namun bagi Kanaya, ini adalah berkah tersembunyi karena ia tidak perlu merasa seperti manekin yang sedang didandani untuk kencan buta.
Saat Kanaya masih menatap dirinya di cermin, tiba-tiba ponselnya bergetar yang menandakan sebuah pesan masuk lalu Kanaya mengambil ponselnya yang ada diatas meja dan membaca pesan tersebut.
[Aku sudah sampai]
Kanaya menarik napas panjang dan mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mulai berulah, ia mengambil tas selempangnya dan melangkah keluar.
Namun, baru saja Kanaya berbalik dan begitu terkejut ketika melihat Narendra, Kanaya mengira Narendra akan menunggunya di mulut gang, namun sosok tegap itu justru sudah berdiri di depan gerbang kosnya.
Narendra tampil jauh berbeda dari citra Dokter dingin di rumah sakit, ia mengenakan kaos polo berwarna abu-abu gelap yang pas di tubuhnya yang dipadukan dengan celana chino hitam dan sepatu loafers. Jam tangan mewah di pergelangan tangannya tetap memancarkan aura kelas atas, ia bersedekap dada di lorong kos yang sempit membuatnya tampak seperti pebisnis yang akan membeli tanah di sana.
"Kenapa diam? Ada yang salah dengan wajahku?" tanya Narendra datar, namun matanya menatap Kanaya tanpa berkedip.
"Ke-kenapa kamu nunggu disini?" tanya Kanaya.
"Kenapa memangnya?" tanya Narendra.
"Nggak kenapa-napa sih," ucap Kanaya.
"Ayo," ajak Narendra.
Narendra berjalan di depan dan Kanaya berada di belakang karena gang tersebut terlalu sempit untuk jalan berdampingan, jarak diantara mereka cukup dekat hingga Kanaya bisa mencium aroma sandalwood dan sabun yang maskulin dari tubuh Narendra yang mampu mengalahkan aroma masakan warga yang biasanya memenuhi gang itu di jam sembilan pagi.
Beberapa tetangga kos Kanaya yang sedang mencuci baju di depan kamar atau sekadar duduk santai tampak memperhatikan mereka dengan terang-terangan, bahkan seorang bapak-bapak yang sedang menyeruput kopi bahkan sampai menurunkan gelasnya, menatap bingung melihat pria ningrat berjalan di lingkungan mereka.
"Narendra, pelan-pelan jalannya. Lantainya sedikit licin karena sisa air cucian warga," peringat Kanaya pelan, ia merasa tidak enak karena Narendra harus melewati lingkungan kumuh seperti ini.
Narendra menghentikan langkahnya sejenak dan melirik ke arah genangan air sabun di lantai semen yang tak rata itu dengan dahi sedikit berkerut, namun alih-alih merasa jijik, ia justru berbalik dan mengulurkan tangan kirinya ke arah Kanaya.
"Makanya jangan jalan di belakangku," ucap Narendra dan nadanya tidak menerima bantahan.
Kanaya ragu sejenak, namun tatapan menuntut Narendra membuatnya akhirnya meletakkan jemarinya di atas telapak tangan pria itu. Narendra tidak menggenggamnya dengan lembut, melainkan menariknya agar berjalan tepat di sisinya dan memaksa mereka berjalan sangat rapat agar tidak menyenggol ember-ember cucian warga.
"Narendra, sempit...," bisik Kanaya, wajahnya sudah memanas karena lengan mereka yang bersentuhan intens.
"Tahan sebentar, aku tidak mau sepatuku atau rokmu terkena air kotor itu," jawab Narendra tenang seolah berjalan di gang kumuh sambil merangkul protektif seorang gadis adalah hal yang biasa ia lakukan setiap pagi.
Begitu mereka sampai di mulut gang, sebuah mobil mewah berwarna putih yang tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitar sudah terparkir di sana. Narendra melepaskan tangan Kanaya dan membukakan pintu penumpang depan dengan gerakan yang sangat efisien namun sopan.
"Masuklah, di dalam lebih sejuk," ucap Narendra.
Setelah itu, Narendra duduk di balik kemudi dan mesin mobil menderu halus, kesunyian yang sedikit canggung menyelimuti kabin mobil yang kedap suara itu dan Narendra mulai menjalankan mobilnya membelah jalanan Kota B yang mulai ramai.
"Ki-kita mau kemana?" tanya Kanaya.
"Aku sempat cari beberapa tempat yang bagus, ada kafe di kawasan pegunungan," ucap Narendra dan diangguki Kanaya.
Mobil terus melaju meninggalkan hiruk-pikuk pusat kota dan mendaki perlahan menuju kawasan yang lebih sejuk, pepohonan hijau mulai mendominasi pemandangan di balik jendela. Di dalam kabin, hanya ada suara musik instrumen yang sengaja diputar Narendra dengan volume rendah seolah ia tahu bahwa Kanaya sedang butuh ketenangan untuk mengatur detak jantungnya.
"Kamu sekarang sudah jadi guru?" tanya Narendra yang mencoba basa basi.
"Iya," jawab Kanaya.
"Kenapa nggak jadi guru di Ibu kota aja? kenapa harus sampai pindah ke kota B?" tanya Narendra.
"Oh, i-itu... aku emang pengen kerja di luar Ibu kota sih dan ya aku diterima di sini," ucap Kanaya.
Narendra memutar kemudi dengan lihai, membawa mobil masuk ke area parkir sebuah kafe tersembunyi yang arsitekturnya didominasi kayu dan kaca besar. Lokasinya tepat di pinggir tebing, menyuguhkan pemandangan lembah hijau yang tertutup kabut tipis dan begitu mesin mobil mati, kesunyian kembali menyergap.
"Kita sampai," ucap Narendra singkat.
Narendra turun lebih dulu dan kembali menunjukkan sisi gentleman-nya dengan membukakan pintu untuk Kanaya, udara dingin pegunungan langsung menusuk pori-pori membuat Kanaya sedikit merapatkan kemeja navy-nya.
"Dingin?" tanya Narendra menyadari gerakan kecil Kanaya.
Tanpa menunggu jawaban, Narendra memberi isyarat agar Kanaya masuk ke dalam kafe. Mereka memilih meja di area semi-terbuka yang paling pojok, jauh dari pengunjung lain lalu seorang pelayan datang membawa menu dan Narendra langsung memesan Americano panas, sementara Kanaya memilih Earl Grey tea untuk menenangkan sarafnya yang tegang.
Setelah pelayan pergi, Narendra menyandarkan punggungnya dan menatap Kanaya dengan intensitas yang sama seperti saat mereka masih mahasiswa dulu.
"Ke-kenapa? apa riasanku terlalu tebal?" tanya Kanaya.
"Tidak," jawab Narendra.
Kanaya yang gugup pun mengalihkan pandangannya dan melihat ke sekelilingnya, Kanaya dapat melihat tatapan kagum para perempuan yang ada disana pada Narendra.
Narendra memperhatikan arah pandangan Kanaya yang menyapu seisi kafe lalu ia mendengus pelan seolah menyadari apa yang sedang dipikirkan gadis di depannya. Narendra sama sekali tidak peduli dengan tatapan memuja dari meja-meja tetangga, baginya hanya ada satu orang yang patut diamati pagi ini.
"Fokus ke sini, Kanaya. Jangan memperhatikan orang lain," tegur Narendra.
Kanaya kembali menoleh dan wajahnya merona karena tertangkap basah sedang mengamati situasi, "Aku cuma mau melihat pemandangannya, tempatnya bagus sekali," ucap Kanaya.
"Aku sengaja memilih tempat yang tenang agar kita bisa mengobrol dan nggak ada yang ganggu," ucap Narendra.
.
.
.
Bersambung.....