NovelToon NovelToon
The Fault In Our Secrets

The Fault In Our Secrets

Status: tamat
Genre:Ketos / Duniahiburan / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:10
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Siang itu, koridor sekolah yang mulai sepi menjadi saksi bisu bahwa Jenny "si gadis manis" telah benar-benar berganti kulit menjadi Jenny "sang ratu yang tak tersentuh". Saat melihat Claudia berjalan menunduk sambil membawa tumpukan buku di depan lab Biologi, Jenny tidak menghindar. Sebaliknya, ia mempercepat langkahnya.

BRAKK!

Bahu Jenny menghantam bahu Claudia dengan cukup keras, membuat gadis yang tengah rapuh itu kehilangan keseimbangan dan tersungkur di atas lantai ubin yang dingin. Buku-buku yang dibawanya berantakan ke segala arah.

"Upps, sorry ya. Lantainya licin, atau kaki lo yang emang udah nggak kuat nahan beban dosa?" ucap Jenny sambil berdiri tegak di depan Claudia yang terduduk lemas.

Claudia mendongak, matanya berkaca-kaca. "Jen, kamu sengaja kan—"

"Iya, gue sengaja. Kenapa? Mau lapor?" potong Jenny cepat. Ia membungkuk, menatap Claudia tepat di depan wajahnya dengan tatapan yang sangat mengintimidasi. "Gue peringatin sama lo, jangan pernah ikut campur urusan gue lagi, sampah! Lo pikir gue bego nggak tau kemarin lo ngomong apa sama Angga di belakang perpus?"

Wajah Claudia memucat. Ia memang sempat mencegat Angga kemarin, mencoba membisikkan bahwa Jenny hanya memanfaatkan Angga untuk membuat Jonathan cemburu.

"Lo mau jadi uler lagi setelah kemarin sukses ngerusak tiga tahun gue sama Jonathan brengsek itu? Denger ya, Claud. Sekali lagi lo sebut nama gue di depan cowok mana pun di sekolah ini, gue pastiin video lo nangis-nangis di ruang kepsek kemarin bakal viral di grup angkatan. Ngerti lo?!"

Claudia hanya bisa mengangguk pelan dengan tubuh gemetar. Ia tidak menyangka Jenny yang dulu begitu pemaaf bisa berubah menjadi sekejam ini. Jenny berdiri, merapikan rok pemandu soraknya, lalu melangkah pergi begitu saja tanpa membantu Claudia sedikit pun.

Sore harinya, suasana di GOR SMA Garuda sangat riuh. Tim voli putra sedang melakukan pertandingan simulasi internal untuk persiapan turnamen antar sekolah. Di tribun utama, Jenny duduk dengan gaya anggun, mengenakan jaket varsity sekolah yang tersampir di bahunya. Kehadirannya mengundang banyak pasang mata, mengingat ia adalah pusat dari segala drama pekan ini.

Di lapangan, dua sosok menjadi pusat perhatian. Angga, dengan jersei putihnya, tampak sangat bersemangat. Ia berkali-kali melirik ke arah tribun, berusaha menunjukkan smash terbaiknya setiap kali mendapat umpan. Sementara itu, Romeo berada di tim lawan dengan jersei hitam nomor 07. Wajahnya terlihat jauh lebih serius dan dingin dari biasanya.

"Semangat, Angga! Keren banget smash-nya!" teriak Jenny dengan suara nyaring, sengaja memberikan senyuman manis yang paling mematikan.

Angga membalas dengan jempol dan kedipan mata. Namun, di sisi lapangan lain, Romeo tampak tidak senang. Ia melakukan servis dengan kekuatan yang luar biasa kencang hingga bola melesat tak terbendung dan mendarat tepat di garis belakang tim Angga.

"Fokus, Ngga! Jangan cuma liatin penonton!" sindir Romeo dengan nada tajam saat mereka berpindah posisi di dekat net.

Pertandingan berlanjut semakin panas. Angga terus mencoba mencari perhatian Jenny, sementara Romeo bermain seolah-olah ia sedang melampiaskan amarahnya pada bola. Setiap kali Jenny bersorak untuk Angga, Romeo akan membalas dengan blok atau serangan yang lebih brutal.

Saat waktu istirahat tiba, Jenny turun dari tribun. Ia membawa dua botol air mineral dingin. Angga segera berlari menghampirinya dengan napas terengah-engah dan keringat yang bercucuran.

"Gila, lo beneran dateng, Jen. Gue jadi makin semangat," ucap Angga sambil menerima botol dari Jenny.

"Gue kan udah janji mau nyemangatin lo," jawab Jenny manis. Ia mengeluarkan tisu dari saku jaketnya dan tanpa ragu menyeka keringat di dahi Angga.

Tindakan itu membuat seisi GOR bersorak menggoda. Namun, kemesraan itu terhenti saat Romeo berjalan melewati mereka dengan langkah kasar menuju kursi pemain. Ia tidak berhenti, hanya melirik sekilas dengan tatapan yang bisa membekukan apa pun.

"Haus, Rom?" tanya Jenny, mencoba memancing reaksi cowok red flag itu.

Romeo berhenti, berbalik perlahan, lalu menatap botol air mineral yang masih dipegang Jenny. "Gue nggak butuh air bekas sorakan buat orang lain."

"Galak banget sih. Padahal gue juga mau kasih ini buat kapten terbaik kita," ucap Jenny sambil menyodorkan botol kedua.

Romeo menatap botol itu, lalu menatap tangan Jenny. Tanpa diduga, ia merebut botol itu dengan kasar, tapi bukannya meminumnya, ia justru menyiramkan airnya ke kepalanya sendiri untuk mendinginkan diri.

"Lain kali, kalau mau cari perhatian, jangan pakai cara murahan kayak gini, Jen," bisik Romeo saat ia berdiri sangat dekat dengan Jenny, cukup dekat hingga Angga yang berdiri di samping mereka merasa terancam.

"Gue nggak cari perhatian, Rom. Gue cuma lagi menikmati kebebasan gue," balas Jenny tenang.

"Kebebasan lo itu berisik," ketus Romeo sebelum kembali ke tengah lapangan.

Di sudut gelap tribun atas, dua pasang mata mengamati kejadian itu dengan penuh dendam. Lisa dan Claudia. Lisa yang biasanya berteriak-teriak, kini tampak lebih tenang namun dengan aura yang lebih berbahaya. Surat dari Jenny kemarin benar-benar mengubah cara pandangnya.

"Lo liat kan, Claud? Dia nggak cuma ngerusak hubungan lo sama Jonathan, dia juga mau ambil Romeo dari gue," desis Lisa.

Claudia mengusap bahunya yang masih terasa sakit akibat tubrukan Jenny tadi. "Dia udah berubah, Lis. Dia bukan Jenny yang kita kenal. Dia mau kita semua hancur."

"Gue nggak bakal biarin itu terjadi," Lisa mengepalkan tangannya. "Gue punya sesuatu yang bisa bikin dia nggak bakal berani nampakin muka lagi di sekolah ini. Dan gue butuh bantuan lo buat nyebarinnya."

Claudia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan racun. "Apa pun, Lis. Asal cewek itu jatuh, gue bakal lakuin apa pun."

Malam itu, saat semua orang merayakan kemenangan kecil tim voli di kafe dekat sekolah, sebuah rencana jahat mulai disusun di dalam grup chat rahasia. Jenny mungkin merasa ia telah menang, namun ia lupa bahwa ular yang terluka biasanya akan menyerang dengan bisa yang jauh lebih mematikan.

Sementara itu, di motor Romeo, Jenny duduk sambil menatap punggung tegap cowok itu.

"Kenapa lo diem aja dari tadi?" tanya Jenny.

"Gue lagi mikir, berapa banyak cowok lagi yang mau lo bikin gila minggu ini?" sahut Romeo dingin.

Jenny tertawa, sebuah tawa yang terdengar jujur di tengah gelapnya malam. "Gue cuma mau satu orang yang beneran tulus, Rom. Tapi kayaknya, di sekolah ini tulus itu barang langka."

Romeo tidak menjawab, tapi ia mengeratkan pegangannya pada stang motor, memacu kendaraannya menembus angin malam yang dingin, membawa Jenny menjauh dari tatapan penuh benci yang mengintai mereka dari kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!