Zavian Hersa mengira jalannya menuju keseriusan cinta dengan Grace akan semulus adiknya. Namun, realitas menghantam keras. Perbedaan status yang mencolok antara putra mahkota Hersa Group dan wakil ketua Gangster Blackrats menciptakan jurang yang lebar. Zavian, yang dihantui ketakutan kehilangan Grace seperti saat ia hampir kehilangan Nalea, berubah menjadi pria yang sangat posesif. Ia mencoba "menjinakkan" Grace dengan kemewahan dan perlindungan ketat, namun bagi Grace, perlindungan itu adalah penjara.
Kekosongan kepemimpinan sementara di Blackrats setelah Nalea fokus pada pendidikannya memicu gejolak di dunia bawah. Musuh-musuh lama dan baru mulai mengincar kekuasaan Blackrats. Teror silih berganti menghantui, mulai dari sabetan senjata tajam, pertumpahan darah, hingga pengorbanan nyawa.
Akankah cinta mereka bertahan di tengah pertumpahan darah dan tuntutan status sosial, ataukah mereka memilih jalan masing-masing dan merelakan cinta sejatinya?
NB: JANGAN SALFOK COVERNYA YAA😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan
Kediaman Utama Keluarga Hadi – 08.00 WIB
Sejak pukul empat pagi, suasana di kediaman mewah itu sudah menyerupai barak militer yang sedang bersiap menghadapi inspeksi jenderal. Tidak ada satu pun pelayan yang berani duduk diam. Suara sapu lidi yang beradu dengan aspal halaman, gemericik air yang menyiram tanaman, hingga bunyi gesekan kain lap pada furnitur jati kuno memenuhi udara pagi.
Semua ini karena satu nama, Tuan Besar Hadi. Sang patriark, singa tua keluarga Hadi, akhirnya memutuskan pulang ke tanah air setelah lima belas tahun mengasingkan diri di Swiss.
Di dapur, Miranti, ibu Andreas tampak sibuk mengawasi para koki. Wajahnya yang biasa tenang kini memancarkan ketegangan. Ia tahu betul, mertuanya itu bukan orang yang bisa diajak kompromi soal kedisiplinan. Di sampingnya, Wisnu Hadi, anak pertama Tuan Besar sekaligus ayah Andreas, baru saja tiba dari luar kota dengan setelan jas yang masih rapi namun wajah yang lelah.
"Apa semuanya sudah siap, Miranti?" tanya Wisnu sambil memperbaiki letak kacamatanya.
"Sudah, Mas. Tapi aku khawatir tentang Andreas. Dia masih mengurung diri di kamar sejak kejadian semalam," jawab Miranti pelan.
Wisnu mendesah berat. "Biarkan dulu. Ayah akan sampai sebentar lagi. Kita harus fokus menyambut beliau."
Tiba-tiba, deru mesin mobil mewah terdengar dari halaman utama. Tiga buah mobil Mercedes-Benz hitam masuk dengan formasi yang sangat teratur. Pelayan berbaris rapi di sisi kiri dan kanan pintu masuk. Namun, kejutan terjadi saat pintu mobil kedua terbuka.
Bukan Tuan Besar Hadi yang turun pertama kali. Melainkan seorang pria dengan setelan jas biru tua yang sangat mencolok dan celana hitam yang disetrika kaku. Ia memegang sebuah tongkat kayu jati dengan ukiran kepala serigala di puncaknya. Satu kakinya tampak sedikit kaku saat melangkah, cacat permanen akibat kecelakaan tragis di lahan penebangan puluhan tahun silam.
Dia adalah Gio Hadi. Anak kedua Tuan Besar, paman Andreas, sekaligus pria yang selama ini menjadi dalang di balik setiap teror yang mengancam nyawa keponakannya sendiri.
Tok... tok... tok...
Suara tongkat kayu yang beradu dengan lantai marmer terdengar sangat provokatif, memutus keheningan lobi. Gio berhenti di tengah ruangan, menghisap cerutu mahalnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya tepat ke arah foto keluarga besar Hadi yang terpajang di dinding.
"Apakah ini cara menyambut tamu besar di rumah ini? Sangat tidak berkelas," suara Gio berat dan serak, penuh dengan nada merendahkan.
Pak Wahyu, sebagai penanggung jawab kediaman, segera menghampiri diikuti pelayan yang membawa nampan berisi camilan dan minuman. "Selamat datang, Tuan Gio. Kami mohon maaf jika penyambutan kami kurang berkenan."
"Dasar lelet! Lambat!" celoteh Gio sambil menatap Pak Wahyu dengan pandangan meremehkan. "Rumah ini masih saja bau kolot. Tidak ada kemajuan."
"Maaf Tuan Gio, saya sibuk di bagian belakang mempersiapkan kamar Tuan Besar, jadi tidak menyadari kedatangan Tuan lebih awal," jawab Wahyu membela diri.
Gio tidak menggubris. Ia mengambil segelas orange juice dari nampan, lalu mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir sekumpulan lalat. "Pergi kalian. Jangan menghalangi jalanku."
Gio berjalan menuju ruang tengah, ruang yang dianggap suci di rumah itu. Tanpa ragu, ia duduk di kursi utama, kursi yang seharusnya ditempati oleh Wisnu sebagai anak tertua atau Tuan Besar. Ia menyilangkan kakinya yang cacat dengan angkuh.
"Di mana si bocah tengil itu? Apa dia masih hidup?" tanya Gio tiba-tiba, matanya menatap tajam ke arah Wisnu yang baru saja masuk ke ruangan.
Wisnu menghentikan langkahnya. Rahangnya mengeras melihat adiknya duduk di kursinya. "Andreas ada di kamarnya, Gio. Dan jaga bicaramu. Dia keponakanmu."
"Keponakan?" Gio tertawa sinis, asap cerutunya mengepul di depan wajah Wisnu. "Dasar pemalas! Lebih baik dia lekas mati saja. Hanya menyusahkan keluarga dan membuang-buang harta ayah untuk membayar pengawal rendahan. Kalau aku yang memegang kendali, dia sudah kupastikan masuk ke liang lahat sejak lama."
"GIO!" bentak Wisnu. "Cukup! Jangan mulai lagi di hari kepulangan Ayah!"
"Kenapa? Takut rahasiamu terbongkar, Kakakku yang suci?" ledek Gio. "Kau tahu betul siapa yang lebih pantas mengelola kekayaan Hadi. Bukan kau yang lemah, dan jelas bukan anakmu yang berantakan itu."
Suasana semakin memanas. Miranti yang melihat perseteruan itu hanya bisa mematung di sudut ruangan. Namun, ketegangan itu tiba-tiba tersedot habis saat sebuah suara bariton yang sangat berwibawa terdengar dari arah pintu depan.
"Apakah ini suara sambutan yang kalian siapkan untukku? Pertengkaran seperti anjing dan kucing?"
Sesosok pria tua dengan rambut putih bersih dan jas double-breasted abu-abu masuk dengan langkah yang sangat tegap meski usianya sudah senja. Tatapannya setajam elang, sanggup membuat siapa pun yang menatapnya menunduk ketakutan. Itulah Tuan Besar Hadi.
"Ayah..." Wisnu dan Gio serempak berdiri. Gio, meski angkuh, tampak langsung memperbaiki posisinya, walau matanya masih menyimpan kebencian.
Tuan Besar Hadi berjalan ke tengah ruangan tanpa bantuan tongkat. Ia menatap Gio, lalu menatap kursi yang tadi diduduki anaknya itu. "Bangun dari sana, Gio. Kau tahu itu bukan tempatmu."
Gio menggigit bibir dalamnya, lalu bergeser dengan sedikit pincang. "Maaf, Ayah. Aku hanya ingin bernostalgia."
"Nostalgia tidak dilakukan dengan cara merampas posisi saudaramu," ucap Tuan Besar dingin. Ia kemudian menoleh pada Wisnu. "Di mana Andreas? Kenapa dia tidak ada di sini menyambut kakeknya?"
Wisnu terdiam sebentar. "Dia... dia sedang kurang sehat, Ayah."
"Kurang sehat karena dihajar musuh di jalanan, atau kurang sehat karena terlalu banyak mabuk?" tanya Tuan Besar telak. Ia sepertinya sudah tahu semua kejadian di Jakarta meski ia berada di Swiss. "Panggil dia ke bawah sekarang. Dan kau, Gio... jika aku mendengar kau merencanakan hal bodoh lagi selama aku di sini, cacat di kakimu itu akan berpindah ke lehermu. Mengerti?"
Gio terkesiap, wajahnya memucat namun ia mengangguk patuh. Suasana rumah itu kini benar-benar terasa seperti di bawah kendali seorang raja. Tuan Besar Hadi telah kembali, dan semua kartu kini akan dibuka di atas meja.
"Satu lagi," Tuan Besar berhenti sebelum menuju lift. "Siapkan mobil. Aku ingin mengunjungi seseorang."