Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Salah Waktu
Aruna berdiri di depan cermin kecil toilet perempuan Fakultas Hukum, menatap pantulan wajahnya sendiri. Wajah itu tampak pucat, dengan mata yang menyimpan kegugupan yang tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.
Hari ini, ia akan mengatakan sesuatu yang sudah ia simpan selama dua tahun.
Tangannya gemetar saat merapikan rambut untuk ketiga kalinya. Ia bukan tipe perempuan yang terlalu peduli penampilan, tetapi kali ini ia ingin terlihat sedikit lebih baik. Jika ini berakhir dengan penolakan dan kemungkinan itu sangat besar, setidaknya ia ingin Revan mengingatnya sebagai seseorang yang rapi, bukan gadis gugup yang tidak siap.
“Aruna, kamu bisa,” gumamnya lirih. “Sekarang atau tidak sama sekali.”
Ia menarik napas dalam-dalam. Dua tahun memendam perasaan bukan waktu yang singkat. Dua tahun menatap dari kejauhan, dua tahun menyimpan nama seseorang dalam doa-doa yang tidak pernah ia ucapkan keras-keras. Aruna lelah menjadi pengecut. Ia ingin semuanya selesai, apa pun hasilnya.
Ponselnya masih berada di tangannya. Layar menampilkan pesan yang baru saja ia kirim beberapa menit lalu.
“Kak Revan, bisa ketemu sebentar? Ada yang ingin aku sampaikan.”
Balasan itu datang tidak lama kemudian, singkat seperti gaya Revan selama ini.
“Oke. 15 menit lagi, di depan perpustakaan.”
Jantung Aruna berdetak lebih cepat. Pesan itu terasa seperti palu terakhir yang memukul pintu keberaniannya. Tidak ada jalan mundur. Ia memasukkan ponsel ke dalam tas dan melangkah keluar dari toilet.
Cahaya matahari sore menembus sela-sela pepohonan kampus, menciptakan bayangan panjang di koridor. Aruna berjalan perlahan, menggenggam tali tasnya erat-erat. Setiap langkah terasa berat, bukan karena takut sepenuhnya, tetapi karena rasa malu yang sudah lebih dulu ia bayangkan.
Bagaimana jika Revan tertawa? Bagaimana jika ia merasa terganggu? Bagaimana jika ia menyesal sudah mengatakannya?
“Aku harus kuat,” bisiknya pada diri sendiri.
Gedung perpustakaan mulai terlihat. Di bawah bayangan pohon besar, seorang pria berdiri dengan kemeja putih sederhana. Tangannya memegang ponsel, wajahnya tampak santai, seolah tidak sedang menunggu seseorang yang akan mengubah dinamika hubungan mereka. Revan.
Langkah Aruna melambat dengan sendirinya. Untuk sesaat, ia ingin berbalik dan berpura-pura tidak pernah mengirim pesan itu. Namun semuanya sudah terlambat. Revan mengangkat kepala dan melihatnya.
“Aruna?” panggilnya.
“Iya, Kak.” Aruna memaksakan senyum kecil. “Makasih sudah mau ketemu.”
Revan mengangguk sopan. “Gak masalah. Ada apa?”
Tidak ada basa-basi. Tidak ada usaha mencairkan suasana. Revan memang selalu seperti itu, langsung, jujur, dan sederhana. Justru itulah yang membuat Aruna jatuh cinta.
Ia menarik napas panjang. Jarinya mencengkeram ujung kemeja.
“Kak, sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan ini.”
Revan menatapnya, menunggu. Tatapannya netral, tidak menghakimi, tidak juga terlalu penasaran.
Detik berikutnya terasa seperti pertaruhan terbesar dalam hidup Aruna.
“Aku suka sama Kak Revan,” ucapnya akhirnya. “Perasaan ini sudah aku simpan selama dua tahun.”
Kata-kata itu keluar pelan, tetapi jelas. Begitu terucap, tubuh Aruna terasa panas dan dingin sekaligus. Ia menunduk, tidak berani melihat reaksi Revan.
Hening.
Beberapa detik berlalu, terasa begitu panjang hingga Aruna bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
“Aruna…” Revan menarik napas. “Aku hargai kejujuran kamu.”
Kalimat itu saja sudah cukup membuat dada Aruna sesak. Ia tahu apa yang akan menyusul.
“Tapi maaf,” lanjut Revan pelan. “Aku gak bisa membalas perasaan kamu.”
Seolah ada sesuatu yang runtuh di dalam dirinya.
“Aku sudah punya seseorang yang aku cintai,” tambah Revan. “Aku gak mau memberi harapan palsu.”
Aruna mengangguk pelan. Tenggorokannya terasa kering. “Iya, Kak. Aku ngerti.”
“Kamu gak salah,” ujar Revan cepat, seolah takut ucapannya menyakiti lebih dalam. “Berani jujur itu gak mudah.”
Aruna tersenyum tipis, meski senyum itu terasa rapuh. “Terima kasih juga sudah jujur.”
Ia berpamitan sebelum air matanya jatuh. Begitu membalikkan badan, langkahnya dipercepat. Ia tidak ingin Revan melihatnya menangis.
Tangis Aruna bukan tangis pecah. Tangisnya sunyi, seperti yang selalu ia lakukan sejak kecil. Ia berjalan menjauh dari perpustakaan hingga akhirnya duduk di halte kampus yang mulai sepi.
Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
“Bodoh,” batinnya. “Bodoh karena berharap.”
Ia merasa seperti berdiri sendirian di tengah ruang terbuka, tanpa tempat bersembunyi. Semua kemungkinan yang pernah ia susun selama dua tahun runtuh hanya dalam satu jawaban singkat.
Namun di balik rasa sakit itu, ada sedikit kelegaan. Setidaknya sekarang ia tahu. Tidak ada lagi tanda tanya.
Hari itu, Aruna membuat keputusan sederhana. Ia tidak akan lagi berada di dunia Revan.
Langkah Aruna melambat dengan sendirinya. Untuk sesaat, ia ingin berbalik dan berpura-pura tidak pernah mengirim pesan itu. Namun semuanya sudah terlambat. Revan mengangkat kepala dan melihatnya.
“Aruna?” panggilnya.
“Iya, kak.” Aruna memaksakan senyum kecil. “Makasih sudah mau ketemu.”
Revan mengangguk sopan. “Gak masalah. Ada apa?”
Tidak ada basa-basi. Tidak ada usaha mencairkan suasana. Revan memang selalu seperti itu, langsung, jujur, dan sederhana. Justru itulah yang membuat Aruna jatuh cinta.
Ia menarik napas panjang. Jarinya mencengkeram ujung kemeja.
“Kak, sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan ini.”
Revan menatapnya, menunggu. Tatapannya netral, tidak menghakimi, tidak juga terlalu penasaran.
Detik berikutnya terasa seperti pertaruhan terbesar dalam hidup Aruna.
“Aku suka sama Kak Revan,” ucapnya akhirnya. “Perasaan ini sudah aku simpan selama dua tahun.”
Kata-kata itu keluar pelan, tetapi jelas. Begitu terucap, tubuh Aruna terasa panas dan dingin sekaligus. Ia menunduk, tidak berani melihat reaksi Revan.
Hening.
Beberapa detik berlalu, terasa begitu panjang hingga Aruna bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
“Aruna…” Revan menarik napas. “Aku hargai kejujuran kamu.”
Kalimat itu saja sudah cukup membuat dada Aruna sesak. Ia tahu apa yang akan menyusul.
“Tapi maaf,” lanjut Revan pelan. “Aku gak bisa membalas perasaan kamu.”
Seolah ada sesuatu yang runtuh di dalam dirinya.
“Aku sudah punya seseorang yang aku cintai,” tambah Revan. “Aku gak mau memberi harapan palsu.”
Aruna mengangguk pelan. Tenggorokannya terasa kering. “Iya, Kak. Aku ngerti.”
“Kamu gak salah,” ujar Revan cepat, seolah takut ucapannya menyakiti lebih dalam. “Berani jujur itu gak mudah.”
Aruna tersenyum tipis, meski senyum itu terasa rapuh. “Terima kasih sudah jujur juga.”
Ia berpamitan sebelum air matanya jatuh. Begitu membalikkan badan, langkahnya dipercepat. Ia tidak ingin Revan melihatnya menangis.
Malamnya, di kamar tidurnya yang sunyi, Aruna menatap langit-langit gelap. Ia menghapus pesan Revan, berhenti mengikuti akun media sosialnya, dan menghapus foto-foto kampus yang tanpa sengaja menampilkan Revan di latar belakang.
Ia ingin memulai ulang.
Tok, tok, tok.
“Runa, kamu sudah tidur?” suara ibunya terdengar dari luar.
“Belum, bu.”
Ibunya masuk dan duduk di pinggir tempat tidur. “Kamu gak makan dulu? Ibu masak kesukaan kamu.”
Aruna menggeleng. “Aku gak laper, bu.”
Ibunya menatapnya sejenak, seolah tahu ada sesuatu yang disembunyikan, tetapi memilih tidak memaksa. Ia mengelus rambut Aruna dengan lembut sebelum keluar.
Aruna memejamkan mata. Tepat saat hampir tertidur, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal muncul di layar.
“Aruna, kita perlu bicara. Ini tentang Revan.”
Jantung Aruna berdetak keras. Tangannya gemetar. Ia mengira malam itu akan menjadi akhir dari semuanya. Namun ternyata, justru di sanalah semuanya dimulai.
❤️Like & follow ya, supaya gak ketinggalan kelanjutannya.
kisahnya semakin seru kak 👍👍👍