Alga adalah seorang pria bekerja sebagai nelayan. Ia bekerja untuk mencari ikan setiap hari untuk kuliah istrinya dan makan sehari-hari. Pergi pagi pulang malam agar bisa mendapatkan tangkapan ikan yang banyak. Sayangnya saat istrinya sudah S2 dan menjadi sekretaris, istrinya malah selingkuh dengan CEO tempat ia bekerja dan meninggal Alga dan anaknya.
Istrinya malu mempunyai suami nelayan seperti Alga dan akhirnya meminta cerai lalu menikah dengan pria pilihannya itu.
Hancur hati Alga setelah bercerai dengan istri tercintanya, saat sedang menjaring ikan, Ia tak sengaja jatuhkan kelaut karena Ia masih dalam kesedihan, tapi siapa sangka jika ia mendapat sebuah sistem.
Sistem Nelayan, setiap ia menangkap ikan, menjual ikan, maka ia mendapat hadiah dan poin yang mengubah hidupnya menjadi orang sukses.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
13 November 2025, kota Perawang-Riau.
Xxxxxx
Jam menunjukkan pukul 17:20 menit, di mana matahari sudah condong ke barat. Alga sang nelayan pulang dengan wajahnya sedikit cemberut karena tangkapan ikannya hari ini sangat sedikit dan hanya bisa di bawa pulang dan tidak bisa di jual.
Saat ia sampai di depan rumah, ia melihat putri kesayangan yang berusia 5 tahun sedang duduk di teras sambil menangis.
Melihat itu, ia langsung berlari ke arah Grisha. "Grisha, kenapa kamu menangis, Nak? Di mana Mama?" tanya Alga mengendong anak semata wayangnya itu.
"Hu hu hu, Mama pergi sama O'om," jawab Grisha sambil menangis.
Alga menekuk alisnya. "O'om? Siapa?" tanya Apalgi bingung.
"Nggak tau... Grisha mau ikut Mama, Grisha di marahin... " jawab Grisha sambil terisak.
"Ya udah, Grisha. Kita tunggu Mama pulang saja ya, mungkin Mama ada urusan. Papa masakan ikan bakar untuk Grisha ya," kata Alga menenangkan anaknya itu.
Baru saja Alga ingin masuk ke dalam rumah, sebuah mobil mewah berhenti di rumahnya, Alga bertanya-tanya siapa pemilik mobil tersebut.
Saat itu, Alga terkejut karena sang istri, Nita, keluar dari mobil tersebut dengan seorang pria yang memakai jas hitam, dan pria itu adalah bos tempat istrinya bekerja.
Nita mengambil sebuah kertas dari tasnya lalu memberikan Kepada Alga secara mendadak. "Tolong tanda tangani surat cerai ini, aku ingin bercerai denganmu," ucap Nita dengan nada datar tapi menekan.
Alga terperanjat, kenapa tiba-tiba istrinya minta cerai? "Sayang, apa maksudmu?"
"Jangan panggil aku Sayang!" sergah Nita, "Aku bukan lagi istrimu! Cepat tanda tangan surat ini segera! Aku sudah malas hidup denganmu!" kata Nita dengan suara merendahkan.
Alga langsung menangis terisak. "Nita... kenapa kau lakukan ini? Kau ingin kuliah, ku kuliahkan hingga kau S2. Aku rela uang ku berikan semua, aku rela tidak beli baju dan tahan selera demi kamu, tapi kenapa kau lakukan ini? Kita masih punya seorang putri, apa kau tega meninggalkan kami?" tanya Alga dengan suara parau.
"Jangan bicara sembarangan! Aku kuliah di sekolahkan oleh orangtua ku! Tidak ad campur tanganmu! Enak saja kau mengaku-ngaku hasilmu? Emangnya nelayan kaya kamu bisa biaya kuliah ku yang mahal apa? Mimpi aja kau!" ucap Nita dengan kasar.
Dengan air mata terurai, Alga terpaksa menandatangani surat cerai itu setelah itu memberikan kepada Nita dengan hati yang hancur.
Istri yang sudah ia nafkahi dengan hasil laut, sampai kuliah S2 dan mendapatkan pekerjaan menjadi sekretaris dan telah mengangkat derajatnya, kini hancur lebur seperti tepung yang jatuh ke tanah.
"Mama! Jangan Tinggalin Grisha!" rengek Grisha menarik baju Ibunya itu, tapi Nita menipisnya.
"Jangan panggil aku Mama lagi! Aku bukan Mama mu! Aku dan kamu tak punya hubungan lagi! Tidak sudi aku memiliki anak dari pria miskin!" ucap Nita memarahi Grisha dengan kasar.
"Mama! Grisha sayang Mama," uca Grisha memeluk Nita, tai Nita mendorongnya dengan kasar hingga Grisha terjerembab ke tanah dan menangis.
Alga langsung memeluk Grisha dengan hatinya luluh lantak, ia ikut menangis tersedu-sedu dengan prilaku istrinya itu yang kini akan menjadi mantan.
Nita melihat surat itu sambil tersenyum karena sudah di tanda tantangin. "Bagus, tunggu beberapa hari lagi, kita sudah resmi bercerai, dan kalian berdua jangan pernah menganggap kenal denganku!" kata Nita dengan sinis.
"Ayo sayang, kita pergi," ajak Nita sambil menggandeng tangan kekasih barunya itu, seorang CEO perusahaan.
Nita pergi tanpa menoleh ke arah Grisha yang sedang memanggilnya itu, isak tangis Grisha terdengar pilu, Alga hanya bisa memeluk. sang putri yang ingin menggapai ibunya, tapi ibunya sudah menjauh meninggalkannya.
Alga hanya bisa memeluk Grisha dengan kesedihan mendalam, putus asa, seperti jatuh ke dalam lubang yang dalam, karena tak. ada angin tak ada hujan, Tiba-tiba ia di ceraikan istri yang telah ia perjuangan selama ini.
"Grishaaaa, jangan menangis lagi, ada Papa di sini, Papa berjanji akan menjaga mu dengan baik, akan menjadi sosok ayah yang suatu saat nanti akan mengangkat derajatmu, Papa Janji, Nak," ucap Alga memeluk Grisha erat.
Grisha meronta dalam dekapan ayahnya, tangisnya pecah saat mobil yang membawa ibunya kian mengecil di ujung jalan. "Mamaaaa! Mamaaaa! Jangan pergi!" Suaranya parau, penuh kepedihan seorang anak yang merasa dunianya runtuh.
Alga, sang ayah, memeluk erat tubuh mungil Grisha. Dadanya sesak oleh amarah dan kekecewaan, namun ia berusaha tegar demi putrinya. "Sudah, Nak," bisiknya lirih, "biarkan saja ibumu pergi bersama pilihannya. Ada Papa di sini. Papa akan menemanimu."
Namun, Grisha tak menghiraukan. Ia terus meronta, memanggil ibunya hingga akhirnya lelah dan tertidur dalam pelukan Alga.
Alga menatap wajah polos putrinya yang basah oleh air mata. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia merasa bersalah karena tak mampu mempertahankan keutuhan keluarganya.
Malam semakin larut, namun Alga masih terpaku di ruang tamu, mendekap Grisha yang terlelap. Pikirannya berkecamuk, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang menghantuinya. Mengapa istrinya tega meninggalkan mereka? Apa yang salah dengan dirinya?
Dengan hati-hati, Alga membaringkan Grisha di tempat tidur. Ia menyelimutinya dengan lembut, lalu mengecup keningnya. "Papa janji akan menjagamu, Nak," bisiknya pelan.
Setelah memastikan Grisha tertidur pulas, Alga beranjak menuju dapur. Ia menyadari bahwa mereka belum makan malam. Namun, nafsu makannya telah hilang ditelan kesedihan. Ia hanya membuatkan susu hangat untuk Grisha, berharap putrinya itu bisa tidur nyenyak dan melupakan sejenak pahitnya kenyataan.
Saat kembali ke kamar, Alga melihat Grisha menggeliat dalam tidurnya. Ia menghampiri putrinya dan menggenggam tangannya erat. "Maafkan Papa, Nak," gumamnya lirih. "Papa akan berusaha menjadi ayah sekaligus ibu untukmu."
Malam itu, Alga berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan memberikan seluruh cintanya untuk Grisha. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan putrinya, meskipun hatinya sendiri masih terluka. Ia tahu, perjalanan mereka masih panjang dan penuh tantangan. Namun, ia yakin, dengan cinta dan keteguhan hati, mereka akan mampu melewati semuanya.
Malam itu, di tengah sunyi yang mencekam, Alga memeluk erat Grisha yang terlelap. Tubuhnya terasa lelah, namun pikirannya masih berkecamuk, dihantui bayangan kepergian istrinya. Ia memejamkan mata, mencoba mengusir kesedihan yang menyesakkan dada.
Namun, air mata tak bisa dibendung. Butiran-butiran hangat itu mengalir deras membasahi pipinya, bahkan saat ia sudah terlelap. Seolah-olah kesedihan itu telah merasuk ke dalam alam bawah sadarnya, menjelma menjadi mimpi buruk yang tak berujung.
Dalam tidurnya, Alga melihat istrinya tersenyum padanya, namun kemudian perlahan menjauh dan menghilang ditelan kegelapan. Ia berusaha mengejar, namun kakinya terasa berat dan tak mampu bergerak. Ia berteriak memanggil namanya, namun suaranya hanya menggema tanpa jawaban.
Alga terbangun dengan napas terengah-engah, jantungnya berdebar kencang. Ia menoleh ke arah Grisha yang masih tertidur pulas di sampingnya. Ia mengusap rambut putrinya dengan lembut, mencoba menenangkan diri.
"Ini bukan mimpi," bisiknya lirih. "Ini kenyataan."
Namun, kenyataan itu terasa begitu pahit dan sulit untuk diterima. Ia merasa seperti kehilangan separuh jiwanya. Ia tak tahu bagaimana caranya menjalani hidup tanpa kehadiran istrinya.
Namun, ia juga tahu bahwa ia tak boleh menyerah. Ia harus kuat demi Grisha. Ia harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi putrinya. Ia harus memberikan seluruh cintanya untuk menggantikan kasih sayang yang hilang.
Dengan tekad yang membara, Alga kembali memeluk Grisha erat-erat. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan putrinya, meskipun hatinya sendiri masih terluka. Ia akan menghadapi setiap tantangan dengan berani, dan tak akan pernah membiarkan kesedihan menguasai dirinya.