NovelToon NovelToon
THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Mata Batin / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

​"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
​Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
​Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
​Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Night at the Market

Malam itu, kediaman keluarga Kim terasa begitu menyesakkan. Setelah insiden berdarah di apartemen sebelah, suasana rumah menjadi sangat tegang. Penjagaan diperketat, dan Jin terus-menerus memantau CCTV paviliun. Namun, Jungkook tahu satu hal yang tidak dipahami oleh kakak-kakak Shine: seorang Oracle tidak butuh lebih banyak dinding; dia butuh udara.

Sekitar pukul sembilan malam, saat Suga sedang sibuk di laboratorium medisnya dan Jin sedang melakukan panggilan konferensi internasional, Jungkook mendekati Shine yang sedang duduk lesu di teras paviliun.

"Pakai jaketmu. Yang paling tebal," bisik Jungkook tepat di telinga Shine.

Shine menoleh, matanya membelalak. "Kita mau ke mana? Jin Oppa bilang—"

"Lupakan apa yang dikatakan Jin-Hyung untuk satu malam saja," Jungkook memberikan senyum miring yang menantang. "Kau butuh melihat warna-warna yang nyata, bukan warna-warna trauma orang lain. Aku tahu tempat yang tidak ada di dalam radar pengawasan kakak-kakakmu."

Dengan bantuan RM yang entah bagaimana "sengaja" lupa mengunci gerbang belakang setelah menerima kode kedipan mata dari Jungkook, mereka berhasil menyelinap keluar.

Mereka tiba di sebuah area terbuka di pinggiran kota yang sedang mengadakan pasar malam rakyat. Jauh dari kesan mewah mal-mal di Gangnam, tempat ini dipenuhi oleh lampu-lampu neon warna-warni, aroma gulali yang manis, dan suara riuh rendah musik dangdut lokal serta tawa anak-anak.

Shine terpaku. Matanya yang biasanya hanya melihat kegelapan atau kemewahan yang kaku, kini memantulkan kerlip lampu komidi putar.

"Jungkook-ah... ini luar biasa," gumam Shine.

Jungkook tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung meraih tangan Shine, menyatukan jari-jari mereka dalam sebuah genggaman yang sangat erat. "Jangan lepas. Di sini ramai, aku tidak mau kehilangan 'sumber energiku'."

Shine merona. Genggaman tangan itu terasa berbeda dari biasanya. Jika biasanya sentuhan mereka bertujuan untuk transfer energi medis, kali ini terasa sangat manusiawi. Ada rasa protektif yang lembut, sebuah pernyataan bahwa malam ini, mereka hanya pria dan wanita biasa yang sedang berkencan.

Mereka berjalan melewati deretan stan permainan. Jungkook membelikan Shine segelas besar es tebu dan sepiring tteokbokki pinggir jalan. Shine tertawa saat saus pedas mengenai ujung hidungnya, dan dengan santai, Jungkook mengusapnya menggunakan ibu jarinya, lalu menjilat ujung jarinya sendiri tanpa rasa canggung—membuat jantung Shine berdegup dua kali lebih kencang.

Langkah mereka terhenti di depan sebuah stan menembak sasaran. Di sana, di rak paling atas, bertengger sebuah boneka kelinci putih berukuran sangat besar dengan telinga panjang yang terkulai lucu.

"Kau mau itu?" tanya Jungkook, matanya menatap boneka itu lalu kembali ke Shine.

"Lucu sekali... tapi sepertinya sulit," sahut Shine sangsi melihat senapan angin kecil di sana.

Jungkook melepas jaket kulitnya, menyampirkannya ke bahu Shine. "Pegang ini. Dan perhatikan bagaimana koki pribadimu bekerja."

Jungkook mengambil senapan itu. Posisinya mendadak berubah. Bahunya kokoh, matanya menyipit dengan fokus yang mematikan—insting yang ia asah selama bertahun-tahun di jalanan sebelum bertemu J-Hope.

Dor! Dor! Dor!

Tiga tembakan tepat sasaran. Pemilik stan hanya bisa melongo saat Jungkook dengan tenang menunjuk boneka kelinci besar tersebut.

"Ini untukmu," ucap Jungkook, menyerahkan boneka besar itu yang hampir menutupi tubuh mungil Shine. "Sekarang kau punya pelindung kedua kalau aku sedang sibuk di dapur."

Shine memeluk boneka itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya kembali ditarik oleh Jungkook ke dalam genggamannya. Mereka berjalan menuju bianglala besar di ujung area.

Di dalam kabin bianglala yang perlahan bergerak naik, kebisingan pasar malam mulai menjauh, digantikan oleh hembusan angin malam yang sejuk. Dari ketinggian, Shine bisa melihat lampu-lampu kota yang berkelap-kelip seperti hamparan permata.

"Terima kasih, Jungkook," bisik Shine. Ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Jungkook. "Malam ini... aku tidak melihat penglihatan buruk apa pun. Hanya ada warna-warna terang."

Jungkook mempererat genggaman tangannya, ia mencium puncak kepala Shine dengan penuh perasaan. "Itu karena kau sedang fokus pada hidupmu sendiri, bukan hidup orang lain. Aku ingin kau tahu, Shine... kau tidak harus memikul beban dunia setiap saat. Terkadang, cukup jadilah gadis yang menginginkan boneka kelinci."

Jungkook mengangkat dagu Shine, memaksa mata biru kristal itu menatap langsung ke dalam netranya yang gelap. Di bawah sinar rembulan yang menembus kaca kabit bianglala, suasana mendadak menjadi sangat intim.

"Kalung itu..." Jungkook menyentuh inisial "JK" di leher Shine. "Dia bersinar cantik malam ini. Sama sepertimu."

Jungkook mendekatkan wajahnya. Kali ini tidak ada desakan energi, tidak ada rasa sakit yang harus disembuhkan. Hanya ada keinginan murni untuk memiliki. Ia mencium bibir Shine dengan sangat lembut, sebuah ciuman yang terasa manis seperti gulali yang mereka makan tadi. Shine membalasnya, melingkarkan tangannya di leher Jungkook, membiarkan boneka kelinci besar itu terjepit di antara mereka.

Dunia di bawah sana terasa sangat jauh. Di atas bianglala tua ini, hanya ada mereka berdua—Matahari yang akhirnya menemukan Bulannya dalam harmoni yang sempurna.

Saat mereka turun dan berjalan menuju parkiran, Jungkook tidak melepaskan tangan Shine sedikit pun. Ia menggandengnya seolah-olah jika ia melepasnya satu detik saja, Shine akan menghilang kembali ke dalam dunia bayang-bayang.

"Jungkook-ah," panggil Shine saat mereka sampai di mobil.

"Ya?"

"Bolehkah kita sering-sering melakukan ini? Menjadi... manusia biasa?"

Jungkook membukakan pintu mobil untuk Shine, lalu ia membungkuk, membisikkan sesuatu di telinga Shine yang membuatnya tersenyum malu.

"Selama kau tetap memegang tanganku seperti ini, aku akan membawamu ke ujung dunia sekalipun. Tapi ingat, kalau Jin-Hyung tahu soal kencan rahasia ini, kau harus bilang kalau kau yang menculikku, oke?"

Shine tertawa renyah, tawa yang paling tulus yang pernah didengar Jungkook. Malam itu, pasar malam mungkin sudah tutup, namun romansa yang mekar di antara mereka baru saja memulai simfoni terindahnya.

...****************...

1
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
army v nya jadi apa, JHope sama jimin blm kluar y
sabana: v jadi sepupunya shine, belum pada keluar lagi🤭. semoga berkenan
total 1 replies
sabana
ini fanfiction tentang BTS ya tapi fokus pada Jungkook semoga suka
sabana: mungkin fokusnya lebih ke Jungkook🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!