Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.
Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.
Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.
Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?
"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Meja Kuliah
Pagi di universitas hari ini terasa lebih mencekam daripada ujian akhir mana pun. Atmosfer di dalam auditorium utama Fakultas Hukum begitu dingin, namun Seraphina merasa seolah-olah oksigen di sekitarnya telah habis terbakar. Di sampingnya, duduk sosok yang sejak semalam memenuhi mimpinya dengan sentuhan-sentuhan terlarang: Dareen Christ.
Pria itu kembali menjadi "robot". Jas hitamnya terpasang rapi, menyembunyikan memar di tubuhnya akibat perkelahian kemarin. Kacamata berbingkai perak bertengger di hidungnya, dan pandangannya lurus ke depan, tertuju pada Profesor Maxwell yang sedang menjelaskan tentang Tort Law dan tanggung jawab sipil. Namun, Seraphina tahu itu semua palsu. Dia bisa melihat sudut bibir Dareen yang sedikit bengkak—bekas ciuman brutal dan hantaman tinju yang bercampur menjadi satu.
"Fokus, Nona," bisik Dareen tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya rendah, hampir tidak terdengar di tengah gemuruh suara sang profesor, namun cukup tajam untuk mengiris keheningan di antara mereka.
Seraphina tidak menjawab. Dia justru merasa tertantang. Bagaimana bisa pria ini bersikap seolah-olah tangannya tidak pernah meraba dadanya dengan gairah yang begitu gelap di dalam mobil kemarin? Bagaimana bisa dia begitu tenang sementara Seraphina merasa jantungnya ingin melompat keluar setiap kali lengan mereka bersenggolan secara tidak sengaja?
"Aku bosan, Dareen," gumam Seraphina sambil memutar-mutar pulpen kristal mahalnya.
"Catat apa yang ada di papan tulis. Itu akan menghilangkan rasa bosan Anda," balas Dareen, jemarinya bergerak lincah mengetik di atas laptop, seolah-olah otaknya adalah mesin yang tidak memiliki memori tentang nafsu.
Seraphina menyipitkan mata. Oh, kau ingin bermain profesional? Baiklah.
Dengan gerakan yang tampak sangat natural, Seraphina melonggarkan pegangannya pada pulpen tersebut. Benda kecil itu terjatuh, memantul sekali di atas lantai marmer, lalu menggelinding jauh ke bawah meja panjang yang mereka bagi bersama.
Trak.
"Ops," desis Seraphina dengan nada manja yang dibuat-buat.
Dareen menghentikan ketikannya sejenak, namun dia tetap tidak menoleh. Rahangnya mengeras. "Ambil sendiri, Nona. Saya sedang mencatat poin penting."
"Aku memakai gaun pendek, Dareen. Kau ingin aku membungkuk di depan semua orang dan memperlihatkan pakaian dalamku?" tantang Seraphina dengan suara yang sengaja dikeraskan sedikit, membuat beberapa mahasiswa di depan mereka menoleh.
Dareen menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar seperti katup uap yang menahan tekanan tinggi. Dia menutup laptopnya dengan suara klik yang tajam. "Saya yang akan mengambilnya."
"Tidak usah. Aku saja," sela Seraphina cepat. Sebelum Dareen bisa bergerak, Seraphina sudah meluncur turun dari kursinya, masuk ke dalam kegelapan kolong meja yang luas dan tertutup oleh panel kayu di bagian depan.
Di bawah sana, dunia terasa berbeda. Suara Profesor Maxwell terdengar jauh dan teredam, menyisakan kesunyian yang intim di antara deretan kaki-kaki kursi. Bau kayu tua dan aroma parfum sandalwood milik Dareen memenuhi indra penciuman Seraphina.
Seraphina tidak segera mencari pulpennya. Matanya justru tertuju pada kaki Dareen yang terbalut celana kain mahal. Dia melihat tangan kiri Dareen yang terjuntai di bawah meja, sedang mencengkeram lututnya sendiri dengan sangat kaku. Buku-buku jari pria itu memutih, dan urat-urat di punggung tangannya menonjol, menunjukkan betapa hebatnya dia sedang menahan diri.
Seraphina merangkak sedikit mendekat. Alih-alih meraih pulpen yang berada di dekat sepatu bot Dareen, jemari lentik Seraphina justru bergerak menuju punggung tangan pria itu.
Perlahan, sangat perlahan, Seraphina menyentuhkan ujung kuku-kukunya ke kulit tangan Dareen yang kasar.
Deg.
Dia bisa merasakan denyut nadi di tangan Dareen yang berpacu kencang—jauh lebih cepat dari detak jantung manusia normal yang sedang mendengarkan kuliah. Dareen tetap mematung di atas sana, namun Seraphina bisa melihat kaki pria itu sedikit gemetar.
"Nona ... naik sekarang," suara Dareen terdengar dari atas, sangat rendah dan serak, lebih mirip sebuah geraman daripada sebuah perintah.
Seraphina tidak berhenti. Dia justru menggenggam tangan Dareen, menelusuri bekas luka di pangkal jempolnya dengan ibu jarinya. Dia sengaja menarik tangan itu, membawanya sedikit lebih tinggi ke arah pahanya sendiri yang terekspos karena posisi merangkaknya.
"Kenapa tanganmu sedingin es, Dareen?" bisik Seraphina di kegelapan bawah meja. "Apa kau takut padaku? Atau kau takut pada dirimu sendiri?"
Di atas meja, Dareen mencoba mempertahankan posisinya. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Di mata mahasiswa lain, dia mungkin terlihat seperti mahasiswa yang sedang berkonsentrasi penuh, namun di bawah meja, dia sedang berada di tengah medan perang yang paling berbahaya dalam hidupnya.
"Seraphina ... saya peringatkan Anda," desis Dareen lagi. Suaranya pecah.
Seraphina tertawa kecil tanpa suara. Dia sengaja menggeser tangan Dareen agar telapak tangan pria itu menyentuh kulit pahanya yang hangat. Sentuhan itu seperti percikan api di atas tumpukan jerami kering. Dia bisa merasakan otot-otot di tangan Dareen berkedut hebat. Pria itu ingin menarik tangannya, namun sebagian dari dirinya—sisi hewaninya yang liar—justru ingin mencengkeram paha itu lebih erat.
Sera mendongak sedikit, melihat ke arah celah di antara meja dan kursi. Dia bisa melihat bagian bawah wajah Dareen; bibirnya terkatup rapat, dan napasnya terdengar memburu melalui hidung.
"Kau ingat apa yang kau lakukan di mobil kemarin?" Seraphina berbisik lagi, suaranya sangat dekat dengan paha Dareen. "Tangan ini ... dia tahu persis bagaimana cara menyentuhku. Kenapa sekarang dia berpura-pura tidak mengenalku?"
Tiba-tiba, tangan Dareen yang tadinya pasif berubah menjadi agresif. Dia membalikkan telapak tangannya dan mencengkeram jemari Seraphina dengan kekuatan yang hampir menyakitkan. Dareen sedikit mencondongkan tubuhnya ke bawah meja, membuat wajahnya berada di area bayangan yang sama dengan Seraphina.
"Anda ingin tahu batasannya, Nona?" bisik Dareen, matanya berkilat dengan intensitas yang mengerikan di tengah kegelapan kolong meja. "Batasannya adalah ketika saya berhenti peduli pada Seldin, pada beasiswa ini, dan pada nyawa saya sendiri. Dan Anda ... Anda sedang mendorong saya melewati garis itu sekarang juga."
Jarak mereka begitu dekat. Napas panas Dareen menerpa wajah Seraphina. Untuk sesaat, Seraphina merasa ngeri melihat kegelapan di mata Dareen, namun rasa ngeri itu segera berganti menjadi gairah yang memabukkan.
"Lalu lakukanlah," tantang Seraphina, matanya menatap bibir Dareen yang bengkak. "Tunjukkan padaku apa yang terjadi jika garis itu hilang."
Dareen menarik napas tajam, jemarinya semakin kuat mencengkeram tangan Seraphina. Di atas mereka, Profesor Maxwell tiba-tiba berhenti bicara.
"Saudara Christ? Apakah ada masalah di bawah sana? Anda tampak ... tidak nyaman," suara sang profesor memecah ketegangan.
Dareen tersentak. Dengan gerakan kilat, dia melepaskan tangan Seraphina dan menarik kembali tubuhnya ke posisi duduk tegak. Dia berdeham pelan, mencoba menata suaranya agar kembali terdengar seperti manusia biasa.
"Tidak, Profesor. Nona Seraphina hanya menjatuhkan pulpennya, dan saya sedang membantu mencarinya," jawab Dareen dengan nada yang luar biasa tenang, seolah-olah dia tidak baru saja berada di ambang kehancuran moral.
Seraphina muncul dari bawah meja beberapa detik kemudian, wajahnya sedikit merah dan rambutnya agak berantakan. Dia memegang pulpen kristalnya, lalu duduk kembali di kursinya dengan senyum kemenangan yang tersamar.
"Terima kasih atas bantuannya, Dareen. Kau sangat ... sigap," ujar Seraphina sambil melirik Dareen dari balik bulu matanya.
Dareen tidak menyahut. Dia kembali membuka laptopnya, namun jemarinya tidak bergerak di atas kibor. Dia hanya duduk di sana, menatap layar kosong dengan tangan yang diletakkan di bawah meja—tangan yang masih terasa terbakar oleh sentuhan kulit Seraphina.
Sepanjang sisa jam kuliah, tidak ada lagi kata-kata yang terucap. Namun, di bawah meja, di ruang sempit yang tersembunyi dari dunia luar, sebuah kesepakatan tak tertulis telah dibuat. Dareen menyadari bahwa dia tidak lagi bisa menjamin kebersihan tangannya dari "kuman" yang bernama Seraphina, karena kuman itu telah merasuk ke dalam darahnya.
Sementara Seraphina? Dia menuliskan sesuatu di pojok buku catatannya, sebuah kalimat pendek yang ditujukan untuk pria di sampingnya: Aku menang lagi, Robot.
Dia tahu, meskipun topeng profesional Dareen telah terpasang kembali, pria itu tidak akan pernah bisa melupakan sensasi kulitnya di bawah meja tadi. Permainan ini baru saja dimulai, dan Seraphina tidak berniat untuk berhenti sampai dia melihat Dareen Christ berlutut di hadapannya—bukan sebagai pengawal, tapi sebagai pria yang menyerah sepenuhnya pada nafsu yang mereka bagi bersama.