NovelToon NovelToon
SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Romansa
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: Hayra Masandra

Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.

"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira

"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara

"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji di Ambang Batas

Mereka duduk dalam diam yang cukup lama. Hanya ada suara gesekan daun beringin dan sesekali kecipak air kolam saat ikan-ikan kecil menyentuh akar teratai. Untuk pertama kalinya, Aira tidak merasa harus waspada. Di samping Kara, ia merasa seperti sebuah kapal yang akhirnya menemukan dermaga setelah bertahun-tahun dihantam badai di tengah laut lepas.

Aira melirik profil samping wajah Kara. Garis rahangnya tegas, namun ada gurat kelelahan yang nyata di sana. Kara tampak sedang menikmati embusan angin dengan mata terpejam, seolah sedang menyimpan energi yang tersisa.

"Kara," panggil Aira lirih.

"Ya?" sahut Kara tanpa membuka mata.

"Kenapa kamu berani sekali? Maksudku... kalau semua logika kamu benar, kenapa kamu memilih untuk mempertaruhkannya demi aku? Kamu Ketua OSIS, kamu punya segalanya. Kenapa harus samudera yang penuh risiko?"

Kara perlahan membuka matanya. Ia menatap ke arah kerumunan teratai yang bergoyang pelan. "Karena matahari itu membosankan kalau cuma bersinar di langit yang bersih, Aira. Dia baru terasa punya arti saat dia bisa menembus awan mendung. Dan kamu... kamu bukan risiko bagiku. Kamu adalah alasan kenapa aku ingin tetap bersinar."

Kara menoleh ke arah Aira. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Aira bisa melihat binar tulus di mata laki-laki itu, meskipun binar itu terhalang selaput kemerahan yang tipis.

"Aku selalu hidup dalam aturan," lanjut Kara. "Bangun jam lima, belajar, rapat, pulang, tidur. Semuanya terukur. Tapi saat aku bertemu kamu, semua ukuranku jadi berantakan. Aku menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diselesaikan dengan rumus matematika. Dan anehnya, ketidakteraturan itu justru membuatku merasa lebih... hidup."

Aira menundukkan kepala, jari-jarinya memainkan ujung rok seragamnya. "Tapi aku takut, Kara. Aku takut kalau nanti aku jadi alasan kamu kehilangan 'hidup' yang teratur itu. Lihat kondisi kamu sekarang..."

"Sssttt..." Kara meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri, mengisyaratkan Aira untuk berhenti bicara. "Jangan mulai lagi. Kita sudah sepakat, kan? Takdir itu rahasia Tuhan. Tugasku sekarang adalah menjagamu, dan tugasmu adalah... mulai belajar memaafkan dirimu sendiri."

Kara kemudian merogoh saku seragamnya, mengeluarkan sebuah pembatas buku kayu yang ia buat sendiri. Di atasnya terukir siluet gelombang laut dan matahari kecil yang sedang terbit.

"Ini buat kamu. Supaya kamu ingat, setiap kali kamu membuka buku dan merasa takut, matahari akan selalu muncul setelah malam paling gelap sekalipun."

Aira menerima pembatas buku itu. Tekstur kayunya halus, membawa aroma kayu cendana yang menenangkan. Ia mengusap ukiran matahari itu dengan ibu jarinya.

"Terima kasih, Kara. Aku... aku akan mencoba. Memberi ruang."

"Itu sudah lebih dari cukup bagiku, Kasyaira," jawab Kara lembut.

Sore itu, mereka tidak lagi bicara soal mitos atau logika. Mereka bicara tentang mimpi-mimpi kecil. Tentang keinginan Kara untuk masuk ke fakultas kedokteran agar bisa menyembuhkan orang, dan keinginan terpendam Aira untuk menjadi seorang penulis yang bisa menceritakan sisi indah dari samudera.

Namun, di tengah kemanisan itu, Kara sempat memegang dahinya yang tiba-tiba berdenyut kencang. Ia mencoba menyembunyikannya dari Aira dengan cara memalingkan muka, namun tangan Aira lebih cepat. Gadis itu menyentuh punggung tangan Kara yang terasa panas.

"Kara, kamu demam?" suara Aira kembali dipenuhi kecemasan.

"Cuma gerah saja," dalih Kara sambil tersenyum paksa. "Ayo, sudah hampir maghrib. Rumah nomor 13 pasti merindukan penghuninya."

Kara berdiri, meskipun kepalanya terasa seperti dihantam palu. Ia tetap memastikan Aira berjalan di sisi dalamnya saat menuju parkiran, melindunginya seolah Aira adalah permata yang sangat rapuh.

Aira berjalan di samping Kara dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia merasa sangat dicintai. Di sisi lain, ia melihat bayang-bayang kesialannya mulai menari-nari di atas suhu tubuh Kara yang meninggi. Samudera itu mulai tenang, namun ia tahu, di kedalamannya, ada arus bawah yang masih mengintai.

...

Udara malam itu terasa lebih tipis. Di depan pagar rumah nomor 13 yang berkarat, motor Kara masih menyala, suaranya menderu rendah membelah kesunyian gang. Aira turun dari boncengan dengan perasaan yang tidak menentu. Ia menatap Kara yang masih duduk di atas motornya, wajah laki-laki itu tampak pucat di bawah sinar lampu jalan yang temaram.

Aira tidak langsung masuk. Ia memegang ujung jaket Kara, seolah takut jika ia melepaskannya, laki-laki itu akan menghilang ditelan kegelapan.

"Kara, besok... jangan masuk sekolah dulu, ya?" suara Aira bergetar. "Istirahatlah. Aku takut suhu tubuhmu makin naik."

Kara mencoba mengatur napasnya yang terasa berat. Pandangannya ke arah pagar rumah Aira tampak ganda, namun ia memaksakan sebuah senyuman. Ia melepas helmnya, membiarkan angin malam menyentuh wajahnya yang panas.

"Kenapa? Kamu takut asisten labmu ini absen dan kamu harus kerja sendirian?" goda Kara, meski suaranya tidak selantang biasanya.

"Aku serius, Kara!" Aira mencengkeram jaket itu lebih kuat. "Tetangga-tetangga bilang... orang yang dekat denganku akan mulai merasa sakit, lalu... lalu..."

"Lalu apa? Hilang?" Kara memotong dengan lembut. Ia meraih tangan Aira yang gemetar di jaketnya, menggenggamnya dengan telapak tangannya yang terasa sangat panas namun tetap memberikan rasa aman yang luar biasa.

"Aira, lihat aku."

Aira mendongak, menatap mata Kara yang kini tampak sayu namun penuh tekad.

"Aku tahu apa yang ada di pikiranmu. Kamu pikir samudera kamu terlalu dingin dan gelap sampai bisa memadamkan apiku, kan?" Kara menarik napas panjang, menahan denyut di pelipisnya. "Tapi kamu lupa satu hal tentang matahari."

Kara mendekatkan wajahnya, menatap Aira lurus-lurus ke dalam matanya yang sembab.

"Matahari itu tidak pernah benar-benar tenggelam di samudera, Aira. Dia hanya tampak seolah tenggelam setiap senja, tapi sebenarnya dia sedang bersiap untuk terbit lagi dengan cahaya yang lebih baru di sisi lain. Itu hukum alam. Itu janji Tuhan."

Kara mengeratkan genggamannya. "Jadi, aku berjanji padamu malam ini: Aku adalah matahari. Aku tidak akan tenggelam di samudera kamu. Aku tidak akan membiarkan diriku padam hanya karena aku memilih untuk menyinarimu. Aku akan tetap di sini, di orbitmu, sampai kamu sendiri yang sadar bahwa kamu tidak pernah sendirian."

Air mata Aira jatuh, bukan karena sedih, tapi karena ia merasa terlalu kecil untuk menerima janji sebesar itu. "Tapi bagaimana kalau aku yang tidak sanggup melihatmu menderita karena aku?"

"Maka belajarlah untuk percaya bahwa aku lebih kuat dari mitos itu," bisik Kara. "Cukup beri aku ruang di hatimu, dan biarkan aku yang mengurus sisanya. Logika, takdir, atau apa pun itu... aku akan menghadapinya."

Kara melepas tangan Aira perlahan, lalu kembali mengenakan helmnya. "Masuklah. Kunci pintu, dan jangan lupa kasih air untuk teratai di buku sakumu itu. Aku pulang dulu."

Aira berdiri mematung di balik gerbang saat motor Kara perlahan menjauh dan hilang di belokan gang. Ia memegang dadanya yang bergemuruh. Kata-kata Kara barusan bukan sekadar janji, melainkan sebuah sumpah yang mempertaruhkan nyawa.

Namun, saat Aira berbalik menuju pintu rumahnya, ia melihat sesuatu yang membuatnya membeku. Di atas ubin teras yang biasanya bersih, terdapat seekor burung gereja yang tergeletak mati tanpa luka, tepat di bawah lampu teras yang berkedip-kedip.

Aira menutup mulutnya dengan tangan. Ketakutan itu kembali menyengat. Di saat Kara menjanjikan cahaya, rumahnya seolah memberikan peringatan bahwa kegelapan tidak akan menyerah begitu saja.

"Jangan dia, Tuhan..." bisik Aira parau. "Jangan ambil matahariku."

Malam itu, di kamarnya yang megah, Kara ambruk di lantai kamarnya tepat setelah mengunci pintu. Darah merembes sedikit dari hidungnya, dan dunianya benar-benar menjadi gelap total. Sang Matahari telah berjanji untuk tidak tenggelam, namun kini, ia sedang dipaksa untuk masuk ke dalam gerhana yang paling kelam dalam hidupnya.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!