SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Kekacauan Di SMA Harapan Bangsa part 2
Di dalam mobil, Yuli langsung duduk dan diam tanpa menegur pak Yanto sedikitpun. Matanya menatap keluar jendela melihat pemandangan jalanan yang semakin ramai dengan aktivitas pagi hari.
Yuli kembali mengingat kejadian semalam tadi yang serasa berturut-turut hadir dalam hidupnya seperti pelajaran yang harus dia mengerti. Gambar-gambar dari majalah dan DVD tersebut masih terkadang muncul di benaknya, membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
"Persetan dengan Majalah, DVD porno itu! Gue berjanji sama diri gue sendiri gak kan menyentuh lagi kedua barang haram tersebut," gumam Yuli dalam hati dengan tekad yang bulat. Lalu Yuli tersenyum licik, dirinya berniat melaporkan ini kepada kepala sekolah, biar Romi mengerti dan jera karena tidak semua wanita bisa di perlakukan seperti itu. "Dia harus tahu bahwa tidak bisa sembarangan memberikan barang seperti itu kepada orang lain," ucap Yuli dalam hati.
Tiba-tiba terdengar suara Pak Yanto yang lembut, "Non... non Yuli, kita sudah sampai di sekolah."
"Waduuuh kok gue jadi ngelamunin si Romi sialan itu! Gara-gara pemberian barang haram itu, sekarang pikiran dan otak gue ikut-ikutan jadi kotor dan mesum," gumam Yuli dengan sedikit marah sambil menghela napas panjang.
"Ya pak Yanto, terima kasih banyak," ucap Yuli dengan suara pelan lalu turun dari mobil mewahnya dan berjalan masuk kedalam sekolah.
Siswa dan Siswi sudah banyak yang berdatangan di halaman sekolah—mereka berbincang serta bercanda ria di bawah pohon besar di tengah halaman, namun ada pula yang menyendiri dan berdiam diri di bangku taman, juga ada yang asyik membaca buku dengan penuh perhatian.
"Hey...hey...hey loe yang lagi baca buku sana!" ucap Yuli dengan suara yang cukup keras, menarik perhatian seorang siswa laki-laki yang sedang duduk di bangku taman dengan wajah fokus membaca buku tebal.
"Ya ada apa kak? Ada yang bisa saya bantu buat kakaknya yang cantik?" jawab siswa kelas 10C dengan suara ramah, segera menutup buku dan berdiri untuk menghormati Yuli yang lebih dulu masuk sekolah.
"Loe lagi baca buku pelajaran? Bukan buku yang lain kan?" tanya Yuli kepada siswa tersebut dengan tatapan yang sedikit mencurigakan, masih terbayang kejadian dengan majalah dan DVD semalam tadi.
"Pastilah kak, masa sih aku baca buku komik atau yang tidak penting di pagi hari seperti ini? Aku sedang belajar untuk ulangan matematika minggu depan lho kak," ucap songong siswa itu dengan sedikit mengangkat dagunya, merasa bangga karena bisa belajar dengan giat.
"Apa loe lagi Baca buku Porno karena gue liat loe serius banget bacanya?" ujar Yuli lagi kepada siswa tersebut dengan nada yang tidak bisa ditebak, membuat siswa tersebut langsung terkejut dan wajahnya memerah merah.
"Astaghfirullah kak... kakanya kok bisa-bisanya memfitnah aku begitu saja? Ini jelas buku pelajaran matematika SMA kelas 10 lho kak!" ucap siswa tersebut dengan suara sedikit marah, kemudian berdiri dan berjalan mendekati serta menunjukan buku yang dibacanya kepada Yuli dengan jelas.
Yuli melihat buku tersebut dengan cermat, membolak balik halaman depan dan belakang, serta melihat halaman demi halaman untuk memastikan bahwa itu memang buku pelajaran. Wajahnya sedikit memerah karena merasa salah menuduh siswa tersebut.
"Benar loe emang anak KUKU ya, belajar terus aja," ujar Yuli dengan suara yang lebih lembut sekarang, sedikit tersenyum karena merasa malu dengan apa yang telah dikatakannya.
"KUKU itu apa artinya kak? Saya tidak mengerti sama sekali," tanya siswa 10C tersebut dengan wajah penuh kebingungan, mengerutkan kening karena tidak tahu apa yang dimaksud Yuli.
"Ya elaaah KUKU aja loe gak tahu, payah KUPER sih loe!" ucap Yuli lagi kepada siswa 10C itu dengan nada yang sedikit bercanda, sudah merasa lebih tenang setelah melihat bahwa itu memang buku pelajaran.
"KUPER juga aku belum tahu itu kak, sekarang banyak Istilah istilah yang baru dan tidak pernah aku dengar sebelumnya," ujar siswa tersebut dengan suara penuh kebingungan, menggaruk-garuk kepalanya karena benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud Yuli.
"Itu bukan istilah baru lho, malah udah jadul banget kok! Cuma kamu yang tidak tahu aja," ucap Yuli dengan sedikit tertawa, merasa lucu melihat wajah bingung siswa tersebut.
"Aah pusing kalau bicara dengan kakak satu yang cantik ini kak," ucap siswa kelas 10C dengan sedikit tersenyum, sudah tidak merasa marah lagi dengan Yuli.
"Payah loe juga sih, gue pikir loe anak gaul jadi gue sempet sempetin nanya langsung ke loe tentang buku apa yang loe baca. Padahal ternyata kamu cuma anak yang suka belajar saja," ucap Yuli dengan suara yang lebih ramah sekarang, sudah mulai merasa nyaman berbicara dengan siswa tersebut.
"Jadi apa dong kak istilah KUKU dan KUPER itu? Tolong dong kasih tahu saya ya kak," Tanya si siswa 10C itu dengan penuh rasa ingin tahu, sudah tidak sabar untuk mengetahui artinya.
"Gue akan jawab jika loe tahu dimana keberadaan Romi! Coba kamu bilang aja dimana dia sekarang atau kelasnya dimana," ucap Yuli kepada siswa 10C itu dengan suara yang kembali serius, karena tujuan utamanya datang ke sana adalah mencari tahu dimana Romi berada.
Siswa 10C langsung memperkenalkan diri dengan angkuhnya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman. "Perkenalkan nama aku Endi bukan Andi tapi Endi pakai huruf E ya kak! Kakaknya jangan sampai lupa nama aku ya karena aku pasti akan sering bertemu dengan kakak," ucap Endi kepada Yuli dengan penuh percaya diri, wajahnya menunjukkan bahwa dia sangat senang bisa bertemu dengan Yuli.
"Otak loe kosong Endi!!! Yang gue tanya itu si Romi bukan nama loe! Sudah jelas kan apa yang gue mau tanya?" ucap Yuli dengan suara kesal, sambil menepuk-nepuk dahinya karena merasa kesal dengan kelambanan Endi. "Gue tanya lagi sama loe Endii—tahu gak tempat nongkrong atau kelasnya si Romi? Coba kamu bilang sekarang juga kalau tahu!"
"Buat apa sih kakak nanyain Romii? Dia itu kan anak orang miskin, ibunya pedagang sayuran di pasar Sewon dan juga bekerja sebagai kuli cuci di beberapa rumah cluster di daerah Lengkong wetan, sedangkan Rominya sendiri adalah pedagang bakso Cuangki yang sering berjualan di sekitar komplek perumahan mahal," ucap Endi dengan suara yang sedikit merendahkan, sudah tahu bahwa banyak siswa yang tidak menyukai Romi karena latar belakangnya yang berbeda.
"Loh kok Loe tahu banget tentang Romi? Loe tahu darimana tentang si Romi yang bahkan gue sendiri tidak tahu banyak tentang dia?" tanya Yuli penasaran dengan wajah yang menunjukkan rasa ingin tahu yang besar, tidak menyangka bahwa informasi tentang Romi sudah sangat banyak diketahui oleh siswa sekolah.
"Udah menjadi rahasia umum kak! Itu kan udah di tulis di MADING sekolah kita tentang Artikel khusus Romi, semua lengkap dari A - Z tentang Romi mulai dari keluarga, pekerjaan orang tuanya, hingga tempat dia berjualan setiap hari setelah sekolah," ucap Endi dengan suara yang cukup keras, membuat beberapa siswa di sekitarnya melihat ke arah mereka berdua.
"Woow Amazing... ternyata keburukan anak sontoloyo itu sudah menyebar ...dan seluruh siswa sekolah sudah tahu tentang dia," gumam Yuli dengan suara pelan, matanya mulai melihat ke arah Mading yang disebutkan oleh Endi.
"Ayo donk kakaknya tadi janji mau memberitahukan tentang istilah KUKU dan KUPER kepadaku! Sudah kan aku bilang dimana informasi tentang keberadaan tentang Romi?" ucap Endi dengan penuh harapan, tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengetahui arti dari kata-kata yang belum pernah dia dengar sebelumnya.
"KUKU itu artinya kutu buku, sedangkan KUPER itu kurang pergaulan. Sekarang kamu tahu kan? Jangan lupa ya belajar terus tapi juga jangan terlalu tertutup ya Endi," ucap Yuli dengan suara cepat sambil pergi menjauh dari Endi yang masih berdiri di tempatnya.
"Terima kasih kakak Cantik! Boleh aku kenalan sama kakaknya? Boleh juga aku nanya-nanya pelajaran kalau ada yang tidak mengerti kan kak?" teriak Endi dengan percaya diri, mengikuti langkah Yuli dengan sedikit berlari.
"SOK AKRAB loe Endi! Nanti kalau ada waktu aja ya," teriak Yuli tanpa menoleh, terus melangkahkan kakinya dengan cepat. Namun dia tidak menuju kelasnya yang berada di lantai dasar kelas 10D, melainkan berjalan ke arah Aula yang di sebelah kanannya terdapat Mading (majalah Dinding) yang selalu menjadi pusat informasi bagi seluruh siswa dan siswi SMA Harapan Bangsa.
Yuli melangkah mendekati Mading dengan langkah yang semakin lambat. Beberapa siswa dan siswi sedang berkerumun di depan Mading, melihat sekilas info yang baru saja dipasang pagi ini. Di sana terlihat foto-foto Romi yang diambil secara diam-diam—foto ketika dia membantu ibunya berjualan sayuran di pasar Sewon, dan foto ketika dia sedang berjualan bakso Cuangki di dekat komplek perumahan.
"Mampus tuh anak miskin, lagian sok masuk ke SMA Harapan Bangsa yang jelas-jelas sekolah untuk anak orang kaya," ucap seorang siswi kelas 10 dengan nada merendahkan, sambil menyeringai tertawa bersama teman sekelasnya.
"Betul sekali! Sepertinya Romi tidak akan bertahan lama sekolah disini, karena tekanan dari seluruh siswa dan siswi Harapan Bangsa pasti akan membuatnya menyerah dan keluar sendiri," tambah teman sekelasnya dengan suara yang cukup keras sehingga terdengar oleh Yuli.
"Gue sebenarnya iba sama dia, tapi dia yang sombong sekolah di sini padahal dia sudah tahu bahwa SMA kita adalah SMA para anak-anak orang kaya yang punya latar belakang berbeda dengan dia," ucap siswi kelas 10 yang lain dengan sikap sombong, membuat beberapa siswa di sekitarnya mengangguk menyetujui.
Yuli berdiri di belakang kerumunan siswa tersebut, melihat foto Romi dengan wajah polosnya yang sedang fokus bekerja membantu ibunya. Kata-kata dari para siswa yang menyudutkan Romi membuat hati Yuli menjadi terasa berat. Dia mulai memikirkan kembali keputusannya untuk melaporkan Romi kepada kepala sekolah. Semalam dia merasa sangat marah dan ingin membalas apa yang Romi lakukan, tapi sekarang setelah melihat kondisi Romi yang sudah terkena tekanan dari teman-teman sekolahnya sendiri, dia merasa ragu.
"Apakah benar aku harus melaporkannya? Atau mungkin ada kesalahpahaman di sini?" gumam Yuli dalam hati, melihat wajah Romi di foto yang terlihat sangat tulus dan bekerja keras untuk bisa sekolah di sana. Pikiran tentang paket coklat muda dan isinya kembali muncul di benaknya, tapi kali ini ada rasa yang membuatnya merasa tidak benar jika hanya begitu saja menyalahkan Romi tanpa tahu kebenaran yang sebenarnya.
Membuat hati Yuli jadi ragu antara melaporkan tentang kado coklat muda kepada kepala sekolah atau membatalkannya.