Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.
Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.
Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: RUANG KEDAP SUARA
Udara di ruang Bimbingan Konseling terasa sepuluh derajat lebih dingin daripada lorong sekolah yang gerah, namun bagi Keyla Aluna, rasanya seperti melangkah masuk ke dalam inti matahari. Panas, menyesakkan, dan membakar.
Di atas meja mahoni Pak Burhan, di antara tumpukan berkas absensi dan kotak tisu, tergeletak benda itu. Buku catatan bersampul kulit imitasi berwarna cokelat tua dengan ujung-ujung yang sudah terkelupas. Buku yang menampung segala racauan, draf puisi gagal, dan diagram rasi bintang yang digambar Keyla saat jam kosong. Buku yang hilang dari tasnya seminggu lalu setelah pelajaran Olahraga.
Keyla merasakan darahnya surut dari wajah. Kakinya lemas, seolah gravitasi bumi tiba-tiba melipatgandakan kekuatannya. Jika bukan karena tangan Bintang yang masih menggenggam erat jemarinya—sebuah jangkar di tengah badai—mungkin Keyla sudah ambruk ke lantai keramik.
"Silakan duduk," suara Pak Burhan berat, memecah keheningan yang tegang. Pria paruh baya itu menatap Keyla dan Bintang bergantian di balik kacamata tebalnya, lalu pandangannya jatuh pada Vanya yang duduk di kursi seberang dengan postur tegak sempurna, seolah dia adalah korban paling menderita di dunia ini.
"Saya rasa buktinya sudah jelas, Pak," Vanya memulai, suaranya bergetar dengan nada sedih yang dilatih dengan sempurna. Dia tidak menatap Keyla, seolah kehadiran Keyla terlalu menjijikkan baginya. "Buku ini... ini buku harian saya. Tempat saya menulis semua surat untuk Bintang selama ini. Keyla mencurinya. Dia terobsesi pada Bintang, Pak. Dia ingin menjadi saya."
Pak Burhan menghela napas panjang, jemarinya mengetuk sampul buku itu. "Keyla, ini tuduhan yang sangat serius. Menguntit, mencuri, dan pemalsuan identitas. Vanya bilang dia menemukan buku ini di laci mejamu tadi pagi saat piket kelas."
"Itu bohong!" Suara itu bukan milik Keyla, tapi Bintang. Laki-laki itu maju selangkah, postur tubuhnya protektif menutupi Keyla sebagian. "Pak, Bapak tahu reputasi Vanya dan bagaimana dia..."
"Bintang, saya bicara berdasarkan bukti fisik," potong Pak Burhan tegas. "Buku ini berisi draf surat-surat yang persis sama dengan yang kamu terima. Vanya bisa menjelaskan isi buku ini dengan detail. Bagaimana dengan Keyla?"
Keyla ingin berteriak, tapi tenggorokannya terkunci. Vanya benar-benar jenius dalam kejahatannya. Dengan memegang buku draf itu, Vanya memegang 'dapur' dari semua surat Cassiopeia. Tentu saja dia bisa menjelaskannya. Dia tinggal membaca apa yang tertulis di sana.
"Keyla tidak bisa bicara, Pak?" Vanya menyela halus, sudut bibirnya berkedut membentuk senyum sinis yang hanya bisa dilihat Keyla. "Mungkin karena dia bingung harus mengarang alasan apa lagi. Pak, saya cuma ingin ketenangan. Saya takut. Bayangkan ada seseorang yang mempelajari tulisan tangan Anda, gaya bahasa Anda, hanya untuk merebut pacar Anda."
BRAK!
Pintu ruang BK terbuka kasar. Dinda Pertiwi berdiri di sana, napasnya memburu, dasinya miring, dan wajahnya merah padam menahan amarah. Di belakangnya, Bu Ratna, guru piket, berusaha menahannya tapi gagal.
"Heh, Ula Kobra!" Dinda menunjuk wajah Vanya tanpa ragu. "Lambemu itu lho, dijaga! Pak Burhan, jangan percaya dia! Saya saksinya, buku itu punya Keyla! Saya yang nemenin Keyla beli buku itu di Gramedia Tunjungan Plaza dua tahun lalu!"
"Dinda, keluar!" bentak Pak Burhan.
"Nggak mau! Sampeyan mau ngeluarin sahabat saya gara-gara fitnah murahan model sinetron begini?" Dinda merangsek masuk, berdiri di samping Keyla. Kehadiran sahabatnya yang berapi-api memberikan sedikit percikan keberanian di dada Keyla.
"Dia sahabatnya, Pak. Tentu saja dia membelanya," Vanya memutar bola mata, tetap tenang di kursinya. "Kalau memang itu buku Keyla, kenapa tulisan di dalamnya sangat... emosional? Sangat 'Cassiopeia'? Semua orang tahu Keyla itu pendiam, kaku. Nggak mungkin dia bisa nulis sajak. Dia anak klub sastra yang cuma jadi penonton."
Kalimat itu menusuk tepat di ulu hati. Keyla meremas rok abunya. Inilah ketakutan terbesarnya selama ini: ketidakpercayaan orang bahwa gadis 'invisible' sepertinya memiliki dunia batin yang kaya.
Bintang melepaskan genggaman tangannya pada Keyla perlahan, lalu beralih menatap Vanya dengan tatapan dingin yang belum pernah Keyla lihat sebelumnya. Tatapan yang membuat suhu ruangan semakin anjlok.
"Oke, Vanya," suara Bintang tenang, tapi tajam. "Kalau itu bukumu, dan kalau kamu memang Cassiopeia, kamu pasti hafal setiap metafora yang kamu tulis, kan?"
"Tentu saja, Sayang," jawab Vanya manis.
Bintang mengambil buku usang itu dari meja Pak Burhan sebelum guru itu sempat melarang. Dia membukanya secara acak. "Di surat ketiga, Cassiopeia menulis tentang 'Nebula yang melahirkan bintang'. Bisa jelaskan kenapa kamu memilih metafora itu?"
Vanya tersenyum percaya diri. Dia sudah membaca buku itu semalaman. "Mudah. Itu karena aku merasa cintaku padamu seperti ledakan gas yang menciptakan sesuatu yang indah. Seperti kelahiran kita berdua."
Jawaban yang bagus. Puitis. Masuk akal.
Pak Burhan mengangguk-angguk, terkesan. Keyla melihat harapan mulai menipis.
Namun, Bintang tidak tersenyum. "Jawaban yang bagus, Van. Sayangnya, salah."
Wajah Vanya sedikit memucat. "A-apa maksudmu? Itu interpretasiku sebagai penulis."
"Bukan," potong Bintang. Dia menoleh ke arah Keyla. Tatapannya melembut, seolah meminta izin. "Key?"
Keyla menarik napas panjang. Bau antiseptik ruangan ini perlahan tergantikan oleh memori aroma hujan dan kertas tua—dunia nyatanya. Dia melihat buku di tangan Bintang. Itu 'anak'-nya. Itu jiwanya yang dicuri. Dan tidak ada seorang ibu pun yang membiarkan anaknya diculik tanpa perlawanan.
"Nebula..." Keyla bersuara. Kecil, serak, tapi jelas. "...Nebula di surat itu merujuk pada Nebula Orion. Di paragraf kedua, aku—maksudku, penulisnya—menyebutkan 'pedang sang pemburu'. Itu bukan tentang ledakan cinta. Itu tentang rasa sakit proses pembentukan jati diri. Bahwa untuk bersinar, sebuah bintang harus runtuh oleh gravitasinya sendiri dulu. Panas, dan menyakitkan."
Keheningan menyelimuti ruangan. Pak Burhan tertegun menatap Keyla. Gadis yang biasanya menunduk itu kini mengangkat dagunya, matanya berkaca-kaca namun menyala.
"Dan..." Keyla melangkah maju, mendekati meja. Dia menatap Vanya tepat di manik mata. "Di buku itu, halaman 42. Ada bekas lipatan di pojok kanan atas."
Vanya mendengus. "So what? Buku tua pasti banyak lipatan."
"Bukan lipatan biasa," lanjut Keyla, suaranya semakin stabil. Dia tidak lagi berbicara pada Vanya, tapi pada kebenaran itu sendiri. "Itu draf surat tentang 'Bintang Utara' yang tidak pernah aku kirimkan ke Bintang. Karena di surat itu, aku melakukan kesalahan astronomi fatal. Aku menulis Polaris sebagai bintang paling terang, padahal Sirius yang paling terang. Aku menyadarinya setelah menulis, jadi aku tidak menyalinnya ke surat asli."
Keyla menoleh ke Pak Burhan. "Pak, kalau Vanya memang penulisnya, tanya dia: apa yang tertulis di coretan yang ditimpa tinta hitam tebal di baris ketiga halaman 42 itu? Kalau itu bukunya, dia pasti tahu kata apa yang salah tulis di situ sebelum dicoret."
Wajah Vanya berubah pias. Topeng percaya dirinya retak. Dia melirik buku di tangan Bintang dengan gelisah. Tentu saja dia tidak tahu. Dia hanya membaca tulisan yang terbaca, bukan coretan yang dibuang.
"Aku... itu sudah lama sekali! Mana aku ingat setiap coretan!" elak Vanya panik. "Pak, ini konyol! Dia cuma menebak!"
"Sirius," bisik Keyla. "Kata yang dicoret adalah 'Sirius', karena aku salah menempatkannya di rasi Ursa Minor. Di bawah coretan itu, kalau Bapak terawang ke arah lampu, masih terbaca lekukan penanya."
Bintang langsung mengangkat halaman 42 ke arah lampu neon di langit-langit. Pak Burhan ikut mendekat, menyipitkan mata. Dinda menahan napas.
Di bawah sorot lampu putih yang menyilaukan, di balik blok tinta hitam yang tebal, bayang-bayang tekanan pena di kertas tipis itu terlihat samar namun tak terbantahkan. Huruf S, I, R... membuktikan klaim sang pemilik asli.
"Sirius," gumam Pak Burhan. Dia menoleh ke arah Vanya dengan tatapan yang berubah drastis—dari simpati menjadi kecewa berat.
"Vanya," suara Pak Burhan memberat. "Bisa jelaskan kenapa kamu tidak tahu isi coretan di bukumu sendiri, sementara Keyla tahu persis detail mikroskopisnya?"
Vanya terpojok. Dia berdiri mendadak, kursinya berderit keras bergesekan dengan lantai. "Ini jebakan! Keyla pasti sudah mengintip buku ini sebelumnya! Bintang, kamu nggak bisa percaya si cupu ini! Lihat aku! Aku Vanya! Kita selevel! Dia cuma... cuma bayangan!"
"Cukup!" Bintang membanting buku itu pelan ke meja, tapi gema suaranya membungkam Vanya. "Kamu benar, Van. Keyla memang bayangan selama ini. Tapi kamu lupa satu hal tentang astronomi."
Bintang berjalan memutari meja, lalu berdiri tepat di samping Keyla, merangkul bahu gadis itu di depan guru dan sahabatnya. Kali ini, tidak ada keraguan. Tidak ada lagi rahasia.
"Bintang tidak bisa bersinar tanpa kegelapan langit malam yang memeluknya," ucap Bintang, matanya menatap Keyla lekat-lekat, mengabaikan Vanya yang gemetar menahan malu dan amarah. "Keyla bukan penguntit. Dia adalah alasan kenapa aku... kenapa Bintang Rigel masih punya hati di tengah kepalsuan sekolah ini."
Pak Burhan kembali duduk, melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya. "Vanya Clarissa, duduk. Kita perlu bicara serius tentang pencurian, fitnah, dan penyalahgunaan media sosial sekolah. Dan saya akan memanggil orang tuamu sekarang juga."
Vanya menggeleng, air mata frustrasi—bukan air mata buaya—mulai tumpah. Dunianya, takhta yang ia bangun dengan manipulasi, sedang runtuh di depan matanya. Dia menatap Keyla dengan kebencian murni, tapi Keyla tidak lagi merasa kecil.
Keyla menatap buku catatannya di meja. Buku itu lusuh, jelek, dan penuh coretan. Tapi itu miliknya. Dan untuk pertama kalinya, Keyla merasa bangga akan goresan tangannya sendiri.
Namun, saat Dinda bersorak pelan dan memeluknya, Keyla melihat sesuatu yang lain. Di saku seragam Bintang yang sedikit terbuka karena rangkulan tadi, menyembul ujung sebuah amplop berwarna biru tua. Amplop yang sangat spesifik.
Itu bukan surat dari Cassiopeia.
Itu amplop surat balasan Bintang untuk Cassiopeia yang belum sempat diberikan.
Dan di sudut amplop itu, tertulis sebuah nama tujuan yang bukan 'Cassiopeia'. Melainkan nama asli yang ditulis dengan tulisan tangan Bintang yang tegas:
*Untuk Keyla Aluna.*
Jantung Keyla berhenti berdetak sejenak. Bintang sudah menyiapkan surat itu sebelum kejadian di rooftop? Sebelum semua kekacauan ini? Apakah ini berarti... Bintang sudah tahu jauh sebelum Vanya berulah?
"Key?" bisik Bintang, menyadari perubahan ekspresi Keyla.
"Bin..." Keyla menunjuk saku Bintang dengan tangan gemetar. "Sejak kapan?"
Bintang mengikuti arah telunjuk Keyla, lalu tersenyum tipis. Senyum yang penuh rasa bersalah namun juga kelegaan. "Kita punya banyak hal untuk dibicarakan, Key. Tapi nggak di sini. Nggak di depan mereka."
Konfrontasi di ruang BK telah berakhir dengan kemenangan, tapi bagi Keyla dan Bintang, babak penentuan yang sebenarnya baru saja dimulai.