Su Yun pernah menjalani hidup penuh kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika takdir memberinya kesempatan kembali ke masa lalu, ia bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Berbekal pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan warisan misterius Seni Pedang Tanpa Batas, Su Yun menapaki kembali jalan kultivasi. Demi melindungi orang-orang yang berharga baginya, ia harus menghadapi para genius, sekte besar, Binatang Roh, hingga musuh yang jauh melampaui kekuatannya.
Kali ini, Su Yun tidak akan tunduk pada takdir.
Dengan pedang di tangannya, ia akan merebut kembali semua yang pernah hilang—dan membuka jalan menuju puncak dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 — Kembali Lima Belas Tahun
“Qing Er...?”
Suara serak itu nyaris tak terdengar di tengah dinginnya malam.
Namun bagi gadis yang sejak tadi menangis di sisi ranjang, suara tersebut bagaikan petir yang membelah langit.
Tubuhnya menegang.
Air mata masih menggantung di ujung bulu matanya ketika ia buru-buru mengangkat kepala.
“Tuan Muda?”
Di atas ranjang kayu sederhana, jari pemuda yang semula tak bergerak perlahan berkedut.
Kelopak matanya bergetar.
Lalu terbuka.
Cahaya lilin yang redup menusuk pandangannya.
Su Yun mengerang pelan. Kepalanya terasa seperti dihantam palu berkali-kali. Tubuhnya begitu lemah hingga mengangkat tangan pun terasa sulit.
Tetapi semua rasa sakit itu mendadak tak berarti.
Karena wajah di hadapannya.
Wajah yang selama bertahun-tahun hanya bisa ia temui dalam mimpi.
“Qing... Er?”
Su Yun menatap gadis itu tanpa berkedip.
Wajah mungil yang bersih. Sepasang mata jernih yang memerah karena menangis. Rambut hitam panjang tergerai di belakang bahunya.
Masih begitu muda.
Masih hidup.
Mustahil.
Su Yun jelas mengingatnya.
Qing Er telah mati.
Dan kematiannya adalah penyesalan terbesar dalam hidup Su Yun.
“Tuan Muda!”
Qing Er langsung menggenggam tangannya.
“Anda akhirnya sadar!”
Air matanya kembali jatuh.
“Saya benar-benar takut... Saya pikir Anda...”
Kalimatnya terputus oleh isakan.
Su Yun tidak menjawab.
Ia hanya menatap Qing Er.
Tangannya gemetar ketika perlahan menyentuh jemari gadis itu.
Hangat.
Benar-benar hangat.
Bukan mimpi.
Bukan ilusi menjelang kematian.
“Qing Er... kau benar-benar hidup.”
“Tentu saja saya hidup.”
Qing Er menatapnya kebingungan.
“Tuan Muda, apa kepala Anda masih sakit?”
Su Yun hendak menjawab ketika suara dingin terdengar dari belakang.
“Sepertinya orang seperti dia memang tidak mudah mati.”
Barulah Su Yun menyadari ada orang lain di dalam gubuk.
Seorang pemuda tinggi berdiri tak jauh dari pintu. Wajahnya cukup tampan, tetapi tatapannya terhadap Su Yun penuh penghinaan.
Mosha.
Nama itu muncul begitu saja dalam ingatannya.
“Sudah delapan belas tahun hidup,” lanjut Mosha, “tetapi bahkan setelah menghabiskan begitu banyak sumber daya keluarga, kultivasinya tetap menyedihkan.”
“Mosha!”
Qing Er langsung menoleh.
“Jangan bicara seperti itu!”
“Aku hanya mengatakan kenyataan.”
Mosha mendengus.
“Dia sudah dibuang dari kediaman utama. Apa gunanya kau terus datang kemari?”
Qing Er berdiri.
“Dia adalah Tuan Mudaku.”
“Dulu.”
“Sekarang juga!”
Nada Qing Er membuat Mosha terdiam sesaat.
Su Yun memperhatikan keduanya tanpa bicara.
Ingatan yang semula kacau perlahan menyatu.
Gubuk ini.
Mosha.
Qing Er yang masih berusia sekitar enam belas tahun.
Dan tubuhnya sendiri...
Su Yun menundukkan kepala.
Kurus.
Lemah.
Telapak tangannya bahkan tidak memiliki kekuatan yang pernah ia miliki sebelum kematian.
Jantungnya mulai berdegup lebih cepat.
Tidak mungkin...
Mosha tampaknya semakin kesal melihat Qing Er tetap berada di sisi Su Yun.
“Qing Er, kau harus kembali.”
“Aku belum ingin pergi.”
“Kepala keluarga bisa mengetahui kau menyelinap keluar.”
“Biarkan.”
“Jangan keras kepala!”
Mosha melangkah mendekat.
“Sekarang kau adalah salah satu orang berbakat yang diperhatikan keluarga. Masa depanmu berbeda dengannya.”
Ia menunjuk Su Yun tanpa sedikit pun menyembunyikan penghinaan.
“Lihat dia. Minum, berjudi, menghabiskan uang, dan menyia-nyiakan hidup. Orang seperti ini tidak pantas membuatmu mempertaruhkan masa depan.”
“Mosha!”
Qing Er mengepalkan tangan.
“Keluar.”
“Apa?”
“Aku menyuruhmu keluar!”
Wajah Mosha berubah.
Tatapannya beralih kepada Su Yun.
“Kau benar-benar menyusahkan.”
Tiba-tiba tangannya bergerak menuju gagang pedang.
Su Yun bahkan belum sempat bereaksi.
Sring!
Pedang terhunus.
Namun sebelum bilah itu mendekati ranjang—
Bang!
Gelombang energi menghantam tubuh Mosha.
Ia terpaksa mundur beberapa langkah sebelum menstabilkan dirinya.
Qing Er telah berdiri di depan Su Yun.
Energi samar berputar di sekitar tubuhnya.
“Mosha.”
Tatapan gadis itu berubah dingin.
“Kalau kau berani menyentuh Tuan Muda, jangan salahkan aku.”
Mosha menatapnya tidak percaya.
“Kau menyerangku demi sampah ini?”
“Dia bukan sampah!”
Qing Er menggigit bibir.
“Dia adalah orang yang memberiku tempat tinggal ketika aku tidak memiliki apa-apa. Dia membesarkanku dan melindungiku.”
“Dan sekarang?”
Mosha tertawa sinis.
“Sekarang justru kau yang memberinya makan!”
Qing Er terdiam.
“Setiap bulan kau memberikan uangmu kepadanya. Kau pikir aku tidak tahu?”
Mosha menatap Su Yun tajam.
“Seorang pria hidup dari uang seorang gadis. Kalau bukan sampah, lalu apa?”
Su Yun tidak membantah.
Karena semua itu benar.
Pada masa ini, dirinya memang seperti itu.
Setelah bakat yang dahulu membuat seluruh Keluarga Su kagum namun tiba-tiba berhenti berkembang, hidupnya perlahan runtuh.
Dari seorang jenius...
menjadi bahan tertawaan.
Dari harapan keluarga...
menjadi orang buangan.
Dan dirinya yang muda tidak sanggup menerimanya.
Ia memilih arak.
Perjudian.
Amarah.
Bahkan orang yang paling setia kepadanya ikut menjadi tempat pelampiasan.
Qing Er.
Su Yun menutup mata.
Rasa pahit memenuhi dadanya.
“Keluar.”
Suara Qing Er kembali terdengar.
Mosha mengertakkan gigi.
“Baik!”
Ia menyarungkan pedangnya.
“Tapi ingat kata-kataku, Qing Er. Kau dan dia sudah berada di dua dunia berbeda.”
Bang!
Pintu dibanting keras.
Gubuk kembali sunyi.
Qing Er berdiri beberapa saat sebelum memastikan Mosha benar-benar pergi.
Kemudian ia mengembuskan napas lega.
“Tuan Muda, jangan dengarkan perkataannya.”
Su Yun membuka mata.
Qing Er tersenyum kepadanya.
Senyum itu membuat dadanya semakin sesak.
Dalam kehidupan sebelumnya, kapan terakhir kali ia melihat senyum ini?
Qing Er mendekati jendela dan mengintip keluar.
Setelah yakin tak ada orang, ia mengambil sebuah kantong kecil dari balik pakaiannya.
Diam-diam ia menyelipkannya ke bawah selimut.
Namun sebuah tangan menangkap pergelangannya.
Qing Er terkejut.
“Tuan Muda?”
“Apa ini?”
“Tidak... bukan apa-apa.”
“Qing Er.”
Gadis itu menundukkan kepala.
“Uang.”
Su Yun memandang kantong tersebut.
“Berapa?”
Qing Er semakin gelisah.
“Hanya sedikit.”
“Tiga ratus?”
Kepalanya langsung terangkat.
“Bagaimana Tuan Muda tahu?”
Su Yun tersenyum pahit.
Tentu saja ia tahu.
Tiga ratus adalah seluruh uang bulanan Qing Er.
Gadis bodoh ini selalu mengatakan hanya memberikan sisanya.
Padahal ia sendiri hampir tidak menggunakan apa pun.
“Ambil kembali.”
Su Yun menyerahkan kantong itu.
Qing Er terpaku.
“Tuan Muda?”
“Mulai sekarang, jangan berikan uangmu kepadaku.”
“Apakah... tidak cukup?”
“Bukan.”
Su Yun menatap matanya.
“Aku tidak ingin hidup seperti ini lagi.”
Qing Er tampak kebingungan.
Su Yun yang ia kenal tidak pernah menolak uang.
Terlebih dengan ekspresi seperti sekarang.
Tatapan pria itu seolah telah melewati sesuatu yang sangat jauh.
“Qing Er.”
“Ya?”
“Hari apa sekarang?”
Pertanyaan itu membuatnya semakin bingung.
“Dinasti Baru, Tahun 1001.”
Napas Su Yun tertahan.
“Tanggal?”
“Tiga Maret.”
Dunia mendadak terasa sunyi.
Tiga Maret.
Tahun 1001.
Su Yun menatap nyala lilin.
Tangannya perlahan mengepal.
Ia mengingat tanggal lain.
Sembilan Mei.
Tahun 1005.
Hari kematian Qing Er.
Gadis di hadapannya akan dipaksa menjalani pernikahan politik demi ambisi Keluarga Su.
Ia menolak.
Ia mencoba melarikan diri.
Dan orang-orang dari Sekte Langit Mendalam membunuhnya.
Mereka bahkan menyebarkan kabar bahwa Qing Er meninggal karena penyakit.
Saat itu Su Yun tidak berada di sisinya.
Ia sedang mabuk.
Bahkan pertemuan terakhir mereka pun terlewatkan.
Setelah mengetahui kebenaran, Su Yun menghabiskan bertahun-tahun hidup hanya untuk satu tujuan.
Balas dendam.
Ia meninggalkan Keluarga Su.
Mengembara.
Mencari guru.
Mempelajari berbagai metode.
Bahkan memasuki wilayah berbahaya yang tak berani didatangi kebanyakan kultivator.
Di sanalah Su Yun akhirnya mengetahui kebenaran.
Bakatnya tidak pernah benar-benar menghilang.
Tubuhnya mengalami kelainan spiritual langka yang menghambat perkembangan kultivasinya.
Penyakit yang menghancurkan hidupnya ternyata dapat disembuhkan.
Sayangnya, ketika mengetahui semuanya...
sudah terlambat.
Qing Er telah mati.
Dirinya telah kehilangan terlalu banyak waktu.
Dan ketika akhirnya menyerang Sekte Langit Mendalam demi membalas dendam, Su Yun meremehkan kekuatan musuh.
Ia mati di tangan para ahli mereka.
Namun sekarang...
Su Yun memandangi kedua tangannya.
Tubuh delapan belas tahun.
Tahun 1001.
Empat tahun sebelum tragedi itu terjadi.
Jadi...
aku benar-benar kembali.
“Tuan Muda?”
Suara Qing Er membuyarkan lamunannya.
Su Yun mendongak.
Tanpa sadar, ia menarik Qing Er ke dalam pelukan.
Tubuh gadis itu langsung menegang.
“T-Tuan Muda?”
“Maaf.”
Qing Er membeku.
Dua kata itu sederhana.
Namun Su Yun terlambat mengucapkannya selama lima belas tahun.
“Maafkan aku, Qing Er.”
Suara Su Yun bergetar.
Untuk semua kemarahannya.
Untuk uang yang dihabiskannya.
Untuk kesetiaan yang tak pernah dihargainya.
Dan terutama...
karena tidak berada di sana ketika Qing Er paling membutuhkannya.
Qing Er tentu tidak memahami semua itu.
Ia hanya merasa Tuan Mudanya berubah setelah hampir mati.
Perlahan, ekspresinya melembut.
“Tuan Muda.”
“Hmm?”
“Kalau begitu berjanjilah kepada Qing Er.”
Su Yun melepaskan pelukannya.
“Janji apa?”
“Jangan menyerah lagi.”
Qing Er tersenyum kecil.
“Tidak peduli apa yang dikatakan orang lain, tetaplah hidup.”
Su Yun menatapnya cukup lama.
Kemudian mengangguk.
“Aku berjanji.”
Qing Er akhirnya berdiri.
“Saya harus kembali sebelum ketahuan. Besok saya akan mencari tabib untuk memeriksa keadaan Anda.”
“Tidak perlu.”
“Tapi—”
“Aku baik-baik saja.”
Su Yun mengembalikan kantong uang itu sekali lagi.
“Dan simpan uangmu.”
Qing Er masih ragu.
“Tuan Muda benar-benar tidak membutuhkannya?”
“Tidak.”
Su Yun tersenyum.
“Mulai hari ini, aku akan mengurus hidupku sendiri.”
Qing Er memandangnya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.
“Baiklah.”
Ia berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, Qing Er menoleh.
“Kalau ada masalah, cepat panggil saya.”
Su Yun mengangguk.
“Aku tahu.”
“Jangan berjudi lagi.”
Su Yun tertawa kecil.
“Baik.”
“Dan jangan minum terlalu banyak.”
“Baik.”
Qing Er tersenyum puas.
Pintu pun tertutup.
Su Yun menatapnya lama.
Tetapi beberapa saat kemudian—
Bang!
Pintu kembali terbuka.
Mosha berdiri di sana.
Tatapannya jauh lebih dingin daripada sebelumnya.
“Ada satu hal yang harus kuberitahukan padamu.”
Su Yun menyipitkan mata.
“Katakan.”
“Jauhi Qing Er.”
Su Yun tidak menjawab.
“Dia memiliki bakat besar. Sebentar lagi bahkan Cabang Phoenix mungkin menerimanya.”
Mosha melangkah masuk.
“Selain itu, masa depannya sudah ditentukan keluarga.”
Mata Su Yun berubah.
“Maksudmu pernikahannya?”
Mosha terkejut.
“Kau tahu?”
Su Yun tetap tenang.
“Dengan orang dari Sekte Langit Mendalam?”
Keterkejutan Mosha semakin jelas.
“Bagaimana kau mengetahui itu?”
Su Yun tidak menjawab.
Mosha mendengus.
“Kalau sudah tahu, lebih baik sadar diri. Orang-orang di sana bukan seseorang yang bisa kau singgung.”
Ia menatap Su Yun dari atas ke bawah.
“Bagi mereka, kau bahkan tidak lebih berharga daripada seekor semut.”
Su Yun tersenyum tipis.
“Sudah selesai?”
“Kau—”
“Kalau sudah, tutup pintunya.”
Wajah Mosha mengeras.
“Hmph! Jangan menyesal nanti.”
Ia berbalik dan pergi.
Pintu kembali tertutup.
Kali ini Su Yun benar-benar sendirian.
Ia bangkit perlahan dari ranjang dan berjalan menuju jendela.
Langit malam membentang luas.
Udara dingin memasuki gubuk.
Lima belas tahun.
Ia telah membawa seluruh pengalaman lima belas tahun itu kembali bersamanya.
Ia tahu mengapa kultivasinya berhenti.
Ia tahu berbagai kesempatan yang akan muncul di masa depan.
Ia tahu siapa yang akan menjadi kuat.
Ia tahu siapa yang akan mati.
Dan yang terpenting...
ia tahu tragedi apa yang sedang menunggu Qing Er.
Su Yun mengepalkan tangannya.
Sekte Langit Mendalam.
Keluarga Su.
Pernikahan politik.
Semua itu masih berada di masa depan.
Artinya belum terlambat.
Kehidupan sebelumnya, ia hanya bisa menyaksikan semuanya setelah kehilangan Qing Er.
Kehidupan kali ini berbeda.
Su Yun menatap langit malam dengan mata yang semakin tajam.
“Langit mengembalikanku lima belas tahun ke masa lalu...”
Sudut bibirnya perlahan terangkat.
“Kalau begitu aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.”
Ia tidak akan kembali menjadi pemabuk.
Tidak akan kembali menjadi penjudi.
Tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak.
Dan tidak akan membiarkan Qing Er menghadapi nasib yang sama.
Apa pun yang harus dilawannya...
bahkan jika musuhnya adalah Sekte Langit Mendalam sekalipun.
Kali ini—
Qing Er tidak akan mati.
Dan Su Yun tidak akan menjadi sampah lagi.
......................
Bersambung...