Namanya adalah Haidee Tsabina, wanita cantik dengan hijabnya yang merupakan istri seorang Ibrahim Rubino Hebi. Kehidupan keluarga mereka sangat harmonis. Ditambah dengan seorang anak kecil buah cinta mereka yaitu Albarra Gavino Hebi
Tapi semua berubah karena sebuah kesalahpahaman dan egois yang tinggi. Rumah tangga yang tadinya harmonis berubah menjadi luka dan air mata.
Sanggupkah Haidee dan Ibra mempertahankan keluarga kecil mereka ditengah banyaknya rintangan dan ujian yang harus mereka hadapi? Atau mereka akan menyerah pada takdir dan saling melepaskan? Yuk baca kisahnya.
Follow Ig author @nonamarwa_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Marwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Jangan lupa follow Instagram author @nonam_arwa
🌹HAPPY READING🌹
"Tubuh mu".
Dee tersentak kaget mendengar suara Ibra. Dengan cepat Dee mengambil kimono tidurnya dan memasang dengan cepat.
"Eehhm. Mas dari kapan di sana", ucap Dee gugup setelah selesai mengenakan kimono nya. Jari tangannya meremas kuat menandakan bahwa ia sedang ketakutan. Dee tidak takut jika tubuhnya dilihat oleh suaminya, tapi tidak dengan lebam dan bekas Luka tubuhnya. Pasti Ibra akan jijik melihat tubuhnya yang penuh luka seperti ini, pikir Dee.
Tanpa menghiraukan pertanyaan Dee, Ibra berjalan perlahan mendekati Dee. Tangan Ibra terulur membuka tali pengait kimono tidur Dee. Tapi dengan cepat tangan Dee berjalan mundur menghindari Ibra.
"Buka baju mu", ucap Ibra tegas. Dee hanya diam dan menunduk cemas.
"Buka baju mu atau aku yang akan merobek paksa pakaianmu". Dee hanya tetap diam tidak ingin membuka bajunya. Tangannya meremas kuat baju bagian dada dan perutnya.
"Dee, aku katakan sekali lagi buka baju mu", bentak Ibra karena Dee tidak kunjung membuka bajunya.
Dee semakin berjalan mundur sambil menggelengkan kepalanya. Kecemasan kini dirasakannya. Bentakan Ibra sungguh membuatnya takut.
Melihat Dee yang hanya diam, Ibra berjalan semakin mendekat dan semakin dekat. Tangan Ibra meraih pinggul Dee untuk menahan pergerakannya. Dee meringis karena tangan Ibra mengenai bekas cambukan di pinggangnya. Tanpa pikir panjang Ibra langsung membuka paksa kimono tidur Dee.
Mata Ibra membulat kaget melihat banyaknya bekas cambuk dan lebam biru di tubuh Dee. Matanya memanas melihat kondisi tubuh Dee. Tangan Ibra terulur mengusap lembut beberapa bekas luka yang ada di bagian punggung Dee. Ibra melihat kebagian perut istrinya. Di sebelah kanan pusar Dee, Ibra melihat ada bekas sayatan dan juga dibagikan atas sebelah kanan dada Dee. Air mata Ibra jatuh melihat kondisi tubuh istrinya.
Ibra merutuki kebodohannya yang tidak mengetahui kondisi tubuh Dee. Padahal semenjak Dee kembali dari penjara dia sudah heran melihat Dee yang selalu memakai baju tidur tertutup. Di kamar mandi ia juga melihat salep pengering luka. Mengapa ia tidak peka dengan keadaan istrinya.
Ibra memeluk lembut tubuh Dee. "Siapa yang melakukan ini?" tanya Ibra lembut menatap sendu wajah Dee. Dee hanya menggeleng dan menangis dipelukan Ibra. "Hiks,,hiks,,hiks". Bahu Dee naik turun karena menangis.
Ibra melonggarkan pelukannya. Kedua tangannya menelungkup kedua sisi pipi istrinya. Memandang sendu mata yang sangat ia sukai itu, dan kini tampak mengeluarkan air mata.
"Siapa yang melakukan ini sama Adek ?" Ibra bertanya kembali dengan penuh kelembutan. Tangis Dee pecah mendengar Ibra kembali memanggilnya dengan sebutan 'Adek', panggilan lembut yang sangat Dee rindukan. "Hiks,,hiks,,hiks", badannya merosot tidak kuat menahan tangis. Dee menangis sejadi-jadinya. Ada tangis bahagia di sana ketika mendengar panggilan lembut suaminya itu. Melupakan sejenak rasa sakit ditubuhnya. Akhirnya Mas Ibranya kembali.
Ibra berjongkok mensejajarkan diri dengan Dee. "Siapa yang lakuin ini sama Dee? ini pasti sakit, kenapa ditahan sendiri ? Bilang sama mas siapa yang bikin luka begini di tubuh Adek ?" Dee tetap diam dan menggelengkan kepalanya. Jika Dee mengatakan semuanya dia yakin Ibra akan membuat kekacauan di kantor polisi.
Ibra membawa tubuh Dee kedalam dekapannya. Ikut mendirikan air mata merasakan sakit ditubuh istrinya. Setelah dirasa tangis Dee mulai hilang, Ibra melepaskan pelukannya.
"Apa salep yang dikamar mandi punya Dee?" Tanya Ibra dan Dee mengangguk sambil sesegukan. Ibra melepaskan pelukannya dan mendudukkan Dee di kursi yang ada di sana. Ia berjalan kembali ke kamar mandi. Tanpa butuh waktu lama Ibra kembali dengan salep yang sudah di tangannya.
"Mas pakein ya", ucap Ibra.
"Adek bisa sendiri, mas tidur lah. Luka ini sungguh menjijikan jika dipegang orang lain", tolak Dee lembut dengan suara bergetar menahan tangis agar tidak keluar lagi. Tangannya terulur mengambil salep yang ada di genggaman Ibra.
"Apa mas tidak jijik melihat badan Adek yang penuh luka seperti ini ? Bahkan ini ada yang masih berair", ucap Dee menunjuk luka yang ada di bagian perutnya. "Badan Adek udah nggak kayak dulu lagi. Udah banyak cacatnya. Adek juga iklhas mas merasa jijik sama Adek. Adek tau diri jika mas nggak mau lagi menyentuh Adek. Adek iklhas, hiks,," Tangis Dee kembali diujung katanya.
Ibra meredam emosi mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Dee. Bagaimana bisa Dee mengatakan jika dia jijik dengan tubuh istrinya jika tadi saja Ibra memeluknya. Sungguh tak masuk akal.
Ibra berjalan keluar pergi meninggalkan Dee yang masih menangis. Dee yang melihat kepergian Ibra semakin terisak merasakan sakit di dadanya. Ternyata benar bahwa suaminya merasa jijik terhadapnya, pikir Dee. Dee tidak menyalahkan itu, ia hanya kecewa kepada dirinya sendiri yang lalai tidak menyembunyikan luka ditubuhnya sampai sembuh. Dengan tangan bergetar dan air mata yang terus mengalir, Dee perlahan mulai mengoleskan salep ke beberapa lukanya.
Disisi lain Ibra langsung mengambil kunci mobil dan ponselnya setelah keluar dari walk in closet. Dia mengendarai mobil menuju apartemen Kevin tanpa memperhatikan pakaiannya.
Ibra memarkirkan mobil di basement gedung apartemen. Sampainya di lobi banyak pasang mata memandang Ibra dengan pandangan memuja. Bagaimana tidak, Ibra tampak bagai lelaki seksi dengan rambut yang sedikit basah dan kimono mandi yang melekat ditubuhnya. Ibra sadar akan keadaanya, ia hanya cuek toh mereka tidak saling kenal. Pikirannya saat ini hanya apartemen Kevin.
Sampainya di depan pintu apartement Kevin yang berada dilantai 15, Ibra langsung masuk. Karena memang ia mengetahui sandi apartemen Kevin. Ibra langsung menuju ke kamar dan benar dia melihat Kevin yang sedang tertidur hanya menggunakan boxer dan bertelanjang dada dengan selimut yang entah kemana-mana.
"Bangun", ucap Ibra sambil mengguncang bahu Kevin dengan cukup kuat. Berkali-kali mencoba Kevin tidak kunjung bangun.
Ibra mengambil air yang ada di nakas sebelah tempat tidur dan menyiramkannya tepat di wajah Kevin.
"Byur".
Kevin langsung terlonjak kaget, "BANJIIIR BANJIIRR WOI TOLONG GUE BANJIIR ANJIIRR,,, eh", Kevin langsung diam ketika melihat Ibra berdiri di samping ranjangnya.
"Dasar bangsat, ngapain sih lo nyiram gue anjiir. Udah lupa adab bertamu lo", ucap Kevin sinis memandangi Ibra dengan kesal.
Ibra menghiraukan umpatan Kevin, "pake baju lo, temenin gue ke kantor polisi", ucap Ibra.
"Ngapain sih malam-malam ke kantor polisi. Polisi pada tidu", ucap Kevin kembali merebahkan dirinya.
"Bangun Kevin atau gaji lo gue potong 70%", Ibra mengancam Kevin.
"Ni anak emang anjir bener, apa-apa ancamannya gaji mulu. Untuk sahabat gue, kalau enggak usah gue kebiri lo", Kevin menggerutu kesal dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
"Ngapain sih ke kantor polisi ?" tanya Kevin menghampiri Ibra yang duduk diruang tamu saat telah selesai memakai baju kaos oblong hitam dan celana jeans pendek berwarna hitam. Tampak sangat tampan kedua ciptaan Tuhan ini.
"Ini tentang Dee", ucap Ibra berjalan menuju pintu meninggalkan Kevin yang masih bingung dengan ucapan Ibra.
Dee? bukannya Dee udah dibebasin, kenapa ke kantor polisi lagi? atau jangan-jangan,,,," ucap Kevin dalam hatinya.
......................
Hai Teman-Teman, Terimakasi sudah mampir dan temani Dee menggapai kembali cinta suaminya yaa ,,,
Jangan lupa like sama komenya yaa teman-teman agar novel ini tambah seru lagi,,,
Jangan lupa follow Instagram author @nonam_arwa untuk melihat ucapan ucapan mutiara author yaa.....
tapi seruuu puas bgt bacanya
terimakasih thooor
semoga karya mu selalu d gemari
berbahagialah dee
paling buat berobat Jaka 15rb tuuh beli betadine