Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Tanpa Api
Perbatasan antara Sektor Tiga dan Sektor Empat kini tidak lebih dari sebuah benteng perang. Enam puluh ksatria elit Ignis dalam balutan zirah merah tua berdiri berbaris membentuk formasi tapal kuda, memblokade satu-satunya jembatan besi yang menghubungkan kedua wilayah.
Di tengah barisan itu, berdiri Komandan Kael. Pria paruh baya dengan rambut keabu-abuan yang diikat ketat itu menatap tajam ke arah kabut asap tebal Distrik Bawah. Pedang besarnya yang tertancap di tanah memancarkan hawa panas yang membakar rintik hujan gerimis menjadi uap sebelum sempat menyentuh permukaan baja zirahnya.
"Waktu tenggat hampir habis, Komandan," lapor seorang letnan muda, melangkah maju sambil memberi hormat. "Tidak ada pergerakan dari pasukan mafia Rexor. Mereka sepertinya terlalu pengecut untuk menyerahkan buronan kita."
Kael mendengus pelan, raut wajahnya keras layaknya pahatan batu obsidian. "Jangan remehkan tikus got saat mereka terpojok. Perintahkan regu pemanah api untuk bersiap. Jika matahari terbit dan Kaelen belum diserahkan, kita ratakan Sektor Empat hingga menjadi abu."
Sang letnan baru saja berbalik untuk memberikan perintah ketika suara langkah kaki tunggal bergema dari ujung jembatan yang berkabut.
Langkah yang tenang, terukur, dan perlahan.
Seluruh ksatria Ignis serentak menarik senjata mereka. Nyala api jingga kemerahan meledak dari puluhan bilah pedang dan ujung tombak, menerangi malam yang kelam dengan aura mematikan. Udara di sekitar jembatan mendadak terasa sekering gurun pasir.
Dari balik kabut berbau belerang, muncullah satu sosok bayangan.
Kaelen melangkah keluar menuju cahaya api para ksatria. Ia sendirian. Jubah kulit hitamnya berkibar pelan diterpa angin malam, menutupi Inti Leviathan yang tersembunyi di dadanya. Pemuda itu berhenti tepat sepuluh langkah di depan barisan baja yang siap mencabik-cabiknya.
Mata Komandan Kael menyipit. Ada kegetiran yang melintas cepat di matanya saat melihat mantan murid terbaiknya kini berdiri di pihak musuh.
"Kau datang sendirian untuk mati, Kaelen?" suara Kael berat, memecah deru api yang menyala di sekelilingnya. "Pamanmu memberiku perintah mutlak. Bawa kau kembali hidup atau mati. Menyerahlah. Jangan memaksaku membunuh murid yang pernah kubanggakan."
"Seorang guru yang baik akan mengenali saat muridnya telah melampaui ajarannya," jawab Kaelen, suaranya sedingin es. "Aku tidak datang untuk menyerahkan diri, Komandan Kael. Aku datang untuk memberi kalian satu kesempatan mundur."
Beberapa ksatria Ignis tertawa mengejek mendengar ancaman konyol dari seorang pemuda buangan tanpa senjata. Namun, insting tempur Kael yang telah ditempa puluhan tahun berteriak memperingatkannya. Ada sesuatu yang salah. Postur Kaelen terlalu rileks. Matanya terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menghadapi eksekusi mati.
"Eksekusi dia!" teriak Kael, menyingkirkan keraguannya. "Regu pertama, tembak!"
Dua belas pemanah elit di baris belakang melepaskan anak panah mereka. Bukan sekadar panah biasa, melainkan Meteor Strike—tiap anak panah membawa bola api terkompresi yang akan meledak saat berbenturan dengan target. Dua belas bola api melesat dengan kecepatan kilat, menerangi langit malam layaknya hujan komet yang mematikan, terpusat tepat ke arah Kaelen.
Alih-alih menghindar, Kaelen hanya mengangkat satu tangan.
Pusaran kabut hitam keunguan terbuka lebar di telapak tangannya. Namun kali ini, pusaran itu tidak bergolak liar tak terkendali seperti sebelumnya. Gerakannya mulus dan presisi.
Saat dua belas ledakan meteor itu menghantam Kaelen, tidak ada suara dentuman. Tidak ada kilatan cahaya. Ratusan pasang mata terbelalak ngeri melihat pusaran hitam Kaelen menelan seluruh serangan magis mematikan itu layaknya lubang tak berdasar.
Di balik jubah Kaelen, ukiran rune pada Jangkar Mana berdenyut terang, memancarkan cahaya biru. Logam kuno itu bekerja dengan sempurna, menyaring energi magis yang masuk, mengubahnya menjadi mana netral, dan mengalirkannya ke seluruh urat nadi Kaelen tanpa menimbulkan sedikit pun rasa sakit. Ia merasa bertenaga, seolah baru saja menenggak ramuan stamina tingkat tinggi.
Kaelen tersenyum sinis. "Hanya itu panas yang bisa kalian hasilkan?"
"Penyihir macam apa dia?!" teriak salah satu ksatria, melangkah mundur tanpa sadar. Ketakutan mulai merayapi barisan elit tersebut.
"Jangan panik! Dia tidak bisa menelan serangan fisik dari segala arah!" raung Kael, mencabut pedang besarnya. Api putih menyala melapisi bilahnya. "Regu tempur jarak dekat, bentuk formasi V! Serang dia dari tiga sisi!"
Dua puluh ksatria berzirah berat menerjang maju sambil mengayunkan pedang api mereka. Bumi bergetar di bawah langkah kaki mereka.
Kaelen tidak mundur selangkah pun. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Jangkar Mana di dadanya mendengung pelan, memancarkan resonansi yang membuat udara di sekitarnya terdistorsi. Jika pusaran hitamnya bisa menyerap sihir yang diarahkan padanya, apa yang terjadi jika ia memaksa pusaran itu menyerap energi langsung dari sumbernya?
"Selama ratusan tahun, klan Adiwangsa merasa tak terkalahkan karena cahaya api kalian," suara Kaelen menggema, dipenuhi dominasi magis yang absolut. "Malam ini, belajarlah bernapas dalam kegelapan."
Kaelen menghentakkan kakinya ke tanah, dan melepaskan domain Null-nya.
Bukan pusaran kecil di tangan, melainkan sebuah gelombang kejut berwarna hitam transparan yang meledak menyapu seluruh medan pertempuran dalam radius seratus meter.
Dalam sekejap mata, keajaiban yang mengerikan terjadi.
Api putih di pedang Komandan Kael padam seketika. Dua puluh ksatria yang menerjang maju tiba-tiba merasakan energi mereka terkuras habis; pedang api mereka berubah kembali menjadi baja kusam yang dingin. Obor penerangan di sepanjang jembatan mati total. Bola-bola api yang bersiap dilontarkan oleh regu penyihir lenyap menjadi asap.
Kegelapan absolut menelan seluruh pasukan Ignis. Suhu udara yang tadinya mendidih anjlok drastis menjadi sedingin es.
Kepanikan meledak di antara para ksatria. Mereka mencoba memanggil kembali mana mereka, berteriak merapal mantra, namun tidak ada setitik pun percikan api yang muncul. Udara di sekitar Kaelen seolah berubah menjadi zona vakum magis; ia telah menguras paksa seluruh energi api di area tersebut dan menguncinya di dalam Jangkar Mana.
"S-sihirku... sihirku tidak merespons!"
"Apa yang terjadi?! Mataku tidak bisa melihat apa-apa!"
Di tengah kepanikan dan kegelapan itu, Kaelen menurunkan tangannya. Ia telah mencabut taring dan cakar para ksatria elit ini, mengubah mereka dari dewa perang menjadi manusia biasa yang terjebak dalam kaleng besi berat.
"Sekarang," bisik Kaelen, meski suaranya terdengar jelas di tengah kekacauan para ksatria. "Giliran kalian, Rexor."
Dari balik bayang-bayang jembatan, gang-gang sempit, dan puing-puing bangunan, ratusan mata menyala buas. Suara geraman, tawa psikopat, dan gesekan logam berkarat mulai terdengar dari segala arah. Ratusan anggota geng jalanan Rexor—para penjahat, pembunuh bayaran, dan manusia modifikasi yang terbiasa hidup dan bertarung dalam kegelapan kotor tanpa aturan—mengepung barikade pasukan Ignis.
Lyra berdiri di atas lampu jalan yang rusak, memutar belati beracunnya sambil tersenyum kejam di bawah cahaya bulan yang tertutup awan tipis.
"Bantai mereka!" teriak salah satu algojo Rexor yang menggunakan palu godam raksasa.
Rombongan penjahat Sektor Empat menerjang barisan ksatria elit yang kini buta dan tanpa sihir. Suara baja beradu, jeritan rasa sakit, dan tulang yang patah memecah keheningan malam. Para ksatria yang terbiasa mengandalkan sihir perlindungan api kini tumbang satu per satu, dirobek oleh senjata kotor dan taktik keroyokan para preman jalanan.
Komandan Kael menangkis sabetan kapak berkarat dari seorang preman dan memukul mundur penyerangnya. Di tengah pembantaian pasukannya, mata tua Kael terpaku pada sosok Kaelen yang berjalan tenang menembus kekacauan, tak tersentuh oleh cipratan darah di sekitarnya.
Kael menyadari satu hal yang membuat darahnya membeku. Pemuda buangan itu bukan sekadar sedang membalas dendam; ia sedang memulai sebuah revolusi yang akan meruntuhkan tatanan dunia sihir.