Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 — Orang yang Tidak Seharusnya Ada
Gu Chen jatuh menghantam tanah berbatu. Rasa sakit menjalar dari punggung hingga bahunya, membuatnya mengerang sebelum berguling menjauh dari tempat ia mendarat. Sesaat kemudian, Lin Yue jatuh di sampingnya dan hampir menimpa kepalanya.
“Berat sekali!” gerutu Gu Chen sambil mendorong bahu gadis itu.
Lin Yue segera bangkit dan menghunus belatinya. “Kau yang melompat lebih dahulu! Kalau tidak mau tertimpa, seharusnya kau memilih tempat mendarat yang lebih baik!”
“Lain kali aku akan membawa papan petunjuk agar kau tahu di mana harus jatuh.”
“Coba saja. Aku akan melemparmu lebih dahulu.”
Gu Chen mengabaikannya dan mengamati keadaan sekitar. Mereka berada di sebuah lorong bawah tanah yang jauh lebih tua daripada ruangan sebelumnya. Dindingnya tersusun dari batu hitam, sementara akar-akar pohon menembus langit-langit dan menjuntai seperti jari-jari kurus. Tidak ada cahaya dari lilin, tetapi garis-garis putih pada lantai memancarkan sinar redup yang cukup untuk menerangi jalan.
Ia merogoh saku dan mengeluarkan bidak hitamnya. Benda itu kini terbelah menjadi dua bagian, dengan retakan yang membentang dari bagian atas hingga dasarnya.
“Hebat,” gumamnya. “Satu-satunya benda yang bisa memberiku informasi sekarang hampir hancur.”
Lin Yue melirik bidak itu. “Mungkin kau bisa berhenti memperlakukannya seperti mainan.”
“Ini bukan mainan. Mainan biasanya tidak mengancam akan menghapus pemiliknya.”
Gu Chen menyatukan kedua bagian bidak tersebut. Anehnya, keduanya menempel kembali, meskipun retakannya tidak menghilang. Sesaat kemudian, tulisan muncul di permukaannya.
\[Lokasi: Ruang Bawah Tanah Kesepuluh.\]
\[Status: Tidak terdaftar dalam peta permainan.\]
\[Peringatan: Keberadaan Anda tidak dapat diamati.\]
Gu Chen membaca pesan terakhir itu dua kali.
Tidak dapat diamati.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki dunia ini, ia menemukan tempat yang tidak bisa diawasi oleh para pemain. Jika pesan tersebut benar, mereka mungkin memiliki kesempatan untuk bergerak tanpa campur tangan pihak luar.
Namun, ia tidak cukup bodoh untuk langsung menganggapnya sebagai kabar baik.
“Lin Yue, mulai sekarang jangan menyentuh apa pun tanpa memberitahuku.”
“Kenapa?”
“Karena kita berada di tempat yang tidak tercatat dalam peta, dikejar keluargamu sendiri, dan ditemani benda yang hampir pecah. Aku ingin mengurangi jumlah masalah yang bisa kita buat.”
Lin Yue mengangkat alis. “Kau berbicara seolah-olah aku sumber masalahnya.”
“Kau membawa liontin misterius, menyembunyikan tujuanmu, dan hampir menembakkan anak panah ke kepalaku.”
“Kau juga membawa bidak yang bisa mengirim pesan aneh dan menyimpan rahasia tentang ayahmu.”
Gu Chen terdiam sebentar.
“Baiklah. Kita berdua sumber masalah.”
Mereka mulai menyusuri lorong. Setelah beberapa menit, mereka menemukan sebuah pintu kayu yang hampir membusuk. Di permukaannya terdapat tulisan yang diukir dengan pisau.
JANGAN MASUK JIKA KAU MASIH MENGINGAT NAMAMU.
Gu Chen berhenti.
“Tempat ini benar-benar suka memberikan sambutan yang ramah,” katanya.
Lin Yue membaca tulisan tersebut dengan wajah serius. “Menurutmu apa maksudnya?”
“Entahlah. Mungkin orang yang membuatnya tidak suka tamu.”
“Gu Chen, aku serius.”
“Aku juga serius. Orang yang mengukir ancaman pada pintu biasanya tidak memiliki kemampuan menyambut tamu dengan baik.”
Lin Yue memijat pelipisnya. “Aku mulai memahami mengapa para pemain ingin membunuhmu.”
Gu Chen mendorong pintu itu.
Di baliknya terdapat sebuah ruangan kecil yang dipenuhi cermin. Cermin-cermin itu berdiri tanpa bingkai, memantulkan lorong dan kedua sosok mereka dari berbagai sudut. Namun, ada sesuatu yang aneh pada pantulannya.
Di cermin pertama, Gu Chen terlihat seperti dirinya sekarang: seorang pemuda berwajah pucat dengan pakaian kotor dan rambut berantakan.
Di cermin kedua, ia terlihat lebih tua, mengenakan jubah hitam dan membawa pedang panjang.
Di cermin ketiga, ia tidak memiliki wajah.
Sementara itu, pantulan Lin Yue menunjukkan seorang gadis kecil yang berdiri di depan rumah terbakar.
Lin Yue langsung mundur.
“Apa itu?”
Gu Chen menoleh kepadanya. “Apa yang kau lihat?”
“Tidak ada.”
“Kau berbohong.”
“Aku bilang tidak ada!”
Suara Lin Yue menggema di ruangan. Pantulan gadis kecil di cermin ikut berteriak, tetapi mulutnya bergerak dengan kata-kata berbeda.
Jangan tinggalkan aku.
Lin Yue memucat. Tangannya gemetar ketika ia menatap pantulan tersebut. Ia berusaha berpaling, tetapi seolah ada sesuatu yang menahannya.
Gu Chen segera meraih bahunya.
“Lin Yue! Lihat aku!”
Gadis itu tidak merespons.
Gu Chen menampar pipinya.
Plak!
Lin Yue tersentak dan langsung mengangkat belati ke arah leher Gu Chen.
“Apa yang kau lakukan?!”
“Menyelamatkanmu. Lain kali, aku akan menggunakan cara yang lebih lembut, seperti melempar batu.”
Lin Yue memegang pipinya yang memerah. Ia ingin marah, tetapi setelah melihat cermin di belakangnya, ia segera mundur.
“Aku melihat seorang anak kecil,” bisiknya. “Dia berdiri di depan rumah yang terbakar. Aku mengenali rumah itu.”
“Rumah siapa?”
“Rumahku.”
Gu Chen tidak langsung bertanya lebih jauh. Ia tahu bahwa tidak semua rahasia harus dibongkar sekaligus. Terlebih lagi, mereka masih belum memahami cara kerja tempat ini.
Ia kembali menatap cermin ketiga. Pantulannya yang tanpa wajah masih berdiri diam. Ketika Gu Chen mengangkat tangan, pantulan itu tidak mengikuti gerakannya.
Sebaliknya, pantulan tersebut mengangkat tangan terlebih dahulu.
Kemudian, ia menunjuk ke belakang Gu Chen.
Gu Chen langsung berbalik dan menghunus pisau kecilnya.
Tidak ada siapa pun.
Ketika ia kembali menatap cermin, pantulan tanpa wajah itu telah menghilang. Sebagai gantinya, muncul sebuah tulisan di permukaan kaca.
GU CHEN BUKAN NAMA PERTAMAMU.
Jantungnya berdegup keras.
Ia teringat penglihatan yang dialaminya di ruang kesepuluh: pria berambut panjang dengan wajah yang sama, suara yang memperingatkannya agar tidak membiarkan orang lain menemukan nama pertamanya, serta catatan tentang identitas yang telah dihapus.
Apakah Gu Chen benar-benar bukan nama aslinya?
Jika bukan, siapa dirinya sebenarnya?
Sebelum ia sempat memikirkan jawabannya, seluruh cermin pecah secara bersamaan. Pecahan kaca melayang di udara, tetapi tidak jatuh ke lantai. Setiap pecahan memperlihatkan potongan gambaran berbeda: seorang anak kecil, medan perang, pedang berdarah, dan papan raksasa yang dipenuhi bidak.
Lalu, dari salah satu pecahan, terdengar suara seorang pria.
“Jangan percaya kepada siapa pun yang mengatakan bahwa mereka mengenalmu.”
Gu Chen menatap pecahan tersebut.
“Siapa kau?”
“Aku adalah orang yang pernah menjadi dirimu.”
Sebelum Gu Chen dapat bertanya lebih lanjut, pecahan kaca itu jatuh dan hancur menjadi debu.
Ruangan kembali sunyi.
Lin Yue perlahan mendekatinya. “Kau mendengar suara itu juga?”
Gu Chen mengangguk.
“Dia mengatakan pernah menjadi dirimu?”
“Ya.”
Lin Yue mengerutkan kening. “Apa itu berarti ada orang lain yang memakai identitasmu?”
Gu Chen memandang pecahan kaca yang tersisa.
“Mungkin. Atau mungkin aku sendiri yang pernah menjadi orang lain.”
Jawaban itu tidak membuatnya merasa lebih baik. Namun, ia mulai memahami mengapa seseorang berusaha menghapus ingatannya. Jika masa lalunya menyimpan sesuatu yang begitu berbahaya, menghapus nama dan sejarahnya mungkin merupakan satu-satunya cara untuk menyembunyikannya.
Masalahnya, ia tidak tahu apakah orang yang menghapus ingatannya adalah musuh atau justru seseorang yang berusaha melindunginya.
Mereka meninggalkan ruangan cermin dan melanjutkan perjalanan hingga tiba di sebuah aula besar. Di tengah aula terdapat sumur batu yang dipenuhi air hitam. Tidak ada tali atau ember di sekitarnya. Di dinding belakang, sebuah ukiran menunjukkan sepuluh sosok berdiri mengelilingi sumur tersebut.
Sembilan sosok memiliki wajah.
Sosok kesepuluh tidak.
Di bawah ukiran itu terdapat tulisan:
SEBELUM MENJADI PEMAIN, MEREKA ADALAH MANUSIA.
Gu Chen membaca kalimat itu dengan saksama.
“Jadi para pemain awalnya manusia,” katanya.
Lin Yue berdiri di sampingnya. “Kalau begitu, mereka bukan dewa?”
“Entahlah. Manusia bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih buruk daripada dewa ketika mereka tidak lagi takut mati.”
Ia mendekati sumur. Air hitam di dalamnya tidak memantulkan wajahnya. Sebaliknya, permukaannya memperlihatkan sebuah ruangan yang sangat berbeda dari aula tersebut.
Di dalam bayangan air, seorang pria sedang duduk di kursi kayu. Rambutnya panjang, wajahnya pucat, dan tangan kirinya dipenuhi bekas luka.
Gu Chen mengenali wajah itu.
Itu adalah pria yang muncul dalam penglihatannya di ruang kesepuluh.
Pria tersebut mengangkat kepala, seolah dapat melihat Gu Chen dari balik permukaan air.
“Jadi, kau akhirnya datang.”
Gu Chen berjongkok di tepi sumur. “Siapa kau?”
Pria itu tersenyum lelah.
“Pertanyaan yang sama. Jawaban yang sama sekali berbeda.”
“Berhenti berbicara dengan teka-teki!”
“Kalau aku bisa memberikan jawaban langsung, aku pasti sudah melakukannya sejak lama.”
Gu Chen mengepalkan tangan. “Apakah kau mengetahui nama pertamaku?”
Pria itu terdiam.
Kemudian, ia mengangguk.
“Aku tahu.”
“Siapa namaku?”
Senyuman pria itu menghilang. Ia menatap Gu Chen dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, seolah melihat seseorang yang telah lama dianggapnya mati.
“Namamu bukan sesuatu yang boleh kau ketahui sekarang.”
Gu Chen hampir memukul permukaan air.
“Kau juga ingin mengendalikan hidupku?”
“Tidak. Aku ingin memastikan kau tidak mengulangi kesalahan yang sama.”
“Kesalahan apa?”
Pria itu mendekatkan wajahnya ke permukaan air.
“Kesalahan membunuh dunia demi membebaskan satu orang.”
Aula itu mendadak sunyi.
Gu Chen tidak memahami maksud perkataan tersebut. Namun, sebelum ia sempat bertanya, permukaan air berguncang. Bayangan pria itu mulai menghilang.
“Tunggu!” seru Gu Chen. “Siapa yang ingin kau bebaskan?”
Pria itu mengangkat tangan. Di telapak tangannya terdapat sebuah bidak hitam yang bentuknya sama persis dengan milik Gu Chen.
“Orang yang kau cintai.”
Air kembali menjadi hitam.
Gu Chen menatap permukaan sumur tanpa bergerak. Ia tidak memiliki ingatan tentang seseorang yang pernah dicintainya hingga rela menghancurkan dunia. Ia bahkan tidak tahu apakah penglihatan itu merupakan kenangan asli atau kebohongan yang dibuat untuk memengaruhinya.
Namun, ada sesuatu yang membuatnya lebih takut daripada semua kemungkinan itu.
Pria tersebut memiliki bidak yang sama dengannya.
Jika pesan-pesan pada bidak hitam bukan kebetulan, maka pria itu mungkin bukan sekadar bayangan masa lalu. Ia mungkin seseorang yang masih terhubung dengan permainan tersebut.
Dan mungkin, ia mengetahui lebih banyak daripada para pemain yang selama ini mengawasi Gu Chen.
Tiba-tiba, bidak hitam di tangan Gu Chen memancarkan cahaya merah.
\[Peringatan: Pengamatan eksternal telah dipulihkan.\]
\[Lokasi Anda berhasil ditemukan.\]
\[Pemain Pertama telah mengirimkan seorang eksekutor.\]
Gu Chen langsung berdiri.
Dari ujung aula terdengar suara langkah kaki yang teratur. Seseorang sedang berjalan mendekat, tanpa berusaha menyembunyikan kehadirannya.
Lin Yue mengangkat busur. “Kita harus pergi.”
“Benar.”
Gu Chen memasukkan bidak ke sakunya dan mencari jalan keluar. Namun, sebelum mereka sempat bergerak, seorang pria muncul dari balik pilar.
Ia mengenakan pakaian sederhana berwarna abu-abu. Tidak ada pedang di pinggangnya, tidak ada zirah yang melindungi tubuhnya, dan tidak ada tanda kekuatan spiritual yang bisa dirasakan Gu Chen.
Pria itu tampak seperti seorang pengelana biasa.
Namun, ketika ia mengangkat kepala, Gu Chen merasakan tekanan yang begitu kuat hingga sulit bernapas.
Pria tersebut menatapnya dengan senyum ramah.
“Lama tidak bertemu, Gu Chen.”
Gu Chen mengangkat pisau kecilnya.
“Kita pernah bertemu?”
“Belum,” jawab pria itu. “Setidaknya, belum dalam kehidupanmu yang sekarang.”
Lin Yue melepaskan anak panah.
Anak panah itu melesat lurus menuju dada pria tersebut.
Namun, sebelum menyentuh tubuhnya, anak panah itu berhenti di udara, lalu berubah menjadi debu.
Pria itu bahkan tidak melirik Lin Yue.
“Aku datang bukan untuk membunuhmu,” katanya kepada Gu Chen. “Aku hanya ingin mengajukan satu pertanyaan.”
“Aku tidak tertarik menjawab pertanyaan orang asing.”
“Kalau begitu, kau mungkin akan tertarik mendengar jawaban dari pertanyaan yang selama ini kau cari.”
Pria itu melangkah maju.
“Siapa yang membunuh ayahmu?”
Gu Chen terdiam.
Pria itu tersenyum semakin lebar.
“Aku tahu jawabannya.”
Ia berhenti tepat di hadapan Gu Chen, lalu membisikkan sebuah nama.
Nama yang belum pernah didengar Gu Chen sebelumnya.
Namun, begitu nama itu diucapkan, bidak hitam di sakunya langsung hancur menjadi debu.
\[Peringatan: Pemain Pertama telah memasuki wilayah permainan.\]
Pria itu menepuk bahu Gu Chen dengan santai.
“Selamat datang kembali, anakku.”
Bersambung ke Bab 10.