Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Mereka sudah diajari sejak kecil bahwa Wegan Group adalah perusahaan raksasa yang tidak boleh disinggung sedikit pun oleh siapa saja.
Chloe yang otaknya agak lambat belum menyadari bahaya dari nama yang baru saja disebut oleh Luna.
"Wegan? Nama yang aneh! Aku akan adukan kau pada papaku biar kau diusir dari sekolah ini!" ancam Chloe masih bersikeras menantang.
Tiba-tiba pintu kelas terbuka dan seorang guru perempuan muda masuk dengan wajah sedikit panik.
"Selamat pagi anak-anak, silakan duduk di bangku kalian masing-masing," sapa guru itu mencoba mencairkan suasana yang tegang.
Guru itu langsung menatap Chloe dengan senyum canggung yang dipaksakan.
"Chloe sayang, tolong pindah ke bangku depan ya. Bangku yang itu memang sudah dipesan khusus untuk Nona Luna oleh kepala sekolah," ucap guru itu dengan sangat sopan namun tegas.
Chloe membelalakkan matanya tidak percaya bahwa wali kelasnya malah membela anak baru tersebut di depannya.
"Tapi Bu Guru! Aku mau duduk di situ! Aku akan suruh papaku memecat ibu!" rengek Chloe menghentakkan kakinya ke lantai.
"Tolong jangan membantah Chloe, nanti ayahmu yang akan terkena masalah besar dari yayasan sekolah," bisik guru itu menunduk ke arah telinga Chloe.
Mendengar ancaman halus yang membawa-bawa posisi ayahnya, Chloe akhirnya menyerah dan berjalan ke bangku depan dengan wajah kesal.
Luna kembali duduk di bangkunya dengan sangat tenang, dia sama sekali tidak merasa menang atau sombong atas kejadian itu.
Dia hanya melakukan apa yang diajarkan oleh ayahnya untuk mempertahankan haknya sendiri tanpa harus menangis cengeng.
Pelajaran pertama hari itu dimulai dengan perkenalan masing-masing siswa ke depan kelas.
Saat giliran Luna tiba, gadis kecil itu berjalan ke depan kelas dengan langkah yang sangat anggun.
"Halo teman-teman, nama saya Luna Wegan," ucap Luna tersenyum manis ke arah teman-teman barunya.
"Saya suka makan nasi telur dadar dan mendengarkan cerita dongeng dari Mama sebelum tidur," lanjutnya memperkenalkan diri dengan sangat polos.
Beberapa anak tertawa kecil mendengar makanan kesukaan Luna yang dianggap sangat sederhana untuk ukuran anak orang kaya.
Biasanya anak-anak di sekolah ini akan menyombongkan makanan seperti kaviar mahal atau daging steak impor.
Tapi guru perempuan itu tersenyum lebar melihat kepolosan pewaris Wegan Group tersebut yang tidak dibuat-buat.
"Terima kasih Luna, perkenalan yang sangat bagus. Silakan kembali ke tempat dudukmu," ucap guru itu mempersilakan Luna kembali.
Teng teng teng.
Bel istirahat berbunyi nyaring menggema ke seluruh penjuru sekolah Royal Star.
Anak-anak kelas satu langsung berlarian menuju kantin mewah yang menyediakan berbagai makanan standar hotel bintang lima.
Luna membuka tas putri duyungnya dan mengeluarkan kotak bekal bergambar kelinci yang disiapkan oleh Nabila pagi tadi.
Dia memilih makan di mejanya karena tidak terbiasa dengan keramaian kantin yang terlalu berisik baginya.
Tiba-tiba seorang anak laki-laki berkacamata tebal menghampiri meja Luna dengan langkah malu-malu.
Namanya adalah Kenzo, anak dari seorang dokter bedah terkenal di rumah sakit milik keluarga Wegan.
"Halo Luna, aku Kenzo. Boleh aku makan bekal di sebelahmu?" tanya Kenzo membawa kotak makan siangnya.
Luna menoleh dan tersenyum ramah pada anak laki-laki pendiam tersebut.
"Tentu saja boleh Kenzo, silakan duduk di kursi ini," jawab Luna menggeser kotak bekalnya sedikit ke tengah.
Kenzo duduk dan membuka kotak bekalnya yang berisi daging salmon panggang dan sayuran rebus yang ditata rapi.
Sementara Luna membuka kotak bekalnya yang ternyata berisi nasi putih hangat dan telur dadar gulung kesukaannya.
"Wah, bekalmu kelihatan sangat enak Luna," puji Kenzo menatap telur dadar gulung kuning itu dengan penasaran.
"Ibu kokiku yang masak pagi ini, rasanya sangat gurih lho," jawab Luna memotong sedikit telur dadarnya dengan sendok plastik.
"Kamu mau coba sedikit Kenzo? Aku bisa berbagi lauk denganmu," tawar Luna menyodorkan potongan telur itu.
Mata Kenzo berbinar dan dia menerima suapan telur dadar itu dengan sangat senang hati.
"Enak sekali! Ibuku selalu melarangku makan telur dadar karena katanya banyak minyaknya," ucap Kenzo mengunyah dengan lahap.
"Sebagai gantinya, kamu mau coba daging salmonku ini?" tawar Kenzo menyodorkan potongan daging ikan mahalnya.
Luna menerima suapan itu dan mereka berdua tertawa bersama menikmati pertukaran bekal makan siang yang sangat sederhana namun hangat.
Chloe yang melihat kejadian itu dari sudut kelas hanya bisa mendengus kesal karena anak-anak lain malah menjauhinya dan lebih memilih berteman dengan Luna.
Kebaikan hati Luna ternyata menjadi senjata paling ampuh untuk menaklukkan kerasnya lingkungan sekolah anak konglomerat tersebut.
Sementara Luna sedang menikmati hari pertamanya di sekolah dengan damai, badai kehancuran benar-benar terjadi di rumah Sinta.
Puluhan pria berbadan besar mendatangi rumah kontrakan keluarga Sinta dan melempar semua barang mereka ke jalanan aspal.
"Keluar kalian dari rumah ini sekarang juga! Suamimu punya hutang judi lima ratus juta pada bos kami!" bentak ketua penagih utang tersebut.
Sinta yang tangannya masih dibalut perban menangis histeris memeluk anaknya, Raka, di pinggir jalan yang panas.
"Suamiku sudah kabur ke luar kota tadi malam! Aku tidak punya uang sepeser pun untuk bayar hutangnya!" jerit Sinta meratapi nasib sialnya.
"Kalau begitu rumah ini dan semua isinya kami sita. Nikmati saja hidup di jalanan seperti gembel peminta-minta," jawab penagih utang itu mengunci gembok pintu rumah kontrakan tersebut.
Karma dari ucapan kasar Sinta pada Luna kemarin siang langsung dibayar tunai dengan bunga yang sangat besar hari ini juga oleh tangan kanan Leon Wegan.
Tidak ada satu orang pun yang bisa lari dari hukuman mutlak sang CEO kejam itu jika sudah berani membuat putri kecilnya menangis.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget