Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Pada akhirnya, semua orang telah duduk di tempat masing-masing, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar merasa nyaman. Udara di ruangan itu seolah membeku, terlebih dengan kehadiran Adam Lorenzo Maxnore yang sejak tadi menunjukkan wajah dingin tanpa sedikit pun keramahan.
Pria itu duduk dengan satu kaki bertumpu pada kaki lainnya. Kedua tangannya bertaut di depan tubuh, sementara sorot matanya menyapu setiap orang yang berada di hadapannya. pertanggungjawaban.
Di sisi lain, Gia duduk dengan punggung sedikit bersandar pada sofa. Tubuhnya masih lemah, dan pergelangan tangannya terasa nyeri akibat cengkeraman kasar Sadam beberapa saat sebelumnya. Sesekali, ia melirik pria yang duduk tidak jauh darinya itu, Adam terlihat masih marah.
Gia bisa melihatnya dari rahang pria itu yang mengeras, jemarinya yang sesekali mengepal, serta tatapan tajam yang seolah mampu membuat siapa pun kehilangan keberanian untuk berbicara.
Marco yang duduk di sebelah Adam pun menyadari hal tersebut. Ia mengenal atasannya dengan sangat baik. Ketika Adam terlalu tenang di tengah kemarahan, justru saat itulah orang-orang di sekitarnya harus berhati-hati.
Sadam sendiri masih menyimpan amarah terhadap Gia. Namun, kehadiran Adam membuatnya terpaksa menahan diri, meskipun harga dirinya sebagai kepala keluarga Conti terusik karena putrinya kembali bersama pria yang selama ini hanya ia kenal sebagai sosok berkuasa dan berbahaya.
Adam akhirnya membuka suara.
"Saya tidak datang ke sini untuk membicarakan urusan keluarga Anda." Suaranya rendah, tetapi cukup untuk membuat seluruh perhatian tertuju kepadanya.
"Saya datang untuk menuntut pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan Amerda."
Nama itu membuat Gia spontan mengangkat wajah. Maudi yang duduk di samping Sadam ikut menegang, sementara Sadam langsung mengernyitkan dahi.
"Apa maksud Anda, Tuan Adam?" tanyanya dengan nada tertahan.
Adam tidak langsung menjawab. Ia justru mencondongkan tubuh ke depan, menatap Sadam tanpa sedikit pun rasa gentar.
"Saya sudah menyelidiki kecelakaan yang menewaskan Veronika. Semuanya sudah saya periksa, termasuk keterangan saksi, jejak orang-orang yang terlibat, dan bukti yang sengaja dihilangkan."
Gia membeku, dia tahu Adam sedang menyelidiki kecelakaan itu, tetapi ia tidak menyangka pria tersebut telah melangkah sejauh ini. Bahkan, setelah semua yang terjadi di antara mereka, Adam masih terus mencari kebenaran di balik kematian Veronika.
"Terus hasilnya?" tanya Sadam, mulai kehilangan kesabarannya.
"Amerda terbukti terlibat." Jawaban itu meluncur begitu saja dari bibir Adam.
Maudi seketika menutup mulutnya. Sementara itu, mata Gia membesar. Ia menoleh ke arah Adam, seolah ingin memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar, jika Amerda terbukti bersalah. Akhirnya, seseorang mengatakan hal itu dengan tegas di hadapan keluarganya sendiri.
"Bagaimana Anda bisa mengatakan hal seperti itu?" Sadam langsung menyela. "Apa bukti Anda? Jangan menuduh putri saya tanpa dasar!"
Adam tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.
"Putri Anda?" Ia mengulang dua kata itu dengan nada mengejek.
"Menarik sekali. Anda bahkan belum mendengar penjelasan saya, tetapi sudah sibuk membela orang yang salah."
Wajah Sadam memerah, Adam tidak peduli.
"Meskipun rekaman CCTV di sekitar lokasi kecelakaan telah dihapus, saya tidak berhenti sampai di situ. Orang yang berada di balik penghapusan rekaman tersebut sudah saya tangkap."
Gia menahan napas, Marco yang duduk di samping Adam pun sedikit mengalihkan pandangannya. Ia memang mengetahui bahwa Adam memerintahkannya menyelidiki kasus itu. Namun, ternyata pria tersebut juga bergerak sendiri di belakangnya. Adam bahkan telah menemukan orang yang menghapus rekaman CCTV tanpa sepengetahuan Marco.
"Orang itu sudah mengaku," lanjut Adam. "Dia mengakui keterlibatan Amerda dalam penghilangan bukti tersebut."
Marco terdiam, dia tidak menunjukkan keterkejutan secara berlebihan, tetapi dalam hati ia menyadari sesuatu. Adam bukan hanya memercayai hasil penyelidikan yang diserahkan kepadanya. Pria itu juga menjalankan penyelidikan lain melalui bawahan yang kain, memastikan setiap celah yang mungkin terlewat oleh Marco. Adam rupanya tidak pernah benar-benar menyerahkan seluruh urusan itu kepada siapa pun.
Sementara itu, Sadam bangkit berdiri dengan wajah merah padam.
"Cukup!" Suaranya menggema di ruang keluarga.
"Anda pikir siapa diri Anda sampai berani datang ke rumah saya dan menuduh putri saya melakukan kejahatan? Amerda tidak mungkin melakukan hal seperti itu! Dia tidak punya alasan untuk mencelakai siapa pun! Jangan hanya karena kekuasaan anda di atas saya, Anda bisa semena-mena? Anda lupa, saat ini Amerda menantu dari Tuan Sagara, calon perdana menteri negara ini," ujar Sadam bangga.
Adam perlahan mengangkat wajah. Tatapannya berubah semakin gelap.
"Anda ingin bicara tentang alasan dengan saya?" Ia berdiri dari sofa.
"Kalau begitu, tanyakan kepada putri Anda mengapa dia meninggalkan Gia di dalam mobil setelah menabrak Veronika. Tanyakan mengapa hanya Gia yang ditemukan di dalam kendaraan ketika orang-orang saya tiba di lokasi."
Gia terdiam, Sadam mengepalkan kedua tangannya.
"Jaga ucapan Anda!"
"Kenapa?" Adam memotong tajam. "Anda akan kembali menyalahkan Gia? Mengatakan bahwa dia yang menyebabkan semuanya? Atau Anda akan mengarang cerita lain untuk melindungi Amerda seperti yang selalu Anda lakukan?"
"Tuan Adam!" Maudi spontan berseru, berusaha menghentikan pertengkaran itu.
Adam bahkan tidak peduli dengan suara orang lain, Sadam melangkah maju, tak sanggup lagi menahan amarahnya.
"Jangan berani menghina keluarga saya di rumah saya sendiri!"
Kalimat itu menjadi pemicu terakhir. Adam yang sejak tadi menahan emosinya mendadak mengayunkan kaki ke arah meja sofa di hadapannya. Meja itu bergeser keras, menghantam lutut Sadam yang berdiri tepat di belakangnya.
"Akh!"
Sadam meringis kesakitan. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan ia jatuh terduduk kembali di sofa, kedua tangannya refleks memegangi lututnya, Maudi menjerit kecil.
Gia tersentak hingga tubuhnya menegang. Sementara Marco segera berdiri, mengamati keadaan dengan waspada. Para pelayan yang berada tidak jauh dari pintu langsung menundukkan kepala, tak seorang pun berani bergerak mendekat.
Adam berdiri tegak di hadapan mereka, napasnya terdengar berat. Ia sama sekali tidak menunjukkan penyesalan atas tindakannya. Sebaliknya, sorot matanya Semakin mengerikan ketika menatap Sadam yang masih memegangi lutut.
"Siapa Anda berani meninggikan suara Anda di depan Saya?"
Qta semua membelanya,, mendukung nya...,, eh malah dia yg nawarin diri utk bertahan d rumahnya Sadam. Kecuali kalo dirimu kuat,, d jahatin bisa balas,, d pukul bisa balas memukul,, bisa mu hanya menangis saja...,, Qta perempuan memang makhluk lemah....,, tapi jangan melemahkan dirimu kayak gitu juga Gia. Kau berharap ayahmu Sadam akan terharu....,, hingga akhirnya menyayangimu....,, seperti berharap salju turun d tengah hutan yang terbakar....,, mustahil.
ngapain nyari amerda dirumah Adam GK langsung tempat mertuanya 🤔
berharap Adam membuka jati diri siapa amerda siih ,,
ayahmu saja menginginkan kematianmu,, tak usah lah jadi orang yang terlalu baik,, karna pada akhirnya hanya akan d injak2 saja .
lngsung ilang ingatan Dy kaki ny kebentur meja ,,
otak ny di kaki sih jdi bgtu sikap ny,, 😒😒😒😒😒😒