Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.
Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.
Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.
Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.
Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan
“Ha! Ha! Ha! Ha! Ha! Akhirnya si jalang ini mati!”
Tawa keras menggema di seluruh aula istana, terdengar begitu jelas dan menusuk. Suara itu memantul di dinding marmer yang dingin, menciptakan gema yang terasa seperti ejekan tanpa akhir.
Seorang wanita tiba-tiba membuka matanya.
Mo Yuuran terengah pelan, namun tidak ada napas yang keluar dari dadanya. Ia berdiri kaku, menatap ke depan dengan bingung.
“A–aku kenapa?”
Pandangannya perlahan turun ke lantai. Di sana, tubuhnya sendiri terbaring tak bernyawa. Wajahnya pucat, bibirnya membiru, dan gaun kebesaran permaisuri itu kini tampak kotor dan tak berharga. Jantungnya seakan berhenti lagi.
“Aku ... sudah mati?”
Tangannya terangkat gemetar, terasa ringan dan kosong. Saat ia mencoba menyentuh tubuhnya sendiri, tangannya hanya menembus begitu saja. Ia bukan lagi manusia tapi hanya arwah.
Tawa kembali terdengar, membuat Mo Yuuran mengangkat kepalanya. Matanya membelalak saat melihat siapa yang berdiri di sana. Keluarganya dan pria yang ia cintai.
“Lihatlah wajahnya,” ujar seorang wanita dengan nada mengejek. “Bahkan setelah mati, dia tetap terlihat menyedihkan.”
Mo Weiwei melangkah maju dengan anggun, senyum sinis terukir di wajah cantiknya. Tanpa ragu, ia mengangkat kakinya dan menginjak wajah kaku Mo Yuuran.
“Ckckck, dasar adik bodoh,” katanya sambil tertawa kecil. “Kami meracunimu begitu lama, tapi kau tetap tidak menyadarinya.”
Mata Mo Yuuran membesar.
“Racun?”
“Kau pikir kau bisa mendapatkan cinta Bao Wen?” lanjut Mo Weiwei, nadanya penuh ejekan. “Heh. Jangan bermimpi. Dia hanya milikku.”
Langkahnya mundur sedikit, lalu ia menatap Mo Yuuran dengan tatapan tajam.
“Dan satu hal lagi yang harus kau tahu,” ucapnya pelan, seolah menikmati momen itu. “Mo Long keponakan kesayanganmu itu adalah anaknya, Bao Wen.”
Deg!
Tubuh Mo Yuuran gemetar hebat. “Tidak … itu tidak mungkin,” bisiknya.
“Kau pasti sangat terkejut di neraka bukan?” Mo Weiwei tersenyum lebar. “Dia adalah buah cintaku dengan Bao Wen. Sejak awal, semuanya hanya sandiwara untuk mempermainkanmu.”
Dunia Mo Yuuran runtuh seketika. Ia selalu mengira Mo Long adalah anak dari kakak iparnya yang telah meninggal. Ia mencintai anak itu sepenuh hati, bahkan rela melakukan apa pun untuknya. Ternyata, ia hanya sedang dibodohi.
“Yuuran, Yuuran.” suara pria terdengar lembut dan penuh racun.
Bao Wen melangkah maju, menatap tubuh tak bernyawa itu dengan senyum puas. Wajah yang dulu ia anggap penuh cinta kini terasa begitu menjijikkan.
“Kau benar-benar sangat berjasa,” katanya santai. “Tanpamu, aku tidak akan bisa menjatuhkan Kaisar Zi Xuan. Tidak sia-sia aku bersandiwara menjadi pria yang mencintaimu.”
Mo Yuuran membeku di tempat.
“Bahkan, kau sendiri yang membunuh ketiga putranya. Kau membuka jalan untukku dan untuk putraku menjadi putra mahkota.”
“Diam!” teriak Mo Yuuran.
Tangan arwahnya mengepal kuat, tubuhnya bergetar hebat. “Kalian semua memanfaatkanku! Dasar b3debah sialan!”
“Kasihan sekali,” ujar Bao Wen mengejek. “Kau hanyalah alat.”
“Aku akan membunuh kalian!” teriak Mo Yuuran.
Mo Yuuran berlari ke arah Bao Wen dan mengayunkan pukulan dengan seluruh amarahnya. Tapi, tangannya menembus tubuh pria itu tanpa memberikan luka sedikit pun, ia terhuyung.
“Tidak tidak mungkin.”
Ia mencoba berkali-kali. Namun hasilnya tetap sama. Ia tidak bisa menyentuh mereka dan tidak bisa melakukan apa-apa.
“Sialan kalian semua!” desisnya penuh kebencian.
Tawa mereka semakin keras, seolah penderitaan Mo Yuuran adalah hiburan yang paling menyenangkan. Namun, luka itu belum berhenti.
Seorang wanita paruh baya melangkah maju dengan wajah dingin. Lihua, wanita yang selama ini ia panggil ibu.
Tanpa ragu, Lihua menendang tubuh kaku Mo Yuuran. “Benar-benar memalukan,” katanya datar.
Mo Yuuran menatapnya dengan mata bergetar. “Ibu … kenapa?”
Lihua tertawa kecil, tanpa sedikit pun kehangatan. Dada Mo Yuuran terasa sesak, ia pikir wanita paruh baya itu akan mennagis.
“Karena kau sudah mati, aku akan memberikanmu hadiah sebagai perpisahan. Aku bukan ibumu,” ujar Lihua dingin. “Ibu kandungmu sudah lama mati.”
Napas Mo Yuuran tercekat.
“Ayahmu, Mo Fang dan aku yang membunuhnya,” kata Lihua tanpa rasa bersalah. “Dia terlalu bodoh karena memergoki hubungan kami.”
Air mata tak terlihat mengalir dari mata Mo Yuuran.
“Awalnya kami juga ingin membunuhmu,” tambahnya. “Tapi seluruh harta ibumu diwariskan atas namamu. Cih, jalang sialan itu ternyata sudah merencanakan semua ini,” kata Lihua dengan wajah kesal.
Mo Fang tertawa dari belakang. “Jadi kami harus bersabar,” katanya. “Berpura-pura menjadi keluarga yang baik sampai semuanya menjadi milik kami.”
Tubuh Mo Yuuran gemetar hebat. Semua yang ia yakini selama ini hanyalah kebohongan. Ayah kandungnya ternyata ikut andil dengan semua ini.
“Kalian ... monster!” teriaknya parau.
Ia menatap tubuhnya sendiri, lalu bayangan tiga pangeran muncul di benaknya. Anak-anak yang memanggilnya ibu yang ia bunuh dengan tangannya sendiri. Demi kebohongan ini.
“Aku … membunuh mereka .…” Suaranya pecah.
Penyesalan menghantamnya seperti gelombang besar yang tak bisa dihentikan. Bahkan dengan tangannya sendiri meracuni dan menjatuhkan kaisar Zi Xuan dari tahtanya.
“Aku akan membalas kalian!”
Teriakan Mo Yuuran menggema, penuh kebencian dan luka yang mendalam. Namun tidak satu pun dari mereka menoleh. Mereka tidak bisa melihatnya. Tidak bisa mendengarnya. Ia hanyalah arwah yang tak berarti.
“Aku bersumpah jika aku diberi kesempatan lagi.”
Matanya dipenuhi tekad yang mengerikan. “Aku akan menghancurkan kalian semua.”
Tawa mereka masih menggema di aula, namun tiba-tiba suara langkah kaki berat memecah suasana. Dentingan baju zirah terdengar dari segala arah, membuat udara mendadak menegang.
Para prajurit elit mengepung aula dalam sekejap.
“Apa ini?” Mo Fang terbelalak, mundur satu langkah. “Siapa kalian?!”
Bao Wen langsung mencabut pedangnya, wajahnya berubah waspada. “Berani sekali kalian masuk di istanaku tanpa izin!”
Tapi sebelum ada jawaban, langkah kaki lain terdengar. Semua orang menoleh ke arah pintu utama.
Seorang pria berjalan masuk dengan jubah hitam yang berlumuran darah. Pedang di tangannya masih meneteskan cairan merah segar, dan aura membunuh yang mengelilinginya membuat siapa pun sulit bernapas.
Mo Yuuran membeku. “Zi … Xuan?” bisiknya tak percaya.
Kaisar Zi Xuan, pria yang telah ia jatuhkan kini berdiri kembali.
Tatapan dinginnya langsung jatuh pada tubuh Mo Yuuran yang tergeletak di lantai. Dalam sekejap, ekspresi wajahnya berubah. Mata itu memerah, amarahnya lamgsung meledak.
“Bunuh mereka. Gantung kepala mereka di alun-alun.”
Perintah itu jatuh seperti hukuman mati.
“Berani sekali kau kembali!” teriak Bao Wen, mencoba menutupi ketakutannya. “Kau pikir kau masih seorang kaisar?!”
Ia langsung melesat maju, pedangnya mengarah lurus ke leher Zi Xuan. Dalam sekejap, tubuh Zi Xuan menghilang dari tempatnya.
Crash!
Sebuah tebasan cepat melintas. Kepala Bao Wen terlepas dari tubuhnya sebelum ia sempat bereaksi. Darah menyembur, tubuhnya roboh tanpa suara.
“Akkhhhhh!” jerit Mo Weiwei histeris.
Lihua dan Mo Fang langsung mundur dengan wajah pucat pasi.
“Lari! Cepat lari!” teriak Mo Fang panik.
Namun langkah mereka terhenti. Pedang para prajurit sudah lebih dulu menembus tubuh mereka.
“Jangan!” Mo Weiwei menjerit, matanya penuh ketakutan.
Tiga tubuh itu jatuh bersamaan, darah mengalir di lantai aula yang megah. Sunyi yang mengerikan menyelimuti ruangan.
Mo Yuuran hanya bisa berdiri terpaku. Semua terjadi terlalu cepat. Sementara itu, Zi Xuan menjatuhkan pedangnya begitu saja.
Ia berlari, langkahnya terburu-buru, tidak lagi seperti seorang kaisar yang agung, melainkan pria yang kehilangan segalanya.
“Yuuran .…”
Suaranya bergetar. Ia berlutut di samping tubuh Mo Yuuran, tangannya gemetar saat mengangkat tubuh dingin itu ke dalam pelukannya.
“Tidak … tidak … ini tidak boleh terjadi .…”
Mo Yuuran membeku. Ia menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. Zi Xuan menangis.
“Aku terlambat .…” bisiknya parau. “Aku datang terlambat menyelamatkanmu.”
Air mata jatuh tanpa henti. “Maafkan aku … Yuuran … maafkan aku .…”
Hati Mo Yuuran terasa diremas. Selama ini, ia mengira pria ini hanya terobsesi padanya. Namun ternyata cinta pria itu, sedalam ini.
“Kau tahu. …” suara Zi Xuan bergetar di antara tangisnya. “Yang paling menyakitkan bukanlah luka di tubuh …”
Ia memeluk tubuh itu semakin erat. “Tapi ketika hatimu dipenuhi orang lain dan kita tidak pernah ditakdirkan bersama.”
“Aaaahhhhhh!” Teriakan Zi Xuan menggema, penuh keputusasaan yang menghancurkan.
Mo Yuuran menutup mulutnya, air matanya jatuh tanpa suara. Ia ingin menyentuhnya. Ia ingin menjawabnya. Tapi percuma saja, karena sekarang dirinya hanya roh.
Tak lama, seorang pria berseragam mendekat dan berlutut.
“Yang Mulia,” ucapnya hormat. “Keempat pengkhianat telah digantung di alun-alun. Apa perintah selanjutnya?”
Zi Xuan perlahan mengangkat kepalanya, tatapannya kosong.
“Semua orang keluar dari istana ini,” katanya dingin. “Bakar istana ini.”
Pria itu terkejut. “Yang Mulia … itu—”
“Lakukan.”
Satu kata itu cukup.
Pria itu lalu menunduk. “Baik, Yang Mulia.”
Mo Yuuran panik. “Tidak! Zi Xuan, jangan!” teriaknya.
Namun suaranya lenyap di udara. Tidak ada yang mendengar, tak lama setelah tangan kanan kaisar Zi Xuan keluar, asap mulai memenuhi aula.
Api merambat dari sudut-sudut bangunan, membakar tirai dan pilar kayu.
Zi Xuan tidak bergerak. Ia justru mengangkat tubuh Mo Yuuran dan berjalan menuju singgasana.Dengan perlahan, ia duduk dan memangku tubuh itu di pangkuannya. Seolah-olah wanita itu masih hidup.
“Jika kita tidak bisa bersama di dunia ini .…” bisiknya lembut.
Api semakin membesar.
“Maka biarlah kita bersama di kehidupan berikutnya.” Ia menunduk dan mencium kening Mo Yuuran dengan penuh cinta.
Mo Yuuran menjerit. “Pergi! Tolong pergi, Zi Xuan! Selamatkan hidupmu!”
Namun Zi Xuan hanya memejamkan matanya. Ia tidak berniat pergi. Ledakan besar mengguncang istana.
Duarr!
Api menelan segalanya. Dalam sekejap, cahaya terang menyilaukan pandangan Mo Yuuran. Tubuh arwahnya terhempas jauh. Kesadarannya memudar. Dan sebelum semuanya menjadi gelap
Air matanya jatuh.
“Zi Xuan .…”
smngat terus buat up'y ya....💪💪
belagu tidur nyenyak dikasur empuk
eeh justru anak kaisar malah dikasih kasur tikar