Cerita terinspirasi kisah nyata!
Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.
Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.
Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 - Minta Waktu
Galih menyambar celana jinsnya yang tergeletak di lantai, lalu memakainya dengan tangan yang masih gemetar hebat. Napasnya memburu tidak teratur. Setelah kaos oblong putih tersarung pas di tubuhnya, ia langsung berdiri dan melangkah cepat menyapu setiap sudut kamarnya yang sempit.
Ia membuka lemari plastik kecil, memeriksa kolong kasur lantai, hingga mengecek balik pintu dan ventilasi. Kosong. Tidak ada siapa-siapa di dalam kamarnya. Pintu kayu itu pun masih terkunci rapat dengan selot ganda dari dalam.
Kepala Galih mendadak terasa makin pening. Pertanyaan-pertanyaan mengerikan berputar kencang di otaknya. 'Bagaimana bisa bajuku tanggal sendiri? Apakah aku tidur sambil mengigau dan membuka pakaianku? Atau... ada seseorang yang masuk ke kamarku saat aku pingsan atau tertidur sangat pulas akibat air putih yang kuminum?'
Tiba-tiba, bayangan segelas air putih yang diminumnya sebelum tidur terlintas di benaknya. Rasanya air itu biasa saja, tetapi efek kantuk dan lelapnya sungguh tidak wajar, seperti dibius.
Belum sempat Galih merangkai kecurigaannya lebih jauh, suara dering ponsel yang berasal dari saku celananya mendadak memecah keheningan kamar.
Brrrrrt... Brrrrrt...
Galih merogoh ponselnya dengan kasar. Layar benda pipih itu menampilkan sebuah panggilan masuk dengan nama kontak yang baru saja ia simpan: Mbak Indri.
Melihat nama itu, emosi dan rasa kesalnya mendadak meluap ke ubun-ubun. Dengan tangan gemetar menahan geram, ia langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo! Mau apa lagi kamu, Mbak?!" bentak Galih tanpa basa-basi, suaranya sarat akan kemarahan yang tertahan. "Belum cukup kah kamu bikin aku difitnah dan hampir diusir dari kostan ini?!"
Di seberang sambungan, terdengar helaan napas panjang yang terdengar berat. Suara Indri terdengar tenang, jauh dari kesan panik.
"Galih... Maafkan aku," ucap Indri lirih dari balik telepon. "Aku tahu kamu pasti sangat marah dan benci sama aku sekarang. Tapi... seperti yang kubilang tadi, aku benar-benar tidak punya pilihan lain. Tekanan hidup dan rasa takutku pada orang tuaku di desa sudah di luar batas kemampuanku."
"Terus, harus dengan cara menjebakku?!" potong Galih tajam. "Kamu tahu akibat perbuatanmu tadi pagi? Aku dituduh jadi lelaki bejat yang menghamilimu! Hidupku di kostan ini bakal hancur, Mbak!"
"Dengarkan aku dulu, Galih," pinta Indri dengan nada memohon yang terdengar tulus sekaligus dingin secara bersamaan. "Aku terpaksa mengaku kalau bayi ini anakmu di depan Pak Yono agar aku tidak diusir dan aibku tertutupi. Tapi... aku tidak akan meminta hal yang gratis atau merugikanmu selamanya. Kalau kamu bersedia membantuku pura-pura menjadi suamiku atau bertanggung jawab setidaknya sampai anak ini lahir ke dunia, aku berjanji akan membayarmu."
Galih tertegun sejenak. "Membayarku? Maksudmu apa?!"
"Aku tahu kamu butuh uang untuk bertahan hidup di kota ini, sama sepertiku," lanjut Indri menjelaskan rencananya. "Aku masih punya sedikit tabungan dari hasil kerja sampinganku sebelumnya. Aku akan memberikan uang itu padamu secara cicil sebagai bentuk kompensasi kalau kamu mau menikahiku secara siri atau menemaniku sebagai suami sampai bayinya lahir. Setelah itu... terserah kamu, kita bisa berpisah baik-baik."
Tawaran gila itu membuat Galih terdiam seribu bahasa. Otaknya menolak mentah-mentah ide gila tersebut, tetapi realitas kejam di hadapannya mencengkeram lehernya erat-erat: ia diancam usir oleh Pak Yono, uangnya menipis, dan kini ia terjebak dalam fitnah sosial yang sulit dibersihkan di lingkungan kosan ini.
"Aku... aku butuh waktu, Mbak," jawab Galih akhirnya dengan suara parau. "Jangan tekan aku sekarang."
"Baiklah, Galih. Aku kasih kamu waktu sehari untuk berpikir," balas Indri sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon sepihak.
Tut... tut... tut...
Galih menurunkan ponselnya, lalu membanting benda itu pelan ke atas kasur. Ia merosot jatuh, terduduk bersandar di dinding papan kayu dengan kepala menelungkup di antara kedua lututnya. Hari sudah siang bolong, pukul dua belas lewat. Karena kekacauan pagi tadi dan syok yang dialaminya, Galih terpaksa melewatkan jadwal kerjanya di warung makan Pak Susilo hari ini. Pikiran dan tenaganya benar-benar terkuras habis.
Menjelang sore hari, saat udara mulai sedikit sejuk, perut Galih berbunyi kelaparan. Ia sadar ia belum makan apa-apa sejak pagi. Dengan langkah gontai dan kepala yang masih pusing, Galih memutuskan keluar kamar untuk sekadar membeli sebungkus rokok dan makanan ringan di warung kelontong ujung gang.
Saat ia berjalan menyusuri lorong kosan dan keluar ke arah teras depan, matanya menangkap sosok seorang pria bertubuh jangkung yang sedang duduk merokok di atas kursi bambu di bawah pohon mangga.
Itu adalah Adit.
Pria berkaos hitam polos itu tampak menatap kosong ke arah jalanan aspal yang basah oleh sisa gerimis sore. Mengingat Adit adalah salah satu penghuni senior yang tahu banyak seluk-beluk kosan ini, meski kemarin sempat bersitegang soal Indri, Galih merasa butuh tempat untuk mencurahkan sedikit beban kepalanya.
Galih melangkah mendekat, lalu berdiri ragu di samping Adit. "Mendadak sore, Mas Adit..." sapa Galih pelan.
Adit mendongak perlahan. Sorot matanya yang tajam dan datar mengamati Galih sejenak sebelum bibirnya bergerak tipis. "Hm. Baru kelihatan, Lih? Kemarin pagi heboh banget gara-gara kamu sama si Indri."
Mendengar nama Indri disebut, Galih menghela napas berat. Ia mengambil tempat duduk di kursi bambu seberang Adit. "Duh, Mas... Jangan dibahas lagi. Aku sendiri pusing tujuh keliling dibikin ulah dia. Aku dijebak, Mas. Sumpah, aku nggak ngapa-ngapain sama dia."
Adit hanya mengembuskan asap rokoknya ke udara tanpa menunjukkan ekspresi terkejut atau simpati yang berlebihan. Wajahnya tampak begitu datar, dingin, dan nyaris tanpa emosi.
Melihat sikap Adit yang tenang, Galih memberanikan diri untuk membuka topik yang lebih meresahkan di benaknya sejak siang tadi.
"Mas Adit..." bisik Galih ragu-ragu, mendekatkan duduknya sedikit. "Aku mau cerita soal hal aneh yang akhir-akhir ini aku alami di kosan ini. Menurut Mas... kostan ini beneran angker atau ada sesuatu yang nggak beres ya?"
Adit menaikkan sebelah alisnya, melirik Galih sekilas. "Maksudmu?"
"Semalam, pas aku mau tidur, ada orang yang sengaja ngintip aku mandi di kamar mandi belakang. Terus pas malamnya lagi, ada langkah kaki orang berdiri lama banget di depan pintu kamarku tapi nggak mau pergi pas ditanya," tutur Galih menceritakan kejadian horor yang dialaminya. "Dan yang paling parah... tadi siang, aku tidur pakai pakaian lengkap. Tapi waktu aku bangun siang-siang dalam keadaan kamar terkunci dari dalam, tubuhku udah telanjang bulat tanpa sehelai benang pun! Rasanya aneh banget, Mas... Kayak ada orang yang masuk ke kamarku saat aku nggak sadar."
Galih menatap Adit penuh harap, mencari sedikit reaksi, rasa terkejut, atau mungkin saran dari pria yang sudah lama tinggal di tempat itu.
Namun, reaksi Adit di luar dugaannya. Pria jangkung itu sama sekali tidak terkejut. Ia hanya mematikan puntung rokoknya di asbak tanah liat dengan gerakan yang sangat lambat dan tenang. Tidak ada kerutan di dahi, tidak ada tatapan curiga, dan tidak ada amarah. Wajah Adit tetap datar bagai selembar papan kayu tak berjiwa.
"Jangan terlalu dipikirkan, Lih," jawab Adit dengan suara berat dan dingin. "Kostan tua seperti ini memang banyak celahnya. Orang-orang di sini punya kebiasaan masing-masing. Kalau kamu merasa nggak aman, ya dikunci rapat-rapat pintunya."
Galih tertegun. Ia merasa jawaban Adit terlalu hambar dan terkesan tidak peduli. Belum sempat Galih mendesak lebih jauh, Adit sudah bangkit berdiri dari kursi bambunya.