Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 4
Aulia menatap suaminya dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu tersenyum sinis.
"Tidak ada lagi yang perlu diselesaikan, Galang. Kamu mau aku tidak membawa Cantika ke tempat umum agar tidak membuatmu malu, kan? Sudah kulakukan. Sekarang, anggap saja kami berdua memang tidak pernah ada di hidupmu. Bukankah itu yang kamu dan keluargamu mau?"
Galang terpaku. Kata-kata Aulia meluncur begitu tenang, namun dampaknya jauh lebih menghantam ketimbang tamparan yang diterimanya beberapa hari lalu. Ada nada ketegasan yang jelas dari kata-kata Aulia. Sesuatu dalam diri Galang mendadak mencelos, sebuah alarm bahaya berbunyi di kepalanya, memberi tahu bahwa dia baru saja kehilangan kendali atas wanita yang selama delapan tahun ini selalu berada dalam genggamannya. Wanita yang selalu menurut dan bahkan mereka tak pernah bertengkar seperti saat ini. Aulia berubah. Pikir Galang.
"Aulia, jaga bicaramu! Maksudku bukan begitu!" Galang mencoba menahan pintu saat Aulia hendak menutupnya kembali. Suaranya meninggi, sebuah upaya defensif untuk menutupi rasa panik yang mulai menjalar.
"Jangan memutarbalikkan fakta! Aku ini suamimu, kepala rumah tangga di sini. Kamu tidak bisa memperlakukan aku seolah aku ini hantu di rumahku sendiri!"
Aulia tidak melepaskan pegangannya pada gagang pintu. Dia tidak mendebat, tidak juga membantah. Dia hanya menatap tangan Galang yang menahan pintu, lalu perlahan mengalihkan pandangannya kembali ke wajah suaminya. Tatapan itu begitu kosong, jenis tatapan yang diberikan seseorang pada seonggok benda mati yang menghalangi jalan.
"Kamu mau bicara? Baiklah," ucap Aulia tenang, hampir tanpa riak.
Dia melangkah keluar kamar dan menutup pintunya perlahan, memastikan tidak ada suara yang bisa mengusik tidur lelap Cantika. Aulia berjalan menuju ruang tengah, duduk di sofa tunggal, sengaja memilih tempat yang membuatnya berjarak sejauh mungkin dari Galang. Dia melipat tangannya di pangkuan, menanti dengan wajah datar. Galang menyusul dengan langkah gusar, berdiri di hadapan Aulia sambil berkacak pinggang.
"Akhirnya kamu mau keluar juga. Dengarkan aku, Aulia. Sikapmu ini sudah keterlaluan. Hanya karena masalah di supermarket hari itu, kamu mogok bicara, tidur terpisah, bahkan mengabaikan kewajibanmu sebagai istri. Kamu tahu tidak, rumah ini rasanya seperti kuburan? Aku pulang kerja capek, dan ini yang harus kuhadapi?"
"Kewajiban yang mana yang kuabaikan, Galang?" potong Aulia, suaranya pelan namun memotong kalimat Galang dengan telak.
"Pakaianmu sudah dicuci dan disetrika. Rumah ini bersih. Makanan selalu ada di meja, walau malam ini aku tidak memasak karena bahan dapur yang kamu jatah sudah habis dan kamu belum memberi uang belanja lagi. Jadi, kewajiban mana yang kamu maksud? Melayani egomu?"
Galang ternganga, tenggorokannya mendadak kering.
"Bukan itu... maksudku, komunikasi kita! Kita ini suami istri!"
"Kita?" Aulia terkekeh lirih, sebuah tawa kering yang terdengar sangat menyakitkan.
"Kata 'kita' itu sudah mati sejak kamu berdiri di depan wajahku dan menyebut anak kandungmu sendiri sebagai pembawa malu, Galang. Sejak kamu memilih membela kebia-daban ibu dan keluargamu dibanding melindungi men-tal anakmu yang perlahan akan hancur? Aku tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi! Aku tak akan membiarkan ayahnya sendiri menghancurkan masa depan dan juga kehidupan anaknya! Kau! Aku benar-benar tak mengira jika kamu akan memperlakukan darah dagingmu seperti ini, Galang!"
"Cantika anakmu! Apa kamu benar-benar sudah tak memilki hati dan tak memiliki sedikit kasih sayang padanya, hanya karena anak kita masih kesulitan berbicara di usia enam tahun? Dia masih bisa di obati dan di terapi. Cantika akan bisa bicara normal seperti anak lain pada umumnya. Bahkan Cantika adalah anak yang cerdas, dia punya banayk prestasi walau kesulitan bicara. Apa kamu tahu dia punya pretasi apa saja? Tidak kan? Kalau kamu masih peduli dan menyayangi Cantika datang ke acara sekolah hari minggu!"
Galang tercekat namun dia tak bisa menerima tuduhan Aulia begitu saja, dia tak mau di salahkan atas yang terjadi kepada Cantika. Dia malu kepada semua orang saat mendengar anaknya yang kesulitan bicara di usianya yang bahkan mau tujuh tahun.
"Aulia, Ibu itu orang tua! Aku tidak mungkin memaki ibuku sendiri!" bela Galang, suaranya mulai bergetar frustrasi.
"Lagi pula, Ibu hanya kaget! Cantika itu kalau tantrum suaranya melengking, orang-orang melihat..."
"Dan kamu malu?" Aulia menembak langsung ke inti masalah, membuat Galang seketika bungkam.
Aulia berdiri dari duduknya. Ketenangan yang tadi dipaksakannya perlahan retak, digantikan oleh ketegasan yang tak tergoyahkan.
"Dengar, Galang. Selama delapan tahun ini, aku menerima semua kekuranganmu. Aku diam saat kamu berkata kasar, aku bersabar saat kamu mengabaikanku, dan aku selalu mendoakanmu saat keluargamu memandang rendah diriku karena aku bukan dari keluarga kaya. Aku bertahan karena aku pikir, setidaknya aku punya kamu yang akan berdiri di depanku sebagai pelindung. Kita bahkan bersama-sama membangun rumah tangga ini berdua dengan harapan dan mimpi masa depan bersama dengan anak-anka kita. Baru di beri ujian masalah anak yang segini saja kamu sudah berubah menjadi manusia yang paling sempurna, Galang!"
Aulia maju selangkah, menatap lurus ke mata Galang yang kini mulai bergerak gelisah.
"Tapi hari itu, saat aku melihat anakku menangis, menyalahkan dirinya sendiri atas penolakan kakek dan neneknya, dan melihat ayahnya justru berdiri di pihak mereka... di situ aku sadar. Aku telah salah menilai orang. Kamu bukan pelindung, Galang. Kamu adalah badai terbesar dalam hidup anakku. Dan ingat satu hal, Cantika bukan anak yang cacat, dia anak yang hebat dan cerdas. Kalian akan menyesal karena sudah membuat anakku sakit hati dan merasa tak di anggap!"
"Aulia..."
"Cukup." Aulia mengangkat satu tangannya di udara, menghentikan kalimat Galang.
"Pembicaraan kita tak akan pernah ada ujungnya. Semua akan sia-sia dan pada akhirnya kamu akan menyalahkan aku dan cantika. Aku harus istirahat, dan bukankah kamu juga sangat sibuk di kantor..."
"Jangan menghindar! Kita bicarakan masalah ini di kamar!" Ajak Galang.
"Tidak! Aku akan tidur di kamar Cantika sampai kamu sadar dan berubah, Galang! Kembali ke ayah Cantika lima tahun lalu, ayah yang penih kasih dan penyayang, bukan ayah yang malu karena keadaan anaknya dan juga ayah yang sering mengabaikan panggilan dan keberadaan anaknya sendiri!"
"Ingat lusa! Kalau kamu memang masih mengangap keberadaan kami, datang ke sekolah, setidaknya dalam satu tahun ini kamu melihat Cantika di atas panggungnya!"
Setelahnya Aulia pergi dari sana meninggalkan Galang dan masuk ke dalam kamar Cantika.