Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.
Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.
Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Anniv
Dharma merapikan piyamanya, ia duduk di tepian ranjang sambil memijat pelipisnya pelan.
“Aku sungguhan tidak pernah mencuri apapun.” Melisa masih mencoba untuk membela dirinya di depan Dharma.
Tidak ada respon. Dharma hanya menggeleng kecil lalu pergi ke kamar mandi untuk bersiap berangkat bekerja.
Melisa kesal menjadi tidak berdaya begini. Ia merapikan semua barang-barangnya ke dalam koper, tidak jadi memindahkannya ke dalam lemari.
Sheila masih di ruang tamu. Melisa coba menghampirinya.
“Kamu dalang di balik semua ini?”
“Buktikan saja ucapanmu, selama tidak ada bukti yang kuat kamu akan tetap jadi tersangkanya, tadi itu sudah sangat jelas, kan?” jawab Sheila santai.
“Kamu menyukai Dharma ya? Dan kamu cemburu karena dia memilihku?” Melisa yang mulai paham sesuatu coba mengkonfrontasi.
“Jangan kepedean, aku tahu kalian hanya menikah kontrak,” ucap Sheila tidak terima.
“Tidak, janji pernikahan itu diucapkan Dharma dengan tulus. Tanyakan saja padanya.”
Sheila yang sudah sangat jengkel hendak menjambak rambut Melisa, tapi Dharma lebih dulu datang.
“Hai, Sheila. Ada apa ke sini pagi-pagi?” Dharma menyapa Sheila sambil memeluknya ramah.
Melisa sempat sedikit terkejut, suaminya memeluk perempuan lain di depan matanya. Namun, ia segera menguasai diri dan mengontrol ekspresinya. Ia tidak mau Sheila merasa menang.
“Aku hanya mengantarkan undangan. Besok malam acara anniversary orang tuaku, kamu diminta datang.”
“Oke. Apa ada lagi?”
“Tidak ada. Hanya itu.”
“Baiklah, aku usahakan bisa datang besok. Sampaikan salamku pada mereka ya, Terima kasih sudah repot-repot mengundang.”
Setelah itu Dharma berangkat bekerja. Sheila tetap menempel di lengan Dharma sambil terus berbicara entah apa. Melisa malas melihatnya karena muak.
...
Ia pergi ke meja makan untuk sarapan. Rencananya ia akan ke rumah Bu Inggit nanti.
“Ada apa tadi ribut-ribut?” Dayu sudah berada di meja lebih dulu.
“Aku dituduh mencuri gelang dan dompet mereka.”
Dayu menghentikan kunyahannya sebentar, lalu mengendikkan bahunya.
“Aku akan membuktikan kalau itu salah.” Melisa duduk berhadapan dengan Dayu dan mulai mengisi piringnya.
“Caranya?” tanya Dayu.
“Belum tahu.”
“Oke, kalau begitu ayo berpikir sambil berjalan-jalan santai di sekitar kompleks. Hari ini aku bolos sekolah.”
“Kenapa bolos?” tanya Melisa heran.
“Tidak ada alasan khusus sih, tapi kemarin nilaiku kurang bagus di ujian praktek lempar lembing di sekolah, jadi aku malu. Rencananya aku mau menenangkan diri di rumah dulu.”
Hah? Melisa heran dan tidak habis pikir kenapa Dayu semudah itu bolos sekolah hanya karena hasil ujiannya kurang memenuhi ekspektasi.
Padahal dulu ia akan merasa sangat menyesal melewatkan satu saja hari sekolah, apalagi kalau tidak masuk atau membolos ia jadi tidak bisa membantu mengisi pendapatan harian ibunya dari berjualan keripik kentang pedas manis di sekolahnya.
...
Melisa tidak menyiakan kesempatan berbicara berdua dan mengenal Dayu lebih jauh untuk dijadikan sekutu dalam jalan santai pagi itu. Ia setuju ikut dengan baju olahraga seadanya.
Dayu menyapa beberapa orang yang dijumpainya, tanpa mengenalkan Melisa. Kalau orang-orang itu bertanya siapa yang berjalan bersamanya, barulah ia menjawab bahwa Melisa adalah istri papanya.
“Oh, yang itu ya orangnya? Memang kelihatannya bukan asli orang berada ya.” Melisa mendengar orang-orang itu saling berbisik begitu ia berjalan menjauhinya.
“Mungkin sudah terbiasa begitu dari lingkungannya dulu.”
“Biasanya kalangan menengah ke bawah memang kurang dapat pendidikan moral yang bagus.”
“Pasti Dharma malu sekali sudah memungut pasangan yang seperti itu"
Kalimat-kalimat itu tentu saja melukai harga diri Melisa, tapi ia tetap berjalan di samping Dayu seolah tidak mendengar apa-apa.
Beberapa perempuan muda berseragam ART yang berpapasan dengan mereka juga menatapnya sinis.
“Sepertinya kabar kalau kamu mencuri sudah tersebar di sini. Ayo kita pulang saja!” ajak Dayu.
Melisa tahu kabar buruk pasti akan menyebar dengan cepat, ia hanya tidak menyangka akan secepat itu. Padahal kejadiannya baru beberapa jam yang lalu.
Mereka memutuskan untuk kembali ke rumah meskipun sesi jalan santai itu bahkan baru mencapai jarak satu kilometer dari gerbang rumah.
“Lain kali saja kita jalan lagi. Para ART di kompleks ini memang paling cepat soal menyebarkan kabar hoaks. Heran.”
Melisa tentu saja marah. Ia yang dituduh, tapi ia sendiri juga yang harus membuktikan tuduhan itu tidak benar.
…
Begitu sampai di rumah, mobil Bu Inggit terparkir di halaman.
Melisa segera masuk.
“Mama dengar kabar yang sangat buruk tentangmu, Mel. Bagaimana menurutmu?” tidak ada basa-basi. Begitu melihat Melisa, Bu Inggit langsung meminta klarifikasi darinya.
“Itu jelas tuduhan yang sangat konyol, Bu. Aku tidak mungkin melakukan perbuatan rendahan itu,” sanggah Melisa.
“Kalau melihat riwayat kebohonganmu kemarin, ini mungkin saja benar kamu yang lakukan, Mel.”
Melisa sudah pasrah, ia tidak tahu harus bagaimana berjuang membuktikan dirinya kalau Bu Inggit yang ia harapkan saja berkata seperti itu.
“Pencuri tidak akan menyimpan barang curiannya di tempat yang mudah ditemukan, kecuali itu pencuri bodoh dan kurang berpendidikan.” Bu Inggit melanjutkan.
“Aku bukan pencuri. Bahkan aku baru melihat barang-barang itu tadi pagi.” Melisa mengatakannya dengan begitu yakin.
“Kalau begitu di mana barang-barang itu sekarang? Pastikan kamu tidak menyentuhnya sama sekali. Biar Maya menghubungi orang-orangku untuk melakukan daktilaskopi agar bisa kita tahu sidik jari siapa saja di sana.”
Nah, itu juga salah satu ide yang sempat ia sampaikan pada Dharma pagi tadi. Melisa lega, Bu Inggit sependapat dengannya.
“Disimpan Pak Dharma. Aku tidak tahu diletakkan di mana.”
Bu Inggit mengangguk tenang.
Melisa pikir drama hari ini selesai, ternyata dari luar datang seorang satpam yang berlarian ke dalam rumah. Ia mengabarkan kegaduhan di luar gerbang.
“Dia mengaku keluarga Nona Melisa, Bu,” katanya.
Melisa menarik napasnya dengan berat. Ia tahu itu pasti Pakde, ia hanya tidak menduga orang itu akan sampai menyusulnya ke sini demi tanda jempolnya pada surat tanah warisan ibu.
Bu Inggit berjalan keluar untuk memastikan. Melisa juga mengikuti di belakangnya dengan tergesa.
“Nah, itu dia keponakanku. Melisa, ini pakde, Mel.” Pakde berteriak-teriak sambil berusaha melepaskan diri dari para satpam penjaga.
“Benar itu keluargamu, Mel?” tanya Bu Inggit dengan wajah datar.
“Benar, Bu. Tapi aku sudah mereka buang, sepertinya pakde ke sini hanya untuk meminta tanda tangan dan cap jempolku untuk bisa mengklaim tanah warisan ibuku menjadi miliknya.”
Bu Inggit menatap Melisa, wajahnya menyiratkan keraguan.
“Aku berkata jujur, Bu. Ibu boleh lakukan apapun padaku kalau ini adalah satu kebohongan lagi.”
Akhirnya Bu Inggit beranjak, ia memberi isyarat pada para penjaga agar melepaskan Pakde. Tanpa membuang waktu, Pakde langsung berlai mendekati mereka, lalu bersimpuh sambil menangis.
“Mel, Pakde mohon maafkan kami, Mel. orang-orang suruhanmu masih sering datang ke rumah untuk meneror kami.”
Apa ini maksudnya?
Bukan hanya Bu Inggit yang dahinya terlipat karena heran, Melisa juga berkespresi sama. Ia sama sekali tidak mengerti kalimat Pakdenya.
...