Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.
Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.
"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."
Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.
Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
KILAS BALIK — 12 tahun lalu
Erlyn berusia 23 tahun
Empat tahun sudah berlalu sejak langkah kakinya masuk ke dalam gedung itu sebagai gadis berusia sembilan belas tahun.
Usia Erlyn kini dua puluh tiga tahun.
Empat tahun terkurung di lantai paling atas, terpisah dari dunia luar. Wajah Erlyn masih sama, namun ada yang berubah di matanya.
Cahaya matanya yang dulu bersinar terang kini tampak redup, seolah perlahan padam ditelan keheningan penthouse yang mewah namun menyesakkan itu.
Hari-harinya berjalan seperti bayangan, bangun, menunggu, tersenyum, menurut, lalu tidur, dan besoknya hal yang sama terulang lagi. Tidak ada hari yang berbeda. Tidak ada harapan yang membuat Erlyn bersemangat untuk menjalani hidupnya.
Pagi itu, telepon di meja samping tempat tidurnya berdering. Telepon itu berasal dari perawat yang selalu menemani dan merawat ayahnya.
Suara perawat di seberang sana terdengar lembut, seolah takut menghancurkan gadis yang mendengar kabar itu. Ayahnya telah pergi. Tenang, dalam tidurnya yang panjang, setelah berjuang cukup lama.
Erlyn meletakkan telepon perlahan, lalu duduk diam di tepi tempat tidur. Tidak ada tangisan yang pecah. Hanya ada kekosongan yang begitu luas, begitu dalam, hingga ia merasa napasnya tertahan di dada.
Orang yang ia pertahankan dengan taruhan menelan semua rasa sakit dan penghinaan selama empat tahun ini, kini sudah tiada.
Ia duduk berjam-jam, menatap ke luar jendela kaca yang memantulkan gedung-gedung tinggi kota, namun tidak benar-benar melihat apa pun. Dunia seakan berhenti berputar.
Ketika Om Hendi pulang, ia mendengarkan kabar itu dengan wajah yang datar. Tidak ada belas kasihan yang terlihat di matanya.
Ia hanya mengangguk pelan,
"Aku telah mengurusnya dengan baik sampai hari-hari terakhirnya. Semua biaya terbayar lunas. Sekarang nggak ada lagi yang perlu kau khawatirkan. Nggak ada lagi yang memisahkan kita. Kau bisa sepenuhnya milikku tanpa gangguan apa pun."
Kalimat itu bagaikan air es yang menyadarkan Erlyn sepenuhnya. Ternyata dengan kepergian ayahnya, ia tetap terjebak di penthouse ini.
Di hari-hari berikutnya, di tengah kesedihan yang mendalam, sesuatu tumbuh perlahan di dalam diri Erlyn. Sebuah tekad yang diam-diam kuat setiap harinya.
Ia tidak boleh tetap di sini. Ia harus pergi. Kali ini murni untuk dirinya sendiri.
Ia mulai mengamati segalanya dengan mata yang berbeda. Setiap pagi, ia mencatat jam berapa penjaga di pintu utama berganti shift.
Ia melihat bahwa penjaga yang lebih tua sering terlihat menguap di jam-jam larut malam, sementara penjaga yang lebih muda selalu pergi ke toilet di lantai bawah sekitar pukul sebelas malam.
Ia memperhatikan kunci cadangan yang kadang ditinggalkan di meja saat Om Hendi sedang sibuk menelepon.
Ia menghafal mana pintu yang paling jarang diperiksa, mana lorong yang gelap dan kurang lampunya.
Semua itu ia lakukan dengan sangat hati-hati. Ia tetap tersenyum seperti biasa, tetap menurut pada setiap perintah, tidak menunjukkan sedikit pun bahwa di kepalanya ia sedang menyusun rencana terbesar dalam hidupnya.
Bulan pun berganti, dan kesempatan itu akhirnya datang.
Suatu malam di akhir musim hujan, langit gelap pekat, petir sesekali menyambar jauh di kejauhan disusul guntur yang menggelegar kuat. Hujan turun sangat deras, menghantam jendela-jendela kaca penthouse dengan suara yang menutupi bunyi langkah kaki apa pun.
Malam itu Om Hendi pergi menghadiri acara penting di luar kota, berjanji akan kembali keesokan sore harinya.
Biasanya saat ia pergi, dua penjaga akan tetap berjaga di depan pintu masuk utama tanpa beranjak. Tapi malam itu, nasib seolah sedang memihak padanya. Penjaga yang lebih tua tertidur di kursi kayu di depan pintu, kepalanya terkulai ke samping, napasnya terdengar berat di tengah suara hujan.
Penjaga yang kedua pergi ke toilet di lantai bawah, meninggalkan posnya kosong dan kemungkinan hanya untuk waktu yang singkat. Dan pintu darurat yang biasanya terkunci rapat ternyata sedikit terbuka. Mungkin karena penjaga tadi terburu-buru karena mau ke toilet.
Jantung Erlyn berdegup kencang seakan mau meledak di dadanya. Tangannya gemetar hebat. Ia mengenakan pakaian paling sederhana yang ia miliki, kaos dan celana panjang tua yang ia sembunyikan di bawah tumpukan baju bagus yang diberikan Hendi.
Ia menyelipkan ke saku celananya sedikit uang receh yang berhasil ia kumpulkan pelan-pelan selama berbulan-bulan, uang kembalian yang kadang ditinggalkan di meja, recehan yang tak diperhatikan siapa pun.
Semua barang dari Om Hendi, ia tinggalkan semuanya di lemari. Ia tidak ingin membawa satu pun jejak dari empat tahun penahanan ini.
Langkah kakinya pelan, begitu pelan hingga ia nyaris tidak mendengar bunyi kakinya sendiri di atas lantai marmer yang dingin. Setiap langkah terasa berat, seolah ada rantai tak kasat mata yang menariknya kembali ke dalam kamar itu.
Empat tahun di sini bukan waktu yang singkat, setiap sudut ruangan menyimpan kenangan yang membuat bulu kuduknya merinding. Ia menoleh sekali ke belakang, ke arah ruangan yang selama empat tahun menjadi penjaranya. Hati kecilnya berbisik: Selamat tinggal.
Ia mendorong pintu samping itu perlahan. Ia melangkah keluar, menuruni tangga darurat satu per satu, dengan hati yang berdebar kencang. Setiap suara langkah kakinya terdengar menggelegar di telinganya sendiri.
Ia takut, sangat takut. Takut jika tiba-tiba suara Hendi memanggil namanya dari belakang. Takut jika salah satu penjaga terbangun dan melihatnya. Takut jika ini semua hanyalah mimpi yang akan berakhir buruk.
Namun tidak ada yang memanggil namanya. Tidak ada yang mengejarnya. Ia berhasil sampai ke lantai dasar, lalu berlari menembus hujan deras di luar gedung itu.
Air hujan membasahi wajahnya, dingin dan menyegarkan. Ia terus berlari menjauh, sejauh mungkin, sampai kakinya terasa berat dan napasnya habis.
Saat ia akhirnya berhenti di pinggir jalan raya yang agak jauh, ia menengok ke belakang sekali lagi. Gedung tinggi tempat ia dipenjara selama empat tahun tampak samar di antara rintik hujan, berdiri angkuh di tengah kota yang terasa asing namun kini begitu menjanjikan kebebasan.
Sebuah bus kota lewat di hadapannya. Ia melambai, naik ke atasnya tanpa tahu ke mana kendaraan itu membawanya. Yang penting pergi. Yang penting jauh dari sini.
Di dalam bus yang bergetar pelan di jalan basah itu, ia duduk di kursi paling belakang, menempelkan dahinya ke kaca jendela yang berkabut. Air mata akhirnya jatuh deras, hangat, bercampur dengan sisa air hujan di pipinya.
Bukan air mata kesedihan. Bukan air mata ketakutan. Itu adalah air mata lega yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Empat tahun. Setelah empat tahun terkurung, ia benar-benar bebas.
Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, satu hal kecil masih tersisa, ketakutan yang tak sepenuhnya hilang. Ia tahu, pergi dari gedung itu lebih mudah daripada menghilangkan bayangan pria itu dari hidupnya.
Ia harus pindah ke kota yang jauh, membangun kehidupan baru dari nol. Karena selama Hendi masih hidup, ia tidak akan pernah benar-benar aman. Tapi untuk saat ini, cukup dengan satu hal — ia berhasil melarikan diri. Dan itu adalah awal dari segalanya.
kalau bener, emang bener² sakit sih hendi
tapi semoga gak berlarut larut. rara masih butuh kamu.