NovelToon NovelToon
Pengasuh Yang Dibenci Tuan Muda

Pengasuh Yang Dibenci Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.

Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.

Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.

Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.

Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.

Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.

Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.

Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Pintu yang Mulai Terbuka

"Gua cuma mau nunjukin ke dia kalau SOP gua itu masuk akal!" bela Ian dengan wajah merah sampai ke leher. "Gua gak mau dianggap cuma bisa nyuruh-nyuruh doang!"

"Dengar ya, Yan." Dimas berusaha menahan tawanya sambil menyeka sudut mata. "Cowok kalau udah rela ngelakuin hal konyol cuma demi menarik perhatian cewek, biasanya ada dua kemungkinan. Pertama, dia udah kehilangan akal sehat. Kedua, dia udah jatuh cinta, tapi gengsinya setinggi Monas!"

"Gua gak jatuh cinta!" sahut Ian cepat. Suaranya bahkan terdengar terlalu nyaring sampai ia harus berdeham. "Gua cuma kasihan! Dia itu pengasuh adik gua, titik."

"Kasihan pala lu melendung!" Edy langsung menyambar. "Mana ada orang kasihan sampai nyuruh tim intel gua menyelidiki rentenir kertas kuning jam empat sore tadi?"

Ian langsung terdiam. Tatapannya beralih tajam ke arah Edy.

"Lu... udah suruh tim ke sana?"

Edy mengangguk, kali ini dengan wajah lebih serius.

"Udah. Tim kita berhasil melacak Bang Jon. Dan asal lu tahu, utang pokok bapaknya Keira yang lima puluh juta itu sebenarnya udah lunas kalau dihitung dari cicilan bunga harian yang mereka setor selama empat tahun."

Ian mulai kehilangan ekspresi santainya.

Edy melanjutkan, "Waktu pertama kali meminjam uang, bapaknya Keira memang diminta menyerahkan akta tanah dan sawah miliknya sebagai jaminan. Karena terdesak kebutuhan untuk membayar kompensasi kecelakaan, bapaknya Keira akhirnya menyetujui syarat itu."

Ian mengernyit.

"Jadi, tanah dan sawah itu memang digadaikan?"

"Iya. Awalnya cuma sebagai jaminan pinjaman lima puluh juta. Masalahnya, Bang Jon malah memanfaatkan keadaan mereka. Selama empat tahun terakhir, tanpa sepengetahuan keluarga Keira, sawah itu diam-diam ditanami dan hasil panennya diambil sendiri. Sementara itu, dia terus menagih bunga berbunga dengan jumlah yang gak masuk akal."

Rahang Ian mengeras. Tatapan dinginnya yang biasa muncul saat rapat direksi kembali terlihat.

"Berapa total yang dia minta sekarang?"

"Tujuh puluh juta," jawab Edy datar. "Mereka juga mengancam bakal mengacak-acak rumah keluarga Keira Jumat besok kalau gak ada uang muka minimal dua juta."

Ian meremas gelas di tangannya.

"Suruh tim kita datangi Bang Jon besok pagi. Pelajari surat perjanjian utangnya, termasuk keabsahan penahanan akta tanah itu. Pastikan juga bagaimana status tanah dan sawahnya. Kalau ada unsur pidana berupa pemerasan, pengancaman, atau penyalahgunaan hasil panen tanpa izin, seret dia ke kantor polisi. Biar tim hukum Mahardika yang urus."

Dimas tersenyum tipis. Ia menyandarkan punggung ke sofa sambil menatap Ian.

"Tuh, kan. Lu sadar gak sama diri lu sendiri sekarang? Lu sampai mau pakai tim hukum perusahaan cuma buat mengurus rentenir dan menyelamatkan aset keluarga cewek yang katanya cuma pengasuh adik lu."

Ian terdiam.

Jari-jarinya yang tadi mencengkeram gelas perlahan mengendur. Baru sekarang ia menyadari sejauh apa dirinya sudah melangkah demi Keira Azzalea.

"Yan," panggil Dimas lebih lembut. "Gua tahu lu punya alasan buat susah percaya sama perempuan. Pengalaman cinta pertama lu dulu juga gak menyenangkan, kan? Cewek yang lu percaya justru cuma memanfaatkan kepolosan dan harta lu. Sejak saat itu, lu jadi selalu curiga sama setiap perempuan yang mendekat."

Dimas berhenti sebentar, memperhatikan ekspresi Ian.

"Gua ngerti kalau lu gak mau kejadian yang sama terulang. Tapi, Yan, gak semua perempuan datang dengan niat yang sama. Jangan sampai pengalaman buruk di masa lalu bikin lu terus menghakimi orang yang bahkan belum lu kenal."

Meja VIP langsung hening. Musik dari area utama lounge terdengar samar di kejauhan.

Ian menyandarkan kepala ke sofa, menatap langit-langit.

Bayangan Keira muncul satu per satu di pikirannya. Senyum jahilnya saat meledeknya, tawanya ketika bermain bersama Mika di halaman, sampai ekspresi bingungnya saat menerima uang sepuluh juta pagi tadi.

Edy menepuk bahunya pelan.

"Udahlah, Bos. Akui aja. Cewek itu udah berhasil mendobrak pintu lu, kan?"

Ian tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata dan mengembuskan napas panjang.

"Gua..." Suaranya terdengar pelan. "Gua cuma gak tahu gimana caranya bersikap baik di depan dia. Tiap kali ketemu, mulut gua malah refleks ngeluarin kata-kata kasar."

Edy dan Dimas kembali terkekeh.

"Gampang itu mah!" seru Edy. "Besok kalau ketemu dia di rumah, jangan potong buah naga pakai penggaris lagi. Coba senyum! Minimal senyum tipis lima milimeter. Jangan mukanya ditekuk terus kayak kanebo kering!"

"Gua gak bisa senyum tanpa alasan!" protes Ian.

"Ya cari alasannya!" Dimas menepuk pahanya. "Alasannya karena dia ada di rumah lu! Udah, ayo minum lagi. Perjalanan cinta Si Direktur Utama sama Pengasuh ini makin seru buat ditonton!"

 

Malam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat sedikit ketika Ian tiba di kediaman Mahardika.

Rumah terlihat sepi. Lampu utama sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu-lampu hias yang menerangi koridor dengan cahaya temaram. Bau alkohol tipis dari lounge perlahan tergantikan aroma kayu cendana yang khas di rumah itu.

Dengan jas tersampir di lengan, Ian berjalan melewati ruang tengah menuju tangga lantai dua.

Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti.

Di sofa panjang, Keira tertidur pulas.

Sepertinya gadis itu ketiduran saat menunggu botol susu Mika atau menunggu cucian selesai. Kepalanya bersandar miring di lengan sofa, sementara ponselnya tergeletak di lantai. Selimut yang biasanya tersedia di sofa juga sudah jatuh dan menumpuk di dekat kakinya.

Ian berdiri beberapa saat, memperhatikan Keira.

Dalam tidurnya, wajah gadis itu terlihat jauh lebih tenang. Tidak ada ekspresi menantang atau tatapan berani seperti biasanya setiap kali mereka berdebat.

Kata-kata Dimas kembali terngiang di kepalanya.

Jangan sampai pengalaman buruk di masa lalu bikin lu terus menghakimi orang yang bahkan belum lu kenal

Ian akhirnya melangkah mendekat.

Ia berlutut di samping sofa, mengambil selimut yang terjatuh, lalu mengibaskannya pelan sebelum menyelimuti tubuh Keira sampai batas dada.

Saat merapikan bagian dekat lehernya, jemari Ian tidak sengaja menyentuh anak rambut yang menutupi dahi Keira.

Gerakannya terhenti.

Ia menatap wajah Keira yang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya.

Gadis itu bergerak sedikit, bergumam pelan dalam tidur, lalu tanpa sadar menyandarkan pipinya ke arah tangan Ian yang masih berada di dekat bantal sofa.

DEG!

Jantung Ian seolah berhenti sesaat.

Pipi Keira terasa hangat saat bersentuhan dengan punggung tangannya. Ian bahkan lupa menarik napas selama beberapa detik.

Tatapannya terpaku pada wajah gadis itu. Bibir Keira sedikit terbuka saat tidur, membuatnya terlihat semakin polos.

Tanpa sadar, sudut bibir Ian terangkat membentuk senyum tipis.

"Dasar cewek kurang ajar," bisiknya. "Gara-gara kamu, gua sampai dibodoh-bodohin sama teman-teman gua malam ini."

Perlahan, Ian menarik tangannya. Ia kemudian berdiri, mengambil ponsel Keira dari lantai, lalu meletakkannya di atas meja.

Sebelum beranjak menuju lantai dua, ia sempat melirik Keira sekali lagi.

1
Ael
Ian Ian😄
Ael
udah salting gengsi an lagi
Ael
Ian gampang salting yaa🤣
Ael
😄😄😄
Skyline Scribe
semangat Keira 💪
Fazira
baru aja ketemu Ian, kok kata-katanya kaya gitu 😄
Ael
👍👍
Inaa LA Aeylul Nazha
bagus tapi tidak ada kelanjutanya
Skyline Scribe: Makasih Kak bintang limanya 🤗🤗
novel ini update setiap hari 1 bab yaa, tunggu besok buat kelanjutannya 😄
total 1 replies
Inaa LA Aeylul Nazha
mana untuk kelanjutannya
Ael
semangat kak 💪💪
Ael
uang lima puluh ribu jaman sekarang keliatan dikit yaa
Fazira
Karya baru lagi 😍😍😍
semangat Kak 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!