NovelToon NovelToon
Menukar Takdir Untuk Bellona

Menukar Takdir Untuk Bellona

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:456
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.

Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.

Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Pasar

Bellona melangkah masuk ke dalam kelasnya dengan perasaan yang makin bercampur aduk. Ia duduk di kursi belakang dekat jendela, mengamati lembaran uang hasil jualannya dari Bu Sumi.

Saat jam pelajaran selesai dan bel pulang sekolah berbunyi nyaring, murid-murid berhamburan keluar. Bellona menyampirkan tas ranselnya, menyusuri koridor sekolah menuju gerbang depan.

Di luar gerbang, pemandangan konyol langsung menyapa matanya.

Devan sudah bersandar di stang motor tuanya sambil mengunyah es lilin warna merah menceret. Pria itu memakai kacamata hitam yang salah satu tangkainya sudah agak longgar, bertingkah sok keren di bawah terik matahari siang. Beberapa siswi yang lewat di sekitarnya masih sempat melirik-lirik penasaran.

Bellona mengurut pelipisnya, melangkah menghampiri Devan dengan wajah berlipat kesal.

"Kagak usah pake kacamata hitam gaya-gaya gitu, Bego!" bentak Bellona ketus, menyambar helm kusam dari stang motor. "Silau kagak, norak iya!"

Devan penurunan kacamatanya sedikit ke ujung hidung, menyeringai tengil. "Yee... sirik aja lo! Ini kacamata pelindung radiasi sinar UV, Bocah! Lagian biar fans-fans gue di sekolah lo kagak makin histeris ngeliat ketampanan mata gue!"

"Geli anjir!" Bellona mendesis jijik sambil memakai helmnya dan langsung naik ke jok belakang. "Buruan jalan! Gue mau ke pasar kaget depan gang!"

Devan menaikkan sebelah alisnya dari balik kacamata. "Ngapain ke pasar kaget? Mau nyolong ayam?"

"Beli bahan makanan lah, Bego!" Bellona menepuk bahu Devan agak keras. "Duit jualan gue di kantin udah cair! Hari ini gue yang beli lauk, lo kagak usah sotoy ikut-ikut goreng tempe gosong lagi kayak tadi pagi!"

Devan tersentak kaget, lalu kekehan renyah keluar begitu saja dari mulutnya. Pria tiga puluh dua tahun itu memutar kunci motor, menarik gas hingga mesin tuanya meraung-raung nyaring.

"Wah, songong! Yaudah, koki pribadi gue mau beli apaan aja hari ini? Serahkan sama supir pribadi lo ini!" seru Devan bercanda, melajukan motornya membelah jalanan siang yang terik.

Di jok belakang, Bellona memegang pinggiran jaket kulit Devan yang agak mengelupas.

***

Pasar kaget sore itu penuh sesak. Bau amis ikan, wangi rempah, dan becek genangan air bercampur jadi satu di sepanjang jalanan sempit.

Devan melangkah di samping Bellona sambil celingukan kanan-kiri. Begitu matanya menangkap gerobak telur gulung dan cilok yang mangkal di sudut pasar, matanya langsung berbinar-binar. Pria itu menarik-narik ujung jaket Bellona.

"Bocah, jajanin gue telur gulung dong," rengek Devan tanpa malu sedikit pun. "Pengin banget gue dari kemarin, tapi dompet gue cuma berisi angin."

Bellona menepis tangan Devan kasar. "Kagak ada! Ini duit buat beli beras sama lauk makan beberapa hari ke depan, bukan buat nampung jajan lo!"

"Pelit amat anjir!" Devan mendengkus, lalu tiba-tiba memasang raut wajah melas yang dibuat-buat. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, membungkukkan badan ke arah abang penjual cilok yang lagi melayani pembeli. "Bang... kasihanilah pria paruh baya miskin ini, Bang... belum makan dari kemarin sore..."

Beberapa ibu-ibu yang lagi menawar sayur langsung menoleh, menatap Devan dengan pandangan iba bercampur aneh.

Muka Bellona seketika merah padam sampai ke telinga. "Devan! Malu-maluin banget, anjir!"

Tanpa pikir panjang, Bellona menjangkau telinga kanan Devan lalu menjewernya kencang.

"Awh! Awh! Sakit, Bocah! Lepas! Telinga gue kagak elastis!" jerit Devan sambil berjinjit mengikuti tarikan tangan Bellona yang membawanya kabur dari depan gerobak cilok.

"Lo tuh umur tua tapi kelakuan kek bocah!" amuk Bellona begitu melepas jewerannya di depan lapak sayuran. "Bisa gak jangan bikin malu gue di tempat umum?!"

"Yee, kan gue cuma berusaha mengekspresikan keinginan perut!" Devan mengelus telinganya yang memerah, lalu ikut nimbrung di depan tumpukan cabai dan bawang. "Yaudah, mau beli apaan nih? Sini gue yang pilihin, gue udah berpengalaman hidup melarat!"

Dengan sok tahu, Devan menyambar satu ikat bayam yang daunnya sudah agak kuning dan layu. "Nih, bayam bagus nih. Murah pasti."

Bellona menepis tangan Devan. "Mata lo burem?! Itu daunnya udah kuning sama bolong-bolong gitu dibilang bagus! Yang bener tuh yang warnanya hijau pekat sama batangnya masih segar begini!"

"Sotoy lo!" Devan tidak mau kalah, ia mengambil cabai rawit yang ukurannya kecil-kecil dan agak lembek. "Cabai tuh pilih yang begini! Pedasnya nendang, hemat di kantong!"

"Itu cabai busuk, Bego!" bentak Bellona gemas, merebut cabai itu dari tangan Devan lalu melemparnya kembali ke tumpukan. "Gue yang masak, jadi gue yang tahu mana bahan yang layak makan! Lo mending diam terus bawa kantong plastiknya aja!"

"Dih, ngelunjak!" Devan bersedekap dada, sengaja berdiri berdiri tegap di depan tumpukan tempe untuk menghalangi jalan Bellona. "Gue ini lebih tua, asam garam kehidupan pasar udah gue rasain duluan! Nurut napa sama paman lo!"

"Kagak sudi gue nurut sama orang yang milih bayam kuning!" Bellona mendorong pinggul Devan menggunakan sikutnya sampai pria itu tergeser sedikit, lalu dengan lincah memilih dua papan tempe yang masih segar dan padat. "Muka lo tuh yang kayak bayam kuning!"

Penjual sayur yang menyaksikan percekcokan itu cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa tipis, sementara Devan hanya bisa bersungut-sungut pasrah mengekor di belakang Bellona sambil membawakan plastik belanjaan yang makin berat.

***

Selesai memborong bahan makanan, mereka berdua berjalan menyusuri gang menuju rumah tua Devan. Devan melangkah santai sambil menenteng dua kantong plastik belanjaan di kedua tangannya, bibirnya bersiul-siul asal menyanyikan nada lagu indie yang tak jelas.

Bellona melangkah di sampingnya dengan tas sekolah yang masih tersampir di bahu. Matanya sesekali melirik Devan yang tampak acuh tak acuh meski telinganya masih agak memerah bekas jeweran di pasar tadi.

"Kenapa lo ngeliatin gue begitu?" celetuk Devan tanpa menoleh, seolah punya mata di samping kepalanya. "Masih terpesona sama ketampanan paman lo ini?"

Bellona mendengkus keras. "Mata lo terpesona! Gue cuma heran, lo beneran kagak punya urat malu ya di depan orang banyak?"

Devan menghentikan langkahnya sebentar di depan pagar rumah, memutar tubuhnya menghadap Bellona. Pria itu menaikkan sebelah alisnya, menyengir lebar hingga deretan giginya kelihatan.

"Urat malu gue udah putus dari zaman band gue mentok kagak pernah masuk TV, Bocah," sahut Devan santai, lalu mendorong pagar berkarat itu hingga berderit nyaring. "Lagian di dunia ini, kalau lo kebanyakan gengsi dan malu, yang ada lo mati kelaparan. Mending muka tembok tapi perut kenyang."

Bellona terdiam sejenak mendengar ucapan Devan. Kata-kata pria itu terdengar konyol dan asal, tapi di saat yang sama... ada kebenaran pahit yang memang nyata di dalamnya.

Mereka masuk ke dalam rumah. Bellona langsung melepas tas sekolahnya, menyingsingkan lengan seragamnya, dan mengambil alih plastik belanjaan dari Devan.

"Awas lo, jangan dekat-dekat dapur!" ancam Bellona galak sambil menunjuk Devan dengan sendok sayur. "Gue mau masak. Lo duduk aja diam di ruang tamu!"

Devan mengangkat kedua tangannya pura-pura menyerah. "Siap, Koki Galak! Gue kagak bakal menyentuh wilayah kekuasaan lo."

Devan melangkah ke ruang tamu, menjatuhkan dirinya ke sofa kusam yang sudah menipis busanya. Pria itu menyandarkan kepala, memejamkan mata sejenak mendengarkan riuh denting pisau dan desisan minyak goreng dari arah dapur. Bau harum tumisan bawang dan rempah mulai menguar pelan, memenuhi sudut-sudut rumahnya yang biasa hapek.

Devan membuka sebelah matanya, menatap langit-langit rumah yang remang.

Suara srek-srek pisau yang beradu dengan talenan kayu di dapur mengiringi riuhnya sore itu. Bellona bergerak cekatan. Ia memotong tempe menjadi dadu-dadu kecil, memetik daun bayam segar pilihan terbaiknya, dan mengulek bumbu halus di atas cobek batu.

Tidak sampai satu jam, aroma gulai tempe berkuah santan encer dan bening bayam jagung yang manis gurih melayang ke ruang tamu. Bellona mematikan kompor gas, merapikan meja semen dapur, lalu menata dua mangkuk panas di atasnya.

"Woy, Bego! Makan!" teriak Bellona keras dari dapur.

Devan yang tadinya nyaris tertidur di sofa langsung tersentak kaget. Pria itu mengucek matanya, menyengir lebar begitu membaui aroma gurih yang menusuk hidungnya. Tanpa disuruh dua kali, Devan bangkit dan setengah berlari menuju dapur.

"Buset, harumnya sampai bikin cacing di perut gue demo," puji Devan berlebihan. Ia menyambar sendok, mengambil nasi hangat dalam porsi menggunung, lalu menyiramkan kuah gulai tempe dan bening bayam ke atas piringnya.

Devan menyuap sendok pertamanya penuh-penuh. Seketika itu juga matanya membelalak lebar, mengunyah dengan raut wajah berlebihan.

"ANJIR! Ini bayam pilihan lo beneran manis, Bocah!" seru Devan di sela-sela kunyahannya. "Ternyata pengalaman melarat gue kalah sama insting belanja lo!"

Bellona yang baru mau duduk meletakkan mangkuknya seketika mendesah gemas, meski ada rasa puas bersirat tipis di dadanya. "Makanya! Dibilangin kagak percaya! Lain kali kalau di pasar kagak usah sok tahu ngerasa paling tua!"

"Iya, iya, ampun Koki Galak," kekeh Devan sambil terus melahap makanannya dengan sangat lahap.

1
falea sezi
buat ini anak agak punya adab donk😒 sebel liat anak g tau aturan banyak kok anak broken home yg tau adab g kayak beloman ini sombong
falea sezi
buat belunasadar donk anak haram kok ngelunjak 😒
falea sezi
anak haram gk tau diri🤣🤣 mending usir aja emak loe aja gk mau lu ikut dia masih ada yg mau nampung loe aja alhamdulillah😒 sebel liat anak g tau Adab
falea sezi
q dpet anak g sopan uda guaa usir🤣
falea sezi
q kirim hadiah 🤭 up banyak ya moga makin bagus buat bocah nya jelas stts nya anak devan apa bukan
BUNGA LYONA: siap kak, makasih udah baca😇🌸
total 1 replies
falea sezi
moga ajaa bneran anak devan ya😓 kasian uda di buang emak nya tp lona jangan sok ya
falea sezi
ini numpang 😒 gk ada baik baiknya kayaknya belom. tentu lo anak devan🤣🤣 bisa aja emak lo🤣jalang gk tau anak siapa😒
falea sezi
ini bapak bneran kan🤣
Lisa Kusmiran07
semangat kak
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
semangat thorr,ceritanya seru lain dari yg lain
Lisa Kusmiran07
menunggu lanjutannya,
BUNGA LYONA: siapp🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!