Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 — NAMA YANG TAK PERNAH ARGA CURIGAI
Arga Pratama tidak segera menggerakkan tangannya.
Foto di layar ponselnya tampak buram, tetapi nama yang tercetak pada lampiran AUTH-03 masih bisa dibaca.
PAK DARTO — DARMAWAN HARTONO.
Arga membaca nama itu berulang kali.
Darmawan Hartono adalah nama lengkap Pak Darto, pemilik Agung Joyo Motor, tempat Arga bekerja selama beberapa tahun terakhir. Pria yang memberinya pekerjaan ketika ia kehilangan segalanya. Pria yang tidak pernah bertanya terlalu jauh tentang masa lalunya. Pria yang selalu mengingatkannya bahwa kemampuan seorang mekanik tidak diukur dari mahalnya kendaraan yang diperbaiki.
Bagaimana mungkin nama Pak Darto tercantum sebagai pemegang kewenangan eksternal dalam proyek ARX-9?
Arga memperbesar foto itu.
Di bawah nama Pak Darto terdapat nomor identitas pegawai lama, tanggal penetapan kewenangan, dan sebuah tanda tangan yang tidak terlihat jelas. Namun, nomor referensi pada bagian bawah dokumen sama dengan kode yang mereka temukan sebelumnya.
Ia segera mengirimkan foto tersebut kepada Nadia.
Arga: Tolong periksa dokumen ini. Jangan mengambil kesimpulan sebelum kita mengetahui sumbernya.
Nadia membalas cepat.
Nadia: Dari mana kamu mendapatkan foto ini?
Arga: Nomor tidak dikenal.
Nadia: Kalau begitu, kita harus memeriksa keaslian dokumennya. Foto bisa dipotong, diedit, atau berasal dari versi yang berbeda.
Arga mengangguk meskipun Nadia tidak bisa melihatnya.
Ia tahu Nadia benar.
Seseorang mungkin sengaja mengirimkan dokumen tersebut untuk membuatnya mencurigai Pak Darto.
Tetapi jika dokumen itu asli, ada pertanyaan yang jauh lebih besar.
Mengapa seorang pemilik bengkel kecil memiliki kewenangan dalam proyek teknologi mesin yang dikerjakan oleh perusahaan besar?
Arga menghubungi Pak Darto.
Panggilan pertama tidak dijawab.
Panggilan kedua juga tidak mendapatkan respons.
Ia mulai gelisah, tetapi tidak ingin membiarkan pikirannya menciptakan kesimpulan sendiri.
Akhirnya, ia mengirim pesan singkat.
Pak, saya perlu berbicara tentang proyek ARX-9. Ada sesuatu yang harus saya tanyakan langsung kepada Bapak.
Beberapa menit kemudian, balasan masuk.
Pulanglah ke bengkel setelah kompetisi. Ada hal yang sudah terlalu lama kusimpan.
Arga menatap pesan itu.
Kalimat tersebut terasa berbeda dari biasanya.
Pak Darto tidak menyangkal bahwa ia mengetahui sesuatu. Ia juga tidak bertanya dari mana Arga memperoleh informasi itu.
Seolah-olah pria tersebut telah menunggu hari ketika masa lalu mereka akhirnya bertemu.
Ketika Arga kembali ke arena kompetisi, pikirannya masih dipenuhi berbagai pertanyaan.
Rendy yang sedang memeriksa perlengkapan tim segera menyadari perubahan sikapnya.
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Jangan berbohong. Sejak tadi kamu melihat ponsel seperti baru menerima kabar buruk.”
Arga memasukkan ponselnya ke saku.
“Aku mendapat informasi tentang seseorang yang mungkin berhubungan dengan ARX-9.”
“Siapa?”
“Aku belum bisa memberitahumu sebelum memeriksa kebenarannya.”
Rendy tidak memaksa.
“Baiklah. Tapi kalau masalah itu mengganggu konsentrasimu, katakan. Aku tidak mau kita kalah karena salah satu anggota tim memikirkan sesuatu yang tidak bisa dia selesaikan sekarang.”
Arga menatapnya.
Beberapa minggu lalu, Rendy mungkin akan menggunakan keadaan seperti ini untuk mengejeknya. Kini, ia justru menawarkan bantuan.
“Terima kasih,” jawab Arga.
Rendy mengangkat bahu.
“Jangan salah paham. Aku tetap ingin mengalahkanmu.”
Arga tersenyum tipis.
“Kalau begitu, kalahkan aku di lintasan dan meja diagnosis. Bukan dengan membuatku kehilangan konsentrasi.”
“Sepakat.”
Mereka kembali memeriksa kendaraan uji.
Babak semifinal mengharuskan setiap tim mengevaluasi sistem penggerak yang mengalami penurunan respons setelah bekerja dalam kondisi beban tertentu. Data awal menunjukkan perubahan waktu respons, tetapi tidak cukup untuk memastikan penyebabnya.
Arga memusatkan perhatian pada lembar pengujian.
Ia membagi pekerjaan menjadi tiga bagian.
Rendy bertanggung jawab memeriksa kondisi mekanis dan respons penggerak. Dimas menganalisis pola data serta membandingkan hasil pengujian. Arga memeriksa hubungan antara perintah kendali, sinyal umpan balik, dan respons aktual.
Mereka bekerja tanpa saling menyalahkan.
Ketika hasil pemeriksaan pertama tidak sesuai perkiraan, Rendy mengusulkan pengujian ulang dengan kondisi yang dikendalikan.
Dimas kemudian menemukan bahwa keterlambatan respons tidak terjadi pada semua kondisi operasi.
Arga meminta mereka mencatat perbedaan tersebut sebelum melanjutkan.
“Kalau gangguannya muncul hanya pada kondisi tertentu, kita harus tahu variabel mana yang berubah,” katanya.
Rendy memeriksa hasilnya.
“Respons aktuator terlambat ketika beban meningkat, tetapi sinyal perintah tetap tercatat.”
“Berarti kita belum bisa langsung menyalahkan aktuator,” jawab Arga. “Kita perlu membandingkan waktu perintah, waktu konfirmasi, dan respons mekanis.”
Setelah pengujian lanjutan yang disetujui panitia, mereka menemukan ketidaksesuaian pada jalur umpan balik dalam kondisi tertentu. Namun, data yang tersedia belum cukup untuk menentukan apakah sumbernya berada pada komponen, koneksi, atau konfigurasi kendali.
Mereka mempresentasikan temuan itu dengan menyertakan batasan diagnosis.
Salah seorang juri mengangguk puas.
“Tim Anda tidak memberikan jawaban yang paling sederhana, tetapi memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan.”
Arga menjawab tenang.
“Tujuan kami bukan membuat jawaban terdengar meyakinkan. Tujuan kami menemukan penyebab yang benar.”
Di sisi panggung, Marcus Hale memperhatikan mereka.
Untuk pertama kalinya, ia melihat Rendy tidak lagi berusaha mendominasi diskusi. Pemuda itu menerima pendapat Arga, mengajukan pertanyaan, dan mengubah kesimpulannya ketika bukti baru muncul.
Marcus kemudian memandang Arga.
Kemampuan teknis pemuda itu tidak pernah menjadi persoalan.
Yang menjadi persoalan adalah keputusan-keputusan yang dibuat oleh orang dewasa di sekelilingnya lima tahun lalu.
Dan kini, seseorang mulai membuka kembali pintu yang selama ini mereka tutup.
Sementara itu, di sebuah ruangan kantor yang jauh dari arena kompetisi, Gunawan Wiratama menerima laporan singkat.
Seorang staf meletakkan map di atas meja.
“Pak, ada permintaan resmi untuk memeriksa lampiran DOA-09/ARX, khususnya referensi AUTH-03.”
Gunawan tidak langsung membuka map tersebut.
“Siapa yang mengajukan?”
“Permintaan itu diajukan melalui pengelola arsip. Nama Arga Pratama tercantum sebagai pihak yang berkepentingan, bersama beberapa mantan personel proyek.”
Gunawan menyandarkan tubuhnya.
“Apakah dokumen aslinya ditemukan?”
“Belum, Pak. Yang tersedia baru catatan pemindahan dan beberapa salinan digital.”
Gunawan terdiam cukup lama.
“Pastikan seluruh dokumen yang masih ada disimpan dengan aman. Jangan mengubah, memindahkan, atau menghapus apa pun. Jika ada permintaan yang sah, ikuti prosedur.”
Staf itu tampak sedikit terkejut.
“Apakah Bapak mengenali nama yang tercantum dalam lampiran tersebut?”
Gunawan menatapnya tajam.
“Itulah yang sedang harus kita pastikan.”
Setelah staf itu keluar, Gunawan membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah map tua.
Pada sampulnya tertulis:
ARX-9 — DOKUMEN PENGAWASAN EKSTERNAL.
Ia membuka halaman pertama.
Daftar kewenangan tercetak di sana, tetapi lampiran identitasnya tidak ada.
Gunawan menelusuri setiap halaman, seolah-olah berharap menemukan sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya.
Kemudian ia berhenti pada selembar catatan rapat.
Ada tulisan tangan di bagian bawah halaman.
Jika terjadi perbedaan antara instruksi teknis dan rekomendasi keselamatan, keputusan harus dicatat melalui jalur pengawasan eksternal.
Di sebelahnya terdapat paraf yang sebagian tertutup noda tinta.
Gunawan mengenali paraf itu.
Ia juga mengenali tulisan tangan pada catatan tersebut.
Namun, sebelum sempat mengambil keputusan, telepon di mejanya berdering.
“Ya?”
Suara seorang pria terdengar dari seberang.
“Arga sudah menerima foto AUTH-03.”
Gunawan berdiri.
“Siapa yang mengirimkannya?”
“Kami belum mengetahui identitas pengirim.”
“Apakah fotonya asli?”
“Belum dapat dipastikan. Salinan yang beredar memiliki perbedaan pada bagian nomor referensi.”
Gunawan memejamkan mata sejenak.
“Kalau begitu, jangan membuat tuduhan. Cari sumber dokumen itu dan bandingkan dengan arsip yang sah.”
“Bagaimana jika Arga menemui Pak Darto?”
Gunawan tidak langsung menjawab.
“Kalau dia menemui Darmawan, biarkan mereka berbicara. Tidak ada gunanya menyembunyikan sesuatu yang pada akhirnya akan ditemukan.”
Panggilan berakhir.
Gunawan kembali menatap map tua tersebut.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tampak benar-benar khawatir.
Bukan karena Arga menemukan sebuah nama.
Melainkan karena nama itu mungkin bukan satu-satunya hal yang sengaja dihilangkan dari sejarah ARX-9.
Malam itu, Arga tiba di Agung Joyo Motor setelah kompetisi selesai.
Bengkel sudah tutup. Lampu di area servis dipadamkan, menyisakan cahaya dari sebuah lampu meja di dekat ruang administrasi.
Pak Darto duduk sendirian.
Di hadapannya terdapat sebuah kotak logam kecil yang permukaannya mulai berkarat.
“Duduklah, Ga,” katanya.
Arga duduk di kursi seberang.
Beberapa saat, keduanya tidak berbicara.
Arga akhirnya mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto yang diterimanya.
Pak Darto melihat layar itu.
Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan.
Ia hanya menarik napas panjang.
“Dari mana kamu mendapatkannya?”
“Nomor tidak dikenal. Saya belum tahu apakah foto ini asli.”
“Bagus. Jangan percaya sebelum memeriksanya.”
Arga menatap pria yang selama ini dianggapnya sebagai keluarga sendiri.
“Pak, apakah Bapak pernah terlibat dalam proyek ARX-9?”
Pak Darto menunduk.
“Pernah.”
Jawaban itu membuat Arga terdiam.
“Dalam kapasitas apa?”
“Bertahun-tahun lalu, sebelum membuka bengkel ini, aku bekerja sebagai teknisi pengembangan sistem kendali mesin. Aku tidak terkenal. Aku juga bukan orang yang membuat keputusan besar. Pekerjaanku memastikan komponen dan sistem bekerja sesuai spesifikasi.”
Arga berusaha mencerna penjelasan itu.
“Jadi, Bapak memang mengenal orang-orang di proyek tersebut?”
“Aku mengenal beberapa dari mereka. Termasuk Adrian Voss, Marcus Hale, dan Gunawan Wiratama.”
“Lalu mengapa Bapak tidak pernah menceritakannya kepada saya?”
Pak Darto memandang Arga.
“Karena saat kamu datang ke bengkel ini, kamu tidak membutuhkan cerita tentang masa lalu. Kamu membutuhkan pekerjaan, tempat untuk memulai lagi, dan kesempatan untuk memperbaiki hidupmu.”
Arga tidak langsung membantah.
Ia memang datang ke bengkel itu setelah kehilangan karier, reputasi, dan kepercayaan terhadap orang-orang yang pernah bekerja bersamanya.
Pak Darto memberinya kesempatan tanpa menuntut penjelasan.
Namun, kini ia membutuhkan jawaban.
“Apakah Bapak pemegang kewenangan eksternal EW-01?”
Pak Darto menggeleng.
“Tidak. Aku bukan pemegang kewenangan itu.”
Arga memperhatikan wajahnya.
“Kalau begitu, mengapa nama lengkap Bapak tercantum dalam foto?”
“Itulah yang harus kita cari tahu.”
Pak Darto membuka kotak logam di hadapannya.
Di dalamnya terdapat kartu identitas lama, beberapa foto proyek, dan buku catatan dengan sampul hitam.
Ia mengeluarkan kartu identitas yang sudah usang.
Nama pada kartu itu sama dengan nama di foto yang diterima Arga.
Namun, jabatannya tercatat sebagai teknisi integrasi komponen.
Tidak ada keterangan tentang kewenangan pengawasan eksternal.
Pak Darto kemudian membuka buku catatan hitam.
“Pada malam pengujian ARX-9, aku tidak berada di ruang kendali utama. Aku berada di fasilitas pemasok, memeriksa komponen yang sebelumnya dinyatakan tidak sesuai dengan spesifikasi pengiriman.”
“Apakah Bapak memiliki bukti?”
“Sebagian. Catatan pekerjaan, jadwal pemeriksaan, dan beberapa surat pengiriman. Dokumen itu mungkin membantu memastikan keberadaanku, tetapi tidak membuktikan seluruh kegiatan yang terjadi di tempat lain.”
Arga menerima buku tersebut dengan hati-hati.
“Apakah Bapak mengetahui siapa yang meminta penghentian pengujian?”
Pak Darto mengangguk perlahan.
“Aku tahu bahwa ada permintaan penghentian karena masalah keselamatan. Tetapi aku tidak melihat sendiri siapa yang mengirim instruksi pertama.”
“Apakah Bapak pernah berbicara dengan Raka Wibisono?”
“Pernah. Dia salah satu teknisi yang cukup teliti. Dia menghubungiku sebelum pengujian terakhir karena menemukan ketidaksesuaian pada data komunikasi antarmodul.”
Arga menegakkan tubuh.
“Apa yang dia katakan?”
“Dia khawatir sistem akan memberikan respons yang tidak sesuai dengan perintah dalam kondisi tertentu. Dia meminta pendapatku tentang hasil pengukuran yang diperolehnya.”
“Dan apa jawaban Bapak?”
“Aku mengatakan bahwa jika hasil pengujian belum memenuhi persyaratan keselamatan, pengujian harus ditunda sampai masalahnya jelas.”
Arga terdiam.
Kalimat itu sejalan dengan catatan keselamatan yang mereka temukan.
“Apakah Bapak menyampaikan pendapat itu kepada manajemen?”
“Tidak secara langsung. Aku bukan pengawas proyek. Aku hanya menyampaikan temuan teknis kepada pihak yang meminta pemeriksaan komponen.”
Pak Darto menutup buku catatan itu.
“Arga, ada sesuatu yang perlu kamu pahami. Terlibat dalam proyek bukan berarti seseorang bertanggung jawab atas semua keputusan di dalamnya. Aku tidak ingin kamu menyalahkan orang yang salah hanya karena namanya muncul dalam dokumen.”
Arga mengangguk.
“Saya tidak akan melakukannya.”
“Dan jangan menganggap seseorang bersih hanya karena dia pernah membantumu.”
Kalimat itu membuat Arga terdiam lebih lama.
Pak Darto melanjutkan.
“Orang bisa melakukan hal baik pada satu waktu dan membuat keputusan buruk pada waktu lain. Kamu harus menilai bukti, bukan sekadar hubungan pribadi.”
Arga memandang pria itu.
Selama ini, ia mengira telah mengenal Pak Darto dengan baik.
Kini ia menyadari bahwa bahkan orang yang paling dekat dengannya memiliki masa lalu yang belum pernah diceritakan.
Namun, ia belum memiliki alasan untuk menganggap Pak Darto bersalah.
Yang ia miliki hanyalah sebuah foto yang belum terverifikasi dan pengakuan bahwa Pak Darto pernah bekerja dalam proyek yang sama.
“Pak, apakah Bapak tahu siapa pemegang kewenangan eksternal EW-01?”
Pak Darto tidak segera menjawab.
Ia membuka halaman terakhir buku catatan hitam.
Di sana terdapat satu lembar kertas tipis yang dilipat menjadi dua.
Tulisan tangan di atasnya sudah memudar, tetapi masih dapat dibaca.
EW-01 — PENGESAHAN KEWENANGAN SEMENTARA.
Di bawah judul itu tercantum tanggal yang sama dengan malam pengujian ARX-9.
Pak Darto menyerahkan kertas tersebut kepada Arga.
“Aku menemukan ini di antara dokumen yang dikembalikan kepadaku setelah proyek dihentikan. Aku tidak pernah menggunakannya karena tidak ada tanda tangan lengkap dan aku tidak tahu apakah dokumen ini merupakan versi final.”
Arga memeriksa kertas itu.
Bagian yang seharusnya memuat nama pemegang kewenangan telah terpotong.
Namun, di sudut kanan bawah terdapat nomor referensi yang sama dengan lampiran AUTH-03.
Arga merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.
“Bapak menyimpan dokumen ini selama lima tahun?”
“Ya.”
“Mengapa baru sekarang memberikannya kepada saya?”
“Karena aku tidak tahu apakah dokumen itu berkaitan langsung dengan kejadian yang menimpamu. Aku juga tidak ingin memberimu informasi yang belum bisa kujelaskan.”
Arga memahami kehati-hatian itu.
Namun, ada satu hal yang masih mengganggunya.
“Pak, kalau Bapak tidak pernah menjadi pemegang kewenangan eksternal, mengapa seseorang mengirim foto yang mencantumkan nama lengkap Bapak?”
Pak Darto menatapnya.
“Ada dua kemungkinan. Seseorang ingin membuatmu mencurigaiku, atau seseorang menggunakan dokumen yang memang memuat namaku tetapi tidak menunjukkan keseluruhan konteksnya.”
“Bagaimana kita membedakannya?”
“Dengan menemukan dokumen asli.”
Arga memasukkan foto dan catatan itu ke dalam map terpisah.
Ia tidak akan menyimpulkan bahwa Pak Darto terlibat dalam pengkhianatan yang menghancurkan kariernya.
Namun, ia juga tidak akan menutup penyelidikan hanya karena orang yang muncul dalam dokumen itu adalah sosok yang dipercayainya.
Ketika Arga hendak berdiri, Pak Darto memanggilnya sekali lagi.
“Arga.”
“Ya, Pak?”
“Ada satu orang yang mungkin bisa menjelaskan mengapa namaku muncul dalam dokumen itu.”
“Siapa?”
Pak Darto menatap kartu identitas lamanya.
“Orang yang mengurus perpindahan personel dari fasilitas pemasok ke proyek ARX-9. Namanya Surya Wiratama.”
Arga terkejut.
Surya adalah orang yang sebelumnya memberinya salinan catatan pengiriman komponen.
“Apakah Surya mengetahui sesuatu tentang EW-01?”
“Aku tidak tahu. Tetapi dia pernah mengatakan bahwa ada perbedaan antara daftar teknisi yang bekerja di lapangan dan daftar orang yang memiliki kewenangan administratif.”
Arga segera mencatat informasi tersebut.
Satu demi satu, potongan misteri itu mulai saling terhubung.
Namun, belum ada yang membentuk gambaran lengkap.
Ia berpamitan kepada Pak Darto dan meninggalkan bengkel dengan membawa salinan catatan yang harus diverifikasi.
Di luar, hujan mulai turun.
Arga berdiri sejenak di bawah atap, menatap jalanan yang basah.
Lima tahun lalu, ia kehilangan segalanya karena sebuah laporan yang tidak pernah memberinya kesempatan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Kini, ia tidak akan membiarkan ketergesaan mengulang kesalahan yang sama.
Ia akan mencari dokumen asli, memeriksa sumbernya, dan membuktikan setiap hubungan sebelum mengambil kesimpulan.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Pesan baru dari nomor tidak dikenal.
Kamu sudah berbicara dengan Darmawan. Sekarang tanyakan kepadanya siapa yang membawa kartu akses hitam ke fasilitas pemasok pada pukul 21.50 malam itu.
Arga membaca pesan tersebut dua kali.
Ia belum pernah menceritakan kepada pengirimnya bahwa Pak Darto baru saja memberikan catatan lama.
Bagaimana orang itu mengetahui pertemuan mereka?
Sebelum Arga sempat membalas, sebuah foto lain masuk.
Foto itu memperlihatkan halaman buku tamu fasilitas pemasok dari lima tahun lalu.
Pada baris terakhir tertulis nama pengunjung yang datang pukul 21.50.
RAKA WIBISONO.
Namun, di sebelah namanya terdapat tanda tangan penerima kartu akses.
Arga memperbesar gambar itu.
Tanda tangan tersebut tampak sangat familier.
Itu adalah tanda tangan Pak Darto.
Bersambung.