Ketika mahkota kekaisaran ternoda oleh keserakahan dan tirani seorang saudara kandung, seorang putri yang terbuang harus bangkit dari abu pembantaian.
Diasingkan sejak lahir di Desa Bunga Lotus, Zhao Lianhua tidak pernah tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah kekaisaran. Namun saat pedang istana membakar rumah dan menghancurkan kedamaiannya, ia terpaksa mengambil pedang demi keadilan rakyat jelata!
Bisakah seorang putri terbuang menumbangkan kerajaan yang dipimpin oleh saudara kandungnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Kehangatan Pelukan Ayah
Beberapa hari kemudian...
Malam telah menancapkan posisinya dengan anggun di atas Lembah Bunga Lotus. Suara jangkrik dan katak rawa bersahut-sahutan di luar, menciptakan irama alami yang menenangkan jiwa.
Udara dingin pegunungan menyusup halus melalui celah-celah papan kayu gubuk, tetapi di dalam kamar tidur sederhana itu, suasana terasa begitu hangat dan damai.
Cahaya temaram dari lampu minyak jarak menari-nari pelan di dinding kayu, memantulkan bayangan dua sosok yang saling berhadapan di atas bale-bale tebal berlapis kain linen tipis.
Tuan Zhao duduk bersandar di kepala ranjang, seraya merapikan selimut tebal bertambal kain merah muda yang membungkus tubuh mungil Lianhua.
Di usianya yang kini tujuh tahun, Lianhua tampak begitu menggemaskan dengan gaun tidur putih bersih. Rambut hitamnya yang halus terurai di atas bantal kapuk. Matanya yang jernih dan bulat berkedip-kedip menatap langit-langit kamar, seolah-olah pikirannya sedang menembus melampaui atap jerami menuju bintang-bintang di luar sana.
"Lianhua, kenapa matamu masih bulat seperti mata burung hantu?" tanya Tuan Zhao dengan suara serak namun penuh kelembutan. Jemari tangannya yang kasar dan penuh kapalan membelai lembut dahi sang putri. "Ini sudah melewati jam tidurmu. Jika besok pagi kau bangun kesiangan, Bibi Mei tidak akan menyisakan kuah manis bubuk kacang merah untukmu."
Lianhua membalikkan badannya ke samping, dan menopang dagunya yang mungil dengan kedua tangan, lalu menatap Tuan Zhao dengan pendar rasa ingin tahu yang meluap-luap.
"Ayah Zhao..." panggil Lianhua pelan, suaranya jernih bagaikan dentang lonceng perak kecil.
"Hmm?"
"Kenapa burung hantu hanya terbang malam-malam, tapi burung pipit sukanya terbang siang hari? Apa burung hantu tidak suka sinar matahari karena takut matanya silau?" celoteh Lianhua polos, dengan matanya yang berkedip-kedip lucu.
Tuan Zhao terkekeh kecil, gelengan kepalanya membuat beberapa helai rambutnya yang memutih bergoyang. "Burung hantu diciptakan oleh Langit untuk menjaga malam, Lianhua. Sinar mata mereka tajam untuk menembus kegelapan, agar mereka bisa menemukan jalan dan melindungi sarangnya saat makhluk lain tertidur."
"Berarti burung hantu itu seperti Ayah Zhao dan Paman Han ya?" potong Lianhua cepat sambil tersenyum hingga lesung pipinya terlihat. "Ayah dan Paman Han kan selalu ronda malam membawa obor dan pedang untuk menjaga Desa Bunga Lotus!"
Tuan Zhao tertegun sejenak, lalu tertawa berderai pelan. "O ho, ada-ada saja pikiranmu. Ayah ini manusia, bukan burung hantu."
"Tapi Ayah hebat sekali!" celoteh Lianhua lagi tanpa henti, tangannya kemudian memperagakan gerakan memutar di udara. "Tadi siang waktu Lianhua melihat Ayah membelah kayu bakar di belakang, Ayah cuma pakai satu tebasan! Prak! Kayunya langsung terbelah dua sama besar! Paman Zhou saja butuh tiga kali tebasan! Ayah, mengajari Lianhua cara membelah kayu seperti itu kapan-kapan, ya?"
"Kau ini masih tujuh tahun, jemarimu masih sangat lembut," jawab Tuan Zhao sambil mencubit pelan pipi tembem Lianhua dengan gemas. "Nanti kalau usiamu sudah sepuluh tahun, Ayah buatkan kapak kayu kecil khusus untukmu."
"Asyik!" Lianhua bertepuk tangan gembira, lalu berguling terlentang lagi.
Namun, kegembiraan meluap-luap di wajah kecilnya perlahan mereda. Tatapannya kembali menerawang ke arah nyala lilin minyak yang bergetar tertiup angin halus.
Suasana di dalam kamar pun berubah menjadi hening selama beberapa saat. Hanya terdengar helaan napas halus Lianhua dan detak jam air sederhana di sudut meja.
Tuan Zhao merasakan perubahan gelombang emosi pada anak angkatnya. Ia membungkuk sedikit, dan menatap mata jernih Lianhua. "Lianhua? Ada apa? Kenapa tiba-tiba diam?"
Lianhua memegang pinggiran selimut tebalnya, lalu menariknya hingga menutupi separuh hidungnya yang bangir. Matanya yang bulat menatap Tuan Zhao dengan pandangan yang sangat polos, namun menyimpan sedikit keraguan dan kepiluan yang tersembunyi.
"Ayah Zhao..." bisik Lianhua halus.
"Iya, Nak?"
"Kemarin waktu Lianhua bermain petak umpet di pinggir telaga bersama Feng dan Bao..." Lianhua menggantungkan kalimatnya. Jemari mungilnya memutar-mutar benang selimut. "Lianhua melihat Bibi Mei mengusap kepala Feng waktu dia jatuh dan lecet lututnya. Bibi Mei memeluk Feng, menyanyikan lagu nina bobo, dan memberikan manisan. Feng bilang, itu karena Bibi Mei adalah ibunya."
Tuan Zhao mematung seketika. Dadanya terasa bergetar, seolah-olah ada tombak dingin yang menusuk perlahan ke dalam ulu hatinya.
Lianhua melanjutkan celotehnya dengan polos, tanpa sedikit pun nada menuntut, hanya murni rasa penasaran seorang anak kecil yang merindukan sesuatu yang tak pernah ia ketahui.
"Bao juga punya ibu, yaitu Bibi Lin yang suka membuatkan baju baru dari kain sutra bekas. Semua teman-teman Lianhua di desa ini punya ibu yang memeluk mereka kalau malam hari..." Lianhua menatap Tuan Zhao dengan mata berbinar polos. "Ayah... kenapa Lianhua tidak pernah melihat Ibu Lianhua sekalipun? Apakah Ibu Lianhua tidak tinggal di Lembah Bunga Lotus?"
Kata-kata jernih dari bibir kecil itu menghantam pertahanan batin Tuan Zhao. Sang mantan panglima yang pernah berdiri tegap di tengah hujan panah dan benturan ribuan pedang di medan pertempuran, kini merasa tenggorokannya begitu menyempit dan kering.
Air mata yang sudah belasan tahun tidak pernah menetes, mendadak menggenang hangat di sudut matanya.
Tuan Zhao menarik napas panjang dan dalam, dan berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar. Ia menggeser duduknya lebih mendekat, lalu mengangkat tubuh mungil Lianhua dan mendudukkannya di atas pangkuannya yang hangat.
Lianhua menyandarkan kepala kecilnya di dada bidang Tuan Zhao, dan mendengarkan detak jantung ayahnya yang bergemuruh pelan namun menenangkan.
"Lianhua..." bisik Tuan Zhao sambil memeluk tubuh kecil itu rapat-rapat. tangannya yang besar mengusap rambut hitam halus sang putri dan berkata, "Ibumu... ibumu adalah wanita paling cantik, paling lembut, dan paling pemberani yang pernah Ayah kenal di dunia ini."
"Benarkah, Ayah?" tanya Lianhua, matanya langsung berbinar mendengarnya. "Apakah Ibu selincah Lianhua? Apakah wajah Ibu mirip dengan Lianhua?"
"Wajahmu adalah cerminan dirinya," jawab Tuan Zhao dengan senyum haru. "Mata jernihmu, cara tersenyummu, dan kebaikan hatimu... semuanya persis seperti Ibumu. Nama Ibumu adalah Meizhen. Dia sangat menyukai bunga lotus, persis seperti bunga-bunga yang mekar di telaga desa kita."
"Lalu... di mana Ibu Meizhen sekarang, Ayah? Kenapa dia tidak tinggal bersama kita di gubuk ini? Apa Ibu sedang pergi ke tempat yang sangat jauh?" tanya Lianhua bertubi-tubi dengan kepolosannya yang jujur.
Tuan Zhao memejamkan matanya rapat-rapat sejenak. Ia teringat dan membayangkan akan malam berdarah tujuh tahun lalu, saat Selir Meizhen berbaring terkulai di atas ranjang berdarah di Istana Terlarang, dan menyerahkan bayi mungil ini pada dayng Xiu demi melindunginya dari tirani kekaisaran.
Tuan Zhao tidak ingin menanamkan dendam yang berat di hati anak berusia tujuh tahun ini, tetapi ia juga tidak ingin membohongi kesucian perasaan sang putri.
"Ibumu... telah pergi ke tempat yang sangat indah di atas sana," ucap Tuan Zhao pelan sambil menunjuk ke arah langit malam di balik jendela kayu yang terbuka sedikit. "Di tempat yang tak ada lagi rasa sakit, tak ada perang, dan tak ada air mata."
Lianhua menengadah, dan menatap langit malam yang dipenuhi gugusan bintang keemasan dan rembulan yang bersinar lembut.
"Apakah tempat itu ada di balik bintang-bintang, Ayah?" tanya Lianhua pelan.
"Ya," jawab Tuan Zhao lembut. "Ibumu harus pergi ke sana malam saat kau baru saja lahir ke dunia ini. Bukan karena dia tidak mencintaimu, Lianhua... justru karena dia sangat, sangat mencintaimu melebihi nyawanya sendiri."
Air mata bening perlahan menetes dari sudut mata Lianhua, dan mengalir membasahi pipi tembemnya. Anak sekecil itu, dengan ketajaman nalurinya yang luar biasa, bisa merasakan pengorbanan besar yang tersimpan di balik kata-kata ayahnya.
"Ibu... mengorbankan dirinya demi Lianhua ya, Ayah?" bisik Lianhua dengan suara serak, sementara tangannya yang mungil mengusap air matanya sendiri.
"Ibumu memberikan seluruh nafasnya agar kau bisa bernafas hari ini," ucap Tuan Zhao penuh ketegasan dan keharuan. "Dia melindungimu dari bahaya yang sangat besar. Meskipun matamu tidak bisa melihat fisiknya lagi, kasih sayangnya akan selalu mendekapmu setiap kali kau melihat bunga lotus mekar atau merasakan angin malam yang hangat."
Lianhua mengangguk pelan, dan membenamkan wajah kecilnya di leher Tuan Zhao, lalu memeluk leher ayahnya dengan kedua lengan mungilnya seerat yang ia bisa.
"Ayah Zhao..." tangis Lianhua pelan.
"Iya, Nak?"
"Lianhua tidak sedih lagi..." bisik Lianhua jujur, suaranya teredam di jubah Tuan Zhao. "Walaupun Lianhua tidak punya ibu di gubuk ini, Lianhua punya Ayah Zhao yang sangat baik... yang selalu memeluk Lianhua, mengajari Lianhua, dan menjaga Lianhua. Bibi Mei, Paman Han, Paman Zhou... semuanya juga menyayangi Lianhua. Lianhua anak paling beruntung di Lembah Bunga Lotus!"
Mendengar ucapan polos penuh ketulusan itu, dada Tuan Zhao bergetar hebat. Air mata sang veteran perang akhirnya jatuh menetes di atas kepala Lianhua. Ia lalu mengusap punggung mungil sang putri dengan kasih sayang yang meluap-luap.
"Kau adalah karunia terbesar dalam hidup Ayah, Lianhua," bisik Tuan Zhao bergetar. "Selama darah di tubuh Ayah masih mengalir, tak akan ada seorang pun yang boleh menyakitimu atau merebut senyum dari wajahmu."
Tuan Zhao kemudian merengkuh tubuh Lianhua, dan merebahkannya kembali secara perlahan di atas bantal empuk. Ia menarik selimut tebal dan menutupi dada sang putri.
Lianhua menatap Tuan Zhao, air matanya sudah mengering, berganti dengan senyuman paling manis dan tenang.
"Ayah Zhao..." panggil Lianhua dengan suara yang mulai memberat oleh rasa kantuk.
"Iya, Anakku?"
"Boleh nyanyikan lagu lagu nina bobo Bunga Lotus yang biasa diputar Paman Zhou dengan serulingnya?" Pinta Lianhua pelan.
Tuan Zhao tersenyum hangat. Dengan suaranya yang berat dan dalam, Tuan Zhao mulai bergumam menyanyikan lagu nina bobo kuno yang biasa dinyanyikan oleh rakyat Lembah Bunga Lotus:
Mekar indah bunga di atas lumpur,
Sinar rembulan menjaga tidurmu yang jujur,
Jangan takut pada malam yang dingin membeku,
Sebab kasih dan doa selalu memelukmu...
Sambil bergumam, Tuan Zhao menepuk-nepuk pelan dada Lianhua secara teratur.
Perlahan-lahan, kelopak mata Lianhua yang jernih mulai memberat. Helaan napasnya berubah menjadi halus dan teratur.
Dalam ketenangan malam itu, Lianhua akhirnya tertidur lelap dengan senyum kedamaian terukir di wajah cantiknya dan terlindung sepenuhnya dalam pelukan hangat seorang ayah dan pengorbanan suci seorang ibu yang selalu menjaganya dari balik bintang-bintang.
Bersambung...