Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.
Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.
Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.
menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Kemenangan Berbau Abu dan Keraguan yang Bungkam
Aula utama Kekaisaran Goblin yang dulunya berdenyut oleh aktivitas evolusi, kini terasa kosong dan mati. Pasukan manusia menyebar ke seluruh penjuru gua dengan pedang terhunus dan perisai yang bersiaga, namun mereka tidak menemukan perlawanan lagi.
Obor-obor magis menerangi dinding batu yang dipenuhi coretan kasar dan noda darah lama. Ruangan itu telah dibersihkan secara sistematis. Batu-batu mana telah diangkut, sisa daging buruan menghilang, dan tidak ada satu pun monster yang tersisa selain tumpukan mayat di lorong depan.
"Bersihkan area! Periksa setiap sudut!" teriak komandan kavaleri.
Khaelar melangkah maju dengan hati-hati. Mata veteran petualang itu menyapu lantai gua. Ia melihat jejak kaki yang terlalu banyak dan terlalu tumpang tindih untuk dihitung, mengarah ke sebuah terowongan runtuh di bagian selatan. Ada tanda-tanda evakuasi besar-besaran.
Jika mereka mengevakuasi sarang ini, mengapa mereka meninggalkan pasukan bunuh diri yang bertarung seolah melindungi raja mereka? batin Khaelar, rasa ganjil mulai merayap di dadanya. Taktik ini terlalu canggih, terlalu manipulatif untuk monster dengan otak primitif.
Tiba-tiba, teriakan seorang prajurit dari ujung lorong timur memecah keheningan.
"Tuan! Yang Mulia Baron! Viscount! Kemari! Kami menemukan ruang tahanan!"
Baron Cass dan Viscount Rejerson, yang pakaian tempurnya masih bersimbah darah raksasa putih tadi, bergegas berlari mendahului prajurit lainnya. Khaelar mengikuti dari belakang dengan perasaan yang semakin tidak enak.
Bau daging hangus dan rambut terbakar menusuk hidung mereka bahkan sebelum mereka mencapai ujung lorong. Di balik jeruji besi berkarat, sebuah sel batu kecil tampak menghitam akibat jilatan api yang belum lama padam. Asap tipis masih mengepul dari lantai jerami yang telah menjadi abu.
Namun, bukan jerami itu yang membuat langkah kedua bangsawan tersebut terhenti kaku.
Di tengah sel, terbaring dua sosok kerangka manusia yang dagingnya telah hangus terbakar hingga menghitam. Wajah mereka hancur, meleleh hingga tidak bisa dikenali sedikit pun. Tulang-tulang kaki dan lengan mereka patah dalam posisi yang mengerikan, menyiratkan penyiksaan brutal sebelum kematian menjemput.
Dan di atas tubuh yang telah menjadi arang itu, menempel sisa-sisa identitas yang menghancurkan dunia kedua bangsawan tersebut.
Pada mayat yang lebih kecil, kain sutra berwarna biru tua yang hanya dipakai oleh penjahit kerajaan di ibu kota menempel pada sisa-sisa tulang rusuknya. Itu adalah gaun Lyra.
Pada mayat yang lebih tinggi, potongan zirah pelat perak dengan ukiran lambang keluarga Cass meleleh dan menyatu dengan tulang selangkanya. Pedang panjang yang patah tergeletak di sampingnya.
Bruk.
Pedang emas terlepas dari genggaman Viscount Rejerson, jatuh berdenting ke lantai batu. Pria paruh baya yang merupakan penguasa mutlak kota perbatasan itu jatuh berlutut. Tangannya gemetar hebat saat ia meraih jeruji besi yang masih panas.
"Tidak... tidak, tidak, tidak..." Viscount Rejerson merintih, suaranya pecah oleh tangisan yang merobek dada. "Lyra... putri kecilku... dewata macam apa yang membiarkan ini..."
Di sebelahnya, Baron Cass berdiri mematung. Wajah kerasnya yang selama ini selalu memancarkan otoritas militer kini pias. Ia mencengkeram jeruji sel hingga buku-buku jarinya memutih, napasnya terputus-putus seolah udara di dalam gua tiba-tiba menghilang. Matanya terpaku pada zirah perak yang menempel di mayat itu.
"Cassvia..." panggil sang Baron lirih. Prajurit terkuatnya, penerus garis darahnya, ksatria kebanggaan yang tak pernah kalah, kini terbaring sebagai seonggok daging hangus di sarang monster rendahan. Air mata mengalir deras dari mata sang ksatria veteran, menembus debu dan noda darah di pipinya.
Sebuah kemenangan yang terasa seperti kekalahan mutlak. Ribuan prajurit, persiapan berhari-hari, darah dan nyawa yang dikorbankan di lorong depan... semuanya sia-sia. Mereka datang terlambat.
Suasana di lorong itu berubah menjadi ladang duka yang sunyi. Para prajurit manusia menundukkan kepala mereka, tak berani menatap wajah hancur para pemimpin mereka.
Khaelar perlahan mendekati sel. Alih-alih larut dalam kesedihan, mata insting pelacaknya menatap tajam ke arah kedua mayat itu. Ia menyelinap masuk melewati celah jeruji yang telah dirusak oleh prajurit.
Khaelar berjongkok di dekat mayat bersutera biru, lalu berpindah ke mayat berzirah perak. Ia mengamati posisi tulang, sisa-sisa abu, dan retakan pada lantai batu. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat ia menemukan kejanggalan-kejanggalan kecil yang tidak masuk akal.
Patahan tulang di kaki ini sangat bersih. Tidak ada tanda-tanda perlawanan atau goresan kuku di lantai batu. Jika mereka disiksa sebelum dibakar, mereka pasti akan meronta. Dan zirah perak ini... posisi lelehannya aneh. Seolah zirah ini dipasangkan saat api sudah menyala, bukan dipakai sejak awal.
Khaelar menelan ludah. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Ini bukan eksekusi. Ini adalah panggung sandiwara.
"My Lords," Khaelar bersuara ragu-ragu, memecah tangisan sang Viscount. "Tolong dengarkan saya. Ada sesuatu yang janggal di sini."
Baron Cass perlahan menoleh, matanya merah menyala penuh amarah dan duka. "Apa maksudmu, Khaelar?"
"Lihatlah postur tulang mereka, Yang Mulia," Khaelar menunjuk ke arah mayat yang dikira Cassvia. "Patahannya terlalu rapi. Dan tidak ada sisa perjuangan di ruangan ini. Pembakaran ini dilakukan secara sengaja untuk menghilangkan jejak wajah. Saya berani bertaruh... ukuran panggul mayat ini sedikit lebih sempit dari Nona Cassvia. Saya ragu ini adalah jasad putri-putri Anda!"
Hening sejenak. Namun, bukannya secercah harapan, justru kemurkaan yang meledak dari Baron Cass.
Sang Baron mencengkeram kerah pelindung dada Khaelar, mengangkat petualang itu hingga kakinya terangkat dari lantai. Urat-urat menonjol di leher sang bangsawan.
"Kau berani memberiku harapan palsu di atas mayat putriku, bajingan?!" raung Baron Cass, suaranya menggema ke seluruh lorong. "Itu zirah peraknya! Itu lambang keluargaku yang meleleh di dadanya! Kau pikir monster bungkuk tak berotak bisa merencanakan hal seperti ini?! Mereka membakarnya karena mereka panik saat kita menyerang!"
"T-Tapi, Yang Mulia... jika Anda mau membawa tabib untuk memeriksa tulangnya—"
"CUKUP!" potong Viscount Rejerson dengan isak tangis yang memilukan. Sang Viscount menatap Khaelar dengan sorot mata hampa. "Anjing bayaran sepertimu tidak akan mengerti rasa kehilangan seorang ayah. Jangan nodai peristirahatan terakhir mereka dengan teori konyolmu. Hama hijau sialan itu telah membunuh mereka. Dan raksasa putih yang kita bunuh di depan sana adalah pelakunya."
Khaelar terdiam. Ia melihat ke arah para komandan militer dan prajurit di sekitar mereka. Semua menatapnya dengan tatapan bermusuhan. Dalam situasi di mana emosi menelan logika, fakta sekecil apa pun tidak akan pernah didengar. Para bangsawan ini butuh penutup, sebuah penutup tragis untuk menyalahkan rasa frustrasi mereka, dan mayat berzirah perak itu telah memberikan jawabannya secara instan.
Khaelar menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa takut yang tiba-tiba meremas jantungnya. Monster bungkuk tak berotak, kata Baron Cass.
Namun, jika teori Khaelar benar, ada entitas di Hutan Misti yang memiliki kecerdasan jauh melampaui manusia. Entitas yang mampu mengorbankan sebagian pasukannya, memalsukan mayat, dan memanipulasi duka bangsawan hanya untuk menghentikan perburuan.
"Kemasi jasad mereka dengan kain sutra terbaik," perintah Baron Cass dengan suara serak, melepaskan cengkeramannya dari Khaelar. "Kita tinggalkan hutan terkutuk ini. Misi selesai."
Malam itu, ribuan pasukan manusia berjalan keluar dari Hutan Misti dengan kepala tertunduk, membawa abu dan kepalsuan menuju peradaban. Tanpa mereka sadari, mereka baru saja memberikan kebebasan mutlak bagi Sang Kaisar Goblin untuk membangun pasukan yang suatu saat nanti akan kembali dan menelan kerajaan mereka.