NovelToon NovelToon
Sang Mafia dan Janji yang Teringkari

Sang Mafia dan Janji yang Teringkari

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Mafia / Berbaikan / Single Mom / Tamat
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: marilu@123

Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.

Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.

Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.

Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.

Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.

Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Diri

Sudut Pandang Dante

Pagi datang terlalu cepat. Aku tak tidur nyenyak. Sebenarnya… nyaris tak tidur sama sekali.

Kotak itu. Foto-foto itu. Pesan itu. Semuanya masih berputar di kepalaku. Berputar. Membebani.

Tapi saat aku turun… suasananya berbeda. Dapur penuh. Riuh. Obrolan. Kehidupan.

Dan dia. Rebecca. Duduk di meja. Mengobrol dengan Clarice. Bersemangat. Ringan. Tersenyum. Seolah tak terjadi apa-apa. Seolah dunia di luar sana tak sedang berusaha menyerbu dunia kami.

Dan sesaat… aku hanya mengamati. Dalam diam. Cara ia bicara. Cara ia tersenyum. Dan betapa mudahnya semua itu… ketika bukan denganku.

Aku mendekat. Duduk. Tanpa berkata apa-apa.

Dan reaksinya seketika. Ia berhenti. Bahkan tak memandangku.

"Permisi," ucapnya. Tenang. Sopan. Tapi berjarak.

Ia bangkit. Lalu pergi. Sesederhana itu. Seolah aku ini… bukan apa-apa.

Aku diam terpaku. Rahang mengeras. Kopi di depanku… tak tersentuh.

"Kau harus minta maaf ke Tante Rebecca."

Suara Heitor datang. Tenang. Tapi langsung.

Aku memandangnya.

"Dia menghindarimu," lanjutnya. "Dan kalau terus begini…" ia mengangkat bahu, "dia takkan pernah mau berada di tempat yang sama denganmu."

Henrique mengangguk. "Sudah parah."

Kuusap wajahku. Menarik napas dalam. "Aku sudah minta maaf," ucapku. Ringkas.

Hening. Total. Selama dua detik. Tiga.

"Kau apa?" Adam memecahnya. Matanya membelalak.

"Minta maaf," ulangku. Tanpa kesabaran. "Semalam."

Henrique menoleh ke Heitor. "Dia minta maaf. Ini beneran?"

Heitor mengernyit. "Ini bersejarah."

Adam meletakkan tangan di dadanya. "Aku belum siap untuk ini. Dante minta maaf? Ada yang rekam."

Ryan terkekeh. "Aku melewatkannya. Sayang sekali."

Dylan melipat tangan. "Kau siapa, dan apa yang kau lakukan pada omku?"

Aku memutar bola mata. "Kalian sudah selesai?"

"Nggak akan pernah," jawab Adam cepat. "Ini hiburan."

Aku mengabaikannya. Tapi jauh di dalam… hal itu mengganggu. Karena aku tahu. Tak ada gunanya. Sama sekali. Ia tetap menghindariku. Seolah permintaan maafku tak berarti apa-apa. Atau… seolah itu tak cukup.

Heitor menatapku lagi. Kini lebih serius. "Kalau begitu, coba lagi."

Aku mengernyit. "Tidak. Aku sudah melakukan bagianku."

Ia menggeleng pelan. "Belum. Kau baru melakukan yang paling minimal."

Kalimat itu mengena. Lebih dari yang ingin kuakui.

"Dia tak seperti kami," lanjutnya. "Kau tak bisa cuma bicara lalu menganggap masalah selesai."

Hening.

"Kau harus membuktikannya."

Henrique mengangguk. "Iya. Karena soal bicara, kau memang jago. Tapi soal bertindak…" ia meringis, "kau masih nunggak."

Adam tertawa. "Mereka lagi ngajarin sang mafia. Aku rela bayar buat lihat ini."

Aku menarik napas dalam. Pelan. Mengendalikan diri. Tapi aku tak membalas. Karena, untuk pertama kalinya… aku mempertimbangkannya.

Mungkin… aku memang salah selama ini.

Kupandang ke arah tangga. Tempat ia tadi naik. Dan satu hal menjadi jelas. Kalau aku tak mengubah sesuatu… aku akan tetap sendirian. Meski rumah ini penuh.

Dan itu… tak ada dalam rencanaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!