NovelToon NovelToon
My Idol Is My Desktop Shortcut

My Idol Is My Desktop Shortcut

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:347
Nilai: 5
Nama Author: TCN_Luna

Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.

Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Tragedi Kerja Kelompok

Setelah insiden semprotan maut dari Naya di jam istirahat tadi, Rendra bersumpah dalam hati untuk menjaga jarak aman. Dia tidak mau dicap sebagai cowok pengganggu yang bikin pawang mentalnya risih di dunia nyata. Namun, sepertinya semesta punya cara sendiri untuk menguji kekuatan benteng pertahanan sang pangeran sekolah.

"Anak-anak, kembali ke tempat duduk masing-masing sekarang," instruksi Bu Retno begitu masuk ke kelas untuk jam pelajaran kedua. "Hari ini kita ada tugas kelompok untuk membuat analisis teks eksplanasi. Anggotanya empat orang, dan biar adil, Ibu yang bagi berdasarkan kocokan absen."

Seisi kelas langsung mengeluh kompak dengan suara riuh.

"Yah, Bu... kok dikocok sih? Nanti saya dapet kelompok yang isinya beban semua!" protes Aldi dengan suara lantang.

"Diam kamu, Aldi. Protes lagi, Ibu kasih kamu tugas individu analisis satu buku tebal," ancam Bu Retno yang sukses membuat Aldi langsung bungkam dan pura-pura batuk demi keselamatan nilainya.

Rendra duduk dengan tenang, menopang dagunya dengan tangan kiri. Wajah blasterannya sedatar keramik rumah sakit, padahal batinnya sudah mulai ketar-ketir parah. “Tuhan, tolong jangan satukan gue sama cewek-cewek heboh yang hobi teriak ga jelas. Gue bisa mati kehabisan oksigen kalau harus nyari topik obrolan di dunia nyata.”

Bu Retno mulai menyebutkan nama-nama kelompok. Satu per satu murid bergeser membawa kursi mereka. Hingga akhirnya, nama Rendra dipanggil.

"Kelompok lima... Rendra Adijaya, Aldi Pratama, Sita Amelia..." Bu Retno menjeda kalimatnya untuk mengambil lintingan kertas terakhir dari dalam toples plastik. "...dan Kanaya Putri."

DEGG.

Jantung Rendra mendadak berhenti berdetak selama beberapa detik penuh. Matanya yang tajam sedikit melebar. Di balik dadanya, jiwanya langsung menggelar konser musik cadas dengan double pedal drum yang bertalu-talu tanpa ampun.

“Gue... sekelompok sama Naya? Sama Nightmare?! Tuhan, ini ujian atau rezeki nomplok?!” batin Rendra menjerit histeris sampai rasanya mau pingsan di tempat.

"Wih, Ren! Kita sekelompok lagi, Bro! Mantap lah, tugas gue aman ada lo yang ngerjain," Aldi langsung bersorak heboh sambil menyeret kursinya mendekati meja Rendra dengan suara berdecit nyaring.

Sita, cewek berambut dikuncir kuda yang terkenal pintar tapi agak pemalu, juga ikut mendekat dengan senyum manis yang canggung. "Hai Rendra, hai Aldi. Mohon bantuannya ya untuk tugas kali ini."

Rendra hanya mengangguk sekali tanpa ekspresi wajah sama sekali. "Ya," jawabnya pendek, mencoba sekuat tenaga menekan getaran cemas di suaranya agar tetap terdengar berat dan cool.

Lalu, terdengar suara derap langkah kaki yang diseret dengan sangat malas dari arah belakang kelas. Naya berjalan mendekati meja mereka sambil membawa kursi kayunya dengan santai. Dia meletakkan kursi itu tepat di sebelah meja Rendra dengan bunyi BRAK yang agak kasar, lalu langsung duduk sambil menopang dagu.

Naya melirik Rendra dengan tatapan malas yang sangat kentara. “Elah, kenapa harus sekelompok sama pangeran setrikaan ini sih? Awas aja kalau dia caper bolak-balik lagi kayak tadi siang,” batin Naya mendengus kesal di dalam hatinya.

"Oke, karena semua sudah berkumpul, silakan diskusikan pembagian tugasnya," teriak Bu Retno dari depan kelas sebelum sibuk memainkan ponselnya sendiri.

Atmosfer di meja kelompok lima mendadak canggung luar biasa. Sita terlihat agak ragu untuk memulai pembicaraan karena aura Rendra yang terlampau dingin dan menusuk. Sementara Aldi malah asyik coret-coret kertas binder tanpa dosa.

"Ehem... jadi, siapa yang mau jadi ketua kelompoknya? Dan pembagian materinya gimana?" tanya Sita memecah keheningan dengan suara pelan.

"Rendra aja lah yang jadi ketua, dia kan otaknya encer. Gue bagian nge-print atau jilid aja pas udah jadi," potong Aldi tanpa tahu malu, langsung melempar beban.

Rendra tidak menjawab celotehan Aldi. Dia berniat mengambil pulpen gel hitamnya dari atas meja untuk menulis pembagian materi kelompok. Namun, karena fokus otaknya terpecah seratus persen akibat keberadaan Naya yang duduk tepat di sebelahnya, koordinasi motorik tangan Rendra mendadak mengalami error sistem.

Takk.

Jemari Rendra malah menyenggol pulpen tersebut hingga menggelinding melewati tepi meja, jatuh ke lantai, dan berhenti tepat di bawah sepatu milik Naya.

Rendra langsung membeku di tempat. Tubuhnya mendadak tremor ringan. Sisi anxious-nya bergejolak hebat. “Sial, pulpen gue kenapa harus jatuh ke sana?! Duh, gue harus ngambil ga ya? Kalau gue nunduk, nanti muka gue kedeketan sama kakinya! Tapi kalau ga diambil, gue ga bisa nulis!” batin Rendra berteriak lebay, mukanya menegang hebat menahan panik.

Naya yang melihat pulpen itu berhenti di dekat sepatunya hanya bisa menghela napas panjang. Dia menatap Rendra yang duduk kaku seperti manekin berkarat dengan pandangan heran. “Ini anak kenapa lagi sih? Cuma pulpen jatuh doang mukanya kayak lagi ngeliat bom waktu mau meledak. Tegang bener tuh rahang,” batin Naya heran campur risih.

Naya akhirnya membungkuk, memungut pulpen hitam itu dengan gerakan santai, lalu menyodorkannya ke arah Rendra.

"Nih, pulpen lo. Pegang yang bener, makanya. Gak usah gemeteran gitu kayak orang belum makan tiga hari," ceplos Naya tanpa sensor, suaranya terdengar sangat sarkas di depan anggota kelompok yang lain.

Rendra mendongak, menatap pulpen yang disodorkan Naya. Pandangan mereka bertemu selama beberapa detik. Rendra bisa mencium aroma samar permen karet stroberi dari arah cewek itu. Saat tangan Rendra terjulur untuk menerima pulpen tersebut, jari-jari mereka tidak sengaja bersentuhan selama satu detik penuh. Kulit mereka bergesekan tipis.

DEG!

Detik itu juga, kembang api raksasa seolah meledak di dalam tempurung kepala Rendra. Sisi obsesif akutnya langsung mengambil alih kesadaran penuh. Seluruh sel tubuhnya mendadak merinding disko.

“OH MY GOD! Tangan gue... disentuh sama Naya! Disentuh sama Tuhan/Matahari gue! Kulitnya halus banget gila! Ini pulpen bekas dipegang Naya ga akan pernah gue cuci seumur hidup! Bakal gue museumkan di dalam lemari kaca khusus di kamar gue! Nayaaa... lo beneran pawang mental gue di dunia nyata dan gaib!” jerit Rendra dalam hati dengan tingkat kebucinan yang sudah masuk tahap sakit jiwa dan hiperbola akut. Batinnya sudah sujud syukur seribu kali, meskipun wajah luarnya tetap sedatar tembok semen tanpa ekspresi.

Rendra menarik pulpen itu dengan cepat, menekan getaran tangannya sekuat tenaga agar tidak terlihat semakin memalukan di depan publik.

"Thanks," ucap Rendra dengan suara yang sengaja ditekan sedalam, seberat, dan sedingin mungkin, mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga diri pangeran sekolahnya yang sudah hancur lebur di dalam batin.

Naya hanya mendengus pelan, lalu kembali bersandar di sandaran kursinya sambil melipat tangan di dada dengan gaya angkuh. "Ya udah, buruan bagi tugasnya. Gue bagian nyari contoh teksnya aja di internet pakai HP. Jangan kasih gue bagian nulis narasi panjang yang puitis-puitis. Males gue mikir kayak gituan."

Rendra tertegun sesaat, menatap pulpen hitam di tangannya yang sekarang terasa seperti benda keramat berenergi magis. Kalimat Naya barusan... sangat identik dengan ucapan Nightmare di Discord yang selalu bilang kalau dia malas mikir narasi panjang berbunga-bunga.

Rendra segera menundukkan kepalanya, pura-pura fokus menatap buku catatan untuk menyembunyikan seulas senyum obsesif yang mendadak terukir tipis di bibirnya. Tatapan matanya berkilat penuh tekad.

“Ternyata lo emang ga pernah berubah, Nay. Baik di internet maupun di dunia nyata, lo tetep jadi satu-satunya cewek yang bisa bikin mental gue berantakan sekaligus bahagia dalam waktu bersamaan. Lo ga akan pernah bisa lepas dari gue setelah ini,” tekad Rendra dalam hati dengan penuh obsesi, sambil mulai menulis pembagian tugas dengan jemari yang pelan-pelan kembali stabil.

Tragedi kerja kelompok ini mungkin terasa menyiksa bagi sisi anxious Rendra, tapi bagi sisi obsesifnya, sentuhan satu detik tadi adalah awal dari kemenangan besar yang tiada tara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!