NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Sang Mayor

Istri Pilihan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:38.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.

Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.

Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.

Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.

Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.

Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang mempertemukan dua takdir

Waktu berlalu begitu cepat, seolah tidak memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk menghentikan langkahnya.

Satu minggu telah berlalu sejak Latifah mengetahui bahwa dirinya akan dipertemukan dengan seorang pria berstatus duda yang memiliki seorang anak. Sejak malam itu, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ada kalanya ia merasa pasrah, tetapi tidak jarang pula kecemasan kembali menghampirinya, terutama ketika membayangkan kehidupan baru yang mungkin akan segera dijalaninya.

Sementara itu, di Jakarta, Mayor TNI Abimanyu Wicaksono masih disibukkan dengan tugas-tugas kedinasannya di Mabesad. Jadwal yang padat membuatnya hampir tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal lain di luar pekerjaannya dan putri kecilnya.

Namun, satu hal yang tidak bisa lagi ia tunda adalah pertemuan keluarga yang telah disepakati bersama ibunya.

Pertemuan perjodohan yang sempat tertunda selama bertahun-tahun itu akhirnya akan dilaksanakan pada keesokan hari, tepat pukul sembilan pagi, di kediaman Ustaz Malik di kawasan Lembang, Bandung.

Dan yang lebih membuat Bima tidak bisa bersantai adalah kenyataan bahwa ibunya sudah berangkat lebih dahulu.

Sore itu, di sebuah rumah besar bergaya klasik yang dikelilingi taman hijau di kawasan Lembang, Bu Almira baru saja turun dari mobil yang membawanya dari Jakarta.

Udara pegunungan yang sejuk langsung menyambut kedatangannya. Pepohonan tinggi bergoyang perlahan diterpa angin, sementara kabut tipis mulai terlihat di kejauhan, menyelimuti perbukitan yang mengelilingi kawasan tersebut.

"Assalamu'alaikum!"

"Wa'alaikumsalam!"

Seorang pria paruh baya dengan wajah ramah segera keluar dari rumah untuk menyambut kedatangannya. Dialah Ustaz Malik, adik kandung almarhum Pak Ibnu yang telah lama menjalin hubungan kekeluargaan dengan keluarga Ustaz Umar.

Di sampingnya berdiri sang istri, Umi Azizah, yang juga tersenyum lebar melihat kedatangan Bu Almira.

"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga, Almira!" sambut Ustaz Malik hangat. "Bagaimana perjalanan dari Jakarta? Tidak terlalu melelahkan, kan?"

Bu Almira tersenyum sembari menyalami Ustaz Malik dan Umi Azizah.

"Alhamdulillah, lancar, Ustaz. Hanya saja, perjalanan tadi lumayan padat. Tapi begitu sampai di sini, rasanya langsung segar lagi. Udara Lembang memang selalu membuat hati tenang."

Umi Azizah tertawa kecil.

"Betul sekali. Apalagi kalau malam sudah tiba, dinginnya bisa membuat kita tidak ingin keluar dari selimut."

"Kalau begitu, saya harus menyiapkan selimut tebal malam ini," sahut Bu Almira sambil terkekeh.

Ketiganya tertawa ringan sebelum Ustaz Malik mempersilakan Bu Almira masuk ke rumah.

"Silakan masuk. Kami sudah menyiapkan kamar untuk Almira. Anggap saja rumah sendiri."

"Terima kasih banyak, Ustaz. Maaf merepotkan."

"Ah, tidak ada yang perlu dimaafkan. Kita ini keluarga."

Kata-kata sederhana itu membuat senyum Bu Almira sedikit meredup. Ada kerinduan yang kembali menyelinap ke dalam hatinya setiap kali mendengar kata keluarga.

Sudah empat tahun lamanya ia tidak melihat Abimanyu berada di tengah-tengah keluarga besarnya. Selama itu pula, putranya menjalankan tugas di Lebanon, jauh dari tanah air dan orang-orang yang menyayanginya.

Meskipun komunikasi tetap terjalin, tidak ada yang bisa menggantikan kehadiran seorang anak di hadapan ibunya.

Kini, setelah Bima kembali ke Indonesia, Bu Almira berharap putranya benar-benar bisa membangun kehidupan baru. Bukan hanya demi dirinya sendiri, tetapi juga demi Kaning yang semakin besar dan membutuhkan kasih sayang dari sosok seorang ibu.

"Besok Bima jadi datang, kan?" tanya Ustaz Malik sambil duduk di ruang keluarga.

"Insyaallah jadi, Ustaz. Tadi pagi dia mengabari saya bahwa pekerjaannya masih cukup padat."

"Alhamdulillah." Ustaz Malik mengangguk lega. "Sudah lama sekali kami tidak bertemu dengannya. Terakhir kali melihat Bima, dia masih sangat muda. Sekarang sudah menjadi seorang mayor dan ayah dari seorang putri cantik."

Bu Almira tersenyum bangga.

"Alhamdulillah. Semoga besok semuanya berjalan lancar."

"Aamiin," jawab Umi Azizah.

Di balik senyumnya, Bu Almira menyimpan harapan besar. Ia berharap pertemuan esok hari bukan hanya menjadi akhir dari penantian panjang kedua keluarga, tetapi juga awal bagi Bima untuk menemukan kebahagiaan yang baru.

Sementara itu, di kamar tamu yang disediakan untuknya, Kaning sedang duduk di dekat jendela sambil memandangi pemandangan hijau di luar rumah.

Bocah kecil itu terlihat begitu antusias. Sejak berangkat dari Jakarta, ia tidak berhenti bertanya tentang Lembang kepada neneknya.

"Nenek, besok kita bisa jalan-jalan melihat gunung, tidak?"

Bu Almira yang sedang merapikan beberapa pakaian di dalam lemari tersenyum.

"Bisa saja, Sayang. Tapi kita lihat dulu cuacanya, ya. Kalau terlalu dingin, Kaning harus memakai jaket."

Kaning mengangguk cepat.

"Kaning sudah membawa jaket tebal, Nek!"

"Oh, begitu? Wah, cucu Nenek sudah pintar mempersiapkan diri."

Kaning tertawa senang, lalu kembali melihat ke luar jendela.

Namun, beberapa saat kemudian, ekspresi wajahnya berubah. Ia menoleh kepada sang nenek dengan tatapan penuh harap.

"Nenek, besok Bu Latifah datang juga, kan?"

Tangan Bu Almira yang sedang melipat pakaian seketika berhenti.

Ia menoleh, lalu tersenyum lembut.

"Insyaallah, Sayang. Besok keluarga Bu Latifah akan datang ke rumah Ustaz Malik."

Mata Kaning langsung berbinar.

"Benarkah, Nek?"

"Iya."

"Yeay!" Kaning berseru gembira sambil bertepuk tangan. "Kaning bisa bertemu Bu Latifah lagi!"

Ia segera berlari kecil menuju tempat tidurnya, lalu mengambil boneka kesayangannya.

"Nanti Kaning mau peluk Bu Latifah lama sekali! Kaning kangen banget sama Bu Latifah."

Bu Almira memperhatikan tingkah cucunya dengan hati terharu.

Sejak meninggalkan Darussalam, Kaning memang tidak pernah berhenti menyebut nama Latifah. Bahkan, hampir setiap hari ada saja cerita tentang guru mengajinya itu yang disampaikan kepada Bima.

Dan yang paling sering Kaning katakan adalah bahwa ia ingin Bu Latifah menjadi bundanya.

Bu Almira duduk di samping cucunya, kemudian membelai rambutnya.

"Kaning senang sekali bertemu Bu Latifah?"

Kaning mengangguk penuh semangat.

"Senang sekali, Nek! Kaning ingin Bu Latifah tinggal bersama Kaning. Jadi, setiap hari Kaning bisa mengaji sama Bu Latifah dan memeluknya sebelum tidur."

Bu Almira terdiam sesaat. Hatinya menghangat mendengar kepolosan cucunya. Namun, pada saat yang sama, ia juga menyadari bahwa keinginan seorang anak kecil tidak bisa dijadikan satu-satunya alasan untuk menjalani sebuah pernikahan.

Bima dan Latifah tetap harus saling mengenal. Mereka harus menemukan kesiapan di dalam hati masing-masing.

Meski begitu, diam-diam Bu Almira berharap bahwa keinginan Kaning bukan sekadar harapan seorang anak yang merindukan ibunya.

Barangkali, Allah memang sedang menunjukkan sebuah jalan yang selama ini tidak mereka sadari.

"Kalau begitu, besok Kaning harus bersikap sopan, ya. Jangan lupa salim kepada Abi Umar dan Umi Aisyah."

"Siap, Nenek!"

Kaning mengangkat tangannya seperti seorang prajurit kecil.

Bu Almira tertawa gemas, lalu mengecup kening cucunya.

"Anak pintar."

Malam itu, Kaning tidur dengan hati gembira. Ia bahkan sempat membayangkan bagaimana dirinya akan berlari memeluk Latifah ketika perempuan itu datang ke rumah Ustaz Malik keesokan harinya.

Ia tidak tahu bahwa pertemuan esok pagi akan menjadi salah satu momen paling penting dalam kehidupan ayahnya.

*

*

Di tempat lain, di kediaman keluarga Ustaz Umar di Desa Sukomakmur, Latifah baru saja selesai mengemasi beberapa barang yang akan dibawanya ke Bandung.

Sebuah tas berukuran sedang terletak di atas ranjang. Isinya hanya beberapa helai pakaian, perlengkapan pribadi, dan mukena yang biasa ia gunakan untuk salat.

Meski barang yang dibawanya tidak banyak, pikirannya terasa begitu penuh.

Latifah duduk di tepi ranjang sambil memandangi tas tersebut.

Besok pagi, ia akan duduk berhadapan dengan seorang pria yang telah dipilihkan oleh kedua orang tuanya. Seorang duda yang memiliki seorang anak.

Ia belum tahu namanya.Belum tahu bagaimana wajahnya. Belum tahu seperti apa kehidupannya.

Dan yang paling membuatnya gelisah, ia belum tahu apakah dirinya mampu menerima pria itu sebagai pendamping hidupnya.

"Ya Allah, kuatkan hati hamba Mu ini," bisiknya.

Ketukan pintu membuyarkan lamunannya.

"Assalamu'alaikum, Ifah. Sudah siap, Nak?" terdengar suara Umi Aisyah dari luar.

"Wa'alaikumsalam. Iya, Umi. Sebentar."

Latifah bangkit dan membuka pintu. Umi Aisyah berdiri di hadapannya dengan sebuah jaket tebal di tangan.

"Ini, bawa jaketmu. Udara di Lembang dingin, apalagi malam hari."

Latifah menerima jaket itu.

"Terima kasih, Umi."

Umi Aisyah mengamati wajah putrinya yang tampak pucat karena terlalu banyak berpikir.

"Masih cemas?"

Latifah tersenyum tipis, tetapi tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.

"Sedikit, Umi."

"Sedikit?" Umi Aisyah mengangkat alisnya dengan senyum kecil. "Dari tadi kamu melamun terus. Umi tahu kamu sedang memikirkan pertemuan besok."

Latifah menunduk.

"Iya, Umi."

Umi Aisyah kemudian menggenggam kedua tangan putrinya.

"Ifah, dengarkan Umi. Besok kamu tidak perlu memaksakan diri untuk terlihat sempurna. Jadilah dirimu sendiri. Berbicaralah dengan sopan, dengarkan apa yang ingin dia sampaikan, dan jangan takut mengungkapkan isi hatimu."

"Tapi, bagaimana kalau dia tidak menyukai Ifah, Mi?"

"Kalau memang tidak ada kecocokan, kalian bisa membicarakannya dengan baik. Pernikahan bukan sekadar memenuhi keinginan keluarga, Sayang. Kalian berdua yang nantinya akan menjalani kehidupan itu."

Latifah menatap ibunya.

"Jadi, Ifah boleh mengatakan kalau Ifah belum siap?"

"Tentu saja. Tapi Umi berharap kamu tidak mengambil kesimpulan sebelum benar-benar mengenalnya."

Latifah mengangguk pelan.

"Baik, Umi."

Umi Aisyah mengusap pipinya dengan lembut.

"Serahkan semuanya kepada Allah. Kita berusaha, berdoa, lalu bertawakal. Apa pun yang terjadi besok, semoga itu menjadi jalan terbaik bagi hidupmu."

Latifah memeluk ibunya erat.

"Aamiin."

Tak lama kemudian, Ustaz Umar memanggil mereka dari ruang depan. Mobil yang akan membawa keluarga mereka menuju Bandung sudah siap.

Malam mulai turun ketika Latifah bersama Abi Umar, Umi Aisyah, serta beberapa saudara dan kerabat berangkat melalui jalur darat.

Di sepanjang perjalanan, Latifah lebih banyak diam. Sesekali ia memandangi lampu-lampu kendaraan yang melintas dari balik jendela.

Ia berusaha menenangkan pikirannya dengan berzikir pelan.

Perjalanan malam itu berlangsung cukup panjang. Udara semakin dingin ketika kendaraan mereka mulai memasuki kawasan jalan tol menuju arah Bandung dan kemudian bergerak menuju Lembang.

*

*

Pagi menyelimuti kawasan Lembang dengan udara yang sejuk. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan, sementara embun terlihat menempel di dedaunan taman.

Kediaman Ustaz Malik sudah mulai ramai sejak pagi.

Beberapa anggota keluarga datang membawa makanan dan hidangan untuk menyambut para tamu. Sebagian lainnya sibuk menata ruang tamu, memastikan kursi-kursi tersusun rapi, serta menyiapkan minuman hangat untuk keluarga yang akan hadir.

Hari itu bukan sekadar hari pertemuan perjodohan.

Bagi keluarga besar almarhum Pak Ibnu, hari itu juga merupakan momen yang sangat mereka nantikan: berkumpul kembali bersama Abimanyu Wicaksono, sosok yang telah empat tahun tidak mereka jumpai secara langsung karena menjalankan tugas di Lebanon.

"Rasanya seperti menunggu kepulangan anak sendiri," ujar salah seorang kerabat sambil membantu menata meja.

Ustaz Malik tersenyum mendengarnya.

"Memang begitu. Bima itu sudah seperti anak bagi kami. Sejak Pak Ibnu masih hidup, kami semua dekat dengannya. Semoga setelah kembali ke Indonesia, dia bisa lebih sering berkumpul bersama keluarga."

Umi Azizah yang sedang membawa nampan berisi cangkir teh ikut mengangguk.

"Alhamdulillah, akhirnya dia bisa pulang. Kasihan juga Bu Almira selama ini harus menahan rindu."

"Betul," sahut Ustaz Malik. "Semoga hari ini menjadi hari yang baik bagi semuanya."

Di ruang keluarga, Bu Almira sudah mengenakan pakaian yang rapi. Sesekali ia memeriksa ponselnya, menunggu kabar dari putranya.

Namun, sampai pukul tujuh lewat tiga puluh menit, Bima belum juga tiba.

Bu Almira menghela napas.

"Ke mana anak itu? Katanya akan berangkat pagi-pagi."

Ustaz Malik yang baru saja masuk ke ruang keluarga tersenyum maklum.

"Sabar, Almira. Mungkin masih ada urusan dinas yang harus diselesaikannya."

"Justru itu, Ustaz. Saya khawatir dia terlambat. Pertemuan ini sudah dijadwalkan pukul sembilan."

Bu Almira kembali memandangi layar ponselnya.

Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk dari Bima.

Bu, maaf. Dinas Bima baru saja selesai. Bima sedang dalam perjalanan menuju Bandung. Mohon doanya supaya Bima bisa tiba tepat waktu.

Bu Almira segera membalas pesan tersebut.

Hati-hati di jalan. Jangan terburu-buru sampai membahayakan diri sendiri. Kami tunggu di sini.

Setelah mengirimkan pesan, ia menyimpan ponselnya.

Meskipun khawatir, Bu Almira merasa lega karena putranya tetap berusaha datang meski pekerjaannya belum benar-benar memberikan waktu luang.

Di kamar lain, Kaning sudah bangun sejak pagi. Bocah itu bahkan meminta neneknya membantu memilihkan pakaian yang paling bagus agar dirinya terlihat cantik ketika bertemu Latifah.

"Nenek, baju ini bagus tidak?"

Kaning berdiri di depan cermin mengenakan gaun kecil berwarna merah muda.

Bu Almira tersenyum.

"Bagus sekali. Kaning terlihat cantik."

"Bu Latifah suka warna merah muda, kan, Nek?"

"Sepertinya begitu."

Kaning tersenyum lebar.

"Kalau begitu, Kaning mau pakai ini!"

Ia kemudian berputar kecil di depan cermin, begitu gembira membayangkan pertemuannya dengan Latifah.

Bagi Kaning, hari itu adalah hari yang istimewa karena ia akan kembali bertemu dengan seseorang yang telah lama dirindukannya.

Bersambung...

1
Nar Sih
wah...cerita mayor abimanyu dan bu latifah bnr,,bagus kak 👍🥰🥰🥰
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terima kasih banyak kak 🙏🤭☺️
total 1 replies
Nar Sih
ciuman yg pertama buat latifah dari pak suami ,semoga jdi awal yg lebih indah untuk rmh tngga kalian kedepan nya☺️🥰
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin 🤭
total 1 replies
Nar Sih
menyesali yg sdh terjdi gk berguna lgi ustaz ,jadikan latifah msa lalu mu slh kmu juga gk kasih kepastian jdi klau latifah milik org lain yg gk slh kan
Nar Sih
semagat pk bima tenang kan istri mu biar gk sedih mikirin ustaz firman lgi
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk
total 1 replies
Teh Euis Tea
msh blm eng ing eng ini sih, blm bisa ngintip 🤭🤭🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: belom kak, sabar...step by step 🤣🤣🤣
total 1 replies
Teh Euis Tea
nyesel jg percuma ustad firman Bu Ifah udah nikah, mending km ta'aruf sm aku aj yu 🤭🤭🤭🤭🤭
Teh Euis Tea: hahaha
total 4 replies
Ghiffari Zaka
ah AQ merem aja lah....pura2 gak tau🤭🤭🤭,semangat bima....semoga tambah mesra🥰🥰🥰🥰
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
Ghiffari Zaka
haaaah.....( buang nafas) ....🤭🤭
lanjut aja lah Thor.....
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Oalah 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ghiffari Zaka
udah lah Ifah...gak usah di kenang dan jadi beban fikiran,lepaskan dan ikhlaskan,apa km gak kasihan pada kaning jg bima?kan mereka ud cukup sayang sm km banget malah,lupakan aja.....
Sastri Dalila
🤭🤭🤭
Sastri Dalila
😅😅
Sastri Dalila
👍👍
Ghiffari Zaka
Alhamdulillah....Latifah bs tegas dan bs menempatkan dirinya pada t4 yg tepat,syukur lah semoga semua bs dia jalani bersama keluarga kecilnya dengan sunggu2 agar bahagia🥰🥰🥰
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin ☺️
total 1 replies
Ghiffari Zaka
aaah...baper aq🤭🤭🤭,semoga secepatnya tumbuh rasa cinta di hati mereka berdua dan cepat bucin tentunya😂😂😂😂
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siap kak 🤗
total 1 replies
Atik Kiswati
di akhir part udah ada perubahan walau msh kcl.....
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul akak 🤭
total 1 replies
Teh Euis Tea
1 vote untuk karya kak eli
Teh Euis Tea: sama2 kak eli
total 2 replies
Teh Euis Tea
menyesal ya ustad firman lagian kenapa km menggantung perasaan orang, ga ada kepastian jngn salahkan Latifah klu milih yg lain
Ghiffari Zaka
ehem.....tanda tanda ini🤭🤭🤭
lanjut lah Thor ..mkn seru ni🥰🥰🥰
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Dua Putri
biasa 4 bab kk ini 2
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sabar ya kak, insyaallah setelah Bab 40 aku kebut lagi 🤗
total 1 replies
Atik Kiswati
nyesek bgt.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!