Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Sang Penguasa dan Undangan Berdarah
Jet pribadi jenis Gulfstream G650 tanpa logo negara maupun maskapai membelah awan hitam di atas langit Jakarta. Di dalam kabin serba hitam yang mewah namun dingin itu, suara denting es batu dalam gelas kristal menjadi satu-satunya suara yang terdengar.
Xander von Hapsburg—pria berambut perak dengan mata biru tajam bak mata elang—menatap peta navigasi digital di mejanya. Di usianya yang menjejak empat puluh lima tahun, aura kepemimpinannya tidak berkurang sedikit pun. Ia adalah Dominus Umbrae, pria yang dalam satu jentikan jari sanggup melumpuhkan bursa saham benua Eropa. Namun malam ini, tangannya yang dipenuhi bekas luka pertempuran masa lalu tampak bergetar pelan saat mengelus sebuah foto kusam yang ia simpan di balik dompetnya: foto Diana, cinta sejati dalam hidupnya, yang tersenyum manis di bawah pohon sakura belasan tahun lalu.
"Tuan," ujar pengawal pribadinya, seorang wanita keturunan Skotlandia berotot baja bernama Freya, melangkah mendekat dengan nada penuh hormat. "Helikopter kita dari bandara Halim sudah bersiap. Menurut laporan intelijen lapangan, Nyonya Tania dan Nona Dea saat ini aman berada di markas rahasia Mawar Hitam di pinggiran Bogor."
Xander memejamkan matanya, menghela napas berat yang sarat dengan penyesalan belasan tahun. "Bagaimana kondisi putriku, Freya?"
"Nona Dea selamat, Tuan. Namun... rasa penderitaan yang ia alami di bawah siksaan Baskoro dan keluarganya selama ini... sangat mendalam," jawab Freya ragu-ragu. "Baskoro Adhitama saat ini ditahan di tahanan isolasi Mabes Polri, sementara Paman dan Bibinya melarikan diri ke luar kota."
Xander membuka matanya. Warna birunya seketika berubah menjadi lebih gelap, memancarkan hawa membunuh yang begitu pekat hingga membuat temperatur di dalam kabin terasa anjlok beberapa derajat.
"Baskoro mengira penjara polisi bisa melindunginya dari murkaku?" desis Xander, suaranya pelan namun mengandung janji kematian yang mutlak. "Beri perintah pada jaringan kita di Jakarta. Buat keluarga Hendra merangkak kembali ke kota ini dalam waktu dua puluh empat jam. Aku ingin mereka semua menyaksikan bagaimana aku meratakan segala sesuatu yang pernah mereka banggakan."
Sementara itu, di sebuah vila tersembunyi yang dikelilingi hutan pinus rindang di kawasan Puncak, Bogor, Dea duduk di tepi ranjang. Di sampingnya, Tania sedang sibuk mengobati luka memar di lengan Dea dengan ramuan herbal tradisional.
Meskipun kebenaran tentang Baskoro telah terungkap dan pria jahat itu telah diringkus, hati Dea tidak lantas merasa tenang. Pengakuan bahwa ayah kandungnya adalah seorang penguasa dunia bawah tanah yang misterius justru mendatangkan ketakutan baru. Siapa pria itu? Mengapa ia meninggalkan ibunya dalam penderitaan jika ia memiliki kekuasaan begitu besar? Apakah Dea hanyalah beban baru bagi pria asing itu?
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Dea," tegur Tania lembut, seolah sanggup membaca gulana di dalam dada keponakannya. "Ibumu tidak pernah membenci ayahmu. Sebelum ibumu meninggal, dia sering duduk di balkon sambil memegang jam saku yang sama. Matanya selalu memancarkan kerinduan, bukan dendam."
"Tapi kenapa dia baru muncul sekarang, Bu?" bisik Dea, air matanya kembali menggenang di pelupuk mata. Rasa greget dan sesak bercampur aduk di dadanya. "Kenapa dia biarkan Ibu Diana menderita diracuni? Kenapa dia biarkan aku disiksa oleh Paman Hendra dan Bibi Rika selama bertahun-tahun? Ke mana dia saat aku kelaparan di jalanan?!"
Tania menghentikan usahanya mengobati Dea. Ia merengkuh tubuh gadis remaja yang gemetar itu ke dalam pelukannya. Tania mengerti betul kemarahan Dea. Sebagai seorang anak yang tumbuh tanpa tahu siapa orang tua kandungnya, Tania paham betapa perihnya merasa dibuang oleh dunia.
Tiba-tiba, suara sirine peringatan di luar vila meraung nyaring!
BZZZZT! BZZZZT!
Dirga menerobos masuk ke dalam kamar dengan pistol terkokang di tangannya. Wajah sang eksekutor veteran yang biasanya tenang kini dipenuhi keringat dingin.
"Tania! Dea! Berlindung di belakangku!" bentak Dirga cepat. "Empat belas helikopter tanpa identitas baru saja mengepung wilayah udara vila ini! Seluruh sistem radar dan pemancar sinyal kita dilumpuhkan total!"
Jantung Dea berdegup kencang secara liar. Apakah Teratai Merah datang untuk menghabisi mereka? Atau pengikut Baskoro yang hendak membalas dendam?
Tania bangkit berdiri, memasang kuda-kuda Silat Harimau dengan mata menajam tajam. Ia mengambil dua buah pisau lempar dari balik selimut dan siap bertempur hingga titik darah penghabisan demi melindungi Dea.
Pintu depan vila tebal yang terbuat dari kayu jati berderak keras, lalu terdorong terbuka tanpa ada ledakan. Pasukan berpakaian serba hitam dengan perisai taktis dan senjata canggih berdatangan masuk, membentuk dua barisan rapi yang membelah ruang tengah vila. Gerakan mereka begitu presisi, menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar tentara bayaran, melainkan prajurit elite kelas dunia.
Di tengah barisan prajurit yang menunduk hormat itu, seorang pria berambut perak melangkah masuk secara perlahan. Sepatu kulitnya menghantam lantai kayu dengan ritme yang lambat namun berat.
Xander von Hapsburg berdiri di dalam ruang tengah vila sederhana itu. Matanya menyapu ruangan, melewati Dirga yang menatapnya dengan keterkejutan mutlak, melewati Tania yang memasang kuda-kuda tempur, dan akhirnya... mengunci pandangannya pada sosok gadis remaja yang berdiri gemetar di belakang Tania.
Mata biru Xander bertabrakan dengan mata Dea. Untuk pertama kalinya, Dea melihat wajah pria itu dari dekat. Hidungnya, bentuk bibirnya, dan sorot matanya... sangat mirip dengan garis wajah yang selalu Dea lihat di cermin setiap pagi. Pria ini tanpa diragukan lagi adalah ayah kandungnya.
Ruangan itu seketika menjadi hening total. Hanya ada suara helikopter yang melayang jauh di atas awan dan helaan napas yang tertahan.
Xander melangkah maju satu tapak. Dirga mengarahkan pistolnya tepat ke dahi Xander. "Langkah satu inci lagi, dan aku tidak peduli siapa dirimu, Dominus Umbrae!"
Xander bahkan tidak menoleh ke arah Dirga atau pistol yang menunjuk dahinya. Seluruh dunianya malam ini terkonsentrasi penuh pada Dea. Air mata yang tak pernah menetes dari mata pria berdarah dingin itu selama belasan tahun... tiba-tiba mengalir pelan melintasi pipinya.
"Diana..." bisik Xander dengan suara parau, hampir tak terdengar. "Dia... sangat mirip denganmu, Diana."
Xander perlahan menekuk kedua lututnya. Sang penguasa dunia bawah tanah benua Eropa yang ditakuti oleh para raja dan presiden itu... kini berlutut di atas lantai kayu yang berdebu di depan putri kandungnya.
"Dea..." suara Xander bergetar hebat, dipenuhi oleh kepedihan dan rasa bersalah yang tak tertahankan. "Maafkan Ayah... Maafkan Ayah yang terlambat..."
Bukannya tersentuh, rasa marah dan sakit hati Dea yang sudah mengendap belasan tahun justru meledak membara. Rasa greget meluap di dadanya saat melihat pria yang memiliki segalanya ini menangis di depannya setelah sekian lama membiarkannya menderita di neraka.
Dea mendorong tubuh Tania pelan, melangkah maju menghadapi pria yang berlutut di depannya.
"Terlambat?!" jerit Dea, suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian ruangan dengan emosi yang menguras jiwa. Air matanya tumpah deras. "Kau bilang kau terlambat?! Ibu Diana mati meraba-raba kegelapan sambil menyebut namamu! Aku disiksa, ditampar, dan diancam dibunuh oleh keluarga Baskoro setiap hari! Aku makan makanan sisa dari tempat sampah saat aku melarikan diri! Ke mana saja kau selama enam belas tahun ini, Tuan Penguasa yang Terhormat?!"
Xander menerima setiap teriakan dan makian itu dengan dada terbuka. Ia tidak membela diri. Ia membiarkan putri tunggalnya meluapkan seluruh racun dan keperihan yang telah bersarang di jiwanya.
"Aku dikurung dalam koma buatan oleh Teratai Merah selama dua belas tahun, Dea," jawab Xander dengan suara parau yang penuh duka. "Ibumu menyembunyikanmu dan memalsukan kematianmu demi menyelamatkan nyawamu dari pembantaian klan kita. Aku baru terbangun dari koma tiga tahun lalu, dan selama tiga tahun ini aku membalikkan bumi hanya untuk mencari jejak kalian!"
Dea tertegun, matanya membelalak tak percaya. Koma buatan selama dua belas tahun?
"Tapi itu tetap bukan alasan untuk membiarkanmu menderita," lanjut Xander sambil menatap Dea penuh pengabdian. Ia meraih sebuah belati berukir emas dari pinggangnya, lalu menyodorkan gagang belati itu ke tangan Dea yang gemetar.
"Jika dendammu padaku tak bisa terhapus oleh rasa bersalahku... ambillah nyawaku, Dea," desis Xander tulus, menempelkan ujung belati itu ke dada kirinya sendiri, tepat di mana jantungnya berdetak. "Aku lebih baik mati di tangan putri dari Diana daripada hidup satu hari lagi melihatmu memandangku dengan rasa benci."
Tania menahan napasnya. Dirga menurunkan pistolnya perlahan. Seluruh prajurit elite di ruangan itu membeku melihat junjungan tertinggi mereka menyerahkan nyawanya tanpa syarat di tangan seorang gadis remaja.
Jemari Dea menggenggam gagang belati dingin itu. Tangan gadis itu bergetar hebat. Ujung belati menusuk sedikit kemeja putih Xander, mengeluarkan setetes darah merah segar. Dea menatap mata pria di depannya—mata yang memancarkan penyesalan yang begitu murni dan cinta seorang ayah yang tak pernah pudar oleh waktu.
Dapatkah Dea menusukkan belati itu dan menghancurkan satu-satunya ikatan darah tersisa yang ia miliki di dunia ini? Atau akankah kebenaran kelam lain yang tersembunyi di balik perseteruan ini memaksa mereka untuk bersatu demi membalas dendam yang sesungguhnya?
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor