Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 ROBERT KENA MENTAL
SELAMAT MEMBACA !!!
Akhirnya sidang berakhir dengan permintaan maaf yang diucapkan oleh Sabrina tapi itu hanya diucapkan di mulutnya saja, lain dengan hatinya, ia kesal dan sangat ingin membunuh Fira sekarang juga. Dan besok dia harus meminta lagi di depan teman-temannya.
Fira yang diizinkan untuk pulang, segera dibawa Nyonya Sintya keluar dari ruang itu. Saat membuka pintu mereka bisa melihat di sana ada Zhafran dan Bryan yang duduk dikursi tunggu.
"Ayo kita pulang ke rumah, Fira sudah diizinkan untuk pulang cepat. Fran hubungi Elena dan Tasya jika pulang kuliah suruh ke rumah kita saja. Kita makan malam di rumah!" pesannya kepada sang putra bungsu.
Mereka berjalan ke arah tujuan masing-masing, Nyonya Sintya, Fira dan Bryan akan menuju ke parkiran. Sedangkan Zafran kembali ke kelasnya untuk mengikuti pelajaran di kelasnya.
Saat di dalam mobil Bryan mulai mengobrolnya. "Maafkan, Mas yang nggak bisa melindungi dan membelamu, Yang. Maafkan, Mas!" seru Bryan sambil mencium tangan istrinya dengan lembut, ia sangat menyesal karena nggak bisa membela istrinya sendiri.
Fira tersenyum, "Ini bukan salah, Mas. Aku sendiri yang meminta untuk merahasiakan pernikahan kita, Mas. Jadi jangan meminta maaf, aku tadi puas bisa melihat wajah frustasinya Sabrina dan Pak Robert. Enak saja dia akan mencabut beasiswaku dengan alasan karena sikapku seperti preman, Mas," ucap Fira menceritakan kejadian tadi kepada suaminya.
Tanpa terasa mobilnya Bryan sudah sampai di rumah milik orang tuanya Zafran. Mereka berdua turun, lalu berjalan ke arah pintu utama.
"Assalamualaikum," sapa mereka berdua saat masuk ke dalam rumah.
"Walaikumsalam, silahkan masuk!" seru Tuan Andika Pratama.
Fira berjalan ke arah Papanya Zafran, lalu mencium tangannya di belakangnya Bryan juga mengikuti apa yang dilakukan oleh istrinya.
"Bagaimana tadi sidangnya, Sayang. Kenapa nggak dari pagi mengabari kami, kalau kamu ada masalah, Sayang?" tanya Tuan Andika dengan nada sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan dirinya.
Fira menunduk mendengar ucapan Tuan Andika, "Maaf, Pa. Tadinya saya berpikir bisa mengatasinya sendiri dulu, Pa. Nggak taunya Mama masuk ke dalam ruang sidang. Dengan wajah kesalnya, Pa.. Hehehe," jawab Fira terkekeh.
Nyonya Sintya yang baru saja turun dari tangga lantai dua menjawabnya dengan cepat. "Bagaimana nggak kesal, Pa. Enak saja Robert meneriaki putri kita dengan suara jeleknya itu."
Mereka terkekeh mendengar jawaban tegas dan berani dari Nyonya Sintya.Sementara Bryan tertegun, nggak menyangka betapa besar dan tulusnya kasih sayang keluarganya Zafran kepada istrinya.
"Nak Bryan, kami berdua sebagai orang tua angkatnya Fira berpesan jangan sakiti hatinya, jika sampai itu terjadi kami nggak akan memberikan kesempatan kedua, kami akan membawa Fira menjauh darimu!" seru Tuan Andika tegas kepada Bryan dengan tajam.
Bryan menganggukan kepalanya, "Ya, Tu.."
"Panggil Papa seperti Fira memanggil kami, Nak Bryan. Sana kalian istirahat dulu, kalian pasti capek terutama Fira yang baru mengalami kejadian buruk! Perintah Tuan Andika untuk beristirahat sebelum makan siang.
Fira mengangguk dan membawa ke kamar yang berada di lantai dua di sebelahnya Zhafran. Kamar yang sering digunakan saat dia menginap di rumah ini.
Ceklek
Pintu kamar dibuka oleh Fira, "Silahkan masuk, Mas. Ini kamar yang aku gunakan saat menginap di sini," ujar Fira dengan tersenyum.
Setelah pintu ditutup dan di kunci. "Bryan memeluk tubuhnya Fira dari belakang, menenggelamkan kepalanya di bahunya Fira.
Brian perlahan memutar tubuhnya Fira menghadapnya. Kedua telapak tangannya mengusap lembut pipi gadis itu, wajahnya makin mendekat perlahan, lalu mengucup bibirnya dengan lembut. Namun perlahanan kelembutan berubah hangat, menuntut dan penuh hasrat yang tak bisa lagi ia tahan.
Fira memejamkan matanya menikmati ciuman hangat dari suaminya, tangannya perlahan merambat ke dada bidang suaminya. Ia bisa merasakan debaran setiap detik dari jantungnya.
Bryan melepaskan ciumannya perlahan, lalu mengecup kening, kedua mata, dan ujung hidung Fira dengan lembut. "Kamu milikku selamanya, Sayang. Tak akan ada yang bisa memisahkan kita," bisiknya pelan sambil merapatkan dahi mereka.
Fira tersenyum tipis disela napas yang masih tak beraturan.
Bryan mencium keningnya Fira, "kita lanjut nanti malam ya, Yang," ujar Bryan sambil menggoda istrinya.
Fira menunduk dengan muka merahnya mendengar ucapan godaan dari suaminya. Sementara Bryan tersenyum melihat istrinya sedang malu.
"Ayo istirahat sebentar!" ajak Bryan menuntun Fira ke ranjangnya. Fira membuka kerudungnya, Bryan melihat lehernya Fira terluka itu menggenggam tangannya erat sampai kukunya masuk ke dalam kulitnya.
Dalam hatinya Bryan bersumpah akan membalaskan sakit hati istrinya kepada Sabrina teman sekelasnya.
☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆
Sementara di Kantin ketiga sahabatnya sedang berkumpul sambil memakan untuk makan siang mereka.
"Nanti pulang kuliah, Mama mengundang kalian untuk ikut makan malam. Fira juga ada disana bersama Bryan," ujar Zafran lirih takut temannya ada yang mendengarnya.
Tasya dan Elena mengangguk mantap. "Siap kami akan ke rumahmu, Zaf. Tapi kami pulang ke rumah dulu sebentar baru ke sana," jawab Elena.
Suasana kembali hening saat mereka melanjutkan makannya. Disudut lain teman-teman yang lain saling berpandangan bingung, menyadari satu sosok yang hilang Fira yang nggak duduk di antara mereka.
Tapi mereka nggak berani bertanya, karena di sana ada gengnya Sabrina yang sedang makan di sini juga.
Bel tanda berakhirnya pelajaran sudah dibunyikan semua, mereka bersiap untuk pulang. Saat Dosen sudah keluar dari kelas mereka.
Denis berjalan ke arah meja Zafran. "Zaf, Fira nggak apa-apa kan?"
Semua teman-temannya langsung menoleh ke belakang saat mendengar Denis bertanya kepada Zafran.
Zafran yang tau kalau teman-temannya khawatir dengan adik angkatnya itu, ia segera menjawabnya, "Ya, Den. Fira nggak apa-apa. Dia langsung dibawa pulang mamaku. Tadi Pak Robert sangat gencar ingin menyuruh Pak Rektor untuk mencabut beasiswanya, Fira tak mau kalah. Ia menantang Sabrina dan Pak Robert, jika Fira dianggap bersalah ia bersedia beasiswanya dicabut tapi jika perbuatan nggak salah...Sabrina harus meminta maaf kepada Fira di depan kalian. Pak Robert dapat teguran keras dari Pak Rektor karena dianggap nggak obyektif terhadap kasus ini. Mereka juga mendapatkan peringatan jika ini terulang lagi, mereka akan diberikan sangsi."
"Mampus! Makanya jadi orang itu jangan sok yang terbaik dan berkuasa. Itu akibatnya kalau ada mahasiswa yang berani melawannya. Sementara yang pernah aku dengar dia itu selalu merundung teman-temannya yang mendapatkan beasiswa. Kapan dia mau meminta maafnya, Zaf?"
Zafran tersenyum, "Besok pagi, kalian yang ingin menyaksikannya harus berangkat pagi-pagi sekali," jawab Zafran sambil menatap wajah teman-temannya, tangannya sambil memasukan barang-barangnya ke dalam tas punggungnya.
Mereka semua keluar dari ruang kelas, lalu mereka berjalan ke arah parkiran kampus. Sedangkan Elena hari ini di jemput oleh sopirnya.