Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
"Bukankah sudah Papa ingatkan sebelumnya? Supaya kamu bisa menahan dirimu dan tidak mengecewakan Alina?"
Suasana kembali hening. Hanya napas berat keduanya yang terdengar di ruangan itu. Andika memalingkan wajah sejenak, menelan rasa kecewa yang mengganjal di tenggorokannya, lalu berbicara lagi dengan nada yang lebih rendah namun menyakitkan.
"Dan Revan... dia sudah mengakui perasaannya. Sekarang keputusan ada di tangan Alina. Apa dia masih mau denganmu, atau lebih memilih Revan. Kita tunggu saja sampai dia sadar."
Rafael terguncang. Kakinya terasa lemas seketika. Ia menunduk semakin dalam, kedua tangannya mengepal kuat.
"Dia istriku! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskan Alina!" ucap Rafael meninggi, penuh emosi, matanya memerah dan berkilat keras. "Dia milikku. Dan tidak ada seorangpun yang bisa mengambilnya dariku!"
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dengan kasar dan melangkah keluar dari ruangan itu. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi yang keras, bergema di sepanjang lorong.
Andika tetap berdiri mematung di tempatnya. Ia menatap pintu yang baru saja tertutup rapat itu, rahangnya mengeras perlahan. Napasnya keluar panjang dan berat, penuh kepahitan yang tak terucap.
"Seharusnya kamu tidak mengikuti kesalahanku di masa lalu, Rafael..." gumamnya pelan, suaranya hanya berbisik di ruangan yang sepi. "Semoga kamu tidak menyesal sepertiku."
-
-
-
Di ruang rawat yang tenang itu, perlahan-lahan kelopak mata Alina bergerak, lalu terbuka perlahan. Cahaya lampu yang lembut membuatnya menyipitkan mata sejenak. Perban putih melingkar rapi di sekitar kepalanya.
Nova yang sedari tadi duduk di tepi brankar langsung berdiri dengan tergesa. Tangannya gemetar menyentuh punggung tangan putrinya dengan lembut.
"Alina... sayang, kamu sudah bangun?" suaranya bergetar menahan tangis.
Heru yang berdiri di sisi lain brankar segera mendekat, menatap putrinya dengan mata yang berkaca-kaca namun tersenyum lega.
"Kita di rumah sakit, Nak. Kamu aman sekarang," ucapnya lembut, mengelus pelan punggung tangan Alina yang terasa dingin. "Istirahat dulu. Jangan banyak bergerak."
Alina berusaha tersenyum tipis, suaranya masih lemah dan serak.
"Ma... apa Revan datang?"
Nova tertegun sejenak, tangannya yang tadi menggenggam tangan putrinya sedikit mengendur. Ia dan Heru saling bertukar pandang, sama-sama terkejut. Yang pertama kali ditanyakan Alina bukan suaminya, melainkan Revan.
Heru menghela napas pelan, lalu menjawab dengan nada lembut namun tegas.
"Alina, kamu butuh istirahat. Jadi Papa tidak izinkan siapa pun datang menemui kamu dulu. Kamu tenang saja, fokus untuk sembuh, ya."
Nova tersenyum lembut sambil mengelus pelan punggung tangan putrinya.
"Kamu istirahat dulu ya, Sayang. Mama panggil dokter dulu buat periksa kamu."
Ia perlahan melepaskan tangan Alina, lalu menegakkan tubuhnya. Heru sudah berdiri menunggu di dekat pintu, keduanya saling mengangguk pelan sebelum melangkah keluar dan menutup pintu ruangan itu dengan hati-hati.
Begitu berada di luar, di depan pintu rawat, Nova langsung menatap suaminya dengan tatapan cemas dan bingung.
"Sebenarnya ada apa ini, Mas? Kenapa Alina bukan mencari Rafael, tapi malah mencari Revan?"
Heru terdiam sejenak, menatap lantai yang dingin, lalu menghela napas panjang yang berat.
"Papa juga tidak tahu, Ma. Selama ini kita lihat rumah tangga mereka baik-baik saja. Tapi sepertinya... kita sudah melewatkan sesuatu yang penting di dalam rumah tangga putri kita."
-
-
-
Mobil hitam Rafael melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan yang tak biasa. Jemarinya mencengkeram setir erat, buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, tatapannya lurus ke depan, namun matanya memancarkan amarah yang tertahan. Tak lama, mobil itu memasuki gerbang mewah kawasan District Residence, lalu berhenti di area parkir tamu.
Rafael mematikan mesin, duduk diam sejenak di sana. Napasnya berat dan kasar. Ia menarik kerah kemejanya yang terasa tiba-tiba sempit, lalu membuka pintu dan turun dengan langkah cepat dan tegas.
Langkah kakinya bergema di lantai marmer lobi. Saat lift terbuka di lantai tujuan, ia berjalan lurus menuju pintu unit di ujung lorong. Ia menekan tombol bel dengan tekanan kuat, dadanya naik turun, menunggu pintu itu terbuka.
Bel pintu berbunyi nyaring. Amara meletakkan camilannya di meja, lalu berjalan santai menuju pintu
Baru saja pintu terbuka sedikit, tangan Rafael langsung mencengkeram rahang Amara dengan kuat, membuat mata wanita itu membelalak terkejut. Tanpa sepatah kata pun, Rafael mendorongnya mundur ke dalam apartemen dengan kasar, lalu membanting pintu hingga tertutup rapat di belakangnya.
Amara terhuyung ke belakang, tangannya berusaha melepaskan cengkeraman itu. Matanya menatap Rafael dengan takut, air matanya langsung menggenang.
"Ra— Rafael? Apa yang kamu lakukan? Sakit, lepaskan!"
Rafael menatapnya tajam, matanya menyala marah. Cengkeramannya makin erat.
"Apa maksudmu menceritakan pada Alina tentang kejadian malam itu? Bukankah aku sudah bilang, yang terjadi malam itu hanya kecelakaan!"
Amara terkejut, wajahnya pucat seketika. Ia menggeleng cepat, kedua tangannya memukul-mukul lengan Rafael seakan membela diri.
"Aku tidak pernah bercerita padanya, Rafael! Sungguh, aku tidak pernah! Lepas!"
Rafael mendengus kasar, sama sekali tidak percaya.
"Jangan berbohong padaku! Siapa lagi yang tahu kalau bukan kamu!"
Amara tampak panik, napasnya tersengal karena cengkeraman itu, lalu seketika matanya membelalak seakan teringat sesuatu yang penting.
"Tunggu... selain kita berdua, hanya Revan yang tahu kejadian malam itu! Dia mendengar semua obrolan kita hari itu di ruangan kerjamu, kamu juga tahu kan?" serunya cepat dengan suara tertahan. "Pasti Revan yang sudah menceritakannya pada Alina! Pasti dia!"
Rahang Rafael langsung mengeras seketika. Ia melepaskan cengkeraman itu dengan kasar hingga kepala Amara terhempas ke dinding.
"Revan." geramnya.
Di tengah napasnya yang masih memburu, ponsel di saku celananya tiba-tiba bergetar keras, memecah keheningan yang pengap di ruangan itu.
Rafael menggeram pelan, merogoh sakunya dengan gerakan kasar. Layarnya menyala, nama Ibunya mertuanya tertera jelas di sana.
Rahangnya kembali mengeras. Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya, bahkan tanpa sempat menenangkan napasnya.
"Halo, Ma?"
Suara Nova terdengar lirih dan bergetar di seberang sana, namun cukup jelas untuk membuat seluruh tubuh Rafael seketika membeku.
"Rafael... Alina sudah sadar, Nak."
Seketika, kepalan tangannya yang tadinya begitu kuat perlahan mengendur. Napas beratnya yang tadi memenuhi ruangan mendadak tercekat di tenggorokan.
Matanya yang tadinya menyala penuh kebencian saat menatap Amara, kini membelalak kosong, terpaku pada dinding di hadapannya.
Alina sadar.
Untuk sepersekian detik, segala amarahnya pada Revan, pada Amara, pada seluruh dunia... lenyap begitu saja. Yang tersisa hanya satu nama yang berputar di kepalanya.
Amara masih terduduk lemah di lantai, tangannya memegangi lehernya yang memerah, napasnya tersengal dengan mata berkaca-kaca. Tapi Rafael seakan tidak lagi melihatnya. Ponsel masih menempel di telinganya, namun pikirannya sudah melesat jauh, ke ruang rawat di mana Alina sedang terbaring lemah karena dirinya.
Tanpa sepatah kata pun pada Amara yang masih tergeletak di lantai, Rafael berbalik dan berlari keluar dari apartemen itu. Pintu dibiarkan terbuka.
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰