Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Bima segera meraih ponselnya, dia cepat menghubungi Betrand yang memang berada tidak jauh dari villa.
Bella melihat dengan jelas gelagat Bima itu. Untungnya pamannya memang sudah melakukan sambungan langsung ke firma hukum Tanisa. Apapun yang mereka bicarakan saat ini, semua terdengar jelas di ruangan teknis firma hukum Tanisa. Dengan orang-orang firma hukum Tanisa di sana siaga.
"Kalian bisa pergi, tapi Kinan akan tetap di sini!"
Agnes yang tidak rela membiarkan Bima masih perduli pada Kinan. Segera kembali merangkul dengan sangat erat lengan Bima.
"Bima..."
Bima menepis tangan Agnes perlahan.
"Kamu masuk ke kamarmu. Aku akan selesaikan masalah ini dulu!"
Bima bicara dengan nada yang terdengar begitu lembut. Kinan yang melihat itu hanya menggunakan tatapan datarnya. Dia bahkan tidak merasakan apapun di dalam hatinya, selain kebencian untuk dua orang itu.
Ketika Bima mesra sekali pada Agnes yang memang tampak begitu mengandalkan Bima. Kinan hanya melihat itu seperti dua orang yang sangat dia benci berdrama di hadapannya.
Agnes melihat ke arah Bella dan Kinan. Tatapan Bella jangan ditanya seperti apa. Ibarat hyena yang tengah melihat seekor sigung. Bawaannya ingin mencabik-cabikk dan dijadikan santapan burung pemakan bangkai. Karena dia juga enggan memangsa sigung.
Namun tangan Kinan tiba-tiba saja terkepal. Bukan karena cemburu. Tapi lebih pada ingin segera menarik Agnes dan menjebloskan nya ke dalam penjara. Dia tidak suka menyakiti orang, berpikiran buruk tentang orang lain, bahkan membalas orang yang menghinanya. Tapi, Kinan sungguh merasa Agnes itu orang yang paling jahat di dunia. Tidak punya perasaan sama sekali, jadi dia memang sangat membencinya.
"Bima..." lirih Agnes lagi yang menunjukkan kalau dia adalah wanita yang sangat lemah dan tak berdaya.
"Cih, menjijikkan! ayo pergi!" ajak Bella pada Kinan dan pamannya serta asisten pamannya.
Kinan berbalik, namun Bima kembali memanggilnya,
"Kinan, kita harus bicara!"
Bella mendengus kesal dan berbalik.
"Bima Dirgantara! otakmu sebenarnya pindah dimana? di lenganmu yang dijadikan gelayutan simpanse setengah setan ini? kami bilang tidak akan bicara apapun lagi. Silahkan di lanjutkan acara makan kalian. Karena sebentar lagi, kalau wanita kesayangan mu itu masuk penjara. Dia tidak akan pernah bisa makan steak premium koki Michelin di penjara!"
Agnes sebenarnya kesal sekali. Kata-kata Bella itu benar-benar tidak enak di dengar telinganya. Tapi bahkan dia tidak bisa membalasnya. Image manis, sabar, lembut dan penurut nya akan hancur di depan Bima kalau dia membalas kata-kata Bella.
Kinan yang merasa, kalau mereka terus di sana Bella hanya akan menambah perbendaharaan kata yang buruk. Dan itu hanya akan menambah dosanya saja, memutuskan untuk mengajak sahabatnya pergi.
Lagipula bukti terakhir yang mereka butuhkan sudah mereka dapatkan. Zayn sudah bersedia bersaksi, laporan putusan dari pengadilan dan surat kuasa palsu itu salinannya sudah didapatkan oleh pengacara Gustaf. Bukti rekaman kamera pengawas juga sudah di dapatkan oleh ayah Bella. Dan sekarang, bukti terakhir bahwa Agnes memang hidup sangat nyaman di luar negeri juga sudah terkumpul. Villa mewah ini, rekaman Agnes merayakan ulang tahun dengan begitu mewah, lalu bukti transfer yang sudah Kinan kirim pada Bella.
Dengan semua bukti itu, kasus tiga tahun yang lalu akan bisa di buka kembali. Kinan tidak perduli apapun lagi. Mau Bima pulang atau terus menemani Agnes. Dia sama sekali tidak perduli.
"Kita pergi saja!" Kinan menggandeng tangan Bella.
Pengacara Gustaf dan Rudi sengaja menunggu kedua wanita itu keluar lebih dulu. Baru mereka mengikuti.
Bima ingin mengejar Kinan. Tapi Agnes terus menahannya.
"Bima, jangan pergi. Aku takut, aku harus bagaimana? mereka akan membuka kasus itu lagi..."
"Makanya kamu masuk kamar dulu, aku akan selesaikan masalah ini!"
Bima mencoba menepis tangan Agnes. Tapi Agnes enggan melepaskan Bima. Dia tidak mau Bima dan Kinan bicara hanya berdua saja seperti yang dikatakan Bima tadi.
"Bima, tapi..."
"Agnes, mengertilah! jika mereka pergi. Kasus mu benar-benar di buka lagi!"
Setelah mendengar ucapan itu, Agnes akhirnya melepaskan tangan Bima.
Bima dengan cepat menyusul Kinan, karena di depan villa. Bertrand dengan anak buahnya yang tidak sedikit, juga sedang menghadang Bella dan yang lain yang akan menuju ke mobil mereka.
"Bagus sekali! kalian pikir kalian bisa menghadang kami!" Bella sama sekali tidak merasa takut.
Bima akhirnya keluar dan meraih tangan Kinan. Kinan segera menepis tangan Bima itu, dan Rudi yang memang ditugaskan menjaga Bella dan Kinan, segera pasang badan di depan Kinan yang sudah ditarik Bella menjauh dari Bima.
Rahang Bima mengeras, terlihat jelas kalau pria itu saat ini sedang menggeretakkan giginya.
"Minggir, dia istriku. Aku ingin bicara dengannya. Kalian pengacara kan? harusnya kalian lebih paham!" pekik Bima.
Sayangnya Rudi tidak gentar sama sekali. Pria itu tetap berdiri dengan tatapan datar pada Bima.
"Justru karena kami adalah pengacara, kami akan melindungi penuh kenyamanan dan keamanan klien kami. Dia tidak ingin bicara denganmu, maka kamu tidak bisa memaksanya. Itu melanggar hukum!" jelas Pengacara Gustaf.
"Dia istriku!" pekik Bima semakin emosi.
"Dia warga negara yang punya hak menerima atau menolak untuk di ajak bicara, meskipun dia adalah istrimu!" balas pengacara Gustaf.
Lagian siapa suruh adu mulut sama pengacara.
"Bima Dirgantara! berhenti pakai cara seperti ini! kita sedang di luar negeri. Tidak ada wilayah kekuasaan keluarga Dirgantara, tidak ada wilayah kekuasaan keluarga Tanisa. Kalau mau di kasus kan di sini. Aku juga tidak keberatan! yang namanya buruk juga bukan aku, bukan Kinan, bukan paman Gustaf atau Rudi. Karena yang punya label pembunuhh di jidatnya itu wanita peliharaan mu itu! dan yang punya label suami bejat, penipu dan pengkhianat itu juga jidatmu!"
Aduh, jangan ajari Bella bicara nyelekit. Seluruh keluarganya adalah pengacara dan konsultan eksekutif. Jangankan kamus besar bahasa, kamus bahasa gaul Deby Sahertian, dia juga sudah hafal di luar kepala. Perbendaharaan kata-kata nyelekit dan bikin tembolok tremor, dia punya banyak sekali.
Sayangnya, Bima tidak begitu fokus pada Bella. Perhatiannya hanya pada Kinan, yang justru lebih sering memalingkan wajahnya ke arah lain, ketika Bima menatapnya.
"Kinan..."
Kinan mengangkat pandangannya ke arah Bima.
"Biarkan kami pergi, atau kejadian di villa barat itu aku ulang lagi. Bagaimana caraku bisa pergi dari sana!" gertak Kinan.
Bima menghela nafas berat, dia tidak mengerti, kenapa Kinan lebih suka menyakiti dirinya daripada hanya mendengar penjelasannya.
***
Bersambung...