NovelToon NovelToon
Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.

Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.

Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.

Dunia mengira ia kehilangan segalanya.

Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Gelas-gelas kristal berdenting di seluruh ballroom. Lampu gantung memantulkan cahaya ke jas-jas mahal dan senyum yang dipasang rapi sejak tadi. Beberapa tamu sudah berdiri di dekat meja keluarga, menunggu siapa pun yang kelak pantas dijilat.

Elang duduk di kursi paling pinggir, kaki bersilang, jari-jarinya mengetuk lutut. Sarung tangan hitam di tangan kanannya sudah ia pakai sejak SMA. Kulitnya kian licin di bagian buku jari, tapi Elang tak pernah menggantinya.

Di panggung, seorang pria berambut perak mengetuk mikrofon dua kali.

"Aku akan mengumumkan pembagian warisan untuk anak-anakku."

Dentingan gelas berhenti. Bahkan pelayan yang membawa nampan ikut menahan langkah.

"Elang Nugroho, sepuluh persen. Ray Nugroho, sembilan puluh persen."

Hening. Seseorang di barisan belakang menarik napas keras, lalu buru-buru menutup mulutnya.

"Pak Dimas membagi begitu timpang," bisik seorang tamu perempuan pada suaminya. Suaminya hanya menggeleng pelan.

Elang berdiri. Kursinya bergeser di lantai marmer dengan bunyi yang terlalu nyaring.

"Sepuluh persen." Ia mengulang angka itu pelan, seperti mencicipi sesuatu yang basi. "Kenapa Ray dapat sembilan puluh, dan aku cuma segitu?"

Dimas turun dari panggung. Langkahnya tenang, tangannya terbuka, seolah sedang menenangkan anak kecil yang merengek.

"Nak, kakakmu butuh dana itu untuk proyeknya. Ayah yakin kamu sanggup mencari sendiri. Kamu selalu bisa."

Kalimat terakhir itu terdengar seperti pujian. Elang tahu itu bukan pujian.

Ia menoleh ke Ray. Kakaknya duduk dengan tongkat bersandar di lutut, kepala sedikit tertunduk, tanpa sekali pun mengangkat mata.

"Proyek apa?" Elang melangkah mendekat. "Otak kau itu mampu bikin proyek apa, Ray?"

Seorang perempuan bergaun krem bangkit dan berdiri di antara mereka. Intan merentangkan satu tangan ke belakang, melindungi Ray, dagunya terangkat.

"Cukup, Elang. Ray baru kecelakaan. Dia masih trauma, jangan ditambah beban." Suaranya datar, nyaris dingin. "Kalau kamu masih begini, aku gak mau menikah sama kamu."

Elang menatap tangan Intan yang menyentuh lengan jas Ray. Jarinya tidak gemetar sedikit pun.

"Intan." Elang tersenyum tipis. "Kau kira aku gak tahu? Aku lihat kau cium dia di taman belakang. Minggu lalu."

Kerumunan bergeser. Puluhan kepala menoleh serempak ke arah Intan.

Bahu Intan menegang sesaat. Lalu ia menurunkan tangannya, dan matanya yang tadi menghindar kini lurus ke Elang.

"Terus kenapa? Ray lebih baik dari kamu. Dia lembut, dia peduli. Kamu cuma tahu merendahkan orang." Ia berhenti, menelan sesuatu. "Aku sebenarnya cinta sama dia. Aku masih bertahan di pertunangan ini karena... masih mikirin kamu. Aku sudah cukup baik, kan?"

Suara tamparan memotong kalimat itu.

Intan terhuyung dan jatuh dengan satu lutut menyentuh lantai. Pipinya memerah seketika, sementara gelas di tangan seseorang jatuh dan pecah.

Elang menurunkan tangannya. Telapak tangannya panas di balik sarung tangan.

"Halah." Ia meludahkan kata itu. "Sampah."

Ray bergegas membantu Intan berdiri, tongkatnya terjatuh ke lantai. "Elang! Gila kamu? Dia tunanganmu!"

"Tunangan?" Elang menoleh pelan. "Aku lihat dia cium kau. Aku dengar dia bilang cinta sama kau, barusan, di depan semua orang. Aku bukan tunangannya. Aku gak mau jadi tunangannya. Kalian semua menjijikkan."

"Elang." Suara Dimas turun satu tingkat, berat dan datar. "Kalau kau terus bikin keributan, Ayah gak akan menganggapmu anak lagi. Warisan sepuluh persen itu pun hilang."

Elang menatap ayahnya lama. Di sudut meja keluarga, ibunya meremas serbet di pangkuan, matanya tertuju ke piring kosong.

Elang tertawa. Pendek, kering, tanpa kehangatan.

"Bagus. Aku juga gak akan menganggap kalian keluargaku." Ia merapikan manset jasnya satu kali. "Aku bukan lagi seorang Nugroho."

Tak ada yang menahannya. Itu yang paling jelas terasa saat ia berbalik.

Sepatunya berketuk di lantai marmer, makin lama makin jauh dari keramaian. Ia menendang sebuah meja kecil di dekat pintu. Vas bunganya terguling dan airnya mengalir ke karpet.

Pintu ganda ballroom terbuka. Udara malam menyapu wajahnya, dingin dan berbau aspal basah.

Elang berhenti di ambang pintu. Ia menggenggam tangan kanannya, dan sarung tangan hitam itu terasa hangat di kulitnya, hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia tidak menoleh ke belakang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!