Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...
Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.
Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.
Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 — Harga Sebuah Kepercayaan
Selasa, 18 Oktober 2016.
Pukul 06.15 pagi, Arthur Sterling terbangun sebelum alarm ponselnya berbunyi.
Hujan yang mengguyur Queens sejak malam sebelumnya telah berhenti. Dari jendela apartemennya, ia bisa melihat trotoar yang masih basah, beberapa mobil yang melintas perlahan, dan seorang pria tua yang sedang membuka pintu toko kelontong di seberang jalan.
Arthur duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap wajahnya.
Selama beberapa hari terakhir, kehidupannya bergerak lebih cepat daripada yang ia perkirakan. Ia telah membangun kembali hubungan dengan Daniel Brooks, mulai mendekati Clara Vance, mendapatkan pelanggan pertama untuk bisnis kecilnya, dan menarik perhatian Richard Coleman.
Namun, ia juga menyadari bahwa setiap langkah maju membawa tantangan baru.
Bisnis membutuhkan pelanggan.
Investasi membutuhkan kesabaran.
Hubungan membutuhkan kepercayaan.
Dan ketiganya tidak bisa dibangun hanya dengan mengetahui apa yang akan terjadi pada masa depan.
Arthur berdiri, mandi, lalu menyiapkan sarapan sederhana. Setelah makan, ia membuka laptop dan memeriksa laporan keuangan pribadi.
Uang tunainya masih terbatas. Pendapatan dari Samuel Carter membantu, tetapi belum cukup untuk memberinya kebebasan finansial. Sebagian besar modal investasinya masih terikat dalam posisi opsi Aurelia Therapeutics.
Ia memeriksa harga saham perusahaan tersebut.
Pergerakannya belum menunjukkan perubahan yang berarti.
Arthur menutup halaman itu.
Ia tidak akan membiarkan dirinya terus-menerus memeriksa harga saham setiap beberapa menit. Perilaku seperti itu tidak akan mengubah hasil uji klinis, tetapi bisa mengganggu konsentrasinya dalam mengerjakan hal-hal yang masih dapat ia kendalikan.
Ia membuka dokumen lain dan mulai menyusun rencana pengembangan bisnis bersama Daniel.
Mereka membutuhkan pelanggan kedua.
Bukan sekadar untuk memperoleh tambahan uang, melainkan untuk membuktikan bahwa keberhasilan proyek restoran Carter bukan kebetulan.
Jika mereka bisa membantu beberapa bisnis dengan kebutuhan yang berbeda, mereka akan memiliki pengalaman yang lebih luas dan portofolio yang lebih meyakinkan.
Arthur menulis tiga sasaran untuk minggu itu:
Mendapatkan setidaknya dua pertemuan dengan calon pelanggan.
Menyelesaikan situs restoran Carter tanpa mengeluarkan biaya yang tidak perlu.
Membuat format laporan sederhana agar setiap pelanggan bisa melihat hasil pekerjaan mereka.
Setelah selesai, ia memasukkan laptop ke dalam tas dan berangkat menuju kampus.
Hari itu, ia berniat bergerak lebih cepat.
Namun, ia belum tahu bahwa sebuah percakapan singkat akan membuatnya menyadari bahwa tidak semua orang akan menyambut perubahan dalam dirinya dengan cara yang sama.
Pukul 09.00, Arthur bertemu Daniel di depan gedung fakultas.
Daniel tampak membawa setumpuk brosur sederhana yang mereka cetak menggunakan printer kampus.
Arthur mengambil salah satunya.
Desainnya cukup rapi. Brosur itu menjelaskan layanan yang mereka tawarkan kepada bisnis lokal: pembaruan informasi daring, pembuatan situs sederhana, perbaikan tampilan bisnis di internet, dan promosi lokal dengan anggaran terbatas.
Namun, Arthur segera menemukan masalah.
"Ini terlalu umum," katanya.
Daniel menatap brosur itu.
"Bagian mana?"
"Kita menyebutkan apa yang bisa kita kerjakan, tetapi tidak menjelaskan masalah apa yang bisa kita selesaikan."
Daniel menghela napas.
"Jadi, sekarang brosurnya juga salah?"
"Bukan salah. Hanya belum cukup kuat."
Arthur mengambil pena dan menulis sebuah kalimat di bagian belakang kertas.
Bantu pelanggan menemukan bisnis Anda dengan informasi yang jelas dan mudah diakses.
Daniel membacanya.
"Lebih baik," katanya. "Tapi bagaimana kalau pemilik bisnis tidak merasa mereka punya masalah?"
"Kita tidak memaksa mereka membeli layanan kita. Kita menunjukkan masalah yang bisa kita temukan, menjelaskan dampaknya, lalu membiarkan mereka memutuskan apakah solusi kita berguna."
Daniel mengangguk.
"Baiklah. Kita revisi setelah kelas."
Mereka kemudian masuk ke gedung fakultas.
Sepanjang pagi, Arthur mengikuti perkuliahan seperti biasa. Ia mencatat materi, menjawab beberapa pertanyaan dosen, dan sesekali berdiskusi dengan mahasiswa lain.
Namun, di sela-sela aktivitas itu, ia menyadari bahwa perubahan sikapnya mulai membuat beberapa orang penasaran.
Dulu, Arthur cenderung memilih duduk di belakang dan tidak banyak berbicara. Ia bukan mahasiswa yang buruk, tetapi juga bukan seseorang yang mudah menarik perhatian.
Sekarang, ia lebih berani mengemukakan pendapat dan sering mengajukan pertanyaan yang membuat dosen memperpanjang diskusi.
Perubahan itu tidak terjadi tanpa alasan.
Arthur telah menghabiskan enam puluh tahun dalam kehidupan sebelumnya untuk mempelajari bagaimana orang membuat keputusan. Ia mengetahui bahwa rasa takut sering kali menyamar sebagai kehati-hatian, sementara kesombongan kerap menyamar sebagai keyakinan.
Ia tidak ingin kembali menjadi pemuda yang membiarkan ketakutan menentukan pilihannya.
Namun, ia juga harus berhati-hati agar kepercayaan dirinya tidak berubah menjadi sesuatu yang membuat orang lain menjauh.
Pengalaman masa depan tidak memberinya hak untuk meremehkan orang yang belum mengetahui apa yang ia ketahui.
Ketika kelas berakhir, Daniel mengajaknya menuju kantin.
"Kau sadar tidak," kata Daniel sambil membawa nampan makanan, "bahwa beberapa orang mulai menganggapmu aneh?"
Arthur duduk di seberangnya.
"Aneh bagaimana?"
"Seolah-olah kau tiba-tiba menemukan jawaban atas semua masalah hidup."
Arthur tertawa kecil.
"Kalau mereka menemukan jawabannya, tolong suruh mereka memberitahuku. Aku juga masih punya banyak masalah."
Daniel menggeleng.
"Aku serius."
"Aku juga."
Daniel meletakkan garpunya.
"Aku senang kau lebih percaya diri sekarang. Tapi jangan sampai kau merasa harus selalu menjadi orang yang paling tahu."
Arthur memandang sahabatnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi datang dari seseorang yang mengenalnya sebelum perubahan ini terjadi.
"Aku akan berusaha mengingatnya," jawab Arthur.
Daniel mengangguk, lalu kembali makan.
Arthur tidak merasa tersinggung.
Justru sebaliknya, ia bersyukur memiliki seseorang yang berani mengingatkannya ketika ia mulai bergerak terlalu jauh.
Dalam kehidupan pertamanya, ia pernah dikelilingi orang-orang yang selalu mengatakan bahwa keputusannya benar. Banyak dari mereka melakukannya karena menginginkan uang, jabatan, atau sekadar berada dekat dengan kekuasaan.
Semakin kaya Arthur, semakin sulit baginya mengetahui siapa yang benar-benar berani mengatakan kebenaran.
Kali ini, ia ingin mempertahankan hubungan yang tidak dibangun di atas rasa takut atau kepentingan.
Dan Daniel adalah salah satu orang yang tidak ingin ia kehilangan lagi.
Sore harinya, Arthur menuju perpustakaan kampus untuk mencari beberapa referensi mengenai bisnis jasa pemasaran digital.
Ia baru saja menemukan sebuah buku tentang strategi mendapatkan pelanggan ketika seseorang memanggil namanya.
"Arthur?"
Ia menoleh.
Clara Vance berdiri beberapa langkah darinya, membawa sebuah map berwarna cokelat.
"Clara. Ada apa?"
"Aku ingin mengembalikan catatan yang kau pinjamkan kemarin."
Clara menyerahkan beberapa lembar kertas yang telah ia rapikan.
"Terima kasih," kata Arthur sambil menerimanya.
Clara melirik buku yang sedang dipegang Arthur.
"Kau sedang mempelajari pemasaran?"
"Ya. Aku sedang membantu seorang teman menjalankan usaha kecil."
"Usaha apa?"
"Layanan pemasaran digital untuk bisnis lokal. Kami membantu pemilik usaha memperbaiki informasi daring, membuat situs sederhana, dan merancang promosi yang sesuai dengan kebutuhan mereka."
Clara tampak tertarik.
"Kau sudah memulai bisnis sendiri?"
"Belum bisa disebut perusahaan. Kami baru memiliki satu pelanggan."
"Satu pelanggan tetaplah satu pelanggan."
Arthur tersenyum.
"Itu yang sedang kami coba yakini."
Clara tertawa pelan.
Kemudian ekspresinya berubah sedikit lebih serius.
"Aku pernah berpikir untuk melakukan sesuatu yang serupa, tetapi bukan di bidang pemasaran."
"Bidang apa?"
"Manajemen keuangan untuk bisnis kecil. Banyak pemilik usaha yang pandai menjual produk, tetapi kesulitan memahami arus kas dan biaya operasional."
Arthur menatapnya dengan penuh perhatian.
"Itu masalah nyata."
"Aku tahu. Ayahku pernah mengatakan bahwa bisnis yang terlihat ramai belum tentu menghasilkan keuntungan. Aku mulai tertarik mempelajari hal itu, tetapi belum tahu bagaimana memulainya."
Arthur terdiam sesaat.
Ia tidak pernah mendengar Clara membicarakan minat seperti itu dalam kehidupan pertamanya. Mungkin ia tidak pernah memberinya kesempatan untuk mengenal sisi tersebut, atau mungkin keadaan masa depan telah berkembang berbeda.
Apa pun alasannya, Arthur tidak ingin menganggap dirinya sudah mengetahui seluruh kehidupan Clara.
"Kalau kau tertarik, mungkin kita bisa berdiskusi tentang itu," katanya. "Bisnis yang kami bantu juga perlu memahami apakah promosi mereka benar-benar menghasilkan keuntungan."
Clara mengangguk.
"Menarik. Aku bisa membantu menyusun format pencatatan sederhana untuk mengukur hasil promosi."
Arthur segera melihat kemungkinan kerja sama.
Namun, ia tidak ingin memanfaatkan ketertarikan Clara hanya demi mendapatkan bantuan gratis.
"Itu akan sangat membantu," katanya. "Tapi aku tidak ingin membuatmu merasa harus mengerjakan sesuatu untuk bisnis kami. Kalau kau ingin mencoba, kita bisa mulai dengan proyek kecil yang berguna untuk tugas kuliahmu juga."
Clara tersenyum.
"Aku menghargai itu. Aku ingin belajar melalui sesuatu yang nyata, bukan hanya angka dalam buku."
"Kalau begitu, kita bisa membicarakannya setelah tugas kita selesai."
Mereka bertukar beberapa gagasan mengenai cara mencatat jumlah pelanggan, pendapatan, dan biaya promosi.
Clara mengajukan beberapa pertanyaan yang belum pernah dipikirkan Arthur secara mendalam. Misalnya, bagaimana membedakan peningkatan penjualan yang benar-benar berasal dari promosi dengan peningkatan yang terjadi karena faktor lain, seperti cuaca atau acara lokal.
Arthur menyadari bahwa gagasan itu penting.
Ia terlalu fokus pada cara mendatangkan pelanggan, sementara Clara langsung memikirkan bagaimana mengukur dampaknya dengan lebih akurat.
"Kau benar," kata Arthur. "Kita membutuhkan cara untuk membandingkan hasilnya. Kalau tidak, kita mungkin mengklaim keberhasilan yang sebenarnya tidak berasal dari pekerjaan kita."
Clara tampak senang mendengarnya.
"Jadi, kau mau mencoba?"
"Tentu."
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan menyusun contoh format pencatatan. Kita bisa mengujinya pada proyek restoran Carter, selama pemiliknya setuju."
Arthur mengangguk.
"Kesepakatan."
Percakapan mereka berlangsung lebih lama daripada yang direncanakan.
Ketika akhirnya mereka berpisah, Arthur merasa semakin mengenal Clara yang sekarang, bukan hanya perempuan yang pernah ia simpan dalam ingatannya selama puluhan tahun.
Itu adalah kemajuan kecil.
Namun, baginya, kemajuan tersebut jauh lebih berarti daripada sekadar mendekati seseorang yang pernah dicintainya.
Pukul 17.10, Arthur tiba di apartemennya.
Ia baru saja menaruh tas ketika ponselnya bergetar.
Sebuah surel masuk dari alamat yang tidak dikenalnya.
Subjeknya singkat:
Pertanyaan Mengenai Aurelia Therapeutics.
Arthur membuka pesan itu.
Pengirimnya memperkenalkan diri sebagai seorang analis riset independen yang sedang mempelajari perusahaan bioteknologi berkapitalisasi kecil. Ia mengatakan telah melihat aktivitas pasar yang berkaitan dengan opsi Aurelia dan ingin mengetahui apakah Arthur bersedia berbagi pandangan mengenai perusahaan tersebut.
Pesan itu ditulis dengan bahasa profesional.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada tuduhan.
Namun, Arthur membaca setiap kalimat dengan hati-hati.
Ia tidak pernah mengumumkan investasinya secara terbuka. Posisi tersebut bukan sesuatu yang ia banggakan di media sosial, dan ia tidak memiliki alasan untuk membicarakannya dengan orang asing.
Mungkin pengirim itu sekadar melakukan riset pasar.
Mungkin ia menemukan informasi dari sumber yang tersedia untuk umum.
Atau mungkin ada orang yang mulai memperhatikan transaksi tersebut lebih dekat daripada yang Arthur perkirakan.
Arthur menutup surel itu tanpa membalas.
Ia membuka catatan investasinya dan memeriksa kembali jumlah uang yang telah dialokasikan ke opsi tersebut.
Ia tahu bahwa posisi itu berisiko.
Namun, risiko kehilangan uang bukan satu-satunya hal yang perlu ia pikirkan sekarang.
Ia juga harus menjaga agar keputusan investasinya tidak menimbulkan kesan bahwa ia memiliki akses terhadap informasi rahasia.
Arthur tidak bisa menceritakan pengetahuan yang berasal dari kehidupan sebelumnya. Ia tidak bisa membuktikan dari mana ia mengetahui kemungkinan hasil uji klinis tersebut.
Karena itu, ia harus lebih disiplin daripada investor biasa.
Ia tidak boleh menyebarkan prediksi yang tidak dapat ia pertanggungjawabkan, mengarang sumber informasi, atau mencoba memengaruhi orang lain agar mengikuti posisinya.
Ia hanya dapat menjelaskan analisis berdasarkan informasi yang tersedia secara sah.
Arthur kembali ke laptop dan membuka laporan yang sebelumnya ia kirim kepada Richard.
Ia memeriksa setiap asumsi, memastikan bahwa tidak ada pernyataan yang melebih-lebihkan kepastian hasil investasi tersebut.
Setelah selesai, ia membuka surel dari analis independen tadi.
Ia mengetik balasan singkat.
Terima kasih atas pesan Anda. Saya tidak memiliki informasi nonpublik mengenai perusahaan tersebut. Pandangan investasi saya didasarkan pada penilaian pribadi terhadap informasi yang tersedia untuk umum, dan saya tidak dapat memberikan jaminan mengenai hasilnya.
Arthur membaca ulang pesan itu sebelum mengirimkannya.
Ia tidak menyebutkan jumlah kepemilikan opsinya.
Ia juga tidak mengungkapkan rencana transaksi berikutnya.
Setelah mengirim balasan, ia menutup laptop.
Ia tidak tahu siapa sebenarnya pengirim pesan itu.
Tetapi ia tahu bahwa kehati-hatian jauh lebih baik daripada membiarkan rasa percaya diri membuatnya berbicara terlalu banyak.
Malam semakin larut.
Arthur duduk di meja kecilnya, memeriksa perkembangan situs restoran Carter yang dikirim Daniel beberapa menit sebelumnya.
Pekerjaan itu sederhana, tetapi semakin ia memeriksanya, semakin banyak detail yang perlu diperbaiki. Beberapa foto terlalu besar sehingga lambat dimuat, sementara informasi menu perlu disusun ulang agar mudah dibaca melalui ponsel.
Arthur mengirimkan catatan perbaikan kepada Daniel.
Setelah itu, ia membuka buku catatan dan menuliskan beberapa hal yang ia pelajari hari ini.
Bisnis bukan sekadar menjual layanan.
Investasi bukan sekadar menebak harga.
Dan hubungan bukan sekadar menemukan orang yang kita inginkan.
Ketiganya menuntut sesuatu yang sama: kemampuan memahami kebutuhan orang lain tanpa kehilangan penilaian sendiri.
Arthur menutup buku catatannya.
Ia teringat percakapan dengan Clara tentang kebebasan memilih. Ia ingin melindunginya, tetapi ia tidak ingin membuat keputusan atas nama perempuan itu.
Ia teringat nasihat Daniel agar tidak merasa harus selalu menjadi orang yang paling tahu. Ia ingin berhasil, tetapi ia tidak ingin mengorbankan persahabatan demi membuktikan bahwa dirinya benar.
Ia juga teringat pesan dari analis independen yang baru saja masuk ke kotak surelnya.
Ia ingin memperoleh keuntungan dari Aurelia Therapeutics, tetapi ia tidak ingin membangun masa depannya dengan cara yang membuat orang lain meragukan integritasnya.
Semua itu tampak seperti hal-hal kecil.
Namun, Arthur tahu bahwa karakter seseorang tidak dibentuk oleh satu keputusan besar saja.
Karakter terbentuk dari keputusan-keputusan kecil yang diambil berulang kali, terutama ketika tidak ada orang lain yang melihatnya.
Ia mematikan lampu dan berdiri di dekat jendela.
Di kejauhan, lampu-lampu kota tampak berkilau.
Arthur pernah memiliki semuanya—uang, kekuasaan, pengaruh, dan kemampuan untuk membeli hampir apa pun yang diinginkannya.
Namun, ketika hidupnya mendekati akhir, ia menyadari bahwa kekayaan tidak dapat menggantikan waktu yang telah terbuang.
Ia tidak ingin mengulangi kesalahan itu.
Kali ini, ia akan membangun kerajaan bisnisnya dengan sabar.
Ia akan mengenal Clara tanpa memaksakan masa lalu kepadanya.
Ia akan menjaga persahabatannya dengan Daniel.
Dan ia akan menerima bahwa beberapa hal hanya dapat diperoleh melalui proses yang tidak bisa dipercepat.
Arthur kembali ke tempat tidur.
Besok, ia akan melanjutkan pekerjaan yang sama: menghubungi calon pelanggan, menyelesaikan tugas kuliah, dan menunggu perkembangan investasinya tanpa membiarkan kecemasan mengendalikan hidupnya.
Ia belum menjadi miliarder.
Ia bahkan belum memiliki cukup uang untuk merasa aman secara finansial.
Namun, untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, Arthur mulai memahami bahwa kekayaan yang sesungguhnya bukan hanya tentang berapa banyak yang dapat dikumpulkan seseorang.
Melainkan juga tentang apa yang sanggup ia pertahankan ketika segala sesuatu mulai berubah.
Dan tanpa ia sadari, perubahan itu sudah mulai mendekat.
•
•
•
•
•
Update 5 kali sehari kalo tidak ada halangan!!!