Diusir ke jalanan di tengah badai hujan bersama sepasang anak kembarnya yang menangis kelaparan, hidup Jiang Muchen hancur berkeping-keping saat istrinya memilih pergi demi gemerlap harta seorang tuan muda kaya.
Namun, tepat ketika keputusasaan nyaris menelan kewarasannya, "Sistem Ayah Super Tajir" tiba-tiba aktif, mengubah takdirnya dalam semalam dengan menjanjikan kekayaan tak terhingga hanya lewat satu syarat mutlak: membahagiakan anak-anaknya.
Kini, dengan kekuatan finansial yang perlahan mampu menggenggam ekonomi seluruh Kota Jiangcheng, Jiang Muchen bersumpah untuk membangun surga dunia bagi putra-putrinya, Zihan dan Ziyue, sembari memastikan siapa pun yang pernah menginjak-injak harga diri keluarganya... terutama sang mantan istri akan berlutut dalam penyesalan yang terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Cahaya matahari siang menembus kaca antipeluru Dartz Prombron yang melaju mulus di atas aspal mulus distrik bisnis Jiangcheng. Di dalam kabin yang kedap suara itu, Su Qingxue masih terdiam, merenungkan rentetan kejadian luar biasa yang baru saja disaksikannya mulai dari akuisisi kilat TK Royal, hingga aksi medis penyelamatan nyawa Tuan Besar Song Tianhao.
Namun, di balik ketenangan luar biasa yang dipancarkan oleh Jiang Muchen, radar sistem pribadinya telah mendeteksi riak-riak ancaman murahan dari arah kubu musuh.
Zhao Qiming mengira kekayaan dan premanisme dunia bawah adalah dua hal terpisah yang bisa digabungkan untuk menghancurkan seseorang. Sebuah asumsi naif yang lahir dari lingkaran elit yang terlalu lama hidup dimanjakan fasilitas.
"Manajer Su," suara datar Jiang Muchen memecah keheningan kabin. "Kau bisa turun di lobi utama Grand Jiangcheng. Aku harus mengurus beberapa urusan kecil di luar."
Qingxue menoleh, sorot matanya menyiratkan kekhawatiran yang tertahan. Meskipun ia tahu pria di sampingnya ini memiliki kemampuan luar biasa, nama besar Keluarga Zhao di dunia bawah Jiangcheng bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.
"Tuan Jiang... apakah urusan itu berbahaya? Keluarga Zhao memiliki hubungan yang cukup dalam dengan sindikat lokal di distrik barat..." ucap Qingxue hati-hati, mencoba memberikan peringatan tanpa terkesan mencampuri urusan pribadi.
Muchen meliriknya sekilas, lalu tersenyum tipis sebuah senyuman yang justru membuat suhu udara di dalam kabin terasa semakin dingin.
"Bahaya?" Muchen menggeleng pelan. "Bagi seekor singa, sekumpulan anjing liar yang datang menyerbu bukanlah sebuah bahaya. Itu hanya sarapan pagi."
Mendengar perumpamaan itu, Qingxue menelan ludah. Ia tahu dirinya tidak berhak mendebat keputusan pria ini. "Baiklah, Tuan Jiang. Hati-hati di jalan. Jika Anda butuh bantuan hukum atau fasilitas hotel, Anda tahu bagaimana cara menghubungi saya."
Ciiit...
Monster baja hitam itu berhenti tepat di pelataran lobi mewah Grand Jiangcheng. Su Qingxue turun dengan anggun, namun matanya terus menatap punggung tegap Muchen saat kendaraan itu kembali melaju meninggalkan area hotel.
Malam mulai merayap turun, menyelimuti Kota Jiangcheng dengan pendar lampu neon yang gemerlap.
Di sebuah kawasan gudang logistik terbengkalai di distrik barat yang terkenal sebagai sarang gelap para preman dan sindikat jalanan bawah tanah suasana tampak sunyi namun mencekam.
Di dalam salah satu gudang terbesar, belasan pria bertubuh kekar dengan tato memenuhi lengan dan leher tampak sedang merokok sambil memainkan pisau lipat. Mereka adalah anak buah dari Macan Hitam, algojo bayaran paling ditakuti yang disewa khusus oleh Zhao Qiming.
"Bos besar bilang, targetnya adalah pria muda bernama Jiang Muchen. Jangan langsung bunuh dia, buat dia cacat dulu, lalu bawa ke hadapan Tuan Muda Zhao dalam keadaan hidup!" suara serak seorang pria berparut tangan kanan Macan Hitam menggema di antara tumpukan kargo kosong.
Brummm...
Tiba-tiba, deru mesin V8 yang begitu bertenaga dan berat terdengar merobek keheningan malam di luar gudang. Suara itu begitu dominan hingga membuat kaca-kaca jendela gudang bergetar hebat.
Para preman itu menghentikan aktivitas mereka. Saling lempar pandang, lalu tersenyum menyeringai.
"Heh, rupanya domba bodoh ini datang sendiri mengantar nyawanya ke sarang macan," gerutu sang tangan kanan sambil mencabut pipa besi berkarat dari lantai. "Buka pintunya! Sambut tamu agung kita!"
Klang!
Pintu besi besar gudang digeser paksa dari dalam.
Dari balik kegelapan malam, sorot lampu LED utama Dartz Prombron menyala terang, memancarkan cahaya silau yang langsung menyorot mata belasan preman tersebut. Mobil lapis baja itu berhenti tepat di tengah-tengah halaman gudang, menghalangi satu-satunya jalan keluar.
Pintu pengemudi terbuka.
Jiang Muchen melangkah turun. Ia mengenakan jaket kulit hitam berpotongan rapi, memadukan postur tubuhnya yang baru saja disempurnakan oleh sistem. Tidak ada senjata di tangannya. Hanya ada sepasang mata setajam elang yang menatap lurus ke arah gerombolan preman bersenjata itu dengan ekspresi bosan.
Tangan kanan Macan Hitam melangkah maju sambil meludah ke tanah, membawa pipa besi di pundaknya. Ia menatap Muchen dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan.
"Jadi, kaulah yang bernama Jiang Muchen? Mantan suami yang dibuang jadi gelandangan, lalu mendadak jadi kaya raya karena hoki? Nyali juga kau, berani datang sendiri ke tempat kami tanpa pengawal. Menyerahlah, potong sendiri pergelangan kakimu, dan kami akan membuat kematianmu sedikit lebih cepat!" ancam preman berparut itu disusul tawa berderai dari anak buahnya.
Muchen menghentikan langkahnya tepat lima meter dari mereka. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket, lalu mendesah pelan.
"Anjing-anjing peliharaan Zhao Qiming memang berisik," ucap Muchen dingin. "Kalian dikirim ke sini untuk mematahkan kakiku?"
"Bukan cuma mematahkan kaki, tapi menghancurkan seluruh sisa hidupmu, Bangsat!" teriak sang tangan kanan, lalu memberi komando. "Hajar dia! Jangan sampai mati sebelum disiksa!"
Wusss!
Empat orang preman bertubuh besar menerjang ke depan secara bersamaan, mengayunkan tongkat bisbol dan pisau tajam langsung ke arah kepala Muchen dari berbagai sisi. Kecepatan serangan itu cukup untuk meremukkan tengkorak manusia biasa dalam satu pukul.
Namun, di mata Muchen yang sudah dibekali Penguasaan Bela Diri Master dan refleks tingkat dewa, gerakan para preman amatir itu terlihat selambat tayangan gerak lambat (slow motion).
Bum!
Muchen bergerak. Gerakannya begitu cepat hingga meninggalkan bayangan tipis di udara.
Sebelum preman pertama sempat menyentuh bahunya, sebuah tendangan kilat menyapu udara dengan suara ledakan sonik kecil.
Crack!
Tulang rusuk preman pertama hancur berkeping-keping disertai suara retakan yang mengerikan. Tubuhnya terpental mundur sejauh lima meter, menembus tumpukan kardus kosong sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
"Arghhh!"
Belum sempat tiga preman lainnya memproses apa yang terjadi, Muchen sudah melesat masuk ke tengah-tengah mereka.
Brak! Bugh!
Setiap kepalan tangan dan ayunan siku Muchen menghantam titik-titik vital dengan presisi militer. Tidak ada gerakan yang terbuang. Setiap satu pukulan berarti satu tulang yang patah atau satu preman yang ambruk ke lantai tanpa daya.
Dalam kurun waktu kurang dari sepuluh detik, sepuluh orang preman bertubuh kekar bersenjata itu kini sudah bergelimpangan di atas aspal gudang, mengerang kesakitan sambil memegangi bagian tubuh mereka yang remuk.
Tangan kanan Macan Hitam yang tadinya memegang pipa besi kini mematung. Pipa di tangannya lepas dari genggaman, jatuh bergemerincing ke tanah. Lututnya bergetar hebat hingga ia terduduk di aspal. Matanya melotot menatap Muchen seolah sedang melihat hantu iblis dari neraka.
"I-ini... monster macam apa kau?!" jerit sang tangan kanan dengan suara parau penuh teror mutlak.
Muchen melangkah mendekat, menginjak jari-jari tangan preman berparut itu dengan pelan namun bertenaga, membuat si preman menjerit histeris kesakitan.
"Pulanglah pada tuanmu, Zhao Qiming," bisik Muchen tepat di telinga preman itu dengan nada yang membuat darah di sekujur tubuh membeku. "Katakan padanya, matahari besok tidak akan bersinar cukup lama untuk menyelamatkan nyawanya. Gilirannya akan segera tiba."
Muchen mengangkat kakinya, membiarkan preman yang sudah ompong mental itu merangkak ketakutan bersama anak buahnya yang lain.
Ding!
[Misi Sampingan Bertahan berhasil diselesaikan dengan tingkat kesempurnaan absolut.]
[Mengirimkan Hadiah 1: Pengawal Bayangan Tingkat Dewa telah aktif dan mengambil posisi tersembunyi di sekitar Host.]
[Mengirimkan Hadiah 2: Penguasaan Bela Diri Master telah menyatu sempurna dengan insting motorik Host.]
Muchen berdiri tegak di bawah temaram lampu gudang. Di dalam kegelapan malam, bayangan-bayangan senyap bergerak patuh, siap melaksanakan perintah apa pun untuk mencabik-cabik musuh.
Permainan kejar-kejaran telah berakhir. Saatnya penentuan.