Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17. Pertemuan Tak Terduga
Pesannya tak kunjung dibalas. Kesal sekaligus khawatir, Ellea akhirnya mendatangi kamar kakaknya. Ia mengetuk pintu beberapa kali sebelum memutar kenopnya dan masuk tanpa menunggu jawaban.
Elden berdiri di dekat ranjang dengan kedua tangan bertengger di pinggang. WaJahnya langsung mengeras saat melihat adiknya masuk tanpa izin.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk? Berani sekali kau masuk hanya untuk menanyakan dia?"
Ellea nyaris mendecakkan lidah. Ia tak mungkin mengakui bahwa pesan yang tak dibalas itulah yang membuatnya datang. Dengan cepat, ia mencari alasan lain.
"Bukan itu. Aku hanya mau ajak Kakak pergi ke dokter. Sekarang juga.”
Ellea melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak akan menerima penolakan lagi.
Elden menggaruk kepalanya dengan kasar. “Aku sudah bilang, aku akan pergi besok.”
“Dari kemarin Kakak juga bilang begitu. Sekarang sudah lebih dari satu minggu Kakak muntah setiap pagi.”
Elden mendengkus. “Hmmmff ... Bukan urusanmu.”
“Bukan urusanku?” Ellea menaikkan alis. “Ibu sampai khawatir, tahu nggak? Kakak terus muntah, susah makan, lalu belakangan bertingkah aneh. Ibu takut ada sesuatu yang serius.”
Elden mengerutkan keningnya.
"Jadi, kalian pikir aku akan meninggal gara-gara muntah setiap hari?"
Ellea mengedikkan bahu. “Memangnya kita bisa tahu kalau Kakak belum diperiksa?”
Sebenarnya, Elden pun mulai terganggu oleh kondisi tubuhnya. Lebih dari seminggu ini, ia mudah lelah, kehilangan selera makan, dan terus-menerus merasa mual setiap pagi. Namun, ia terlalu gengsi untuk mengakui bahwa kondisinya mungkin memang membutuhkan pemeriksaan.
Yang paling menyebalkan, pencarian singkat di internet semalam justru membuatnya menemukan berbagai artikel tentang gejala kehamilan.
Sungguh tidak masuk akal. Ia seorang laki-laki!
“Sudahlah, Kak. Kita ke dokter sekarang,” desak Ellea.
Elden mengusap wajahnya kasar. “Memangnya harus ke mana?”
“Ke Kota Dingin. Aku sudah mencari rumah sakit yang bisa memeriksa kondisi Kakak dengan lengkap.”
“Kota Dingin?” Elden mengernyit. “Kenapa harus sejauh itu?”
“Karena fasilitas di sana paling lengkap di provinsi kita ini.” Ellea tak berniat mengungkapkan alasan sebenarnya. Ia hanya ingin melihat sendiri apa yAng akan terjadi jika kakaknya kembali berhadapan dengan Dea.
Elden mengembuskan napas panjang.
Ia hendak menolak, tetapi tiba-tiba rasa mual kembali menyerang. Ia buru-buru menutup mulut, lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.
Sudut sebelah bibir Ellea sedikit terangkat. “Sekarang kamu paham kan? Alasan kekhawatiran kami?
Beberapa menit kemudian, Elden keluar dari kamar mandi dengan wajah lelah.
Ellea segera bergegas keluar. “Setengah jam lagi kita berangkat.”
“Cerewet,” dengus Elden mengusap bibirnya dengan punggung tangan.
.
.
Di Kota Dingin
Pada sore hari di sela waktu kosong, Dea baru saja menyelesaikan pemeriksaan beberapa dokumen yang berkaitan dengan penyelidikannya.
Petunjuk mengenai selisih inventaris digoksin masih mengganggu pikirannya. Ia belum memperoleh jawaban pasti.
Ia tak boleh terburu-buru. Satu kesalahan dalam mengambil kesimpulan bisa membuat seluruh penyelidikannya berantakan.
Dea menutup buku catatannya, lalu memasukkannya ke dalam tas.
“Aku akan kembali lagi besok,” gumamnya.
Ia kemudian berjalan keluar dari ruang administrasi menuju lorong utama rumah sakit.
Saat melewati persimpangan lorong, Dea sempat menunduk untuk memeriksa pesan yang baru masuk dari seorang petugas.
Namun, langkahnya mendadak terhenti. Seseorang berjalan dari arah berlawanan, tak jauh dari hadapannya.
Pria itu mengenakan kemeja biru gelap dengan wajah yang begitu melekat dalam ingatannya.
Elden Zarreti.
Sesaat, suara-suara di koridor seolah menjauh. Dea terpaku. Pria yang berdiri di hadapannya adalah orang yang selama ini berusaha ia hindari, orang yang wajahnya masih menghantui ingatannya setiap kali ia teringat malam pernikahan mereka.
Tatapan Elden menyeretnya kembali ke kamar hotel itu. Suara dingin yang telah menghakiminya, cengkeraman yang tak bisa ia lepas, dan ke malam ketika seluruh permohonannya diabaikan.
Napas Dea tertahan.
Jemarinya mendadak dingin. Ia ingin melangkah mundur, menjauh dari pria itu, tetapi kedua kakinya seolah kehilangan kekuatan. Pandangannya mulai kabur, sementara suara-suara di koridor terdengar semakin jauh.
Tali tas yang menggantung di bahunya terlepas dari genggaman.
Brak!
Tas itu jatuh. Beberapa isinya berserakan di lantai.
Ellea mengerutkan kening. “Kak Dea?”
Belum sempat ia melangkah mendekat, lutut Dea lebih dahulu menyerah. Tubuh perempuan itu oleng, nyaris menghantam lantai.
Secara refleks, Elden bergerak.
Kedua lengannya menangkap tubuh Dea sebelum kepalanya membentur lantai. Gerakan itu terjadi begitu cepat hingga Elden sendiri tak sempat memahami mengapa ia melakukannya.
Kini, Dea berada dalam kedua lengannya.
Elden menunduk, menatap wajah pucat perempuan yang selama ini ia benci.
Untuk sesaat mereka terdiam mencerna sesuatu yang sedang terjadi.
Ia datang ke rumah sakit hanya untuk memeriksakan kondisi tubuhnya yang semakin memburuk. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu Dea, apalagi menangkapnya seperti ini.
'Apa yang sebenarnya terjadi?'
Namun, sebelum Elden sempat menemukan jawabannya, kelopak mata Dea bergerak. Perempuan itu perlahan menyadari bahwa seseorang sudah menangkapnya.
Tatapan Dea naik, perlahan pandanganya masih sedikit kabur. Begitu mengenali wajah pria yang berada begitu dekat dengannya, mata Dea terbelalak.
“Jangan sentuh aku!”
Dea meronta, berusaha melepaskan diri dari kedua lengan Elden. Tubuhnya kembali bergetar hebat.
Ellea terperanjat melihat reaksinya.
Sementara Elden membeku, tak memahami mengapa perempuan yang baru saja ia tangkap itu justru memandangnya seperti sosok yang paling menakutkan di dunia.
Yuhuuu ... Malam Senin adalah malam buat ngemis VOTE ... mohon bantu aku ya Kakak semua. Biar cerita ini semakin banyak yang baca, bantu dikasih vote ya. Gift juga boleh, hehehe ... Terima kasih 😇🙏🍅💖❤️
Bersambung ...
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella