Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAGA HITAM VS BERUANG BAJA
Renzo menatap tajam Ivan, sosok paling gila bertarung yang pernah ia kenal.
"Dan jika aku menolak?" Tanya Renzo.
Ivan tertawa keras, suaranya bergema penuh ancaman, "hahahaha... kau tidak setuju? Itu artinya selama kau hidup aku tak akan membiarkanmu hidup damai!"
Sejenak keheningan mencekam menyelimuti tempat itu, hanya suara napas berat ratusan orang yang terdengar memburu di udara.
"Kau tau?" Ucap Renzo menggeleng pelan, matanya tak lepas dari sosok di hadapannya, "kau adalah orang gila karena menganggap pertarungan adalah hiburan. Tapi demi kedamaianku selama 2 tahun ke depan, baiklah, aku menerima tantanganmu!"
Sementara itu Belly yang awalnya ingin mengendalikan situasi hanya bisa menatap dengan mata berkedip-kedip, takjub sekaligus takut meledaknya badai di hadapannya. Dengan gerakan halus ia memberi isyarat — anak buahnya mundur serempak 50 langkah. Melihat itu, ratusan narapidana lain ikut mundur serentak, menciptakan arena luas bersih di tengah lapangan.
Lalu tiba-tiba tawa berat menggema dari kerumunan.
"Hahahaha..!!!"
Orang-orang menoleh serentak, bahu merosot jatuh wajah mereka langsung pucat pasi. Di sana berdiri seorang pria tegap berseragam lengkap, bintang emas di bahunya berkilat dingin di bawah cahaya matahari pagi ia adalah seorang Kolonel. Di belakangnya berbaris sipir-sipir membawa bangku kayu rapi, menempatkannya menghadap tengah lapangan seakan akan menyaksikan pertunjukan teater. Napas para tahanan tercekat seorang kolonel seharusnya tak turun ke lapangan saat jam olahraga.
Salah satu sipir mendekat ragu, "Tuan Kolonel, apa yang harus kita lakukan?"
Sang Kolonel menyeringai puas lalu duduk santai menyilangkan kaki, seakan duduk di kursi empuk ruang kerjanya. "Apa lagi?" ucapnya tenang, "duduk dan nikmati pertunjukan. Pertarungan berkualitas seperti ini jarang terjadi, bukan? Ayo siapkan bangku untuk para penguasa penjara juga, agar kita bisa menikmati bersama!"
Belly dan Pangeran Kael duduk di barisan depan tanpa ragu. Tak lama kemudian tiga bayangan gagah berjalan keluar perlahan dari kerumunan, langkah berat membuat tanah seakan bergetar tiap kali kakinya menjejak.
Yang pertama Darren tinggi tegap, wajah dingin tak berkedut sedikitpun, tatapannya tajam bagai mata elang yang tak pernah lelah mengawasi mangsa.
Yang kedua Axel tingginya mendekati dua meter, tubuh lebar bagaikan beruang hitam, setiap langkahnya berbunyi berat menggetarkan tulang telinga.
Yang ketiga Damian tubuhnya pendek wajahnya tampak tenang, senyum tipis tak pernah pudar di sudut bibirnya, namun tatapannya penuh perhitungan — semua orang yang mengenalnya pasti tahu di balik senyumannya terdapat wajah pembunuh berdarah dingin.
Ketiganya duduk berdampingan. Para penguasa gedung kini menyaksikan dua pendatang baru yang sedang memperebutkan posisi penguasa di gedung Naga Neraka.
Di tengah arena kosong, Renzo dan Ivan berdiri berhadapan jarak sepuluh langkah. Mata mereka saling terkunci tak berkedip, dua binatang buas yang akhirnya menemukan lawan yang setara.
Renzo perlahan merentangkan jari-jarinya, lalu meremas hingga kuku jarinya memutih. Di sampingnya Ivan memiringkan leher ke kiri lalu ke kanan — krek.. krek.. bunyi tulang leher bergeser terdengar jernih hingga ke barisan penonton. Beberapa orang tak sadar menelan ludah.
"Sudah siap?" Tanya Ivan menyeringai, matanya menyala liar tak sabar akan adrenalin pertarungan yang ia anggap hiburan.
Renzo tersenyum tipis, dingin dan tenang bagai permukaan air danau dalam. "aku sudah siap semenjak tadi."
BOOMMM..!!!
Ivan menghentakkan kakinya ke tanah sekuat tenaga, awan debu dan kerikil meledak ke udara. Tubuhnya melesat bagai peluru meriam, angin menderu di depannya, tinju kanannya mengepal keras menargetkan wajah Renzo dengan kecepatan mematikan.
Namun sebelum tinju itu menyentuh wajah Renzo— Renzo menghilang.
DUARGGH!
Tanah tempat ia berdiri retak menjalar memecah belah, tubuhnya melesat ke udara lebih cepat daripada mata yang mengikuti, Renzo menghindari pukulan maut itu dengan lompatan gesit lalu berbalik menukik ke bawah seakan elang menyambar kelinci.
BAAMMM!!!
Tumit kakinya menghantam bahu Ivan tepat di titik terlemah. Getaran benturan merambat ke seluruh tubuh pria besar itu. Batu pecah di bawah kakinya.
Namun Ivan tak bergeming. Justru kepalanya mendongak tertawa membahana.
"HAHAHAHA..!!!"
Ia memutar pinggang seketika, tangan kirinya mencengkeram pergelangan kaki Renzo erat bagai jepitan baja pijar.
"MATII!!!" raung Ivan hingga udara bergetar.
Ia memutar badan lalu membanting Renzo ke tanah dengan sekuat tenaga.
BRUK!!!
Tanah amblas melingkar di titik benturan, debu tebal menyembur tinggi menutupi pandangan ratusan orang. Para narapidana mundur serentak langkah gemetar, terasa tanah berguncang hingga telapak kaki mereka.
"Kau cepat... tapi aku lebih kuat!" napas Ivan memburu, rasa bangga meledak di dada.
Namun detik berikutnya matanya melebar bulat. Genggamannya kosong.
WHUSSS!!
Angin berdesir pelan tepat di belakang telinganya.
"Kau lambat…" bisik Renzo pelan, tak ada nada emosi di suaranya, hanya kenyataan dingin.
Belum sempat Ivan berbalik — punggungnya dihantam pukulan brutal Renzo.
BAAAAMMM!!!!
Udara terperas habis dari paru-parunya. Tubuh besar itu meluncur di udara lima meter jauhnya sebelum mendarat berguling-guling, batu-batu kecil menabrak punggungnya memberikan rasa nyeri.
"Uhuk! Uhuk!" Darah merah segar menyembur dari mulutnya saat bangkit tersandar satu lutut. Namun bayangan sudah jatuh menimpanya.
DUGG!!
Kaki Renzo menghantam kepala Ivan hingga wajahnya menghantam tanah dengan keras. Renzo tak memberi waktu bernapas — ia meraih kerah baju Ivan, mengangkat tubuh seratus kilo itu setengah meter dari tanah seakan karung kosong lalu menghantamkan pukulan bertubi-tubi tanpa ampun.
BAM!! — tulang pipi retak berderit.
BAM!! — rusuk pecah menusuk daging.
BAM!! — ulu hati tertekan hingga napas terhenti sesaat.
BAM!! — rahang bergeser.
BAM!!! — satu pukulan uppercut menghantam dagu Ivan, kepala Ivan terlempar ke belakang di susul tubuh yang melayang jatuh lalu terkulai tak berdaya.
Suara retak tulang terdengar samar di keheningan, nyaris tak terdengar di atas degup jantung ratusan penonton yang berpacu gila. Ivan terbaring di genangan darah, wajahnya bengkak memar, gigi patah berceceran di tanah — namun bibirnya terangkat menyeringai. Matanya masih menyala hidup-hidup.
"Heh..." napasnya tersengal parau, "kau lebih kuat dari yang kuduga!" ucapnya bukan menahan sakit, melainkan penuh kegembiraan.
Renzo berdiri tegak di depannya napasnya masih tenang tak berubah. "Apakah kau sekarang akan menyerah?"
"Menyerah?!" Ia meludah gigi berdarah ke samping, tangan gemetar menumpu tanah berusaha bangkit. "TIDAK AKAN PERNAH!!"
Dalam sekejap mata ia melesat maju kembali, seakan tak ada tulang yang patah di tubuhnya. Mata penonton membelalak — pertarungan belum usai, bahkan baru saja memanaskan mesin neraka mereka.
Di bangku penonton, senyuman kolonel makin melebar tak sadar. Belly menelan ludah kering, pangeran kael berkali-kali berdecak kagum, Darren mengepal tangan di sandaran kursinya namun tatapannya masih dingin, Axel menatap kagum dengan gigi bergemertak. Damian duduk mematung menatap Renzo dan Ivan bergantian penuh perhitungan.
Semuanya terpaku dengan pertarungan itu... Siapakah yang akan menang? Siapakah yang akan menjadi penguasa baru gedung Naga Neraka? Jawabannya akan terungkap dalam pertarungan terbrutal di Nusakambangan.