Setelah akar spiritual emasnya dirampas secara paksa oleh sepupunya sendiri dan tubuhnya dibuang ke Jurang Abu Api, Lin Xuan—seorang pemuda klan cabang yang sekarat—justru menyatu dengan Tungku Abu Takdir peninggalan zaman purba. Dari abu kehancuran, ia menempuh jalur kultivasi terlarang yang mampu melebur kutukan, meracik pil dari racun mematikan, dan menebas tatanan langit yang korup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Kembali dari Kematian
Tujuh hari berlalu di dalam perut Jurang Abu Api yang tak mengenal siang maupun malam.
Di bibir tebing bagian atas yang diselimuti kabut belerang, sesosok pemuda berambut panjang yang diikat sehelai kain hitam melompat ringan ke atas batu karang terakhir. Jubah putihnya yang dulu berlumuran darah kini telah berganti menjadi pakaian hitam sederhana peninggalan penjelajah kuno yang tulangnya ia temukan di salah satu gua tebing.
Di punggungnya, terikat bilah pedang hitam patah yang dibungkus kain kelabu.
Selama tujuh hari menebas jalan ke atas, lebih dari tiga puluh ekor Ular Api Ekor Besi telah berakhir menjadi abu di dalam Tungku Abu Takdir. Berkat puluhan mutiara cairan murni hasil peleburan inti darah ular, kultivasi Lin Xuan kini telah menembus Alam Pemurnian Tubuh Lapis Enam Puncak—hanya terpaut selangkah tipis dari Lapis Tujuh!
"Anak muda, begitu kau kembali ke Kota Awan Merah, tahan sedikit niat membunuh di matamu itu," suara Tetua Gu terdengar mengingatkan dari dalam pedang di punggungnya. "Lin Zhen yang kau ceritakan itu berada di Alam Pembukaan Meridian Lapis Enam. Meski fondasi Qi Abu-mu tiga kali lebih padat daripada kultivator selevelmu, menghadapi kultivator yang sudah membuka meridian utama tetap terlalu berisiko sebelum kau mencapai Lapis Delapan atau Sembilan."
Lin Xuan menatap ke arah siluet bangunan megah Kompleks Klan Lin yang berdiri di kaki Gunung Awan Merah di bawah sinar bulan sabit.
"Aku mengerti, Tetua Gu," jawab Lin Xuan tenang, namun suaranya menyimpan ketegasan baja. "Aku tidak akan langsung menyerbu aula utama malam ini. Prioritas utamaku adalah memastikan keselamatan Wan'er di Paviliun Bambu."
Dengan mengaktifkan langkah Jejak Tanpa Bayangan, tubuh Lin Xuan melesat menuruni lereng gunung tanpa menimbulkan suara sedikit pun, bahkan dedaunan kering yang diinjaknya tak mengeluarkan bunyi gemerisik.
Paviliun Bambu terletak di sudut paling terpencil di halaman belakang Klan Lin. Sejak orang tua Lin Xuan gugur lima tahun lalu, ia dan adik angkatnya dipindahkan paksa dari kediaman utama ke paviliun tua yang lembap ini.
Namun, saat Lin Xuan bersembunyi di balik bayangan pohon bambu seratus langkah dari gerbang halaman, keningnya langsung berkerut tajam.
Pintu kayu Paviliun Bambu tampak jebol. Di halaman depan yang sempit, dua penjaga klan utama berseragam biru tua sedang berdiri sambil tertawa kasar, sementara di dalam kamar yang diterangi lampu minyak redup, terdengar suara batuk lemah seorang gadis muda yang disusul bentakan seorang wanita paruh baya.
"Heh, Nyonya Liu di dalam sana benar-benar tidak punya belas kasihan," ujar salah satu penjaga bertubuh jangkung sambil meludah ke tanah. "Lin Xuan sudah mati menjadi abu di dasar jurang tujuh hari lalu, tapi jatah bubur obat terakhir milik adiknya pun masih mau dirampas malam ini."
"Kau ini bicara apa? Gadis bernama Lin Wan'er itu punya tubuh Meridian Es Beku yang hanya menghabiskan batu roh klan," sahut penjaga kedua yang berwajah bopeng—orang yang sama yang menendang dada Lin Xuan di tepi Jurang Abu Api tujuh hari lalu! "Tuan Muda Tianhao sendiri yang memerintahkan agar jatah obatnya dihentikan. Tanpa rumput penghangat darah, gadis itu paling lama hanya bertahan hidup tiga hari lagi. Kita bahkan tidak perlu mengotori tangan."
Udara malam di sekitar rumpun bambu mendadak turun belasan derajat.
Kedua penjaga itu tiba-tiba bergidik ngeri. Belum sempat mereka menoleh ke arah sumber hawa dingin tersebut, sesosok bayangan kelabu telah berdiri tepat di belakang mereka bagaikan dewa kematian yang merangkak naik dari dasar neraka.
"Kalian baru saja berkata... tidak perlu mengotori tangan?"
Suara dingin yang teramat mereka kenal itu membuat bulu kuduk kedua penjaga berdiri tegak. Penjaga berwajah bopeng itu memutar tubuhnya dengan mata terbelalak lebar, tangannya secara refleks hendak mencabut golok di pinggangnya.
"Lin... Lin Xuan?! Hantu—!"
Srak!
Lin Xuan bahkan tidak mencabut pedang hitam di punggungnya. Ia hanya mengayunkan tepi telapak tangannya yang diselimuti lapisan tipis Qi Abu ke arah leher kedua penjaga tersebut.
Suara tulang leher yang remuk terdengar hampir bersamaan dengan terputusnya napas mereka. Mata kedua penjaga Pemurnian Tubuh Lapis Empat itu melotot tak percaya saat tubuh mereka ambruk ke tanah tanpa sempat mengeluarkan satu jeritan pun.
Lin Xuan meletakkan telapak tangannya di atas dada kedua mayat itu selama dua detik. Kilatan energi kelabu dari Tungku Abu Takdir berkelebat samar, dan dalam sekejap mata, kedua jasad itu menyusut menjadi gumpalan abu halus yang langsung tersapu angin malam tanpa meninggalkan setetes darah pun di halaman.
Tanpa berhenti sedetik pun, Lin Xuan melangkah melewati pintu halaman yang rusak menuju kamar utama Paviliun Bambu.