Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.
Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Nadia berjalan msuk ke dalam kelas dan berharap bisa bertemu dengan Jayden. Sayangnya Jay tak ada di sana, Nadia berjalan keliar dan menelusuri setiap lorong, ia juga tak lupa bertanya ada para murid, dan tak ada dari mereka yang melihat Jayden pagi ini.
"Apa dia belum dateng? tapi ini bentar lagi juga bel masuk kelas, atau dia sakit karena kemarin gue lihat ada ada rembesan da rah di baju Jay," gumam Nadia yang kini merasa bersalah.
Nadia kembali ke kelas karen ia tak juga menemukan Jayden.
"Gue beli cemilan ni," bisik Mela menoleh ke belakang. "Jay nggak masuk sekolah? oh iya, tadi kenapa lo bisa bareng sama Kevin ke sekolahnya?" tanya Mela lagi.
"Ceritanya panjang, nanti aja gue ceritainya."
"Ah, dari kemarin nant mulu, tapi kagak cerita cerita," protes Mela yang langsung dapat deheman dari guru karena terus mengobrol.
"Maaf bu," kata Mle pada bu Linda.
Selama mata bu Linda mengajar di dalam kelas, pikiran Nadia tak bisa tenang, ia jadi kepikiran dengan Jay, rasa bersalah muncul karena kini Jatak ada duduk di sampingnya.
Nadia menghembuskan nafasnya panjang saat bel istirahat berbunyi.
"Nad lo kenapa sih? muka lo pucet anjir."
Nadia tiba-tiba mengingat perktaan jayden bahwa cowok itu adalah donatur terbesar di sekolah itu, Nadia berjalan keluar kelas tanpailang sepatah kata pun pada Mela.
"Etdah bocah ngapa sih? aneh banget hari ini," monolog Mela yang ingin mengikuti langkah Nadia tapi sudah hilang.
"Nadia mana?" tanya Kevin yang tiba-tiba datang menghampir Mela.
"Nanya gue lo? katanya nggak butuh sama gue! ya cari aja sendiri, emanggnya gue emaknya Nadia yang harus ada sama Nadia 24jam!" ketus Mela mengabaikan Kevin.
"Kemana dia? jangan- jangan pergi sama cowok itu lagi." dumel Kevin yang langusng menyulut emosinya sendiri
Sedangkan Nadia yang mencoba ke ruangan guru untuk menanyakan Jay pada kepala sekolah yang bernama, Pak syamsudin.
"Selamat siang pak, maaf alau saya menganggu waktu bapa," ucap Nadia dengan sopan.
"Ada apa Nadia? ada yang bisa di bantu?"
"Maaf sebelumnya kalau saya lancang Pak, saya hanya ingin tahu tentang Jayden Mahendra. Apakah benar dia adalah donatur terbesar di sekolah ini?"
"Iya betul Nadia, apa ada masalah?" Nadia menggeleng pelan.
"Nggak ada kok Pak, oh iya maaf lagi bapak, pa bapak tahu kenpaa hari ini Jayden tidak masuk ke sekolah?"
"Saya mendapatkan konfirmasi bahwa Jayden tidak akan masuk ke sekolah lagi, soal masalahnya apa, saya tidak berani bertanya pada beliau."
"Beliau?" Nadia heran saat ia mendengar kepala sekolah memanggil Jayden beliau.
"Sudah seharusnya kita memanggilnya beliau sejak dia masuk ke sekolah ini, kaena dia adalah donatur sekaligus pemilik sekolah ini."
"Baik pak, kala begitu saya undur diri, terimakasih atas informasi yang bapak beirkan pada saya."
Nadia membungkuk sebelum ia keluar dari ruangan kepala sekolah tersebut.
Nadia mengambil ponselnya, mencoba mencari nama kontak yang ia tahu bahwa dirinya belum juga mempunyai nomer jayden di ponselnya.
"Sayang," panggil Kevin yangNadia kira itu adalah Jayden.
Reflek Nadia menoleh, cewek itu sedikit kecewa karea bukan Jayden yang memangginya.
"Kevin. Ada apa? kamu ke katin?" tanya Nadia bersikap seperti biasa saja.
"Aku nyariin kamu tahu, kamu dari mana sih?
Pasti nyariin cowok itu lagi kan? aku cemburu Nad!" Kevin mengenggam tangan Nadia. dan dengan cepatNadia menepis tangan Kevin.
"Nggak enak di liat sama anak-anak yang lain."
Dari jawaban Nadia. Kevin tahu bahwa kini hati Nadia mulai goyah, dan tak seperti dulu lagi, Tapi Kevin telah bertekad akan kembali merebut Nadia kembali ke dekapanya.
"Ya udah, kita ke kantin yuk, aku laper," Nadia mengalihkan pembicaraan mereka.
Kevin berjalan beriringan dengan Nadia. sesekali kadang Kevin ingin mencuri kesempatan untuk mengenggam tangan Nadia lagi, namun sayangnya Nadia lagi- lagi menepis tanganya denga alsan yang sama.
Sampainya di kantin, Nadia melihay Mela yang makan seorang diri, dengan cepat Nadia duduk di samping Mela karena tak mau jika dirinya duduk dekat dengan Kevin.
"Haduhhh... ada benalu lagi." cibir Mela yang sengaja menyindir Kevin.nih." "Uda ahh..jangan pada berantem, gue laper
Siang ini Jayden mulai di sibukan dengan rutinitas di perusahaan miliknya bersama Arnold.
"Lo nggak mau makan dulu apa? dari tdi sibuk mulu perasan," kata Arnold memelas karena perutnya sudah lapar.
"Kemarin lo nyuruh gue buat balik ke perusahaan, sekarang gue balik lo malah ngeluh, gimana sih?"
"Iya, tapi kan ya harus inget makan juga anjir emang lo nggak laper?"
"Dua menit lagi kita keluar carimakan."
Arnold merasa lega karena akhirnya perutnya akan terisi makanan juga.
"Ajak Jesica ya," rengek Arnold yang lagi m; akukan pendekatan dengan Jesica, salah satu teman dan juga sahabat jayden.
"Serah lo deh."
"Yes!!" seru Arnold yang langusng meakukan panggilan dengan Jesica.
Dua menit akhirnya berlalu, Jayden keluar bersama Arnold yang juga sudah janjian dengan dokter Arga dan juga Jesica untuk makan siang bersama.
Suaana restonan begitu tenang dan itu membuat persahabatan mereka terlihat intens dan harmonis, tapi ingatan Jay lagi-lagi tak bisa lepas leh Nadia, cewek yang sedari dulu ia cintai. dan saat ia sudah bisa mendapatkanya malah kini harus berpoisah atau pisah ranjang untuk sementara waktu.
"Makan jangan ngelamun!" cibir Jesica.
"Biasalah, namanya kan juga masih pengantin baru, eh... malah di suruh pisah ranjang, ya jadinya begini deh, harap maklum kalau tiba-tiba dia harus tes kejiwaan nantinya." imbuh Arnold menyahut.
"Udah bosen lo lerja di kantor gue, lama- ama ngelunjak tahu nggak?!"
Seketika Jesica dan Arga tertawa mendengar perseteruan antara Jayden dan Arnold yang selalu terjadi dimana mana.
Apalagi saat tadi Jayden mendapatklan kabar dari kepala sekolah jika Nadia menanyakan tentang dirinya, rasa rindu tu semakin nyata dan bertambah, rasanya Jayden bisa gila jika ia tak memeluk badan Nadia walau hanya sehari saja.
"Samperin aja kalau kangen, jangan di tahan,takut deabetes ngak sih dok?" kini Jesica ikut meggoda Jayden.
"Temen nggak ada akhlak emang lon pada,"
ketus Jay yang jadi tak nafsu untuk makan.
"Sorr ya, gue harus cabut duluan, dan buat Lo Jay! inget nanti pulang kantor ke rumah sakit karena gue harus cek luka lo lagi."
"Hem.... bawel amat sih."
Arga pergi, dan kni tinggal tiga orang yang tersisa, sedangkan Arnold masih saja mencoba mendekati Jesica dengan megambilkan sesuatu atau menyuapkan makanan untuk Jesica.
Merasa menjadi kambing conge di sana, jay pamit balik lebih dulu ke kantor dan meminggalkan Arnold juga Jesica berdua.
"Nanti kamu pulang masih sama akukan sayang?" tanya Kevin dan terlihat Mela sangat malas melihatnya.
"Dia punya rumah sendiri ya anjir, ngapain pulang ke rumah lo?"cibir Mela kesal.
"Gue nggak ngomong sama lo ya, ngapain lo sih yang jawab?"
"suka - suka gue lah, gue kan sahabatnya Nadia!"
"Gue cowoknya Nadia! mau apa lo!?"timbal Kevin tak terima.
"Bisa nggak sih jangan ada berantem? kepala gue pusing tau nggak dengernya" tegas Nadia yang membuat Mela dan Kevin terdiam. "Buat kamu Kevin, maaf buat haru ini aku mau pulang dulu ke rumah, aku janji bakal selalu ada saat kamu butuhkan dan sampai kamu sembuh."
"Apaan si Nad? ngga lucu ahhhh..!" timpal Mela yang tak setuju dengan perkataan Nadia.
"Ngak bisa Mel. Itu salah Jayden. dan gue harus tanggung jawab sampai Kevin sembuh."
"Hah? Maksudnya?" bingung Mela.
"Lo liat muka Kevin kan? itu ulah jayden. Mel, dan sekarang dia malah nggak masuk sekolah kan? jadi siapa yang harus tanggung jawab selain gue?"
Kini Mela jadi bingung, entah siapa yang harus ia bela untuk sat ini, di sisi lan ia tak menyukai Kevin yang terus menerus memanfaatkan Nadia. Hanya saja Nadia yang terlalu cinta jadi cinta buta kan?
"Kalah telak kan lo sekarang?" cibir Kevin pada Mela.
Dan hari itu berlalu sangat berat bagi Nadia. sepulang sekolah ia pulang ke rumah dimana iatinggal bersama Jayden. Berhara [p bisa bertemu dengan Jay kala itunjuga.
Tapi harapan Nadia harus pupus saat nadiatak menemukan Jay kamar, bahkan Nadia juga mencari ke seluruh ruangan dimana ia bisa bertemu dengan jay.
"Lo di mana sih njir? tiba-tiba ngilang gitu aja sih?" monolog Nadia mulai frustsi.
Nadia berjalan dengan cepat ke arah dapur untuk bertanya pada pelayan ang ada di rumah itu.
"Mba Mirna......!" seru Nadia dan mba Mirna pun datag.
"Iya kenapa Non?" tanya mba Mirna dengan sopan.
"Mba, dari kemarin Jayden pergi atau baru hari ini nggak ada di rumah?" tanya Nadia berharap mba Mirna dapat jujur padanya.
"Kemarin Den Jay masih ada kok non, ada teman-temannya juga. Yang dokter ngobatin luka Den Jay yang berd arah lagi, habis itu tadi pagi den Jay keluar, tapi nggak pake seragam sekolah, dia pake setelan jas non, kaya mau kerja kayaknya deh non."
"Ohh... Gitu ya mba. Ya udah makasih ya mba."
Nadia merasa lega, setidaknya luka Jay sudah di tangani oleh dokter.
"Setelan Jas? Dia pergi kemana?" Gumam Nadia
lesu.