Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Sederhana di Tengah Hujan Masalah
Sore perlahan berubah wujud menjadi malam.
Langit di atas kampus Universitas Bina Bangsa mulai kehilangan warna jingganya, berganti menjadi kanvas gelap yang pekat. Lampu-lampu kuning di sekitar jalanan gedung fakultas satu per satu menyala otomatis, menerangi area yang sejak siang dipenuhi oleh kru produksi.
Beberapa mahasiswa yang tadi masih berlalu-lalang mengamati syuting kini sudah berkurang drastis, memilih pulang atau masuk ke kelas malam.
Namun, lokasi syuting masih belum juga mereda.
Kamera besar berdiri kukuh di tengah area yang sudah dibatasi pita kuning pengaman. Beberapa kru sibuk mengatur ulang pencahayaan, sementara suara arahan sutradara terdengar menggelegar sesekali dari balik tenda monitor.
"Cut!"
Alya berhenti bergerak dan langsung merilekskan bahunya. Ia menarik napas panjang.
"Sekali lagi! Bagian ujungnya kurang gereget!" teriak sang sutradara.
Alya memejamkan mata sebentar.
Hari ini seharusnya menjadi jadwal syuting yang sederhana. Beberapa dialog ringan dan pengambilan gambar transisi. Namun ternyata realitas lapangan menolak bekerja sama. Adegan yang terlihat mudah di atas naskah justru berkali-kali diulang karena masalah teknis. Kadang lighting kurang dramatis. Kadang blocking kamera bergeser. Kadang dialog Raka, lawan mainnya, sedikit slip di bagian akhir.
Dan sekarang, jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam.
Alya melirik jam tangan properti yang ia kenakan. Lalu tanpa sadar, matanya menyisir melampaui kerumunan kru, mencari sesosok bayangan yang sangat familier.
Arka.
Ia menemukannya tidak jauh dari lokasi syuting, sedikit tersembunyi di bawah bayangan pohon ketapang.
Pemuda itu duduk di salah satu bangku semen panjang dekat gedung fakultas. Sebuah lampu jalan menyorotnya dari atas. Laptop masih menyala terang di pangkuannya.
Sesekali pria berjaket denim itu mengerutkan kening sambil mengetik. Sesekali ia melirik ponselnya. Dan sesekali... matanya terangkat melihat ke arah lokasi syuting tempat Alya berdiri.
Alya mengembuskan napas panjang bercampur rasa tidak enak.
Dia masih di sana.
Padahal saat jam istirahat magrib tadi, Alya sudah mewanti-wanti bahwa syuting hari itu molor parah dan kemungkinan baru akan selesai larut malam.
Beberapa jam sebelumnya, di belakang tenda logistik.
"Ka, kayaknya aku bakal selesai agak malam deh hari ini. Banyak kendala teknis." Alya mengatakan itu dengan raut wajah penuh rasa bersalah saat mereka bertemu singkat.
Arka yang sedang bersandar di tiang sambil memegang segelas kopi hanya mengangguk santai. "Enggak apa-apa."
"Maaf ya. Kalau gitu kita makan malamnya bisa batal atau digeser agak malaman banget."
Arka meminum kopinya perlahan. "Ya udah, digeser agak malam aja."
Alya mengangkat alis, menatap pria itu tak percaya. "Kamu masih mau nungguin di sini?"
"Kita kan sudah janji tadi siang mau makan malam bareng."
Jawaban itu terdengar sangat sederhana. Terlalu sederhana sampai membuat Alya terdiam sejenak.
Alya bahkan sempat tertawa kecil karena tidak yakin. "Ka, kalau misalnya syutingku baru selesai jam sepuluh malam gimana?"
"Ya aku tunggu."
"Kalau jam sebelas?"
"Masih nunggu."
Alya menatap mata pria itu lekat-lekat, mencari kebohongan. "Kamu emangnya enggak punya kegiatan lain selain nungguin orang kerja?"
Arka mengusap dagunya pura-pura berpikir serius. "Ada."
"Apa kegiatanmu?"
"Kelaparan."
Alya terdiam sejenak mencerna kalimat itu, lalu tertawa renyah hingga memukul pelan bahu Arka. "Kamu ini bener-bener ya."
Arka hanya membalas dengan senyuman miring yang khas. "Fokus syuting aja dulu sana. Nanti kalau sudah kelar, baru kita makan."
Itu saja. Tidak ada janji muluk-muluk. Tidak ada kalimat manis yang terdengar dramatis. Hanya sebuah janji makan malam sederhana dari seorang mahasiswa.
Tapi entah kenapa, satu percakapan singkat itu terpatri kuat di kepala Alya dan sukses menjadi bahan bakarnya untuk tersenyum sampai detik ini.
"Cut!"
Suara sutradara kembali memecah lamunan Alya.
"Bagus! Clear untuk scene ini. Istirahat lima belas menit untuk set-up scene terakhir!"
Alya mengangguk. Begitu ia keluar dari area kamera, seorang asisten langsung menghampirinya membawakan botol air mineral berlabel yang sudah dilubangi sedotan.
"Kak Alya, minum dulu."
"Terima kasih, Din."
Alya meneguk air itu cukup panjang untuk melegakan tenggorokannya. Begitu ia menurunkan botolnya, matanya secara otomatis kembali melirik ke arah bangku di bawah pohon ketapang tadi.
Arka masih di sana.
Kali ini laptopnya sudah dimasukkan ke dalam ransel. Pria itu tampak bersandar lelah sambil membaca sesuatu dari layar ponselnya.
Alya memperhatikan sosok itu dalam diam dengan dada yang terasa hangat.
"Masih setia nunggu, ya?"
Sebuah suara berat membuat Alya terlonjak kaget dan menoleh.
Raka Adinata, aktor tampan lawan mainnya itu, berdiri tepat di belakangnya sambil menyandarkan sikunya di kotak peralatan. Tangannya memegang naskah gulung. Matanya mengikuti arah pandangan Alya.
Alya tersenyum canggung. "Iya, Mas."
Raka menatap wajah Alya dari samping. "Cowok itu... teman dekat kamu ya, Al?"
Alya terdiam sebentar.
Pertanyaan yang sangat wajar. Namun entah kenapa, lidahnya mendadak kelu. Ia butuh tiga detik sebelum jawabannya keluar.
"Teman."
Raka hanya mengangguk pelan sambil tersenyum miring. "Beruntung banget kamu punya teman kayak dia. Jarang lho ada cowok dari luar industri yang mau sabar dan tahan bosan nungguin orang syuting sampai selarut ini."
Alya menundukkan wajahnya, tersenyum malu. "Iya." Matanya kembali melirik ke arah Arka di kejauhan. "Dia memang orangnya begitu."
"Begitu gimana maksudnya?"
Alya terdiam. Ia sendiri bingung bagaimana harus menjelaskan sosok Arka kepada orang lain.
Arka tidak pernah berusaha membuat dirinya terlihat spesial. Tidak pernah menuntut perhatian Alya. Tidak pernah memanfaatkan celah status keartisannya. Bahkan saat mereka berada di keramaian atau di depan kru, Arka hanya memperlakukannya seperti Alya pada umumnya. Bukan sang superstar.
Mungkin justru sikap 'biasa' itulah yang membuatnya merasa sangat luar biasa nyaman.
"Entahlah, Mas," jawab Alya akhirnya sambil tertawa kecil menutupi kebingungannya.
Raka terkekeh, lalu menepuk pelan bahu Alya menggunakan gulungan naskahnya.
"Kalau gitu, selesaikan adegan terakhir kita ini secepatnya. Kasihan cowok itu. Jangan sampai teman istimewamu nunggu terlalu lama dan kelaparan."
Alya mengangguk mantap. "Pasti."
Pukul sembilan lewat tiga puluh malam.
Arka masih menunggu di bangkunya.
Kondisi kampus kini jauh lebih sepi dan mencekam. Sebagian besar mahasiswa kelas malam sudah pulang. Lampu koridor di beberapa gedung sudah dimatikan oleh petugas keamanan. Udara malam yang lembap mulai menembus jaket denimnya.
Arka mengusap perutnya yang mulai berdemo menyuarakan rasa lapar yang hakiki. Ia melirik jam di pergelangan tangannya.
"Lama juga ternyata main film."
Alih-alih pergi menyerah dan pulang, Arka justru beranjak berdiri. Ia berjalan menyusuri trotoar menuju minimarket 24 jam yang berada di dekat gerbang depan kampus.
Sepuluh menit kemudian, ia kembali ke bangkunya membawa dua botol minuman isotonik dingin dan sebungkus roti sobek isi cokelat.
Saat ia sedang berusaha membuka bungkus roti itu dengan gigi, ponsel di saku celananya bergetar pelan.
Alya: Kamu masih nunggu di sana?
Arka memindahkan roti dari mulutnya ke tangan, lalu mengetik balasan singkat.
Arka: Masih.
Balasan datang nyaris tanpa jeda.
Alya: Maaf ya, Ka. Lama banget.
Arka berhenti mengunyah rotinya. Ia menatap layar itu sebentar sebelum membalas.
Arka: Enggak perlu minta maaf, Alya. Kamu kan lagi kerja. Bukan lagi nongkrong.
Arka: Lagipula aku sendiri yang dari awal bilang bakal nunggu.
Tidak lama kemudian, balasan Alya muncul.
Alya: Ka, kenapa sih kamu selalu sesederhana itu pikirannya?
Arka mengernyitkan dahi. Ia tidak paham konteks pertanyaannya.
Arka: Maksudnya sederhana gimana?
Lama tidak ada balasan. Status 'online' Alya juga menghilang. Sepertinya wanita itu sudah dipanggil kembali ke depan kamera.
Arka memasukkan ponselnya ke saku dan kembali melanjutkan memakan rotinya sendirian. Ia tidak terlalu memusingkan makna dari pertanyaan Alya.
Namun di sisi lain, tepat di belakang layar diffuser kamera... Alya justru masih menatap layar ponselnya yang terkunci dengan dada bergemuruh.
Pertanyaan yang baru saja ia ketikkan untuk Arka itu, sebenarnya jauh lebih pantas ditujukan pada dirinya sendiri.
Kenapa... kenapa hatiku mendadak merasa sangat lega dan luar biasa nyaman hanya karena ada seseorang yang rela menungguku menyelesaikan pekerjaan?
Bersambung...
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!