Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Raka tidak langsung menjawab. Langkah kakinya yang hendak melangkah pergi terhenti seketika begitu suara bariton yang sangat ia benci itu mengalun di telinganya.
Ia perlahan memutar tubuhnya, menghadapi sang adik tiri dengan tatapan tajam setajam silet.
Urat-urat di pelipis Raka menegang, menahan amarah yang mendidih di dada setelah setahun penuh memendam rindu dan dendam kesumat.
"Praduta," panggil Raka dengan nada suara yang rendah, dingin, namun sarat akan tekanan emosi yang luar biasa.
Ia melangkah maju dua langkah, memangkas jarak di antara mereka tanpa sedikit pun rasa gentar.
"Ternyata nyalimu membawamu sampai ke tempat ini. Kukira kamu hanya berani bersembunyi di balik nama besar Devandra yang sudah kotor itu."
Mendengar sindiran telak tersebut, seringai di wajah Praduta perlahan memudar, digantikan oleh sorot mata penuh kebencian yang menyala-nyala. Ia merapikan kerah jasnya dengan gerakan lambat yang penuh intimidasi.
"Kotor? Oh, ayolah, Kak Raka," balas Praduta dengan tawa kecil bernada merendahkan.
"Apa yang kotor jika pada akhirnya semua kekayaan dan tahta itu jatuh ke tanganku? Aku mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku sejak dulu. Termasuk," Praduta mendekatkan wajahnya sedikit, berbisik dengan nada penuh provokasi, "istrimu."
Deg!
Nama itu kembali menjadi hantaman paling telak di hati Raka.
Kepalan tangan Raka mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. Sisa-sisa kesabarannya nyaris runtuh seketika.
"Jangan sebut namanya dengan mulut kotor itu!" bentak Raka tertahan, tatapannya menghunjam tajam ke mata Praduta.
"Di mana Gladys? Apa yang kamu lakukan padanya selama satu tahun ini?!"
Praduta tersenyum miring, menikmati setiap detik kepedihan dan amarah yang terpancar jelas di wajah kakaknya.
"Gladys istriku ada di rumah, dan dia sangat bahagia denganku," ucap Praduta penuh penekanan, mengumbar kebohongan besar tanpa berkedip sedikit pun.
Praduta menatap Raka dengan puas. Dalam hatinya, ia mati-matian menyembunyikan kenyataan pahit bahwa Gladys sebenarnya telah kabur dari pesawat satu tahun lalu dan menghilang dari genggamannya.
Ia tidak akan pernah membiarkan Raka mengetahui kelemahan dan kegagalannya tersebut.
Kebohongan itu meluncur begitu mulus dari bibir Praduta, sengaja dirancang untuk mencabik-cabik kewarasan Raka.
Raka mematung. Untuk sepersekian detik, udara di pelataran parkir hotel bintang lima itu seolah berhenti mengalir.
Kalimat ‘Gladys istriku ada di rumah dan dia sangat bahagia denganku’ berputar nyaring di dalam kepala Raka, menghantam dada dan ubun-ubunnya secara bersamaan.
Darah Raka mendidih hingga ke ujung kepala. Sisa-sisa akal sehat yang selama ini ia jaga dengan susah payah lenyap disapu badai amarah yang teramat dahsyat.
Bugh!
Tanpa bisa ditahan lagi, sebuah pukulan keras telak menghantam rahang kiri Praduta.
Saking kuatnya hantaman itu, Praduta yang sama sekali tidak menduga Raka akan melayangkan bogem mentah di tengah tempat umum langsung terhuyung ke belakang.
Kacamata peraknya terlepas dan mendarat pecah di atas aspal.
Sudut bibir Praduta langsung robek, mengeluarkan darah segar yang mengalir pelan di dagunya.
Pak Minto yang berdiri tidak jauh dari sana terpekik kaget, menutup mulutnya dengan tangan gemetar, sementara beberapa petugas keamanan hotel langsung berlari panik mendekat.
Praduta menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan.
Alih-alih kesakitan, ia justru mendongak, lalu tertawa kecil—sebuah tawa dingin bernada merendahkan yang semakin menyulut api kemurkaan Raka.
"Kenapa, Kak? Terluka mendengar kenyataan bahwa istrimu lebih memilih hidup di bawah bayang-bayangku?" cibir Praduta dengan mata menyipit tajam.
"Bangsat!" maki Raka penuh murka. Ia kembali menerjang, mencengkeram kerah jas Praduta dengan kedua tangannya dan membanting tubuh adiknya itu ke kap mobil mewah di dekat mereka.
"Jangan menguji batas kesabaranku, Praduta! Katakan di mana Gladys, atau aku bersumpah akan menghabiskan sisa hidupku untuk menghancurkanmu sampai tidak bersisa!"
Napas Raka memburu hebat, dadanya naik turun dengan liar.
Namun di balik seringai kesakitan akibat benturan, Praduta justru menatap tajam tepat di manik mata kakaknya, menikmati kehancuran emosional yang berhasil ia ciptakan.
Beberapa petugas keamanan hotel yang datang berlari-lari kecil segera berhenti, tidak berani mendekat lebih jauh saat melihat kilatan amarah dan ketegangan tingkat tinggi di antara dua pewaris keluarga Devandra tersebut.
Praduta meringis pelan sambil menegakkan kembali tubuhnya yang sempat terbentur kap mobil.
Ia merapikan jasnya yang kusut, lalu melirik rendah ke arah pecahan kacamata peraknya di atas aspal.
Seringai dingin kembali tersungging di bibirnya, menikmati kemenangan kecil karena berhasil memprovokasi Raka hingga hilang kendali.
"Simpan tenagamu untuk acara rapat nanti, Kakak tersayang," ucap Praduta dengan nada sinis.
Tanpa membuang waktu lagi, Praduta memutar tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan pelataran parkir, berjalan menuju pintu lobi utama hotel untuk naik ke dalam lift khusus VVIP.
Pak Minto yang berdiri kaku di samping mobil Praduta sempat menatap nanar ke arah Raka.
Sebelum ia bergegas menyusul majikannya, sopir senior itu melirik waspada ke sekitar.
Memanfaatkan sepersekian detik saat perhatian orang-orang terpecah, Pak Minto dengan gerakan kilat merogoh saku jasnya, mengambil secarik kertas kecil yang sudah dilipat rapat, lalu menyelipkannya ke dalam genggaman tangan Raka yang masih mengepal erat.
"Jangan percaya dengan perkataan Praduta," bisik Pak Minto sangat cepat, nyaris tak terdengar, sebelum ia buru-buru memunggunginya dan membawa koper-koper barang bawaan Praduta menyusul masuk ke dalam hotel.
Raka tersentak kecil di tempatnya. Napasnya yang tadinya memburu seketika melambat.
Ia membuka genggaman tangannya dan mendapati secarik kertas kecil di telapak tangannya.
Tanpa ragu, Raka membuka lipatan kertas tersebut dan membaca pesan singkat yang baru saja diterimanya dari Pak Minto.
Sebuah secercah kebenaran langsung menghujam kesadarannya, memecahkan kebohongan telak yang baru saja dilontarkan oleh adiknya.
Jadi, Praduta berbohong? Gladys tidak ada bersamanya! batin Raka, manik matanya menajam, menyadari bahwa perburuannya belum berakhir dan Gladys di suatu tempat sana masih berada di luar jangkauan Praduta.
Sementara itu, kembali ke ruko dan dapur produksi yang terletak di kota kecil tempat Gladys memulai hidup barunya, kesibukan sore itu masih terasa padat.
Di lantai dua, Bima berdiri di depan kuali besar, sibuk menggoreng adonan donat terakhir hingga matang sempurna dan berwarna keemasan.
Gladys baru saja selesai menimbang dan merapikan seluruh kantung bubuk kopi espresso pesanan hotel, sementara Elsa dengan telaten menaburkan gula halus ke atas permukaan donat yang sudah dingin, lalu memasukkannya satu per satu ke dalam plastik kemasan khusus.
Di tengah kesibukan itu, Elsa menghentikan gerakannya sejenak lalu menatap Gladys dengan wajah sedikit tidak enak hati.
"Bu Gladys, besok saya tidak bisa ikut mengantar pesanan ke hotel," ucap Elsa pelan.
Gladys tersenyum hangat, menggelengkan kepalanya pelan untuk menepis rasa bersalah di wajah Elsa.
"Tidak apa-apa, Elsa. Lagian kan kamu mau mengurus keperluan persiapan nikahan kalian. Biar besok saya sama Bima saja yang mengantar pesanan ke hotel."
Mendengar ucapan itu, Bima yang sedang membalik donat seketika menoleh dengan mata berbinar lebar dan senyum sumringah.
"Asyik! Besok kamu nggak ikut, Sa! Berarti selesai antar pesanan, saya sama Bu Gladys bisa mampir cari nasi pecel langganan di dekat sana!" celoteh Bima penuh semangat, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
Gladys langsung tertawa kecil mendengar tingkah usil karyawannya itu.
"Kamu ini ya, Bima, kerjaannya malah mau wisata kuliner."
"Hehehe, sesekali kan, Bu! Biar semangat kerjanya makin membara," balas Bima membela diri sambil cengengesan.
Suasana dapur yang hangat dan penuh gelak tawa itu sedikit banyak berhasil meredakan ketegangan di dada Gladys.
Ia merapikan apron yang dikenakannya lalu menepuk pelan bahu Elsa.
"Kalian lanjutkan ya pengemasannya. Saya mau istirahat sebentar di kamar bawah," pamit Gladys ramah.
"Siap, Bu Gladys! Lanjut, Sa, biar cepet kelar!" seru Bima bersemangat.
Gladys melangkah turun dari tangga dapur, membawa serta sisa lelah di tubuhnya.
Namun, ia sama sekali tidak tahu bahwa di saat ia merebahkan diri untuk beristirahat sore itu, takdir besar sedang berputar kencang, membawa serta bayang-bayang masa lalu yang sudah berada tepat di ambang pintu kota tempatnya bersembunyi.