Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.
Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.
Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 02
Part 02
Amanda menatap tak percaya ke arah kotak bekal makanannya yang salah satunya sudah kosong tak berisi dan semua itu karena lelaki yang bernama Cio. Ya setidaknya nama itu yang Amanda dengar saat lelaki itu memperkenalkan dirinya, namun tindakannya itu sangat menyebalkan hingga Amanda merasa tidak bisa melupakannya terlebih lagi melupakan wajah menyebalkannya itu.
"Aku harap, aku tidak pernah bertemu dengan lelaki itu lagi." Amanda bergumam mantap sembari mengangguk samar. Kakinya terus melangkah ke arah halaman kampus, namun sebelum ke kelasnya, Amanda berniat menemui Farel dan memberikan bekalnya untuk lelaki itu. Dan Amanda sendiri harus rela tidak makan siang kali ini.
"Tidak apa-apa. Aku kan bisa beli roti dan minuman nanti siang." Dengan perasaan yang sedikit lebih baik, Amanda mencoba menyemangati dirinya sendiri. Sampai saat tatapannya jatuh pada sosok Farel, sahabatnya yang tampan dan dingin. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Amanda mengangkat tinggi-tinggi tangannya, berniat menyapa temannya itu.
"Farel," panggilnya sembari melambaikan tangan ke arah sahabatnya, di mana saat ini lelaki itu tengah duduk bersama dengan teman-temannya. Dari kejauhan, Amanda bisa melihat bagaimana Farel diledek teman-temannya, banyak dari mereka yang menggodanya seolah Farel baru disapa kekasihnya. Namun lelaki itu justru terlihat kian tak senang, bahkan tatapannya yang sempat tertuju ke arah Amanda itu teralih tanpa minat. Membuat Amanda merasa bersalah, mungkin karena dirinya Farel diledeki teman-temannya.
"Ada apa lagi?" tanya Farel dingin setelah Amanda berada tepat di hadapannya.
"Aku hanya ingin memberikan sarapan buat kamu. Aku tahu, kamu pasti belum sarapan kan di rumah."
"Kata siapa?" tanyanya sinis.
"Kata Bundaku. Ini, makanlah!" Amanda memberikan kotak bekal itu ke tangan Farel yang ogah-ogahan kala menerimanya. Sedangkan teman-temannya hanya terdiam dan menatap, seolah apa yang sedang mereka saksikan itu sebuah hal biasa tapi lucu karena Farel terus bersikap sama dan Amanda selalu bersikap tak menyerah.
"Kalau begitu, aku pergi dulu." Amanda melangkahkan kakinya, menjauh dari keberadaan Farel dan teman-temannya.
"Wah, sepertinya Amanda itu sangat menyukaimu ya? Dia bahkan tahu kalau kamu tidak sempat sarapan." Dio berujar sembari tertawa setelah menepuk pundak Farel.
"Mungkin benar dia menyukaiku, tapi aku tidak mungkin menyukainya. Kalian tahu kan, siapa yang aku sukai selama ini? Cuma Vanessa." Farel menjawab angkuh seolah ingin meyakinkan teman-temannya bagaimana di hatinya hanya ada seorang Vanessa di sana.
"Dan apa ini? Aku bahkan ingin membuangnya," ujar Farel sembari menatap kotak makanan itu dengan tatapan sinisnya.
"Jangan!" Alex, sahabat baik Farel itu langsung mengambil kotak makanan Amanda, mencoba mengurungkan niat Farel untuk tidak membuangnya.
"Kenapa?" tanya Farel sembari menaikkan kedua alisnya, begitupun dengan teman-temannya yang terdiam kala melihat apa yang Alex lakukan.
"Untukku saja. Kebetulan aku juga belum sarapan. Toh, kamu juga tidak akan memakannya kan?" Alex menjawab tenang, namun justru terlihat aneh di mata Farel kali ini.
"Apa kamu menyukai Amanda?" tebaknya ragu.
"Kalau iya, kenapa?" tantang Alex yang berhasil membuat semua temannya terkejut setelah mendengarnya.
"Apa yang kamu lihat dari Amanda? Dia kan gadis biasa, bahkan orang tuanya bekerja di rumahku sebagai pembantu." Farel bertanya tak terima, merasa tak percaya bila sahabat baiknya justru menyukai gadis yang membuatnya risi.
"Dia gadis baik."
"Apa kamu bercanda? Amanda itu gadis aneh, segala tingkah lakunya membuatku risi, aku bahkan sempat tidak percaya bila aku pernah menjadi sahabatnya."
"Itu sih urusanmu. Dan kotak bekal yang Amanda berikan kepadamu sekarang, besok, dan selamanya akan menjadi milikku mulai hari ini." Alex mengambil kotak itu lalu pergi, meninggalkan Farel yang belum percaya dengan apa yang Alex katakan dan lakukan.
"Terserah kamu saja. Aku juga tidak akan peduli," jawab Farel sebal tanpa memperdulikan bagaimana Alex benar-benar pergi meninggalkannya.
"Apa Alex itu sudah gila? Dia menyukai Amanda, gadis aneh itu?" Farel berujar kesal ke arah teman-temannya, merasa apa yang Alex lakukan itu begitu mengkhianatinya.
"Memangnya apa yang salah dengan Amanda? Dia gadis baik dan tulus ke kamu, seharusnya kamu bisa lebih menyukuri hal itu. Banyak lelaki yang menyukai Amanda, tapi tidak pernah sedikitpun mereka ditanggapi. Hanya karena kamu bisa merendahkannya, bukan berarti kamu hebat di sini." Dio tiba-tiba menyahut sebal lalu pergi ke arah Alex, meninggalkan Farel dan teman-temannya yang lain dengan ekspresi tak percaya.
"Dio juga kenapa sih? Aneh banget." Farel menggerutu sebal, merasa tidak habis pikir dengan sikap teman-temannya yang kian aneh.
"Memangnya kamu tidak tahu, kalau Dio menyukai Amanda tapi tidak pernah direspons?" Salah satu sahabatnya itu bertanya dan hal itu cukup membuat Farel terkejut, karena baru mengetahui masalah itu.
"Aku malah baru tahu hal itu."
"Memangnya apa yang kamu tahu? Yang kamu tahu itu cuma Vanessa dan cara mendapatkan hatinya, mana pernah kamu peduli dengan sahabat-sahabatmu termasuk Dio dan Alex?" sindir sahabatnya itu sembari tertawa kecil dengan salah satu temannya pula.
"Apa kalian bilang?" sungut Farel tidak terima.
"Sudahlah, sebentar lagi kita ada kelas, lebih baik kita ke kelas dulu sebelum dosen datang." Farel hanya terdiam sebal, merasa kesal dengan teman-temannya yang menyebalkan hari ini.
***
Keesokan paginya, Amanda kembali membawa bekal makanan untuk Farel. Kata bundanya, Farel lupa untuk sarapan lagi karena kelasnya memang dimulai cukup pagi, setidaknya itu yang bundanya katakan. Seperti hari kemarin, saat ini Amanda membawa dua kotak bekal makanan yang disediakan untuknya dan teman masa kecilnya itu.
Di belakangnya, Amanda tidak akan menyadari bagaimana Cio, lelaki yang mengganggunya kemarin itu berada di sana dengan memasang senyum setannya. Dengan sangat hati-hati, kakinya melangkah ke arah Amanda tanpa memperdulikan bagaimana orang-orang di sekitarnya menatap aneh ke arahnya. Sampai saat Cio mengulurkan tangannya ke arah bekal makanan yang Amanda rengkuh dan mengambilnya begitu cepat.
"Loh ...." Amanda yang terkejut itu seketika kebingungan setelah menyadari kotak bekal makanannya diambil seseorang, dengan cepat tatapannya teralih ke arah belakang dan mendapati Cio yang tersenyum mengejek ke arahnya.
"Kotak bekal makanan ini sekarang menjadi milikku," ujarnya seolah sudah paham dengan tatapan Amanda yang menyeramkan.