NovelToon NovelToon
Cinta Pada Waktunya

Cinta Pada Waktunya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:63.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda RH

Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.

Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bingung

Paman Tiyas menyerahkan sertifikat rumah dan tanah itu kepada abi. Setelah itu paman Tiyas berpamitan pulang. Meski Tiyas sakit hati keoada pamannya, namun ia masih memiliki rasa hormat. Tiyas tetap mencium tangan pamannya. Walau bagaimana pun mereka pernah menjadi keluarga.

Abi pun menyerahkan sertifikat itu kepada Tiyas.

"Simpan baik-baik,nak. Ini sudah menjadi gak mu. Suatu hari nanti langsung balik nama saja. Biar suamimu yang mengurusnya nanti."

"Terima kasih, pak. "

"Lho kok pak? Panggil abi! Sama seperti suamimu memanggil kami abi dan ummi. Kamu sekarang sudah menjadi anak kami. Dalam keluarga kami menantu bukan orang lain, tapi anak kami juga. Jadi jangan sungkan kepada kami."

"Betul itu, nak." Sahut ummi.

Tiyas terharu mendengarnya. Bahkan saat ini matanya berkaca-kaca. Ia berharap perkataan abi bukan hanya sekedar kalimat yang menyejukkan, tapi kenyataan yang sebenarnya.

Tiyas menyimpan surat-surat tersebut di dalam lemari bapaknya.

Malam ini ummi dan abi memutuskan untuk menginap di rumah Tiyas.

"Tapi keadaannya seperti ini. Saya takut ummi dan abi malah tidak bisa tidur nanti. Bukan hanya tempat tidurnya yang kurang layak, tapi di disni banyak nyamuk dan kipasnya cuma satu di kamar saya. Itu pun nempel di atas."

Ummi dan abi juga merasa tidak enak. Karena kamat yang tersisa hanya kamar almarhum pak Zakir yang mungkin masih belum Tiyas bereskan.

"Oh ya sudah, kami akan kembali ke hotel. Biarlah suamimu saja yang tidur di sini menemanimu. Besok kami akan menjemput kalian."

"Tapi bi... " Sahut Zain.

"Ingat bang, kamu ini sudah menikah. Jaga istrimu baik-baik."

Zain tidak dapat membantahnya lagi.

"Maaf, bukan maksud saya melarang ummi dan abi tidur di sini. "

"Nggak pa-pa, nak. Kami mengerti kok."

Akhirnya ummi dan abi pamit kembali ke hotel diantar Pak Jali.

Tiyas dan Zain mengantar mereka sampai ke depan.

Setelah mobil mereka hilang dari pandangan, Tiyas dan Zain kembali ke rumah. Namun Zain tidak masuk ke dalam rumah, melainkan duduk di teras. Sedangkan Tiyas masuk ke dalam rumahnya.

Zain hanya bisa memandang langit yang terang penuh bintang sambil merenungi nasibnya.

"Semuanya serba cepat. Namun hamba percaya rencana-Mu lebih indah. Mampukan hamba menjadi imam yang baik ya Allah. Karna bagaimanapun hamba sudah mengikat janji."

Sementara itu di dalam rumah, Tiyas nampak bingung. Ia tidak tahu apa yang akan dia lakukan sekarang.

"Ah iya, makan. Kami belum makan. Sampai lupa kalau belum makan malam."

Tiyas pun pergi ke dapur. Hanya ada telur yang bisa dimasak. Nasi tadi pagi yang dimasak masih ada. Karena Tiyas tidak mempunya lemari es, jadi ia tidak bisa mengetik bahan makanan yang banyak. Ia memutuskan untuk menggoreng telur dadar dan membuat sambal terasi.

Beberapa saat kemudian, Tiyas membawa nasi dan lauk tersebut ke teras rumah menggunakan nampan.

Zain tersentak dari lamunannya saat mendengar suara piring diturunkan.

"Em... silahkan makan. Maaf, adanya cuma telur."

"Tidak masalah."

Tiyas ingin pergi ke dalam lagi, namun Zain mencegahnya.

"Kamu sudah makan?"

"Be-lum."

"Duduklah, kita makan bersama. Dirumah aku selalu makan bersama keluargaku."

Tiyas pun duduk berhadapan dengan Zain. Saat akan mengambil centong nasi, tidak sengaja tangan mereka bersamaan.

"Eh... biar kamu saja dulu." Ujar Zain.

Tanpa menjawab perkataan suaminya, Tiyas mengambil piring Zain lalu menuangkan nasi.

"Segini cukup?" Tanya Tiyas.

"Iya cukup."

Tiyas sudah terbiasa melayani bapaknya makan. Sudah satu minggu ini ia merasa sangat kehilangan. Biasanya ia dan bapaknya makan berdua di teras itu. Apa pun yang mereka makan terasa nikmat karena ada cinta dan keikhlasan di dalamnya. Tiyas selalu berusaha untuk masak setiap hari agar menghemat pengeluaran. Jika pun punya rezeki lebih biasanya ia dan bapaknya pergi makan ke warung bakso atau warung soto.

"Uhuk uhuk uhuk... "

Tiba-tiba Zain tersedak karena menelan garam yang mungkin belum tercampur dalam telur dadar yang ia makan.

Sontak Tiyas langsung menyodorkan air minum kepadanya. Zain pun meminumnya.

Tidak ada obrolan antara keduanya. Setelah selesai makan, Tiyas membereskan semuanya dan membawanya ke dapur.

Zain baru ingat kalau tadi belum shalat Isya'. Ia pun akhirnya pergi ke kamar mandi untuk berwudhu' lalu shalat di ruang tamu. Du sana memang sudah ada tikar dan sajadah yang disiapkan karena tadi abi dan ummi juga shalat di sana.

Tiyas duduk di atas tempat tidurnya sambil berbalas pesan dengan Indri.

Setelah selesai shalat, Zain menerima panggilan dari saudara kembarnya.

"Assalamu'alaikum, bang."

"Wa'alaikum salam."

"Bang, sebenarnya abang sama ummi dan abi sedang ngurus apa? Kok tumben ini ummi dan abi nggak sibuk banyak rumah?"

"Ada pokoknya. Besok kamu juga bakal tahu."

"Ish, main rahasia nih ya."

"Sudahlah, jangan kepo! Gimana kerjaan di sana, beres kan?"

"Iya beres. Zean gitu lho! Tapi nih bang aku mau cerita sesuatu."

"Cerita apa?"

"Aku mau dijodohkan sama opa. Aku nggak mau. Abang saja ya. Kan abang yang lebih tua."

"Kita cuma selisih lima menit. Lagian kenapa juga kalau kamu nikah duluan? Pilihan opa sudah pasti oke."

"Dih abang juga nggak mau gitu dijodohin."

"Ya sudah, ceritanya besok lagi. Aku mau nelpon ummi."

"Lho bukannya ummi sama abang?"

"Ups, salah ngomong!" Batin Zain.

"Em... iya tapi kan kita beda kamar."

"Oh... ya sudah, assalamu'alaikum."

"Wa'alaikum salam."

"Huft... untung saja aku punya alasan." Gumamnya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri namun ia tidak melihat keberadaan istrinya.

Tidak lama kemudian, Tiyas keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar mandi dengan menggunakan kulot dan kaos oblong. Rambutnya ia gulung sembarang. Ia lupa kalau di rumahnya ia tidak sendiri.

Saat melihat Zain duduk di lantai ruang tamu, sontak Tiyas terkejut.

"Astaghfirullah.... " Sambil memegang dadanya.

Ia pun segera menutup rambutnya dengan kedua tangannya. Zain menahan senyum melihatnya.

Cepat-cepat Tiyas pergi ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, ia merutuki dirinya sendiri. Cukup lama ia di kamar mandi karena bingung.

"Duh ini gimana keluarnya. Ceroboh sekali aku ini. Tapi dia kan suamiku. Nggak pa-pa kan aku nggak pakai jilbab." Gumamnya.

Tiyas selalu ingat pesan sang ayah untuk menutup auratnya meski belum sempurna karena Tiyas masih sering memakai celana.

Akhirnya Tiyas melangkahkan kakinya untuk kembali ke kamar. Namun ia tidak melihat keberadaan Zain. Saat mengintip keluar, ternyata Zain duduk di teras lagi.

Terpaksa Tiyas keluar.

"Em...maaf kalau anda mau tidur silahkan tidur di dalam kamar saya. Biar saya tidur di kamar bapak." Ujar Tiyas dengan tatapan ke lain arah.

Zain dapat memahami Tiyas. Ia pun tidak ambil pusing.

"Saya tidur di ruang tamu saja."

"Em... baiklah."

Tiyas pun membawakan bantal dan selimut untuk suaminya.

Bersambung....

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪💪
Bunda RH: siap kak
total 1 replies
secret
sumpaahh modusnya ngemoduss bgt Zeann🤣🤣 tp gpp lanjuutttkann sampe saahh🤭🤭
Bunda RH: iya kan, dasar Zean 🤭
total 1 replies
Teh Euis Tea
mak comlangnya ragi ternyata 😁
Bunda RH: makasih banyak kak sudah suka dengan karya si ratu typo ini 😄😂
total 5 replies
🍒🍒 Aisyah 🍒🍒
Rafli pintar ,, jadi Mak comblang
Bunda RH: mak coblang cilik 😄
total 1 replies
Novita Sari
senyum senyum lama lama suka.rafli pinter...
Bunda RH: iya Zean pintar mengambil kesempatan dan Rafli pintar membuka kesempatan
total 1 replies
secret
duhh nama aja ridho, kelakuan rawarass🤨 baruu Tyas marah aja udh gemeter, klo tau siapa suaminya Tyas bisa² ngompoll luu🤣
Bunda RH: ya kan nanti bisa pingsan kl tahu siapa Zain 🤭
total 1 replies
secret
*ayah indri
Sri Supriatin
Mampus kamu Dho, kena semprot Tyas🤣🤣🤣🤣
Bunda RH: wkwkwk dikira Toyas gak bisa marah😂
total 1 replies
dewi rofiqoh
Ridho sakit hati karena gagal memperistri tiyas, makanya dia berusaha provokasi..... Tapi gagal, malah dia tengsin sendiri 🤣🤣
Bunda RH: iya kak gatot 🤭
total 1 replies
Novita Sari
jangan jangan otw zain junior....
Bunda RH: jangan jangan 😄
total 1 replies
secret
yokk zean, yakinin hilda dan bantu sembuhin traumanyaa
Bunda RH: yok yok gas pol
total 1 replies
Sri Supriatin
Jangan janda yg di selalu di ceritain Opa 🤭🤭🤭
Bunda RH: ah masa' sih 😂
total 1 replies
Novita Sari
semoga hilda berjodoh dengan zaen..
Bunda RH: aamiin 😇
total 1 replies
dewi rofiqoh
Lanjuut
Bunda RH: siap kak
total 1 replies
Fitri Yah
habaja ... cah gemblung🤣
Teh Euis Tea
janda yg ini bkn sembarang janda umi, pokoknya janda yg buat hati zean berbunga bunga🤭
Teh Euis Tea: pokoknya siang malam terbayang bayang, sebelum preettt pada waktunya 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
secret
cah gemblungg gak tuu🤣🤣
Bunda RH: wkwkwkk Zean radak memang
total 1 replies
Sri Supriatin
Gemblung2 putramu Ummi 😍😍😍🤣🤣🤣
Bunda RH: iya putra ummi yang 11 12 sama abinya
total 1 replies
dewi rofiqoh
🤣🤣🤣🤣Zean bocah gemblung ya ummi...... Akhirnya memakan omongannya sendiri, jatuh hati sama janda karena menolak janda🤣🤣🤣
Novita Sari
umi zaen lucu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!