NovelToon NovelToon
Menukar Takdir Untuk Bellona

Menukar Takdir Untuk Bellona

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:456
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.

Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.

Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Gosip

Suasana rumah tua itu terasa begitu hening setelah langkah kaki Devan menghilang di belokan gang.

Bellona berdiri di tengah ruang tamu yang remang-remang. Cahaya matahari pagi menyusup dari celah ventilasi, memperlihatkan butiran debu yang melayang lambat di udara. Gadis itu mengembuskan napas panjang, merapatkan jaketnya, lalu melangkah pelan menuju area dapur yang terletak di bagian belakang.

Dapur Devan benar-benar menyedihkan.

Sebuah kompor gas satu tungku yang dipenuhi noda minyak mengering bertengger di atas meja semen. Wajan hitam kusam tergantung miring di paku dinding. Bellona memberanikan diri membuka satu-satunya lemari gantung yang pintunya sudah miring dan berdecit saat ditarik.

Kosong.

Hanya ada satu bungkus mi instan rasa soto yang bungkusnya agak remuk di sudut lemari, ditemani segenggam garam dalam wadah plastik dan sejumput penyedap rasa. Tidak ada beras, tidak ada telur, apalagi minyak goreng.

Bellona mengurut pelipisnya yang mendadak terasa pusing. "Bener-bener tempat penampungan orang melarat," gumamnya tak percaya.

Biasanya, di rumah lama atau saat ia butuh uang jajan tambahan, Bellona selalu memasak beberapa porsi makanan simpel—seperti nasi goreng gulung, pastel, atau sandwich sederhana—untuk dititipkan di kantin sekolahnya. Usaha kecil-kecilan itu selalu cukup untuk memberi Bellona sedikit rasa mandiri, agar ia tak perlu terlalu banyak mengemis uang jajan pada Sarah.

Tapi di rumah ini? Bahkan untuk sekadar menggoreng telur saja bahannya tidak ada.

Bellona menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Ia merogoh tas kecilnya, mengeluarkan dompet dompet lipat berwarna pastel milik sendiri. Ia membukanya, menghitung sisa lembaran uang kertas hasil tabungan dan sisa jajan terakhirnya. Tidak banyak, tapi cukup untuk membeli beberapa bahan makanan dasar di pasar atau warung kelontong depan gang.

Gadis itu mendengkus jengkel, menatap satu bungkus mi instan rasa soto di atas meja dapur.

"Bisa mati berdiri gue kalau makan mi mentah tiap hari sama orang gila itu," bisik Bellona pada dirinya sendiri.

Terpaksa, dengan berat hati, Bellona mengambil beberapa lembar uang dari dompet pribadinya. Ia membetulkan tatanan rambutnya, mengunci pintu depan rumah Devan dari luar seperti yang dipesankan pria itu tadi, lalu melangkah keluar menembus dinginnya angin pagi untuk mencari warung terdekat.

Langkah Bellona terhenti di depan sebuah warung kelontong berukuran sedang di pinggir gang utama. Di atas meja kayu warung, berjajar rapi tempe, tahu, beberapa ikat sayuran segar, telur, dan bumbu dapur.

Bellona menghela napas lega. "Bu, beli ya," panggil Bellona pelan sambil memilih satu papan tempe dan beberapa butir telur.

Wanita paruh baya pemilik warung yang sedang merapikan dagangan seketika menoleh. Matanya menyipit, menatap Bellona dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan melotot penuh selidik. Di sudut warung, dua orang ibu-ibu berdaster yang sedang memilih cabai mendadak menghentikan obrolan mereka dan ikut menatap Bellona tajam.

"Eh... kamu cewek yang di rumah Si Devan itu, kan?" tanya Bu Warung dengan suara melengking curiga, sengaja meninggikan nadanya.

Bellona menghentikan tangannya yang sedang mengambil beberapa siung bawang merah. "Iya, Bu. Tempe satu papan, telur setengah kilo, sama minyak goreng setengah liter ya."

Ibu-ibu berdaster di sudut warung langsung mendekat, menyenggol lengan Bu Warung sambil berbisik tapi suaranya sengaja dikencangkan. "Nah, bener kan! Ini ceweknya yang tadi pagi bikin heboh rumah Devan sampai Pak RT turun tangan!"

"Kamu siapanya Devan sih, Neng?" selidik Bu Warung sambil melipat tangan di dada, tidak segera melayani pesanan Bellona. "Tadi pagi Devan bilangnya adik. Tapi warga di sini kagak pernah tuh lihat Devan punya adik! Jangan-jangan kamu ini cewek simpanannya ya? Atau cewek yang dibawa kabur?!"

Bellona mengepalkan tangannya di balik kantong jaket. Rasa muak dan panas langsung membakar dadanya. Baru saja ia keluar rumah untuk mencari makan, ia sudah harus berhadapan dengan tuduhan konyol warga sekitar.

"Saya adiknya," jawab Bellona ketus, berusaha menahan emosinya agar tidak meledak di tempat umum. "Tolong bungkusin belanjaan saya, Bu. Saya terburu-buru."

"Dih, adiknya kok kagak mirip-mirip amat?" celetuk ibu-ibu berdaster merah dengan senyum mencibir. "Mana ada Devan punya adik bening begini? Wong Devan itu dari dulu hidup luntang-lantung sendirian di sini! Jangan-jangan kamu diguna-guna sama Si Devan? Mau aja tinggal di rumah kotor kayak gitu!"

"Tahu tuh! Masa cewek muda mau-mauan serumah sama bujangan kagak jelas!" timpal Bu Warung makin menjadi-jadi, menatap Bellona seperti hakim yang sedang menginterogasi terdakwa. "Kagak ada sopan santunnya pisan anak zaman sekarang. Mending kamu cerita jujur aja deh, Neng, sebelum warga sini makin resah!"

Rasa sabar Bellona yang tipis akhirnya runtuh sepenuhnya.

Gadis itu mengebrak meja kayu warung dengan telapak tangannya hingga botol kecap di atasnya bergoyang.

TAK!

"Urusan Ibu-ibu apa sih?!" bentak Bellona dengan mata membelalak galak, membuat Bu Warung dan dua ibu-ibu berdaster itu tersentak kaget sampai mundur satu langkah.

"Mau saya adiknya, mau saya orang asing, mau rumah Devan kayak tempat sampah, emangnya saya belanja pake duit Ibu-ibu?!" lanjut Bellona dengan suara melengking dan tatapan menusuk. "Gak usah sok kepo dan ngurusin hidup orang lain! Urus aja dapur masing-masing, gak usah sok suci di sini!"

Bu Warung melongo, mukanya merah padam antara kaget dan malu. "B-bocah kurang ajar ya kamu! Dibilangin baik-baik malah nyolot!"

"Siapa yang nyolot?! Ibu duluan yang nuduh-nuduh gak jelas!" Bellona melempar selembar uang kertas lima puluh ribuan dari dompetnya ke atas meja kayu dengan kasar. "Nih duitnya! Bungkusin belanjaan saya sekarang atau duitnya saya ambil lagi!"

Ketiga wanita paruh baya itu membeku. Mereka tidak menyangka cewek muda yang kelihatannya murung dan diam itu justru punya mulut yang jauh lebih pedas dan galak dibanding Devan saat mengamuk.

Dengan tangan gemetar karena emosi dan malu, Bu Warung akhirnya buru-buru membungkus tempe, telur, dan minyak ke dalam kantong plastik hitam tanpa berani memprotes lagi.

"Nih!" Bu Warung menyodorkan plastik itu dan uang kembaliannya dengan raut muka bersungut-sungut.

Bellona menyambar kantong plastik itu kasar tanpa mengucapkan terima kasih. Ia memutar tubuhnya, melangkah lebar meninggalkan warung kelontong itu sambil menghentakkan kakinya, meninggalkan ibu-ibu warung yang masih berbisik-bisik emosi di belakangnya.

Bellona berjalan cepat menyusuri gang dengan napas berburu. Rasa panas di dadanya akibat emosi meluap-luap belum juga surut. Tangan kanannya menggenggam erat kantong plastik hitam berisi belanjaan, sementara matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan tajam.

"Dasar nenek-nenek lampir kepo!" umpat Bellona pelan, menendang batu kecil di jalanan gang hingga terlempar ke semak-semak. "Emang warga di sini kagak ada pekerjaan lain selain ngurusin hidup orang apa?!"

Kriiiieeet.

Ia mendorong pagar rumah Devan yang berderit nyaring, lalu buru-buru masuk ke dalam dan mengunci pintu kayu itu dari dalam dengan bunyi KLIK yang kencang. Bellona menyandarkan punggungnya di balik pintu, menghembuskan napas panjang sembari memejamkan mata sejenak untuk menetralkan emosinya.

Setelah agak tenang, ia melangkah menuju dapur kusam Devan. Diletakkannya kantong plastik hitam itu di atas meja semen. Bellona menyingsingkan lengan jaketnya, menguncir rambutnya yang agak berantakan ke belakang, lalu mulai memilah belanjaannya.

Ia membeli satu papan tempe, setengah kilo telur, minyak goreng, beberapa siung bawang merah dan putih, cabai rawit, serta seperangkat bumbu dapur sederhana. Dari sisa uangnya tadi, ia juga sempat membeli satu bungkus beras kemasan satu kilogram.

Bellona mencari pisau dan talenan kayu yang sudah agak melengkung di sudut rak. Ia mencuci bersih peralatan kusam itu, lalu mulai mengiris tempe tipis-tipis. Dengan cekatan, jemarinya memotong bawang dan cabai rawit dengan gerakan cepat dan teratur.

Meskipun hatinya masih dipenuhi rasa pahit gara-gara perlakuan Sarah dan intimidasi warga komplek, kegiatan memasak ini setidaknya memberi Bellona sedikit pengalihan dari pikiran-pikiran buruk di kepalanya.

Kompor gas satu tungku milik Devan dinyalakan. Api biru menyala, memanaskan wajan hitam kusam di atasnya. Bellona menuangkan sedikit minyak goreng, lalu mulai menggoreng irisan tempe hingga warnanya berubah menjadi kuning keemasan. Bau harum gurih gurih minyak dan tempe yang tergoreng perlahan memenuhi ruang dapur tua yang biasanya berbau hapek dan debu.

Setelah tempe matang dan diangkat, Bellona melanjutkan dengan membuat orak-arik telur tumis cabai bawang sederhana. Bumbu halus tumisan menumis nyaring di atas wajan, menebarkan aroma pedas gurih yang sangat menggugah selera. Ia juga menanak beras di panci kecil menggunakan kompor gas tersebut dengan tekun.

Hanya dalam waktu empat puluh menit, aroma masakan rumahan segar yang wangi memenuhi seluruh sudut rumah kusam itu.

Bellona menata tempe goreng renyah dan tumis telur cabai di atas dua piring melamin yang sudah ia cuci bersih. Ia mengambil secentong nasi hangat yang baru matang, meletakkannya di piring.

Gadis itu menarik kursi kayu di meja makan kusam, lalu menjatuhkan dirinya di sana. Ia menatap piring di hadapannya, meremas sendok stainless steel di tangannya. Untuk pertama kalinya sejak kemarin pagi, perutnya akhirnya akan terisi oleh makanan nyata, bukan cuma sekotak susu UHT atau mi mentah remuk.

Tepat saat Bellona hendak menyuap sendok pertamanya ke dalam mulut, suara deru mesin motor tua Devan yang cempreng bagai batuk menahun mendadak terdengar berhenti tepat di depan pagar rumah.

Kriiiiieeet.

Pintu pagar didorong kasar, disusul suara langkah kaki cepat Devan melintasi teras.

"Bocah! Buka pintunya! Gue bawa harta karun nih!" teriak Devan dari luar sambil menggedor-gedor pintu kayu dengan tidak sabaran.

1
falea sezi
buat ini anak agak punya adab donk😒 sebel liat anak g tau aturan banyak kok anak broken home yg tau adab g kayak beloman ini sombong
falea sezi
buat belunasadar donk anak haram kok ngelunjak 😒
falea sezi
anak haram gk tau diri🤣🤣 mending usir aja emak loe aja gk mau lu ikut dia masih ada yg mau nampung loe aja alhamdulillah😒 sebel liat anak g tau Adab
falea sezi
q dpet anak g sopan uda guaa usir🤣
falea sezi
q kirim hadiah 🤭 up banyak ya moga makin bagus buat bocah nya jelas stts nya anak devan apa bukan
BUNGA LYONA: siap kak, makasih udah baca😇🌸
total 1 replies
falea sezi
moga ajaa bneran anak devan ya😓 kasian uda di buang emak nya tp lona jangan sok ya
falea sezi
ini numpang 😒 gk ada baik baiknya kayaknya belom. tentu lo anak devan🤣🤣 bisa aja emak lo🤣jalang gk tau anak siapa😒
falea sezi
ini bapak bneran kan🤣
Lisa Kusmiran07
semangat kak
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
semangat thorr,ceritanya seru lain dari yg lain
Lisa Kusmiran07
menunggu lanjutannya,
BUNGA LYONA: siapp🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!